Me Or Him Alicia?

Me Or Him Alicia?
Cepter 2 (Sang Mafia)



"Silahkan dipesan Om," ucap Alicia santai, sudah bukan seperti pelayan ke pelanggan.


'Om.'


'Om.'


'Om.'


"Om?! The the ****! Om?! Gue yang belum genap dua lima tahun ini dipanggil Om?! Terlihat setua itu kah gue?!" batin Zumire, dengan ekspresi tidak terima menatap Alicia yang hanya menunjukkan wajah tanpa dosa.


Zumire yang sudah kesal, jadi semakin kesal saja rasanya. Untung cantik, Zumire jadi bisa menahan diri sedikit. Apalagi tadi dia sempat terpesona dengan pelayan yang satu ini.


Sembari mendengus, Zumire mengambil buku menu itu dan membukanya. Sejenak ia membaca menu apa saja yang ada di club ini. Begitu dapat apa yang ia mau, Zumire menyebutnya. "Gue pesan Jeroboam of Chateau Mouton Rotschild 1945."


Jeroboam of Chateau Mouton Rotschild 1945 adalah jenis wine yang digadang-gadang sebagai minuman anggur yang memiliki rasa paling menarik. Tentunya dengan harga yang melambung tinggi mencapai Rp4,1 miliar dan menjadi yang termahal di urutan ketiga dari sepuluh.


Alicia mengangguk sembari mencatat pesanan pelanggannya ini. "Jeroboam of Chateau Mouton Rotschild 1945," ulangnya. "Oke, ada lagi Om?"


"Pftt-!"


Zumire mendelik tajam pada ketiga sahabatnya yang hampir meledakkan tawa, sukses membuat mereka kicep sambil tersenyum kikuk.


Puas, ia beralih menatap datar Alicia yang lagi-lagi memanggilnya 'Om'. Namun apakah Alicia peduli dengan tatapan itu? Oh, tentu saja tidak. Dia malah terlihat bodo amat.


"Itu saja," jawab Zumire, datar.


Alicia mengangguk, lantas pergi dari sana untuk mengambilkan pesanan ke Bartender.


Kalian pesan apa?" tanya Zumire pada ketiga sahabatnya yang sudah memesan lebih dulu dan sedang menunggu pesanan tiba. 


"Cheval Blanc," jawab Audy.


Cheval Blanc merupakan wine yang memasuki peringkat kelima besar, untuk mendapatkan wine ini uang yang dibicarakan bukan lagi ratusan juta melainkan miliaran rupiah. Tepatnya Rp1,8 miliar.


Filbert menyahut setelah Audy. "Gue Penfold Grange Hermitage 1951 aja sih Zum tadi."


Penfold Grange Hermitage 1951. Merk wine termahal yang pernah dijual di negeri kanguru, Australia dengan harga mencapai USD38.420 atau setara dengan Rp534 juta. Menjadi yang termahal di urut ke delapan.


Mereka bertiga lantas menatap William yang masih belum menjawab. William yang ditatap menaikkan sebelah alisnya seraya bersuara. "Henri Jayer Cros Parantoux."


Henri Jayer Cros Parantoux. Ini adalah jenis wine termahal yang ada diurutan kesepuluh dengan harga mencapai Rp68 juta. Wine ini sangat populer terutama di wilayah Asia.


"Lah? Tumben?" heran Audy. .


"Pftt-! Lagi bokek ya Lo Will?" celetuk Filbert.


William mendengus. "Gak ya, gue emang lagi kepengen minum yang itu doang," sanggahnya.


"Udah kek orang ngidam aja Lo," ucap Filbert lagi seraya menahan tawa.


"Nistain aja terus," ketus William.


"Nah lho ngambek," sahut Audy.


"Diem Lo!" ketus William lagi.


Tak lama berselang, pesanan Audy, Filbert dan William tiba diantar oleh Willy, Nicholas dan Archer.


"Silahkan dinikmati Tuan," ucap Willy dengan sopan.


"Tunggu!" Audy menahan tangan Willy sebelum gadis berambut hitam terang yang menjadi pelayanannya ini pergi.


"Ada yang ingin anda pesan lagi, Tuan?" tanya Willy, kembali berdiri tegak dan sopan di samping Audy.


"Gak, bukan itu. Lo bisa temenin gue minum sebentar gak?" jawab Audy, seraya balik bertanya.


"Maaf Tuan, tapi masih ada pekerjaan lain yang harus saya lakukkan." Se-sopan mungkin Willy mencoba menolak.


Audy mengedarkan pandangan ke sekeliling club. "Gak banyak pelanggan malam ini lho, gue yakin masih bisa ditangani sama pelayan lain. Ayo sini temenin gue minum, gue maksa."


Willy menghela nafas pasrah dan akhirnya menuruti kemauan pelanggan yang satu ini. "Gak gratis lho ya, Tuan."


"Bagus deh..."


"Eh! Adek tungguuu!" seru Filbert tiba-tiba pada pelayan yang mengantarkan minumannya.


Spontan langkah Nicholas yang baru menjauh sedikit berhenti. Dia mengerjap bingung sambil menatap Filbert, lantas menunjuk diri sendiri. "Saya ya Tuan?" tanyanya, memastikan akankah dia yang dipanggil atau orang lain.


Melihat tingkah Nicholas membuat Filbert jadi gemes sendiri pengen cubit pipinya. "Iya, kamu Adek. Ayo sini dulu."


"Ada apa Tuan? Apa saya melakukan kesalahan? Apa saya salah antar minuman?" tanya Nicholas beruntun setelah kembali mendekat pada Filbert dengan ekspresi harap-harap cemas.


"Wow wow wow, santai dulu Adek, tanyanya satu-satu," ucap Filbert, agak kaget ditodong berbagai pertanyaan sekaligus.


Nicholas mengerjap polos membuat Filbert gemes pengen bawa pulang gadis satu ini. "Saya salah apa, Tuan?" tanya Nicholas lagi, ekspresinya berubah sedih.


"Ah, gak-gak. Adek gak ada salah apa-apa kok," ucap Filbert buru-buru. "Aku manggil Adek tadi mau minta temenin minum. Kamu bisa kan, Dek?"


Mendengar nada bicara Filbert yang berubah manis membuat William spontan merotasikan mata sembari mencibir. "Sok manis aligator satu ini," batinnya, julid sendiri.


Merasa pekerjaannya memang sedang senggang, Nicholas mengangguk tanpa ragu sembari menyunggingkan senyum manis. "Bisa kok Tuan!"


"Yeay! Thanks Adekk.~"


Zumire celingukan mencari pelayan yang tadi mencatat pesanannya. Masa hanya minuman pesanan ketiga sahabatnya yang tiba, sedangkan minuman pesanannya belum juga terlihat batang hidungnya.


Seketika Zumire geleng-geleng kepala melihat Alicia malah duduk santai di kursi depan meja Bartender sambil ngelapin gelas-gelas kosong. Heran dia, bisa-bisanya club ini masih menerima pelayan yang tidak profesional seperti itu. Padahal pesanan Zumire sudah jadi dan tepat berada di depan Alicia sendiri.


"Err...maafin kelakuan teman saya Tuan. Saya akan tegur dia." Archer yang bernasib sama dengan Willy dan Nicholas, jadi tidak enak sendiri pada Zumire. Alicia yang seenaknya, dia yang malu.


"Gak usah," tolak Zumire sebelum sempat Archer bangkit. "Biar gue sendiri yang samperin."


"Nah kan. Hadehh," batin Archer, menatap pasrah punggung Zumire yang sudah berjalan menuju tempat Alicia. Dalam hati ia berdo'a semoga gadis itu tidak mendapat masalah, lagi.


-Bruk!


Alicia terkejut bukan main saat dengan tiba-tiba ada sepasang tangan mengurungnya di meja Bartender dari belakang. Refleks saja ia hampir menimpuk orang yang mengurungnya ini dengan gelas yang ia pegang, jika saja refleks orang ini tidak jauh lebih cepat darinya.


"Selain gak profesional, ternyata Lo juga kasar ya sama pelanggan," bisik Zumire dengan suara deep tepat di samping telinga Alicia. "Menarik," timpalnya, menyeringai penuh arti.


Tangan Zumire yang masih menggenggam tangan Alicia, dapat merasakan kalau tangan gadis ini gemetar lantaran genggamannya pada cangkir semakin erat. Bukan gemetar karena takut, melainkan menahan amarah. 


"Don't touch me!" ucap Alicia pelan, dengan nada penuh penekanan.


Namun, apakah Zumire peduli? Oh, tentu saja tidak. Malah seringai di wajahnya semakin lebar.


"Alicia? Ada apa ini?"


Pertanyaan itu menginterupsi keduanya, membuat Zumire terpaksa melepas genggaman tangannya sekaligus melepaskan Alicia dari kukungannya. Sedangkan Alicia mengalihkan pandangan ke arah lain, tidak mau bersitatap dengan Aston, Bosnya. Yaa, dia adalah si pemilik club. 


Aston menatap Zumire dengan sopan setelah melihat tampang Zumire yang berbau duit. "Maaf Tuan, apa pelayan saya sudah membuat kesalahan?"


Sekilas Zumire tersenyum miring. "Ya, dia sangat tidak profesional. Pesanan saya tak kunjung diantar," ucapnya. Saat itu juga dia mendapat delikan tajam dari Alicia yang di matanya malah terlihat lucu.


Mendengar itu Aston sontak menatap tajam Alicia, sedangkan yang ditatap tak kunjung menatap balik. "Alicia! Ini sudah kesekian kalinya kamu membuat pelanggan saya tidak nyaman!"


Alicia diam saja. Menoleh tidak, apalagi menjawab. Di dalam hati, ia menyumpah serapah Bosnya itu yang selalu memarahi pekerjaannya tak kenal tempat.


Melihat tidak adanya jawaban dari Alicia meskipun hanya lontaran kata 'maaf' membuat Aston semakin berang saja rasanya. "Alicia, sekali lagi kamu membuat pelanggan saya protes, maka Fadli Ayahmu--"


"Enough!"


Detik itu juga setelah nama Ayahnya disebut, Alicia langsung menatap tajam Aston membuat lelaki gendut mata duitan ini tersenyum miring.


Menghela nafas kasar, Alicia beranjak dari duduknya dan mengambil nampan berisi minuman pesanan Zumire. "Oke, Saya akan layani Om ini dengan sangat baik. Jadi Anda, jangan macam-macam sama Ayah saya," kecamnya.


"Ayo Om." Alicia berjalan lebih dulu.


Zumire mengikutinya dari belakang dengan dahi berkerut. Ia sadar tak seharusnya ia mendengar pembicaraan Alicia dengan Aston. Namun posisinya yang berada di antara mereka, membuatnya mau tak mau harus mendengar.


Jujur saja dia merasa janggal, tapi bukannya ini bukan urusannya? Kenapa pula ia harus peduli.