Me Or Him Alicia?

Me Or Him Alicia?
Cepter 1 (Club)



Aroma menyengat khas minuman beralkohol serasa menusuk penciuman Alicia. Ia benci aroma ini, tapi tak bisa berbuat banyak selain menjalaninya setengah hati di setiap malamnya. 


Alicia Al-Ghazali yang kerap dipanggil Licia adalah seorang gadis berusia dua puluh tahun. Di usianya yang masih sangat muda ini, Alicia harus bekerja di club ini karena perjanjian terkutuk yang Ayahnya buat dengan pemilik club.


Ibu Alicia sudah meninggal saat usianya belum genap empat belas tahun. Fadli Al-Ghazali adalah satu-satunya orang tua yang Alicia punya sekarang. Demi Ayahnya inilah Alicia harus rela bekerja di sini, meskipun setengah ikhlas.


"Licia?"


Panggilan dan tepukan pelan di bahu, membuat Alicia tersentak hingga keluar dari lamunannya. Lantas ia menoleh ke arah pelaku yang ternyata adalah Archer, teman satu kerjanya. Temannya ini tidak sendiri, ada beberapa teman kerjanya juga yang ikut menghampiri.


"Melamun mulu. Entar dimarahin Bos lho kalau kerjanya gak profesional," tegur Archer.


Nicholas di samping Archer, mengangguk setuju dengan polosnya, meskipun ia tidak begitu mengerti apa yang sedang teman-temannya ini bahas. Gadis yang satu ini memang polos, cendrung lugu. Sudah beberapa kali ia hampir dihilangkan kepolosannya oleh pelanggan, tapi untungnya Alicia dan teman-teman yang lain sigap menolong.


Alicia memutar bola matanya, malas. "Profesional buat apa? Gue kerja di sini aja gak digaji. Toh cuman buat pelunas hutang. Cih!"


Archer hanya geleng-geleng kepala melihat tabiat temannya yang satu ini. Alicia itu memang punya watak yang keras. Gadis dengan rambut hitam legam sepanjang pantat dan netra biru shaphire itu tidak akan sembarangan mau disuruh ini-itu oleh pelanggan, apalagi kalau tidak senonoh.


Alicia hanya akan jadi sedikit penurut kalau sudah dapat ancaman dari Bos. Selalu begitu, tidak seperti Archer dan teman-temannya yang lain. Mereka tidak punya banyak keberanian seperti Alicia, lantas lebih sering pasrah saat diminta pelanggan untuk menemani minum.


"Sudah-sudah. Ayo kembali bekerja, liat tuh ada rombongan pelanggan datang," lerai Willy seraya menghimbau ketiga temannya termasuk Alicia untuk menghampiri gerombolan laki-laki yang baru saja tiba.


Tidak langsung bergerak, Alicia masih berdiri di tempatnya, menatap teman-temannya satu persatu dari belakang. Archer, Willy dan Nicholas, hanya ada mereka teman Alicia malam ini. Nama mereka memang seperti nama anak laki-laki, namun nyatanya ketiganya tulen gadis.


Alicia jadi berfikir, mungkin saja orang tua mereka dulunya ingin punya anak laki-laki, tapi ternyata malah diberi anak perempuan, itu sebabnya mereka diberi nama dengan nama laki-laki. Ini hanya asumsi Alicia belaka, jangan dianggap serius.


Menggeleng pelan, Alicia terkekeh seraya berlari kecil menyusul ketiga temannya yang sudah lebih dulu menghampiri para pelanggan.


...。゚❁ུ۪ °𝕸𝖊 𝕺𝖗 𝕳𝖎𝖒 𝕬𝖑𝖎𝖈𝖎𝖆?˚ ༘♡ ⋆。˚...


Jalan raya malam itu cukup lenggang untuk dilewati oleh mobil-mobil dan kendaraan lain.


Terlihat salah satu mobil mewah melintas dengan begitu santainya. Mobil itu diisi oleh empat orang sahabat yang salah satunya bertugas menyetir.


"Weh! Ke club dulu kuy!" ajak Audy, selaku yang menyetir.


William yang duduk di kursi belakang bersama Zumire, mendelik pada Audy. "Lo ngajakin nge-club disaat kerjaan gue sedang menggunung Sat! Gak ah, anjir Lo!"


"Ealah bentar doang Will. Ini kan juga sekalian refreshing biar gak stress gegara kerjaan," ucap Audy.


Filbert di samping Audy menyahut. "Au tuh. Lo kerjaan mulu dipikirin Will, pantesan jomblo akut. Udah kawin Ama kerjaan ya Lo?"


"Bang'ke!" geram William.


"Ada club yang lumayan terkenal dekat sini. Para pelayan dan penarinya juga pada bohay-bohay aduhai.~ Gue tau tempatnya," ucap Audy lagi.


Mata Filbert langsung berbinar. "Kuy Dy buruan! Banting setir!!~"


Audy tertawa. "Asyiaapp!~"


William mendengus saat mobil yang ia tumpangi sudah berbelok arah. "Kalau soal pelayan sama penari aja, gercep banget Lo," cibirnya, namun tidak dipedulikan oleh Filbert yang otaknya sudah dipenuhi oleh pelayan-pelayan imut dan penari-penari sexy.


Sontak Zumire menoleh disertai tatapan tajam nan menusuk, yang mana langsung membuat William kicep. "Diem," ketusnya sebelum kembali menatap ke luar jendela dengan ekspresi dingin.


Pelan-pelan, William menggeser duduknya sedikit menjauh dari Zumire sembari tersenyum kikuk. "Nyesel duduk bareng Zumire," batinnya merana.


Sedangkan Audy dan Filbert di depan mati-matian menahan tawa mereka melihat William kicep macem bochil abis dimarahin emak.


Selain tidak ingin mendapat semprot dari William, mereka berdua juga tak ingin mendapatkan tatapan yang sama dari Zumire. Bagi mereka, tatapan Zumire itu udah yang paling serem. William juga mengakuinya dan sialnya beberapa detik yang lalu ia malah menerima tatapan itu.


Sahabat mereka yang satu ini memang sudah seperti memiliki dua kepribadian setelah mewarisi pekerjaan sang Ayah sebagai seorang Mafia. Saat di luar pekerjaan, Zumire akan terlihat dan bersikap begitu ramah, kadang kalanya juga humoris.


Namun jika sudah menyangkut pekerjaan, semua tadi hilang sudah digantikan dengan sikap dinginnya, bahkan tak ayal juga kejam. Ini juga berlaku jika moodnya sedang tidak baik-baik saja, baik itu marah maupun kesal.


Sama seperti sekarang, Zumire memang sedang kesal karena keteledoran anak buahnya yang menyebabkan misi hampir gagal. Untungnya dia langsung turun tangan, terjun langsung ke lokasi dan misi pun berhasil diselamatkan.


Mobil berhenti di halaman club yang amat luas dan memang disediakan untuk parkir bagi kendaraan para pelanggan. Dengan cekatan dan juga hati-hati, Audy memarkirkan mobilnya di lahan yang kosong.


"Dah, yuk turun," ajak Audy, keluar lebih dulu dari mobil lalu disusul oleh ketiga sahabatnya. Tentunya setelah ia mematikan mesin mobil dan mencabut kuncinya.


Baru saja keluar mobil, keempat orang ini sudah membuat para pelanggan lain yang baru datang ataupun yang mau pulang melongo di tempat. Terutama para cewek. Mereka terpana akan ketampanan dan keelokan paras keempat laki-laki ini. Saking tampannya, beberapa cowok yang melihat mereka di sana pun ikut mengakuinya. Cowok saja mengakui, apalagi cewek kan?


Bersama-sama, Audy, Filbert, William dan Zumire memasuki club' malam yang sudah di depan mata mereka. Lantunan musik DJ dan aroma khas minuman beralkohol serta para penari tiang di tengah panggung seketika menyambut mereka begitu masuk.


"Selamat datang Tuan-Tuan.~" Archer dan Nicholas serta Willy menyambut kedatangan mereka dengan sopan.


Malam ini, club tidak begitu ramai membuat ketiga gadis itu bisa melayani satu persatu pelanggan di waktu bersamaan. Ditambah lagi pelayan di sana bukan hanya mereka saja.


Sejenak Audy, Filbert dan William menatap ketiga gadis yang menyambut mereka ini. Sedangkan Zumire tidak begitu peduli dan memiliki berjalan lebih dulu mencari tempat duduk.


Begitu menemukan meja yang cocok Zumire mendudukkan diri di sofa, diikuti oleh ketiga sahabatnya yang baru saja menyusul.


Dengan sopan Willy meletakkan buku menu di samping Audy. Disusul oleh Nicholas di samping Filbert, kemudian Archer di samping William.


"Silahkan dipesan Tuan," ucap mereka kompak.


Zumire menaikkan sebelah alisnya. Kenapa hanya ketiga sahabatnya yang dilayani sedangkan ia yang berada di paling kiri belum juga mendapat pelayanan.


Baru saja akan protes, sebuah buku menu yang diletakkan tepat di sampingnya membuat Zumire menelan lagi protesan-nya. Lantas ia mendongak untuk menatap si pelayan yang baru saja datang.


Seketika Zumire terdiam saat netra coklatnya bertemu dengan netra biru shaphire si pelayan. Paras cantik, pipi chubby dan bibir pink alami si pelayan terutama netra indahnya membuat Zumire terpesona dalam sekali pandang.


"Silahkan dipesan Om," ucap Alicia.


TBC~


Hello~^^


Salam kenal ya saya Naura Aurora, biasa dipanggil Nau. Penulis baru di aplikasi noveltoon ini. Semoga kalian suka cerita yang Nau bawakan ^^


See you~