Me Or Him Alicia?

Me Or Him Alicia?
Cepter 3 (Sang CEO)



"Napa coba gue jadi terdampar di sini lagi sih," keluh William.


Masih segar diingatan William saat ia sedang berkutat dengan kertas-kertas yang menumpuk hingga membentuk dua gunung kembar di atas meja, namun malah diseret paksa sama para sahabatnya ke club yang semalam mereka kunjungi.


"Udah takdir Tuan," ucap Archer, tersenyum awkaward sembari menuangkan wine dari botol ke gelas untuk William.


Dia, Willy dan Nicholas kembali melayani keempat lelaki tampan yang kemarin malam sudah berkunjung ke sini. Tak terkecuali Alicia. Hanya saja berbeda dari semalam, malam ini para gadis ini sengaja disewa secara khusus untuk melayani serta menemani mereka minum.


Zumire, William, Audy dan Filbert kembali mendatangi club ini, tentunya atas ajakan Filbert dan Audy. Kata mereka 'ingin ketemu pelayan yang melayani mereka kemarin, masih belum puas'. Zumire sih iya-iya saja, karena memang dia sedang tenggang. Berbeda dengan William yang setengah terpaksa.


Omong-omong, malam ini keempat lelaki tampan ini ketambahan satu member baru. Dia adalah Azuri, satu lagi sahabat mereka. Seorang CEO baru yang belum lama ini mewarisi pekerjaan sang Ayah. Kemarin malam ia tidak ikut karena memang sedang sibuk dan tidak bisa dipaksa-paksa seperti William, mengingat posisinya yang masih baru.


"Nih, pesanan anda Om," ucap Alicia dengan ekspresi super jutek, tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.


Ia letakkan nampak berisi minuman pesanan Azuri tepat di depan orangnya. Alicia tidak peduli tua maupun muda, tetap ia panggil 'Om'. Kecuali kelaminnya perempuan.


Zumire hanya geleng-geleng kepala melihat sifat Alicia yang tidak jauh beda dengan kemarin malam saat melayaninya. Sangat jauh dari etika seorang pelayan pada pelanggan.


Meski begitu ia tetap ingin dilayani oleh Alicia, karena menurutnya pelayan satu ini 'menarik'. Hanya saja saat akan meminta Alicia untuk melayaninya, Zumire sudah keduluan oleh Azuri.


Tidak mau ada keributan hanya karena memperebutkan satu pelayan, Zumire lebih memilih mengalah dan minta dilayani oleh pelayan lain. Lagipula Azuri adalah sahabatnya, jadi tidak masalah bagi Zumire untuk mengalah saja.


Melissa, nama pelayan yang melayani Zumire malam ini. Masih satu teman kerjanya Alicia dan yang lain, meskipun tidak begitu dekat.


Alicia melirik sinis Zumire yang sedari tadi terang-terangan menatapnya lekat. 'Apa lo liat-liat?!' Begitulah kira-kira arti dari lirikannya.


Sembari menaikkan salah satu alisnya, Zumire tersenyum miring. "Gak boleh?" tanyanya tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir.


"Err, oke..." Azuri tampaknya agak shock dengan cara pelayanan Alicia. 'Agak lain pelayan satu ini' begitulah pikirnya.


"Lo temenin gue minum ya," pinta Azuri, tanpa peringatan melingkarkan lengannya ke pinggang langsing Alicia, menarik gadis ini hingga terduduk ke pangkuannya.


Kaget? Tentu saja. Saking kagetnya Alicia sampai refleks melayangkan bogeman ke pelanggan kurang ajar satu ini, untungnya langsung ditahan oleh Azuri sendiri.


"Om, saya setuju nemenin anda minum, tapi gak gini. Dan anda, jangan sembarangan sentuh-sentuh saya," cetus Alicia dingin. Netra biru shaphire-nya menatap tajam tepat di netra amber milik Azuri.


Ditatap tajam begitu oleh Alicia tak membuat Azuri takut sama sekali. Ia malah terkekeh kecil karena lucu dengan tatapan Alicia dan dengan santai berucap. "Maaf, gue gak tau kalau lo gak mau. Abisnya pelayan lain biasanya gak nolak dipangku orang setampan dan setajir gue."


Mendengus, Alicia tidak terima disamakan dengan pelayan lain. Sumpah dia pengen banget membogem orang narsis di depannya ini. Rasanya dari kemarin malam serangannya ditahan mulu.


Dengan kasar dia menarik kepalan tangannya yang masih digenggam Azuri seraya segara berdiri dari pangkuan lelaki ini. Kedua tangannya mengepal kuat di samping badan, saking kuatnya sampai-sampai terlihat gemetar.


"Waduh kesal banget keknya," batin Azuri, terkekeh lagi.


"Seenggaknya duduk di samping gue gak pa-pa lah ya, daripada Lo capek berdiri terus," ucapnya karena Alicia tak kunjung duduk dan memilih terus berdiri di sampingnya.


"...." Alicia hanya diam sambil melirik malas. Untungnya rasa kesalnya sudah mulai mereda.


Tak kunjung mendapat jawaban, Azuri menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya yang sengaja dikosongkan untuk pelayannya. "Duduk aja, ayo," bujuknya.


Namun apakah Alicia mau? Oh, tentu tidak. Dia tidak semurah itu kawan-kawan.


Merasa malah diabaikan, Azuri dengan nekat menarik pelan rok seatas lutut yang Alicia kenakan. Niatnya hanya biar dapat perhatian Alicia saja ya, bukan mau cabul.


"Heh!" Spontan saja Alicia menepis tangan Azuri seraya menatap tajam si empu. "Jangan pegang-pegang!"


"Ealah gue harus pegang dimana dong kalau tangan gak boleh pakaian juga gak boleh?"


"Yaa gak usah pegang-pegang! Gitu aja repot."


"Disuruh duduk doang, keras kepala banget sih."


"Bodo!"


"Ayo cepat duduk sini, gue maksa."


"Dih, mau juga kan akhirnya."


Sontak Alicia mendelik tajam pada si empu.


"Hahaha bercanda-bercanda. Jangan dianggap serius gitu dong," ucap Azuri.


Alicia mendengus sembari membuang muka. Tanpa sadar malah menggembungkan pipi, membuat pipi chubby itu terlihat seperti bakpao saja. Sangat imut sampai-sampai Azuri tak dapat mengalihkan pandangannya.


Hening sejenak diantara mereka...


Azuri diam.


Alicia juga diam.


Mereka diam-diaman.


Si cowok menatap si cewek dengan kedua kening berkerut sampai terlihat menyatu. Sedangkan yang ditatap menaikkan sebelah alis dengan tampang heran.


"Ni pelayan baru apa gimana sih ya?" batin Azuri, heran.


"Napa sih nih orang liatin gue segitunya banget?" batin Alicia, risih.


Berdekham pelan, Azuri memulai pembicaraan yang sempat mati diantara keduanya. "Ekhem-! Ini wine gue kapan ditukanginya?"


Mendesis malas, Alicia meraih dengan ogah-ogahan botol wine yang masih tertutup rapi di atas meja. Wine yang Azuri pesan adalah Inglenook Cabernet Sauvignon 1941. Wine ini digadang-gadangkan sebagai wine termahal yang pernah di jual di Amerika Serikat dengan harga mencapai Rp343 juta. Menjadi yang termahal ketujuh di dunia dari sepuluh besar.


"Heran. Pada punya tangan sendiri padahal, tapi masih aja minta dituangin. Manja banget," gerutu Alicia sembari menuangkan wine itu ke dalam gelas. 


Mendengar gerutuan Alicia malah membuat Azuri terkekeh. Ia meraih gelas itu dan langsung meneguknya dalam sekali teguk, karena memang ukuran gelasnya tidak besar dan pas sekali untuk sekali minum.


"Ahh!" lega Azuri setelah meneguk habis wine-nya.


Alicia bergidik sekilas mendengarnya. Gimana ya, dia rada geli dan merinding gitu. Kemarin malam Zumire juga melakukannya, membuatnya lagi-lagi bergidik. "Harus apa ngedesah kalo abis minum minuman kek gini," batinnya, heran sendiri.


"Nama lo siapa?" tanya Azuri, menyodorkan gelasnya pada Alicia, minta diisi lagi.


"Kepo!" ketus Alicia.


"Gue serius lhoh..."


Alicia memutar malas matanya. "Gak usah sok gak tau Om. Saya yakin anda pasti baca sendiri nama saya di list pelayan, makanya saya disewa khusus di kumpulan Om."


Azuri terkekeh kecil sembari memutar-mutar pelan gelas berisi wine di tangannya. "Iya sih.... Alicia Ali Gazali kan?"


"Alicia Al-Ghazali," koreksi Alicia. 


"Nah itu. Alicia bisa minum?"


"Bisalah! Kalau gak bisa minum dehidrasi dong?" Alicia nyolot, lagian ada-ada saja pertanyaannya.


Azuri tertawa. "Gak gak, maksudku Alicia bisa minum ginian gak?"


"Gak dan gak akan pernah."


**TBC~


Hello~^^


Udah sampai cepter tiga...


Untuk permulaan gini, Kalian kira-kira dukung kapal siapa ya?


Zumire x Alicia atau Azuri x Alicia**?