Me Or Him Alicia?

Me Or Him Alicia?
Cepter 4 (Cewek Strong)



Malam semakin larut dan seperti biasa club ini tutup pukul empat dini hari. Sedangkan biasanya selalu buka pukul pukul lima sore dan libur seminggu sekali di hari Jum'at.


Selesai mengemasi barang-barangnya yang tidak begitu banyak, Alicia memakai tas selempang-nya ke bahu seraya berjalan keluar pintu club yang telah sepi bersama Willy bersiap pulang. Di dalam club hanya tersisa para cleaning servis, sedang menyelesaikan pekerjaan mereka agar bisa pulang.


Archer dan Nicholas sudah pulang duluan setelah dijemput oleh Adek dan Ayah mereka. Begitu juga dengan teman-teman Alicia yang lain, mereka juga sudah pulang, hanya tersisa Willy.


"Licia lo pulang bareng gue ya, gue tebengin sampe rumah," ucap Willy saat mereka sudah di halaman club.


Mendengar itu membuat Alicia menoleh pada si empu. "Lhoh? Rumah kita kan gak searah Will."


"Gak papa, gue anterin. Di jam sepagi ini bakalan susah nyari taksi."


Alicia tampak berfikir sejenak. "Engga deh Will. Kalo lo anterin gue entar lo kelamaan pulangnya, kasian nyokap lo di rumah. Lo bilang di jam-jam segini nyokap biasanya udah kebangun," tolaknya selembut mungkin.


"Iya sih.., tapi Lo sendiri gimana? Masa jalan kaki? Kalo nanti di jalan kenapa-napa gimana?" tanyanya khawatir.


Jelaslah, biasanya Alicia selalu bareng dengan Archer baik itu pas pulang maupun pas datang. Tapi mulai malam ini hingga beberapa malam ke depan untuk sementara tidak bisa. Alasannya karena sepeda motor Archer dipinjam oleh sang Adek untuk keperluan tugas kelompok yang mengharuskan Archer dianter jemput.


Alicia tersenyum, lalu menepuk-nepuk pelan pundak Willy, merasa terharu dengan perhatian temannya ini. "Gue gak papa Will. Lo tenang aja, gue bisa pastiin diri gue selamat sampai rumah. Udah gak papa, Lo harus prioritaskan nyokap lo."


Menghela nafas pasrah, Willy akhirnya mengangguk pelan. "Oke deh.... Tapi Lo harus janji, kalo ada apa-apa langsung hubungin gue. Gue stay on sampai siang. Kalo perlu pas udah nyampe rumah juga kabarin biar gue tenang," ucapnya.


Memang setelah pulang dari kerjaan ini Willy biasanya tidak langsung tidur. Banyak hal yang dia lakukkan di rumah. Saat waktu menunjukkan sekitaran jam sembilan-sepuluh, dia baru tidur menggantikan tidur malam yang hilang. Itu pun jika tidak ada hal yang menahannya.


Alicia tersenyum. "Iyaa, Lo tenang aja. Kalau ada apa-apa yang terjadi sama gue, lo orang pertama yang gue kabarin."


Willy mengangguk. Setelah berpamitan ia berjalan menuju motornya di sudut parkiran. Dengan berat hati ia pulang duluan, meninggalkan Alicia yang entah pulang dengan bagaimana.


"Titip salam buat nyokap 'semoga cepat sembuh'!" Alicia melambaikan tangannya pada Willy hingga gadis dengan rambut hitam terang sepanjang punggung itu tak terlihat lagi.


"Omong-omong kok tumben Willy beg*? Kan gue bisa pesan Go-jek atau semacamnya," ucapnya, bicara sendiri. Lantas ia ber-positif thinking kalau Willy lagi capek makanya otaknya agak konslet.


Tak ingin membuang waktu lebih banyak, Alicia segara mengambil handphonenya dari dalam tas. Seketika itu juga ia menyesal ngatain Willy beg* karena handphonenya sekarang mati total kehabisan baterai.


"Karma ini terlalu instan."


...。゚❁ུ۪ °𝕸𝖊 𝕺𝖗 𝕳𝖎𝖒 𝕬𝖑𝖎𝖈𝖎𝖆?˚ ༘♡ ⋆。˚...


Setelah berikhtiar mencari taksi ataupun tukang ojek yang tak kunjung di dapat, akhirnya Alicia pasrah dan pulang dengan jalan kaki.


Sesekali sepatu hak rendahnya menendang kerikil jalanan dengan kesal. Wajahnya cemberut. Jika tahu kalau handphonenya bakalan mati total begini, dia kan bisa minjam handphone Willy untuk pesan taksi online atau semacamnya sebelum temannya itu pulang.


Jauh berjalan belum cukup untuk membuat Alicia lelah. Ia bersyukur malam ini tidak menggunakan sepatu hak tinggi. Sepatu hak rendahnya sekarang sangat nyaman untuk diajak berjalan lama.


Sampai pada titik jalanan yang gelap dan sunyi, Alicia mempercepat langkah kakinya. Tidak cukup banyak penerangan di jalan ini, bahkan lampu yang tergantung di atas tiang listrik yang biasanya untuk menerangi jalanan, bisa di hitung di sini, jaraknya pun juga saling berjauhan.


Berbagai pikiran buruk bersemayam di bentak Alicia sejak tadi. Namun siapa sangka jika takdir malah membawanya pada kenyataan apa yang ia pikirkan.


Langkah Alicia dihadang oleh lima preman yang keluar begitu saja dari semak-semak, sudah seperti begal motor. Alicia menghela nafas panjang melihat para preman berbadan besar dan berwajah sangat tak jauh di depannya itu.


Alicia tau memang jalanan ini memang rawan 'bahaya', tapi mau bagaimana lagi? Hanya ini jalan menuju rumahnya. Untungnya ia dan Archer selalu pulang tanpa hambatan karena biasanya orang-orang seperti mereka ini aktif dari tengah malam hingga jam dua atau jam tiga.


Lantas kenapa mereka sekarang bisa ada di sini, di jam orang-orang sholat subuh hampir tiba?


Tanpa Alicia sadari kelima preman itu sekarang sudah mengepungnya, mengelilinginya membentuk sebuah lingkaran, mengurungnya di tengah-tengah.


"Wah wah wah gak nyangka, ada juga ya cewek yang berani lewat sini di jam segini. Jalan kaki, sendirian lagi," ucap salah satu preman. Keempat preman lain seketika tertawa.


"Asoy! Dilihat doang, bodynya udah kelihatan mulus banget Bos!"


"Cantik banget anjir! Hoki kita malam ini Bos!"


Sedangkan yang satu lagi hanya diam. Namun matanya menatap liar Alicia dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Ditatap dan dibicarakan seperti itu membuat Alicia marah karena secara tidak langsung ia sudah dilecehkan. Alicia akui pakaiannya memang cukup terbuka, tapi ini kan tuntutan pekerjaan. Ah, lupakan soal pekerjaan.


Perlahan Alicia melepas tas selempang-nya, lalu meletakkannya begitu saja di atas aspal. Setelahnya ia mengikat rambut belakangnya agar tidak mengganggu, membuat leher dan tengkuknya terlihat jelas.


Melihat itu, para preman menyeringai senang. "Udah pasrah neng? Good girl! Ayo ikut kami. Tenang saja, kami gak akan kasar kok--"


-Bugh!!


Mereka semua terkejut ketika tiba-tiba saja Alicia berlari menuju sang Bos dan tanpa aba-aba memberikan pukulan telak di wajahnya. Mereka lebih tidak menyangka kalau gadis kecil ini bisa membuat Bos mereka tersungkur dengan pukulannya hingga sudut bibir si Bos robek dan terluka.


Sekarang gantian giliran Alicia yang menyeringai senang. Sudah dari malam-malam kemarin ia ingin melampiaskan pukulannya karena satu pelanggan menyebalkan dan satu pelanggan kurang ajar yang terus-terusan ingin dilayani olehnya.


"Liatin apa kalian hah?! Cepetan hajar!!" bentak Si Bos preman sambil mencoba bangkit.


"T-tapi, dia cewek Bos," ucap salah satu preman.


"Gak usah sok gak tega lo! Lo pada gak liat dia mukul gua?! Dia ini Cewek Titan! Udah! Buruan hajar!!"


Tanpa banyak bicara lagi keempat preman yang lain menyerang Alicia bersama-sama. "Lemah, mainnya keroyokan. Kek bocah SD," cibir Alicia sebelum benar-benar diserang bersama-sama.


Alicia yang sebenarnya mantan guru taekwondo, bisa dengan mudah melumpuhkan dan menumbangkan keempat preman itu.


"Hahaha! Mampus kalian! Mantan guru taekwondo dilawan, kalah kan? Cemeeenn!" Agak songong ya? Tapi biarlah Alicia bahagia sesaat. Karena sekarang ia kembali berhadapan dengan si Bos preman.


Si Bos preman meludah ke samping. "Cuih! Lo cewek sial*n!!"


"Eehh?~ Katanya tadi gue cewek Hoki?" Alicia tersenyum mengejek.


"Gak lagi sekarang." Bos preman itu maju menyerang lebih dulu. Melayangkan tinju pada Alicia yang langsung menghadap ke samping, menghindar hingga ia hanya meninju angin kosong.


Alicia tersenyum miring, disaat itu juga ia menahan tangan si Bos preman dan langsung menyerang titik buta-nya. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali lututnya menghantam pinggang si Bos preman hingga kesakitan dan jatuh berlutut.


Tanpa memberi jeda banyak, Alicia mundur sedikit dan bersiap memberikan gerakan Dwi hurigi taekwondo. Lantas ia melompat rendah sembari memberikan tendangan memutar seperti mengait hingga tepat mengenai sasaran yakni kepala si Bos preman.


Sekarang Bos preman itu sudah terkapar tak berdaya dengan kepala bocor mengalirkan darah. Hampir serupa dengan keempat anak buahnya.


Tendangan Alicia tidak main-main, di tambah lagi dengan sepatu hak rendahnya yang mau bagaimana pun jika tekena pukulan alas kakinya pasti akan sangat sakit. Ditambah lagi ujung-ujung sepatu hak rendah itu sebagian ada yang cukup runcing. Jika terkana bagian tumpulnya saja sudah sangat sakit, apalagi jika terkena bagian runcingnya.


Berjalan santai, Alicia menghampiri si Bos preman yang sekarang terbaring telentang kesakitan. Tanpa belas kasih, Alicia menginjakan kaki berbalut sepatu hak rendah tepat di dada si Bos preman, membuat nafas yang sudah tersengal semakin sulit untuk ditarik.


Alicia berjongkok, menatap penuh kemenangan si Bos yang sudah tak berdaya. Melihat Bos preman ini, mengingatkannya pada Bosnya, si pemilik Club yang sudah lama ingin ia tonjok wajahnya, tapi tak bisa ia lakukkan. Lantas tangan Alicia yang sudah terkepal erat, terangkat ke atas.


"A-ampunn...," lirih Bos preman itu.


Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tak jauh dari tempat Alicia, membuat kepalan tangan gadis ini melayang di udara. Kaca mobil hitam itu diturunkan, sedangkan si pemilik mobil melengokkan kepala ke luar jendela mobil bertepatan saat Alicia menoleh.


"Wah, ada kejadian seru apa nih?"