
"Wah, ada kejadian seru apa nih?"
Alicia menatap datar lelaki yang menyapa itu. Ingin rasanya ia menonjok wajah menyebalkan Zumire yang sekarang bahkan sudah keluar mobil. Ya, lelaki itu adalah Zumire. Lelaki menyebalkan yang beberapa malam ini seakan menghantuinya di tempat kerja.
Tak peduli, Alicia menganggap Zumire hanyalah angin lalu. Lantas tangannya yang masih mengambang di udara pun akhirnya mendarat tepat di wajah si bos preman.
-Kreek!
Alicia yakin tinjunya membuat tulang hidung si bos preman patah atau mungkin retak. Buktinya hidung itu mengeluarkan darah.
Puas memberi pelajaran sekaligus peringatan pada para preman ini, Alicia bangkit seraya berjalan menuju tas selempang-nya yang tergeletak di aspal. Ia tak peduli akan kehadiran Zumire yang menatap kagum apa yang ia lakukkan.
"Cewek ini emang beda," batin Zumire. Netra coklatnya tak lepas dari memperhatikan Alicia yang memungut tas selempang-nya, melepas ikat rambut membuat rambut hitam panjang indah itu tergerai lagi.
Masih tak memperdulikan kehadiran Zumire, Alicia kembali melangkah. Menyusuri jalanan remang-remang cahaya, melanjutkan perjalanan pulangnya menuju rumah.
Zumire sendiri masuk kembali ke dalam mobil. Menjalankan benda beroda empat ini dengan perlahan hingga mengimbangi langkah Alicia di sampingnya.
Ia melengokkan kepala ke luar jendela, menatap wajah cantik Alicia yang sekarang sedikit berantakan. Ada luka mengeluarkan darah di sudut bibirnya, Zumire yakin ada robekan di sana. Samar-samar ia juga melihat lebam di dahi Alicia yang tertutup poni.
Meskipun Alicia mantan guru taekwondo, tak memungkinkan baginya untuk tak mendapat beberapa pukulan saat dikeroyok tadi. Nyatanya empat lawan satu, itu tidak seimbang bukan? Untungnya Alicia menang dan tak mendapatkan luka yang serius.
"Mau pulang kan? Ayo masuk, gue anterin sampe rumah," ajak Zumire, namun tidak digubris oleh Alicia. Bahkan menoleh pun tidak.
Tak menyerah, Zumire kembali mengajak. "Udah, ayo gue angerin. Gue tau rumah lo masih jauh dari sini. Kalau jalan kaki, gue yakin matahari terbit pun lo belum nyampe."
"Sok tau," ketus Alicia. "Om aja kan gak tau dimana rumah gue."
Zumire tersenyum. Akhirnya cewek ini mau menanggapinya. Lantas ia melajukan sedikit mobilnya dan berhenti menghalangi jalan Alicia, membuat langkah cewek ini seketika terhenti.
Alicia menghela nafas panjang, menatap malas Zumire yang sekarang sudah di depannya. "Om...kalau om gak mau bonyok kayak mereka tadi, mending Om jangan ganggu gue. Gue mau pulang Om, jangan ngalangin jalan."
Tersenyum, Zumire tak membalas apapun yang Alicia ucapkan. Ia melepas jasnya hingga hanya menyisakan kemeja, membuat Alicia menatapnya was-was. Namun setelahnya, apa yang ia lakukkan membuat cewek ini terdiam.
"Pakai oke. Subuh-subuh begini dingin dan baju lo gak cukup buat bikin Lo hangat," ucapnya lembut sembari memakaikan jasnya pada Alicia.
Tak menolak, Alicia malah merapatkan jas yang menyelimuti tubuh mungilnya setelah mendengar nada bicara Zumire yang melembut. 'Lembut, tunggu. Apa?! Lembut?! Wah, akankah Om ini sedang melakukkan sebuah pencitraan?'
Alicia menatap lelaki di depannya ini penuh selidik, membuat Zumire tertawa dengan tingkah Alicia yang menurutnya menggemaskan.
"Gak ada yang lucu Om."
"Ada, kamu."
"Dih!"
Zumire tertawa lagi. "Udah-udah. Ayok gue anterin pulang." Ia kembali berucap setelah melihat ekspresi Alicia yang was-was. "Gue gak akan macam-macam, tenang aja. Kalau gue macam-macam, lo boleh tonjok muka gue, gue gak akan ngelawan."
Setelah bicara seperti itu, Alicia akhirnya mau masuk ke dalam mobil Zumire.
...。゚❁ུ۪ °𝕸𝖊 𝕺𝖗 𝕳𝖎𝖒 𝕬𝖑𝖎𝖈𝖎𝖆?˚ ༘♡ ⋆。˚...
Mereka tiba di depan gerbang sebuah rumah besar bertingkat dua dan memiliki halaman yang lumayan luas. Cat rumah itu berwarna putih dan ada beberapa bagian yang dicat hitam. Sedangkan pagarnya sepenuhnya berwarna hitam, membuat rumah itu terkesan elegan.
"Ini kan rumahnya?" tanya Zumire, memperhatikan rumah itu dari kaca mobilnya. Tanpa bertanya pun sebenarnya ia sudah tau.
Alicia mengangguk sembari melepaskan jas Zumire sebelum mengembalikannya pada si empu. Ia memang memberitahu alamatnya tadi. "Thanks ya Om," ucapnya seraya keluar dari dalam mobil.
"Licia..," panggil Zumire, menghentikan Alicia yang hendak membuka kumci gembok pagar.
"Hm?" Alicia menoleh ke belakang dengan ekspresi bertanya.
"Gue numpang pinjem kamar mandi lo bentar, boleh?"
Sejenak Alicia tampak mempertimbangkannya. Karena Zumire sudah menolong mengantarkannya pulang, Alicia membuka pintu pagar lebih lebar, mengizinkan mobil Zumire masuk ke halaman rumah sekaligus mengizinkan si pemilik mobil masuk ke dalam rumahnya.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, Mereka disapa oleh seekor anjing peliharaan Alicia. Anjing itu terbangun karena si pemilik rumah pulang, tapi sedikit menggonggong berisik saat melihat Zumire. Setelahnya ia kembali tenang setelah Alicia mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
"Anjing tadi peliharaan lo?"
Alicia mengangguk. "Kamar mandinya di sebelah sana Om," ucapnya, menunjukkan letak kamar mandi.
Setelah Zumire pergi, Alicia juga pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian dengan yang lebih santai dan sopan, sekalian mengobati luka di wajahnya.
"Om mau minum apa?" tanya Alicia sembari menuruni tangga, menatap Zumire yang sudah duduk di sofa.
"Kopi?"
"Masih subuh, gak baik minum kopi."
"Bir?"
"Gue gak punya."
"Ya udah, terserah Lo aja."
"Kalau gitu air kobokan mau?"
"Agak ngeselin ya."
Alicia terkekeh sembari berlalu memasuki dapur. Sedangkan Zumire tersenyum tipis melihat sikap Alicia yang lebih kalem dari biasanya. Mungkinkah Alicia sudah membuka diri untuk akrab dengannya?
Tak lama berselang Alicia kembali membawa dua gelas berisi minuman hangat. Satu untuknya dan satu lagi untuk Zumire.
"Susu?" tanya Zumire memperhatikan memperhatikan minuman di tangannya.
Alicia mengangguk sembari duduk di sofa berbeda dan agak jauh dari Zumire. "Gak alergi susu kan?" tanyanya sebelum meminum susu hangatnya.
Zumire menggeleng. "Gak kok," jawabnya seraya meminum juga susu hangat miliknya.
Hening beberapa saat...
Alicia mengangguk.
Zumire ingin bertanya lagi, namun urung. Karena sebenarnya tanpa ia tanyakan pun ia sudah tau. Mudah saja bagi Zumire yang seorang Mafia untuk tau informasi orang awam seperti Alicia. Pertanyaannya hanya sekedar basa-basi.
\-*Allahu Akbar Allahu Akbar*!~
Seruan adzan subuh berkumandang dan samar-samar keduanya mendengar. Karena memang jarak mesjid ataupun langgar agak jauh dari rumah Alicia.
"Om mau sholat subuh dulu?" tanya Alicia. "Biar gue ambilin sajadah sama peci punya bokap."
Zumire mengerjap dua kali, sedikit terkejut. "Gue kristen?" Sebenarnya ini pernyataan, tapi Zumire malah bicara dengan nada pertanyaan.
Wajah Alicia berkerut heran. "Mana gue tau Om, kan Om yang punya keyakinan."
"Engga gitu, maksudnya, gue kristen." Zumire memperjelas ucapannya.
"Oooh..." Alicia mengangguk-angguk. "*Sorry* Om, gue gak tau."
Setelahnya Alicia pamit sebentar untuk sibuk. Zumire sendiri mengangguk mengerti. Ia sudah tahu Alicia beragama Islam dan di jam seperti ini pasti akan melaksanakan ibadah.
Alicia melipat tapi mukena sebelum meletakkannya di atas sajadah. Ia baru saja selesai sholat dan masih berada di atas sajadahnya.
Sejenak ia terdiam. Merenungkan akan takdir yang ia jalani. Sembari menghela nafas panjang ia kembali bersujud, membenamkan wajahnya di atas mukena. Tanpa ia tahan, air matanya merembes keluar membasahi mukena.
Alicia merasa dirinya begitu buruk. Alicia merasa dirinya begitu munafik. Ia setiap hari sholat, tak pernah tertinggal. Namun setiap hari juga ia membuka aurat, bekerja di tempat yang seharusnya ia tak boleh menginjakkan kaki di sana.
Namun Alicia tak bisa berbuat banyak. Tuntutan dan ancaman yang ia dapat membuatnya tak punya pilihan lain. Alicia yakin akan pertolongan Tuhannya itu ada, tapi jika ia lihat lagi pada dirinya sendiri, ia merasa malu.
Alicia percaya Tuhannya maha Pengasih lagi maha Pengampun, tapi jika ia lihat lagi pada dirinya yang setiap hari selalu mengulang dosa yang sama. Akankah Tuhannya masih mau menatapnya? Begitu banyak pikiran-pikiran negatif yang selalu berusaha Alicia tepis.
"Aku capek ya Allah hiks...aku takut...," lirihnya. Hanya saat sendirilah ia bisa menjadi terlihat sangat rapuh di depan Tuhannya.
"Lhoh? Lo abis nangis?" tanya Zumire, sedikit terkejut setelah melihat Alicia kembali.
Alicia sendiri tak kalah terkejut. Padahal ia sudah mencuci muka, tapi rupanya Zumire masih bisa menyadarinya. "Gak kok Om."
"Jangan bohong, itu matanya sembab. Kenapa nangis?" tanya Zumire, terlihat begitu peduli.
"Ini...biasa Om kalau abis do'a.... Om ngerti kan?" Alicia bingung mau menjelaskan bagaimana.
Zumire mengangguk kaku setelah sejenak terdiam. Ia mencoba mengerti karena sepertinya ini masalah Alicia dengan Tuhannya.
"Licia..."
"Hm?"
"Lo Islam, tapi kenapa melihara anjing? bukannya bagi kalian anjing haram hukumnya."
"Memang, tapi kalau buat jagain rumah gak papa. Lagipula dia gak pernah aku bawa masuk sampai dalam rumah."
"Oooh..."
Obrolan pun berlanjut hingga matahari terbit setalah waktu berlalu tanpa mereka sadari...
Alicia ketiduran di sofa dengan posisi duduk sembari memeluk bantal sofa. Setelah kecanggungan menghilang, ia dan Zumire mengobrol ringan dengan topik random. Bahkan sesekali keduanya bercanda dengan obrolan mereka.
Cewek itu merasa Zumire cukup menyenangkan diajak ngobrol dan tidak begitu menyebalkan seperti biasanya terutama di hari mereka bertemu. Tapi terpenting, yang membuat Alicia lebih *enjoy* dengan Zumire, cowok itu tidak kurang ajar. Contoh seperti menyentuhnya tanpa izin atau pegang-pegang sembarangan.
Hal itu membuat Alicia bisa lebih tenang karena merasa Zumire cukup mengerti soal batasan. Alicia merasa Zumire menghargainya sebagai perempuan, terutama di antara agama mereka yang berbeda.
Zumire tersenyum tipis memperhatikan wajah cantik Alicia yang ketiduran karena kelelahan. "*Sorry* ya Licia," bisiknya seraya menggendong Alicia ala *bridal style*.
Ia tak tega membiarkan Alicia tidur si sofa, apalagi dengan posisi duduk. Zumire terkekeh pelan merasa Alicia pasti akan marah jika tahu ia menggendongnya tanpa izin.
Tapi ya sudahlah, Zumire tetap melakukannya. Membawa cewek ini ke kamarnya dan membaringkannya di tempat tidur seraya menyelimutinya dengan selimut.
Sejenak ia kembali menatap wajah Alicia yang tidurnya tidak terganggu sama sekali. "Gue pamit ya Licia. Mimpi indah..."