
Alicia tiba-tiba duduk dalam keadaan terkejut...
Dia baru saja terbangun dari tidur dan terkejut saat ingat kalau dia ketiduran. Lantas Alicia mengedarkan pandangannya dan menemukan dirinya berada di dalam kamarnya sendiri. Ia juga memeriksa keadaannya sendiri dan tidak menemukan apapun yang aneh.
"Om itu sudah pulang apa belum ya?" batinnya bertanya-tanya.
Penasaran, Alicia mengeceknya ke luar kamar. Tentunya sesudah cuci muka dan gosok gigi, rutinitasnya setiap bangun tidur. Setelah mencari dan tidak menemukan kebenaran Zumire, Alicia melangkah ke depan pintu utama.
Cewek itu menemukan pintu rumah terkunci rapat sedangkan kunci rumah tergeletak di lantai tak jauh di sela-sela bawah pintu. Rupanya Zumire mengunci pintu ini dari luar, lalu mengembalikan kunci rumahnya lewat celah-celah pintu. Ia tidak akan meninggalkan Alicia yang sedang tidur dengan keadaan pintu tak terkunci.
Sekarang cewek bernetra biru shaphire ini sudah berada di teras rumah, menghirup dalam-dalam udara segar pagi hari yang baru menunjukkan pukul delapan. Alicia berniat memberi makan Anjing penjaga rumahnya.
Namun begitu sampai di rumah Anjingnya, ia terkejut melihat wadah makan hewan ini sudah penuh, begitu pula wadah minumnya. Bahkan ada satu lagi wadah yang isinya susu khusus anjing. Ia juga menemukan berbantal-bantal makanan khusus hewan ini di samping rumah Anjingnya, lengkap dengan berkotak-kotak susunya.
Alicia ingat tidak membeli semuanya itu. Lagi pula uang dari mana ia bisa membeli sebanyak itu. Tapi ia mencurigai satu orang. Siapa lagi kalau bukan Zumire. Satu-satunya orang yang mampir ke sini beberapa jam yang lalu.
"Morning Wolfy.~" Alicia menyapa.
Wolfy, nama anjing penjaga rumah Alicia. Hewan ini memiliki perawakan yang besar dan gagah, hampir mirip serigala namun dengan bulu-bulu yang jauh lebih lebat dan panjang. Ia akan sangat galak pada orang-orang asing, terutama yang berniat jahat. Tapi sebaliknya, akan sangat ramah pada orang yang dikenal, terutama Alicia.
"Guk!~" Anjing itu menggonggong ramah pada Alicia, bahkan sekarang sudah berguling-guling di depan sang babu dengan manja, seakan faham kalau sang babu tidak boleh ia sentuh sembarangan.
Alicia terkekeh kecil sembari mengambil sarung tangan dan memakainya. Ini adalah sarung tangan khusus agar saat ia menyentuh Wolfy, ia tidak perlu lagi mencuci tangan tujuh kali plus di-satro dengan tanah.
Puas bermain sebentar dengan Wolfy, Alicia kembali ke dalam rumah untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Baru saja tiba di dapur, ia dibuat heran dengan sebuah bingkisan dan note di sampingnya.
Didorong rasa penasaran, ia mengambil note itu dan membacanya...
...'******Gue pamit pulang. Sorry gak bilang-bilang, Lo nya lagi bobo....
...Btw Sorry gue nyentuh Lo gak izin pas mindahin Lo ke kamar....
...Kalo lo kesel dan gak terima, Lo boleh nonjok muka gue tiga kali kalo kita ketemu lagi entar****....
Alicia terkekeh membaca bagian tadi.
...Ini ada desert. Dimakan ya.'...
^^^By: Zumire...^^^
Note itu disimpan, Alicia beralih membuka bingkisan dan mengeluarkan tiga desert dengan rasa dan bentuk yang berbeda-beda. Ditatapnya satu-persatu desert rasa coklat, valina dan blueberry.
Ketiganya adalah desert kesukaan Alicia. Dalam hati ia bertanya-tanya kenapa Zumire bisa tahu karena ia tidak pernah mengatakannya pada lelaki itu.
Akankah Zumire me-stalker dirinya? Alicia ingin bertanya, tapi tidak jadi. Takutnya ia hanya kege'eran, kan nanti jadi malu sendiri.
Sembari tersenyum, Alicia dengan senang hati menyantap desert-nya. Rezeki ini, jangan ditolak.
...。゚❁ུ۪ °𝕸𝖊 𝕺𝖗 𝕳𝖎𝖒 𝕬𝖑𝖎𝖈𝖎𝖆?˚ ༘♡ ⋆。˚...
Dua dari beberapa kunci itu adalah kunci cadangan gembok pagar Alicia dan kunci pintu rumahnya juga. Sengaja Alicia menyerahkan kunci cadangan gembok pagar dan pintu rumahnya pada Archer, kalau-kalau saja dia mau mampir dan gak harus menunggu Alicia yang membukakan pintu.
Alicia mempercayai Archer untuk menyimpan kedua kunci itu. Dibandingkan dengan yang lain, Alicia sudah berteman dengan Archer dari awal masuk SMP dulu. Berteman selama itu dengan suka-duka yang sudah banyak terlewati, membuat Alicia tak meragukan Archer lagi.
Selain itu, Archer juga tau secara detail masalah apa yang menimpa Alicia sampai harus terjebak di club. Omong-omong soal nasib, nasib Archer juga tak jauh berbeda dengan Alicia.
"Liciaaa,~" panggil Archer setelah masuk ke dalam rumah. Sebelumnya ia juga sempat menyapa Wolfy sebentar.
"Gue di kamarr!" sahut Alicia yang memang sedang di kamar.
Tanpa ragu maupun canggung, Archer menyusul ke lantai dua. "Oi!" sapanya setelah membuka pintu kamar.
"Oi!" balas Alicia yang sedang menata diri di depan cermin full body.
Hal pertama yang Archer lihat saat membuka pintu adalah penampilan Alicia dengan rambut hitam panjang tergerai indah serta dress putih yang panjang depannya di bawah lutut dan panjang belakangnya di atas pergelangan kaki. Dipadu dengan tas selempang berwarna hitam dan sepatu hak rendah berwarna putih.
"Sudah siap Al?" tanyanya.
Pandangan netra biru shaphire Alicia dari cermin teralih menatap Archer yang memakai dress dengan warna yang senada dengannya. Bahkan hingga ke sepatu, tas dan gaya rambut yang digerai pun juga sama. Mereka sudah janjian.
Senyuman manis di wajah Alicia mengembang. Tak menggubris pertanyaan Archer, ia menarik temannya itu hingga berdiri di sampingnya, di depan cermin. "
"Kita keliatan kek anak kembar Ar," celetuknya melihat pantulan dirinya dan Archer di cermin sambil senyum-senyum.
Archer hanya terkekeh seraya merotasikan matanya. Memang benar, ia disandingkan dengan Alicia saat memakai outfit yang sama memang terlihat sangat mirip. Ditambah lagi warna mata keduanya pun sama. Hanya saja warna netra biru Alicia jauh lebih terang, sedangkan netra birunya sedikit lebih gelap.
"Udah yuk, keburu kesiangan. Entar sore kan kita harus ke club lagi," ajak Archer.
"Yuk!" Alicia mengangguk semangat. "Eh, tapi naik apa? Motor Lo kan lagi dipake Adek ngampus."
"Jalan kaki aja, gak jauh juga. Mumpung cuacanya lagi teduh."
Alicia setuju saja. Ia dan Archer hari ini akan ke toko buku. Selain Archer yang minta ditemani membeli novel, Alicia juga ingin membeli sebuah buku novel incarannya setelah sebelumnya menghitung uang tabungannya yang sudah cukup.
Sesampainya di toko buku, kedua cewek yang penampilannya ini sudah seperti anak kembar langsung saja ngacir ke bagian novel.
Sedari tadi Archer sibuk mencari buku novel incarannya sembari melihat-lihat buku novel lain, siapa tau ia minat. Alicia sendiri juga melakukkan hal yang sama dengan posisi tak pernah jauh dari Archer.
"Al, entar tukeran novel ya kalau udah pada selesai baca. Gue penasaran mau baca novel yang mau Lo beli."
"Siipp Ar, gue juga penasaran sama novel yang bakal Lo beli entar."
"Permisi...kami mendengar suara yang familiar. Apakah kalian Archer dan Alicia?"
Archer maupun Alicia terdiam sejenak. Detik berikutnya mereka kompak berbalik untuk melihat siapa yang barusan bicara. Archer seketika tersenyum kikuk melihat William dan Azuri di depan mereka. Manakala Alicia seketika berekspresi datar, terkesan malas.
"Wah, benar kalian ternyata!"