Marionette (Felix Lee)

Marionette (Felix Lee)
Tre



Kulit putih pucat,rambut putih,hidung lancip,wajah kecil dan bibir tipis yang indah.Bukankah itu layak disebut sebagai penampakan malaikat yang turun menjadi seorang pangeran?


Namun,apakah definisi pangeran pada setiap masa sama?


Keturunan bangsawan dengan kuda putih dan mahkota emas?


Ataukah pria misterius dari negeri antah berantah dengan baju besi dan pedang di tangan?


Adakah yang lebih berbahaya dari ini?


Bagi seorang gadis yang tak tahu menahu akan masalah cinta,seseorang yang memberinya senyuman serta kebaikan tak terkira sudah seakan seperti malaikat yang berwujud pangeran di bumi.Anggap saja khayalan Helena terlalu tinggi,tapi memang begitu.


Orang baik itu banyak,orang jahat juga banyak.Bagaimana cara kita memilih adalah yang terpenting.


***


Ada yang bilang,terik matahari lebih baik daripada derasnya hujan.Nyatanya tidak begitu.Pagi hari sekali,tidak biasanya hujan turun begitu deras.Beberapa orang berbondong-bondong mengambil payung mereka.Tentu saja,hujan tidak bisa menahan mereka untuk diam dirumah.Dompet mereka harus terus terisi,dapur harus terus mengepulkan asapnya,dan manusia harus terus berjalan ke depan untuk bisa bertahan hidup.


Suara lonceng salah satu gereja kembali menggemakan suaranya.Burung-burung yang bertengger didekatnya seketika terbang bersamaan dalam satu arah.Andai manusia juga bisa begitu.Senantiasa bersama dalam keadaan apapun.


Helena masih bisa membayangkan wajah sang Tyto Alba kemarin malam.


Salah satu temannya Peter pernah bilang sesuatu padanya.Kalau burung hantu itu memang mahluk suruhan para penyihir dalam hutan.Mereka seringkali ditumpangi energi jahat,bahkan roh ataupun pesan buruk.Maka dari itu suara mereka terkadang terdengar berat,melengking dan juga seperti orang yang sesak nafas.


Ia sebenarnya jadi takut untuk sekedar keluar rumah.Hanya saja,pekerjaannya itu tentu lebih penting dibandingkan rasa takutnya kemarin malam.Akhirnya ia pun kembali bekerja,terutama di sebuah toko roti yang buka hingga malam hari.


"Kau sibuk hari ini?" Tanya Eden,salah satu gadis di toko itu.Usianya lebih tua 2 tahun dari Helena.


"Mau menonton pertunjukkan bonekanya tuan Chris lagi.Bagaimana?" Tanya dia


Helena tersenyum sembari menggelengkan kepalanya perlahan.Tandanya ia menolak ajakan rekannya itu secara halus.Gadis yang tak sama sekali tertarik dengan boneka itu selalu menyimpan rasa heran pada orang-orang.Mengapa mereka menyukai pertunjukkan seperti itu?


***


Bukankah malam adalah bagian dari hari yang paling berbahaya? Semuanya gelap seakan menutupi ketidaktahuan yang memang hanya boleh disaksikan oleh orang-orang tertentu.Bahkan kesunyiannya sendiri menjadi tanda,orang-orang harus diam dan pergi saat ia datang menghampiri.Tapi masih ada saja yang berani bertarung dengan kelamnya malam.


Semua orang berkerumun di tengah bangunan yang terletak dekat dengan pasar.Tepatnya di salah satu gudang penyimpanan beras dan padi.Semua orang memenuhi tempat itu,rasa penasaran memenuhi pikiran orang-orang.


Entah ada apakah gerangan disana sehingga membuat orang-orang berkumpul.Padahal tidak ada perang,perampokan ataupun sebagainya.Hanya ada satu tubuh yang terbujur kaku disana.Sepasang mata itu terbuka di tubuh yang terlentang.


"Dia sudah mati" kata salah satu pria petugas keamanan yang sudah memeriksanya.


Orang-orang panik sekaligus bingung.Mereka masih mencari-cari bagaimana bisa pemuda yang menjadi salah satu supir truk itu bisa mati disana dengan mata terbuka dan tak ada bekas apapun disana.


Dugaan adanya praktek sihir atau ilmu hitam merebak di masyarakat.Tak ada yang tahu pasti mana yang benar.Ada juga yang bilang itu murni serangan jantung.Sebagian lagi percaya bahwa pemuda itu sudah di tumbalkan oleh seseorang dari negeri jauh.Mengingat,di kota mereka tak ada seorangpun yang berprofesi sebagai dukun ataupun penyihir.


***


Helena terpaksa pulang lebih larut dari biasanya.Jarak dari tempat ia kerja ke rumah memang tidak terlalu jauh,hanya saja jalanan yang ia lewati terlalu sepi.Hanya beberapa rumah kosong,yang berada di lahan pertanian.Harus berjalan agak jauh lagi menuju pemukiman tempat rumanya berdiri sekaligus tempat ia untuk pulang.


Sambil membawa satu keranjang kayu berisi sayuran hasil pemberian dari tuan John sang pemilik kebun yang berjualan di pasar.Helena mempercepat langkah kakinya.Angin malam terlalu kejam baginya.Helena memang tak tahan akan dingin karena itu bisa membuatnya cepat sakit bahkan sesak nafas karena penyakit bawaannya.


Satu tangan kekar tak terduga tiba-tiba saja mencekik lehernya.Helena panik dan nafasnya sesak.Ia tak bisa melihat jelas siapa orang jahat itu disaat ia memakai topeng dan posisinya membelakangi Helena.Ia mencoba melepaskan diri tapi hasilnya nihil.Tenaganya terlalu lemah untuk melawan pria besar seperti itu.Nafasnya tersendat hingga berteriak tolong pun sulit.Meminta bantuan hingga suaranya parau memang tak memberinya hasil apa-apa.Hingga tangan besar itu tiba-tiba turun dari lehernya.Tubuh itu ambruk di belakangnya.Helena mencoba menghirup nafas sebanyak-banyaknya setelah itu.Tubuhnya seketika melemas hingga ia jatuh terduduk diatas tanah kering.


"Kau sudah mempercepat langkah tapi masih saja tak menyadari ada yang mengikutimu" suara berat itu terdengar tak asing.Helena menolehkan kepalanya ketika pemuda itu berdiri dengan memegang satu tongkat kayu.Sepertinya ia sudah memukul pria jahat itu barusan.


"Felix?" Helena dengan suaranya yang parau.


"Ayo kita pulang" Ajak Felix.Ia pun memposisikan dirinya dengan berjongkok dibawah.


"Kenapa melamun? Ayo naik! Kau tidak mau pulang?" Felix


Helena hanya diam,ia masih terduduk di atas tanah.Kakinya terlalu lemas untuk berjalan.


"Aku tahu kau terkejut.Kau itu memang lemah maka dari itu aku menawarkan diri untuk menggendongmu" lanjut Felix.Gadis itu hanya menatapnya datar.Mungkin ia masih syok dengan kejadian beberapa menit lalu.


"Ya sudah kalau begitu"


Felix menghampiri gadis itu.Ia mengangkat tubuhnya bukan dalam gendongan punggung lagi,pemuda itu menggendong Helena dengan gaya bridal.Sontak saja gadis itu terkejut bukan main hingga matanya terbelalak.


"Kamu ngapain? Gak usah aku bisa jalan sendiri!"


Felix tak mengidahkan perkataan gadis itu yang secara terang-terangan menolak tawarannya.Ia pun masih tetap menggendongnya sampai ke rumah gadis yang sekaligus tetangganya itu.


"Felix,ini tidak benar.Kalau ada yang melihat bagaimana?"


Kedua mata itu memandang Helena hingga gadis itu tak bisa berkata apa-apa lagi.Sungguh jika harus dibilang boneka kayu,ketika malam hari dia lebih terlihat seperti patung lilin yang terlalu sempurna.Setiap pahatannya begitu indah.Helena hanya bisa diam sambil tersipu malu.


Felix masih berjalan.Hanya beberapa meter lagi menuju rumah Helena.Untungnya saat itu,semua orang sudah tidur.Tak ada satupun yang terlihat dari mereka duduk atau berdiri di luar rumah.


"Kau,tidak melihat langit hari ini?" Tanya Felix disela-sela perjalanan mereka.


"Memang ada apa dengan..." Helena mengangkat kepalanya.Melihat keatas langit karena penasaran.Nyatanya,yang ia temukan hanyalah satu bintang.Hanya satu tapi kenapa sinarnya begitu terang? batin Helena.


"Itu bintang milikmu" Felix


-Bersambung