
Alberian datang padanya.Seorang pianis yang sering muncul dalam pertunjukkan boneka milik tuan Chris.Kemarin ia muncul tiba-tiba dihadapan Elena.Bahkan ketika mereka jalan-jalan,semua orang yang melihat begitu iri.Mereka jelas-jelas memandang keduanya.Apalagi para gadis yang menyukai Alberian sangat iri pada Helena yang bisa akrab dengan salah satu orang berada sepertinya.Laki-laki itu memang punya ikatan dengan tuan Chris,tapi dia berada dikeluarga yang berbeda.
Pria itu bahkan membawanya ke salah satu restoran mahal yang mustahil Elena bisa kunjungi sendiri.Dia bilang bahwa dia kesepian,dia tidak punya teman karena sekolah di sekolah khusus terbaik dengan peraturan paling ketat di Italia.Maka dari itu ia benar-benar kesulitan mencari teman yang bisa diajak bicara.Hari itu memang terjadi secara kebetulan.
Alberian memutuskan untuk menjadi pianis setelah lulus sekolah,tak lama ia mengajukan diri untuk bergabung sebagai anggota dalam tim pertunjukkan boneka tuan Chris.Selain Felix,dia juga menjadi incaran para wanita termasuk para bangsawan.
***
Toko roti yang menjadi tempat ia bekerja tiba-tiba menjadi ramai sekali.Helena tak tahu apa-apa,begitu ia datang suasananya memang sudah seramai itu.Gadis itu sesegera mungkin pergi ke dapur belakang.Ada Eden dan beberapa rekan kerja lainnya yang tengah sibuk tak seperti biasanya.
"Eden,ada apa ini?" Tanya Helena yang penasaran.
"Tuan Alberian.Dia membuat toko kita laris sekali,"
Benar saja,semua langsung ramai karena pria asing itu.Ia membuat banyak pelanggan wanita mengerumuni dirinya.Helena kembali ingat kalau pria itu mahir dengan piano.Kebetulan sekali kalau toko roti itu memang punya piano tua di gudang belakang.Dulunya mereka punya pemain musik untuk itu hanya saja karena sang majikan tak sanggup membayar akibatnya mereka pergi.
"Nona Helena," Alberian melambaikan tangan guna menyapa gadis yang baru saja datang itu.Semua mata yang iri tertuju pada mereka.
"Orang cantik memang selalu beruntung," para pengunjung lain yang iri dengan Helena.Mereka menjadikan gadis itu bahan perbincangan yang menarik.
Alberian sejenak menghentikan kegiatan memainkan jarinya pada tuts piano.Satu tangannya merogoh saku celana.
"Ini untukmu nona manis.Jangan lupa datang karena ini gratis," Alberian memberikan satu lembar kecil kertas bewarna coklat.Ternyata,tiket pertunjukkan boneka tuan Chris yang ia berikan.
***
Helena menatap sendu selembar kertas yang ia pegang.Tiket itu,memaksanya datang kembali ke tempat yang ia sama sekali tidak tertarik akan hal itu.Helena bersama dengan Eden kala itu.Mereka kembali masuk ke dalam gedung tua dimana itu menjadi tempat pertunjukkan itu biasa digelar.
Semua orang sangat antusias,mereka bahkan datang bersama pasangan serta keluarga mereka hanya untuk menonton pertunjukkan sebuah boneka saja.Untung saja,masih ada sisa kursi kosong bagi Eden dan Helena yang saat itu agak terlambat ketika datang.
Pertunjukkan itu nampaknya berjalan seperti biasa.Helena tak bisa mengalihkan pandangannya pada Felix yang tengah bermain dengan yang lainnya.Entah perasaanya saja atau bukan,ia merasa aura Felix adalah salah satu yang paling berbeda.Helena juga heran,mana mungkin boneka kayu sepertinya akan berubah hampir mirip seperti manusia sungguhan dimalam hari? Gadis itu tak berani bertanya,bukan hanya dirinya tapi dengan penonton lainpun sempat berpikiran yang sama sepertinya.
"Boneka itu benar-benar pandai menari," puji salah satu bangsawan yang duduk paling depan.
Helena ingin segera pertunjukkan selesai saja.Ia pikir,sudah terlalu larut baginya untuk pulang.Ketika Elena berdiri,semua lampu seketika padam.Semua orang panik dan berteriak tak karuan.Lampu yang padam sebelumnya mengeluarkan percikan hingga membuat para tamu pun serentak pergi keluar guna menyelamatkan diri.
"Semuanya baik-baik saja.Mari berkumpul kembali!" Seru tuan Chris yang datang ke depan panggung.Tak lama,lampu pun kembali menyala seakan tak terjadi apa-apa.Semua orang pun mempercayai perkataannya lalu kembali duduk pada kursi masing-masing.Pertunjukkan pun dimulai kembali.Mereka menikmatinya hingga akhir.Alberian pun kembali fokus pada pianonya setelah memastikan bahwa Helena masih aman,berada dikursinya sendiri bersama dengan rekannya Eden.
Hanya satu orang yang tidak bangkit dari kursinya.Seseorang yang dicari oleh sang boneka.
"Ada apa?" Tanya Eden yang melihat Helena yang menundukkan kepalanya kebawah.
"Oh tidak apa-apa," sanggah Helena dengan cepat.Helena sedikit tergagap barusan.
"Kamu sakit?" Tanya Helena pada Eden yang kulitnya terlihat pucat.
"Aku? Aku baik-baik saja," ucapnya.
"Para bangsawan menghilang?" Batin Helena.Ia semakin membeku ditempat.Jam didinding rupanya tidak berdetak lagi seperti beberapa saat yang lalu.
***
"Kamu tidak apa-apa kan kalau pulang sendiri?" Tanya rekannya,Eden.Sayangnya,gadis itu juga tidak bisa menemaninya karena ia sudah terlanjur dijemput oleh tunangannya dengan kereta.
Seharusnya Helena tidak pernah pulang malam ketika salju turun.Ia telat memikirkan hal macam itu.Ia pulang sendiri dengan memakai jaket tebal berbulu yang ia bawa.Walau begitu,badai salju memang bukan sekedar salju turun,namun angin kencang yang mengikutinya turut serta menyerang kapan saja.Terutama malam hari,disaat orang-orang sudah sampai dirumah mereka yang hangat.
Sejak ia berada di panti asuhan,ia menghindari turunnya salju.Cuaca itu membuat sekujur tubuhnya merasakan sakit.Nafasnya terengah dikala ia sedang berjalan sendirian.Ia tak tahu jika malam itu,badai salju akan menerjangnya.
"Helena," panggil seseorang dari arah belakang.Helena memutar tubuhnya yang menggigil itu secara perlahan.Dilihatnya Felix yang berdiri dengan pakaian yang sama dengan yang ia pakai saat pertunjukkan tadi.
Helena tak sempat membalas apa-apa.Tubuhnya terlanjur ambruk diatas salju.Felix segera berlari lalu mengangkat tubuh itu.Kulit Elena yang lembut dengan mudahnya hampir seperti membeku.Beda dengan dia,Felix masih bisa menahan udara dingin seperti itu.Ia pun akhirnya membawa gadis itu ke rumahnya.Untunglah,tak ada siapapun yang melihat mereka hingga akhirnya ia membawa Helena dengan aman sampai ke rumahnya.
"Maaf sudah merepotkanmu," kata Helena.Gadis itu dibantu oleh Felix agar bisa berbaring sebuah sofa panjang yang ada di ruang tengah tepatnya dirumahnya sendiri.Sementara itu,Felix tidak menjawab dan malah fokus menyalakan perapian guna menghangatkan ruangan.
Gadis itu menatap dirinya sendiri yang kala itu berbaring dengan selimut hangat nan tebal dirumahnya sendiri dengan nyaman.Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika Felix tidak datang.Mungkin ia akan mati membeku sendirian di tanah itu.Bara api yang menyala diperapian cukup membuat ruangan itu terasa lebih hangat dari sebelumnya.Felix duduk sendirian diatas kursi kayu yang letaknya dekat perapian itu.Ia diam sembari menatap kayu-kayu yang terbakar.
Helena yang tadinya berbaring,mencoba untuk mengatur posisinya agar bisa duduk.Felix yang menyadari hal itu seketika menolehkan pandangannya.Ia lalu berjalan pelan menghampiri Helena.
"Kau baik-baik saja jika sendirian?" Tanya Felix yang lalu duduk ditepi ranjang.
"Kau harus segera pulang bukan?" Helena.
Felix meraih kedua tangan Helena seraya memejamkan kedua matanya.Entah hal apa yang ia lakukan namun Helena merasa tubuhnya sedikit lebih hangat.Gadis yang hampir jatuh tersungkur ke tanah itu seakan mendapatkan energinya kembali.Tak lama kemudian,Felix kembali membuka kedua matanya.Pemuda itu menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Helena.Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa.Felix,Ia tidak tersenyum malam itu namun...
"Aku rela menumpahkan segalanya.Agar bisa kembali padamu,"
-Bersambung