
Rumah kecil nan sederhana itu tengah dihuni dua insan.Pagi sekali,mereka berdua merawat tanaman yang nantinya akan mereka jual.Toko bunga yang mereka kelola itu begitu terkenal hingga penjuru kota sekalipun.Kala itu,Felix memperhatikan seorang wanita yang tengah asik memainkan boneka kecil dengan tali yang bisa ia gerakan bagian tubuhnya.Felix benar-benar tahu dan bahagia sekali ketika istrinya pun bahagia dengan boneka itu.Boneka kayu sederhana dengan tali yang sengaja dikaitkan ke beberapa titik ditubuhnya.Boneka berperawakan seorang anak laki-laki itu terlihat manis sekali dengan senyum kecil yang terlukis indah disana.Ia membuat benda itu dalam waktu yang singkat.
Boneka itu menari.Entah tarian apa,sang istri juga bernyanyi sebagai lagu pengiring tarian si boneka.Suaranya benar-benar indah.Terlalu indah hingga membuatnya ingin sekali menangis.Sudah 10 tahun usia pernikahan mereka berjalan.Namun,suara tangis dan tawa dari seorang malaikat kecil belum bisa terdengar memenuhi seisi ruangan rumah sederhana itu.
Felix mengusap pelan puncak kepala wanita itu.Rambutnya itu terasa begitu lembut ketika menyentuh telapak tangannya.
"Ada apa?" Tanya wanita itu.Ia tersenyum hangat ketika menatap Felix.Suaminya itu menggelengkan kepalanya pelan.Dia masih tersenyum manis menatap wanita itu.
Mereka menghabiskan momen manis bersama selama lebih dari sepuluh tahun.Tepat pada usia pernikahan mereka yang ke-10,wanita itu meninggalkannya tanpa ada kata terakhir yang terucap.Felix terpaksa berpisah dengan malaikat pelindungnya itu setelah masa-masa sulit mereka lalui bersama.Hingga semuanya hancur lebur tak bersisa.Lelaki itu harus menderita sepanjang hari,disisa waktunya.
Ia tak tahu apa kesalahannya sehingga harus kehilangan ia yang paling berharga dengan cara yang membuatnya memendam rasa dendam hingga akhir hayat.
Waktu kembali berputar untuknya,kesempatan terakhir itu akan ia ambil.Walau yang pergi tak akan pernah bisa kembali lagi.Ia terkubur dalam rasa sakit dalam waktu yang lama.Dikala tempat ia kembali telah hilang,kemanakah lagi ia harus pulang?
🍁🍁🍁
Kota Alena,terletak diujung barat dari pusat kota dihebohkan dengan kebakaran lima rumah yang secara tiba-tiba.Bukan rumah penduduk biasa,melainkan tempat itu ditinggali oleh para orang yang berpengaruh disekitarnya.Seperti mantan kanselir raja,sastrawan,dan juga tokoh masyarakat lainnya.Bahkan para penghuni rumah tersebut dibakar secara brutal.Entah ulah siapa,warga sekitar bahkan sudah bertanya pada dukun sekitar tapi hasilnya nihil.
Kala itu,ia berdiri sendirian di pagi hari.Masih dalam peti kayu yang menjadi tempat ia berada disalah satu rumah sederhana itu.Cahaya mentari masuk perlahan melalui celah jendela.Hanya sepi dan kicauan satu hingga dua burunglah yang menemani.
Felix perlahan membuka kedua matanya.Betapa terkejutnya ia ketika melihat cahaya mentari yang menyelusup masuk lewat jendela.Apakah ia benar-benar terbangun di pagi hari? Rumahnya terlihat kosong kala itu.Ia sendiri tak bisa merasakan keberadaan sang majikan yang biasanya akan duduk diatas kursi yang posisinya tak jauh dari lemari tempat Felix diletakkan.
Tuan Chris tidak ada disana.Felix mencoba mencari keberadaan pria itu dengan kemampuan psikokinesis miliknya.
Bayangan itu muncul secara bertahap.Semakin jelas dan luas,namun menguras energinya dengan keras pula.
Felix menemukannya.Ia pun pergi ke kamar tuan Chris guna mengambil jubah hitam serta topi hitam guna menutupi sebagian rupanya.Ia pergi dengan keadaan kota yang tak biasa.Awan gelap dan hitam,badai mungkin akan segera turun.Namun tak berselang lama,tiba-tiba langit berubah menjadi jingga.
"Ada apakah ini?" Batinnya ketika sampai di kota Alena.Dimana sang tuan tengah berada dan tempat dimana gadis itu bekerja.
Felix pergi dengan kuda milik sang majikan,Pegasus.Dia berlari kencang mengikuti arahan batin yang sengaja Felix kaitkan.
Felix sedikit melemah ketika melihat beberapa rumah rusak serta,beberapa teriakan panik serta tangisan anak kecil membuatnya semakin tak kuasa menahan rasa sakit dikepalanya.Pegasus masih berlari dengan cepat,sedangkan Felix memegangi kepalanya dengan kedua tangan lalu menunduk.Ia merintih kesakitan.Pegasus yang menyadari hal itu semakin mempercepat lajunya menuju tujuan yang sebenarnya.
Menerjang badai angin dan juga keributan kota memang tak mudah sama sekali.Disepanjang perjalanan,pemuda itu menahan rasa sakitnya hingga semuanya usai ketika ia tiba ditujuan yang sebenarnya.Kediaman salah satu bangsawan yang paling disegani di kota Alena.Keluarga Eleanor Frank yang pernah berniat untuk membelinya dari tuan Chris beberapa bulan yang lalu.Nyonya Frank lah yang sangat menginginkannya kala itu.
🍁🍁🍁
Helena sedikit melamun ketika jam istirahat toko tiba.Ia seakan lupa apa yang terjadi di hari kemarin.Satu hal yang ia ingat adalah ia bersama Eden mengunjungi pertunjukkan boneka itu lalu pulang.Kepalanya masih terasa pening.Ia duduk sendirian sembari memandang jendela.Diluar sana,orang-orang tengah sibuk dengan pekerjaanya masing-masing.Langit mulai kehilangan cahayanya lagi lebih cepat dari biasanya.
"Apakah hari ini akan ada badai lagi?" Gumam Helena.
"Bisa saja.Entah badai salju,angin,hujan atau uang mungkin," Canda Eden.
"Ada apa nona muda? Kau terlihat gelisah akhir-akhir ini.Adakah yang mengganggumu?" Tanya Eden yang baru saja selesai mengelap meja.Ia menghampiri rekan kerja yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.Eden duduk disebelahnya.Memperhatikan wajah murung Helena yang seringkali ia lihat dibanding wajah tersenyumnya.
"Apakah terjadi sesuatu?" Tanya ia lagi.
"Tidak apa-apa," Helena berbohong.Lalu,seseorang tiba-tiba membuka pintu dengan sangat keras.Wajahnya berkeringat dan pucat.
"Kalian,pulanglah!" Madam Sulliman sang pemilik toko tiba-tiba datang ke toko dengan wajah panik.
"Ada apa?!" Tanya Eden yang juga ikut panik.Wanita tua itu mengemasi barang-barangnya dalam sebuah tas jinjing yang ia bawa.
"Kota sedang dalam bahaya.Kau tak tahu? Sirine dibunyikan dimana-mana.Cepat pulang bahaya!!!" Perintah Madam Sulliman yang dengan cepat meraih mantel bulunya lalu bergegas pergi dengan sang suami.
Eden dan Helena pun ikut pergi setelah mendengar hal itu.Eden beruntung ia sudah dijemput duluan oleh sang tunangan dengan kereta kudanya.Sedangkan Helena harus berjalan kaki.Jarak yang lumayan jauh tetap harus ia lewati.Ia kira madam Sulliman hanya menyebarkan berita bohong yang tak pasti,namun rupanya kepanikan itu semakin terlihat disepanjang jalan ia menuju rumah.
Orang-orang panik.Mereka berlarian kesana kemari tanpa membawa barang apapun.Kota seakan-akan mulai porak-poranda oleh keributan.Pasukan orang berjubah merah dengan kudanya datang tak henti-henti.Mereka tak menyerang warga,hanya saja mereka merusak dan menerobos paksa masuk rumah warga dengan cara yang kejam.Entah apa yang mereka cari.Helena berlari dengan cepat menuju nyonya Alexa yang sedang duduk ketakutan diluar tokonya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Helena syukurlah kau tidak apa-apa," wanita tua itu merengkuhnya dengan penuh ketakutan.Helena berusaha menenangkan ia sebentar.
"Nona muda,kau tahu batu sihir ini?" Salah satu dari pasukan jubah merah itu memperlihatkan selembar kertas pada Helena.Sebuah gambar batu bewarna biru.Helena sempat terdiam sejenak namun ia segera mengelak.
"Aku tidak tahu.Tolong jangan ganggu kami!" Bentaknya
"Kau yakin?" Tanya laki-laki itu lagi.
"Pergilah!" Teriak Helena sembari memeluk nyonya Alexa.
Si jubah merah itu pun akhirnya pergi dari hadapannya.Namun kekacauan kota masih belum mereda.Helena bisa melihat beberapa orang diserang dengan panah akibat melawan mereka.Bahkan beberapa rumah yang hancur terbakar oleh api pun sangat mengerikan dimatanya.Ia tak tahu apa yang terjadi namun yang pasti,mereka mengejar si pemilik kalung sihir itu.
Awan ungu yang aneh tiba-tiba berubah menjadi biru kembali.Semua pasukan jubah merah itu seketika tumbang dari kuda mereka sembari merintih kesakitan.Tiada angin tiada badai mereka bahkan kesulitan untuk sekedar bergerak,maka mereka semua merangkak agar bisa kabur dari amukan warga sana yang melihat kesempatan untuk menyerang balik guna membalaskan amarah mereka.
"Lebih baik kau masuk dulu ke rumah," pinta Helena pada nyonya Alexa.Wanita itu pun sesegera mungkin masuk rumahnya yang telah rusak sebagian bangunannya.
Helena melihat secercah cahaya terang dilangit yang menyorotnya.Seseorang datang berjalan kaki dengan jubah hitam dan seekor kuda putih disampingnya yang tengah membawa seorang pria tua yang pingsan.Ia rasa,ia mengenalnya.
"Maaf aku terlambat.Kau tidak apa-apa?" Angin membuat tudung yang ia pakai terbuka.Surai indah miliknya itu pun terlihat oleh Helena.Manik mata yang dingin nan sendu itu menatapnya.Kulit pucat yang dia miliki membuat Helena mengenali sosok itu seketika.
"Felix?"
-Bersambung