
Keranjang kayu miliknya kini sudah penuh.Ia sudah mengelilingi banyak pedagang dipasar.
"Nona Helena" panggil seorang wanita tua pemilik toko roti.
"Ini ambilah untukmu" seorang bibi dari salah satu toko roti memberikan satu keranjang roti yang masih panas.Baru saja ia angkat dari oven.
"Terimakasih bibi Edma" ucap Helena sembari tersenyum ramah.
Helena.Gadis biasa yang bekerja di toko roti.Sekaligus gadis paling menyedihkan bagi mereka yang tahu latar belakangnya.Dia adalah seorang yatim piatu.Dibuang setelah lahir,dirumorkan sebagai anak haram dan ditinggalkan oleh seluruh keluarga yang satu darah dengannya.Mereka semua tak ada yang mau mengakui siapa Helena.
Beruntungnya ia tinggal di kota dengan penduduk yang ramah.Kota paling damai.Gadis itu memang lahir di wilayah Eropa,namun wajahnya adalah wajah milik orang Asia.
Hidup sebatang kara membuat gadis itu seringkali bekerja sebagai pengupas sayuran dan buruh masak disalah satu kedai kecil selain di toko roti.Ia memang mempunyai banyak pekerjaan karena ia sadar,hidup sendiri itu tak mudah.Ia harus banyak menghasilkan uang bagi kelangsungan hidupnya.
Namun masih saja ia mendengar sebagian orang membicarakan hal aneh tentangnya.Julukan populernya adalah "Gadis terkutuk".Entah kenapa,mungkin pada jaman usia 18 tahun sudah lumrah bagi gadis-gadis disana yang dipinang oleh saudagar kaya bahkan duda sekalipun.Helena yang saat itu berusia tepat dengan angka tersebut hanya diam saja.Ia memang tak tertarik untuk menikah di usia muda seperti yang warga kota itu pikirkan.Bahkan,tak ada satupun pria yang melirik Helena sebagai gadis.Tak pernah ada yang memanggilnya sebagai seseorang yang cantik.Ia hanya terkenal dengan sifat dan karakternya yang baik hati serta rajin.Gadis telaten sepertinya memang sangat dibutuhkan oleh siapapun,tapi tak diinginkan oleh pria manapun juga pada saat itu.
***
Di rumah tua sederhana.Pak tua itu kembali memulai harinya.Ia bangun pagi sekali untuk membersihkan rumahnya.Tak lupa,beberapa sampah yang harus ia buang hari itu.Pagi hari sekali ia dengan rajin melakukan semuanya sendirian.Ia memang sudah terbiasa dan itulah yang membuatnya terkenal.
Ia tak lupa,untuk mengeluarkan Felix dari lemari kayunya.Lemari itu lebih pantas disebut peti mati yang berdiri tegak.Ia yang membuatnya sendiri hanya untuk Felix.Menggunakan kayu-kayu tua yang ia ambil sendiri dari hutan yang jaraknya tak jauh dari sana.Berbeda dengan boneka yang lainnya,sekedar disimpan di lemari kayu dengan jendela kaca.Banyak yang bilang kalau rumah tuanya itu lebih pantas disebut museum dibanding rumah.Banyak barang antik nan aneh yang dimuat didalam sana.Ditambah boneka-boneka yang ia buat memberi kesan yang berbeda.Kalau berkunjung malam hari memang sedikit menyeramkan.
Hanya butuh lap basah saja untuk membersihkan bonekanya.Selain itu,setiap hari ia mengganti dan mencuci setiap kostum bonekanya.Sepanjang hari,jika ia sedang tak sibuk pun pria tua itu yang menjahit bahkan merancang sendiri desain pakaian untuk bonekanya.Kemampuannya itu telah dimilikinya sejak kecil,saat ia masih sekolah menengah.
Tuan Chris memang tidak termasuk dalam daftar orang tua yang terbuka di kota sana.Ia hanya akan menyapa saat pertunjukkan saja.Selebihnya,ia jarang sekali keluar rumah selain berbelanja ke pasar untuk membeli roti dan bahan makanan lainnya.
Semakin ia tua,mungkin perubahan hidup semakin ia rasakan.Terlebih,setelah mengenal Felix.Boneka kesayangannya itulah yang menemani dirinya.Pria itu telah selesai membersihkan dan mengelap badan boneka Felix.Ia pun bangkit dari duduknya dan pergi sebentar untuk mencuci pakaian boneka-bonekanya.Pria itu tahu betul,boneka terbaiknya itu memperhatikan setiap gerak-geriknya.Hanya saja,ia hanya akan terlihat hidup jika malam hari datang.Selebihnya,di pagi hari ia hanya boneka kayu biasa.Mungkin nilai tambahnya hanyalah parasnya yang tampan.
***
Malam hari yang sunyi senyap tanpa suara.Diantara riuhnya roda-roda kereta yang sudah berhenti beberapa menit yang lalu.
Tak lama,ia bangkit dari ranjangnya sendiri.Untuk pertama kalinya,jam tidur malamnya bisa dijeda oleh suara burung yang sedikit menyeramkan itu.Terpaksa ia harus menyeret kedua kakinya tuk sekedar memeriksa dari mana asal suara burung tersebut.Matanya sudah terasa berat,ia bahkan sudah kesulitan menahan kantuk dan mulutnya yang terus menguap.
Helena pergi ke halaman belakang rumahnya.Dahulu,halaman belakang rumah orang-orang memang tak dibatasi oleh apapun.Hanya sebagian yang memakai tembok disatu sisi dan sebagian lagi memakai pagar kayu.
Saat ia keluar,suara burung itu semakin terdengar jelas.Terdengar datang dari rumah tetangga terkenalnya.Ia yakin suara itu berasal dari rumah si pembuat boneka.Siapa lagi kalau bukan Tuan Chris si tangan hebat.Rumah pak tua itu tak biasanya berisik dimalam hari.Karena ia tinggal sendirian dan yang Helena tahu,pak tua itu tidak pernah memelihara satu ekor hewan pun dirumahnya.Bahkan ia tak mempunyai seorang anak pun,apalagi seorang putra.Sehingga ia menjalani masa tuanya sendirian.Mungkin hanya boneka-boneka itulah yang mampu menemaninya.
Helena melihat ke sekelilingnya.Tak ada tuan Chris di halaman belakangnya,namun yang ia temukan lebih mengejutkan.Seseorang duduk di kursi kayu tua.Badannya memang membelakangi Helena.Entah apa yang ia lihat,karena hanya ada pohon pinus tua berdaun lebat yang ada di pekarangan rumah tuan Chris.Helena mencoba mendekatinya.Matanya mengamati ia lebih dekat.Ia bukan tuan Chris jika dilihat sekilas dari belakang.Rambut putih,badan yang cukup tinggi dan ramping.Juga,ia memakai kemeja putih dan celana panjang bewarna coklat.Lalu,ada seekor burung bertengger pada bahu kirinya.Pemuda itu hanya diam,seolah-olah tak pernah bergerak.Apakah ia patung? Batin Helena bertanya-tanya.
Gadis yang penasaran itu pun kembali melangkahkan kakinya hingga tiba-tiba saja jantungnya sedikit berdegup kencang.Helena hampir saja terjatuh saat melihat burung hantu itu memutarkan kepalanya.Mungkin sekitar 180° derajat atau lebih.Sungguh menakutkan jika dilihat langsung pada malam hari.Mata bulat sempurna dengan warna hitam legam itu.Bulu kuduk Helena seketika meremang setelah ditatap mahluk yang dipercayai mistis oleh kebanyakan orang.
"Hmm...tuan,anu" ucap Helena begitu pelan.Mungkin pemuda itu tidak mendengarnya.Ia pun melangkahkan kembali kedua kakinya tuk lebih dekat.
Kini giliran Helena yang mematung.Beberapa detik kemudian,pemuda itu bangkit.Masih dengan burung hantu yang nampak tenang dan betah berada di bahunya.Pemuda itu membalikan badannya menghadap Helena.
"Nona" ucapnya dengan suara berat.
Helena masih belum bisa percaya dengan apa yang ia lihat.Jika ia tak percaya juga semuanya akan terasa rumit.
"Kau siapa?" Tanya Helena.Tangan kanan dengan jari telunjuk yang menunjuk pada pemuda itu bergetar.Antara takut dan gugup,begitulah keadaan Helena malam itu.
"Felix" jawabnya singkat.Kedua bola mata yang dingin itu menatapnya.
Gadis itu kembali berpikir.Mendengar nama Felix rasanya tidak asing ditelinganya.Beberapa menit ia habiskan untuk kembali mengacak-ngacak memori otaknya sendiri.Ia pusing sendiri hingga sesaat melihat penampilan pemuda itu rasanya pernah ia lihat disuatu tempat.
"Felix?! Maksudmu Felix?!" Helena belum sempat mengatakan yang lebih jelas.
"Aku memang Felix.Boneka yang kau lihat kemarin saat pertunjukan boneka milik tuan Chris"
-Bersambung