Marionette (Felix Lee)

Marionette (Felix Lee)
Quattro



Akhir-akhir ini udara terasa semakin dingin.


Handuk yang ia jemur di salah satu gantungan di belakang halaman rumahnya bahkan tidak kering sepenuhnya.Jika menyentuhnya saja pun serasa mengeluarkan benda itu dari dalam air es.


Helena menyadari bahwa musim salju datang lebih cepat dari biasanya.Ia juga tak bisa melakukan banyak hal karena udara dingin.Tubuhnya tak bisa menahan dingin terlalu lama.Tak seperti sepasang burung liar yang entah apa jenisnya betah berlama-lama bertengger pada dahan pohon miliknya di halaman belakang rumah.


Helena menengok kesana-kemari.Nyatanya pagi miliknya selalu sama.Tak ada yang berubah.Terutama halaman belakang milik tetangganya.Hatinya sedikit kecewa mendapati tak ada seorangpun yang duduk disana.Seperti malam itu.Kedua kakinya berjalan sedikit lagi ke depan.Satu tangannya terulur merasakan udara dingin yang berhembus.


Tanpa ia sadari,embun-embun es sudah turun di luar sana.Musim dingin datang lebih awal dari perkiraannya.


Satu gumpalan salju kecil menyentuh punggung tangannya.Rasa dinginnya seperti tak asing.Helena tiba-tiba saja ketakutan.Ia akhirnya berlari secepatnya ke dalam rumah seraya menutup pintu belakang yang langsung mengarah ke tamannya.Ia tak menyangka,ingatan mengerikan lewat salju masih membekas.Elena hampir saja lemas dibuatnya.Napasnya sedikit terengah.


Tak lama setelah itu,Helena baru saja ingat bahwa dia sedang menyiapkan sesuatu di dapurnya.Ketel uap miliknya sudah mengepulkan asap dari beberapa menit yang lalu.Waktunya ia untuk mengangkatnya dari kompor.Tak lupa ia sudah menyiapkan bubuk biji kopi yang sudah ada dalam cangkir miliknya.


Espresso yang ia tambahkan secangkir kecil susu cair itu mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi warna coklat muda.Asap dari cairan itu masih terlihat mengepul ke udara.Pagi itu,bersama dengan roti kering saja sudah membuatnya terasa lebih hangat.


Sama seperti dirinya,sang tetangga juga tak berminat untuk keluar dari rumahnya disaat udara semakin dingin dan membuat sekitarnya mulai membeku.Pria tua itu sibuk sendiri dengan boneka-boneka koleksinya.


"Jadi,kau menemui gadis itu?" Tanya Chris pada Felix yang mematung di sana.Di dalan etalase kaca yang baru saja selesai ia buat beberapa hari yang lalu.Felix tidak menjawab dalam wujud boneka seperti itu di pagi hari.Chris hanya bisa menghela napas dengan kasar.Sungguh,seharusnya Felix tidak boleh menampakan wujud aslinya pada siapapun.Sesuatu yang berbahaya bisa mengintai dirinya kapan saja.


Pak tua itu akhirnya membuka lemari dimana pemuda itu mematung.Kalung dengan liontin berbentuk bulan itu ia lepaskan perlahan dari leher Felix.


Tak lama,wujud benda itu sudah berubah menjadi manusia.Felix yang terkejut sempat mengedipkan matanya berulang kali karena tak percaya dengan yang dilakukan majikannya itu.


Pak tua itu kembali lagi ke tempat duduknya.Ia sudah menyiapkan satu botol hitam.Sloki didekatnya ia siapkan untuk menuang isi botol itu.Warna merah dan sangat kental rupanya sangat pas untuk mendefiniskan isi dari botol hitam yang sudah ia simpan selama berhari-hari.


Pria itu memberikannya.Bukan untuk diminumnya sendiri ternyata.Ia mendekatkannya pada Felix.


"Kau butuh ini bukan?" Chris menunjuk pada sloki itu.


Felix hanya diam.Ia lalu berjalan mendekati meja majikannya.Dilihatnya gelas kecil itu terisi penuh.Akhirnya,cairan kental dan pekat itu mengalir membasahi kerongkongannya yang kering.Rasanya manis,walau baunya sungguh bisa dibilang amis.


Felix kembali menatap pria tanpa senyum itu.Mereka memiliki satu kesamaan.Mata mereka,sorot dingin yang membuat orang-orang terkadang enggan untuk mendekat.


***


Helena,dengan jaket tebal bewarna ungu.Tak lupa dengan satu tas jinjingan miliknya berupa sayuran gratis yang ia dapatkan pagi tadi.Helena berjalan sendirian diantara riuh padatnya jalanan.Karena ia sedang libur,tak ada kegiatan apa-apa selain berdiam dirumah.Gadis itu menyempatkan diri sebentar berjalan ke arah taman yang berada di depannya.Dia duduk diatas kursi kayu sederhana.Melepas penatnya sementara disana sembari melihat seorang pria muda yang tengah memberi makan merpati.Pria itu menaburkan sesuatu,terlihat seperti remahan roti.Langsung saja,puluhan merpati mendatanginya.Menyerbu tiap remahan yang berserakan di atas tanah.Pria dengan mantel bulu bewarna hitam itu terlihat tersenyum.Ia terlihat menikmati kegiatan tersebut.


Ketika Helena hendak pergi,pria itu memanggil namanya.


"Nona Helena!" Teriaknya.Helena yang terkejut membalikan badannya.


"Iya." Balas Helena.


"Tidak apa-apa.Hanya ingin memanggilmu.Ternyata bibi tukang roti itu tak berbohong padaku."


"Bohong? Mengenai apa?"


"Ah iya.Namaku Alberian.Kau mungkin tidak terlalu tahu mengenai aku sebagai pianis di pertunjukan tuan Chris." Jelas pria bernama Alberian itu.Tubuhnya tinggi dengan surai coklat yang indah.


"Maaf,aku tidak menyadarinya." Helena.


"Tak apa.Kau sibuk hari ini?"


"Tidak." Ucapnya singkat.


Tiba-tiba tangannya ditarik.Bukan ditarik paksa dengan keras.


"Kalau begitu,aku ajak kamu jalan-jalan ya." Ucapnya.Helena tak bisa apa-apa.Ia menurut saja ketika melihat senyum yang indah itu terlukis di wajah Alberian yang nampak hangat.


Hari itu,Helena nampak menikmati harinya.Walau Alberian hanya mengajaknya berbincang dengan topik biasa.Walau Alberian hanya mengajaknya ke restoran terdekat tapi rasanya menyenangkan bagi Helena dapat mengenal orang baru.Alberian juga memiliki selera humor yang bagus.Dia bahkan lebih hangat dari kelihatannya.Lalu dengan kereta kuda,Alberian mengantar gadis itu pulang dengan selamat sampai rumah.


"Terimakasih sudah menjadi temanku.Nona Helena." Ucapan terakhir Alberian sebelum pergi untuk pulang.Helena sangat berterimakasih untuk itu.


Tak terasa,hari begitu cepat habis dan membuatnya kembali ke halaman belakang rumahnya sendiri.Kepalanya kembali menengadah pada hitamnya langit malam.Sedang tak ada bintang di sana.Hanya cahaya bulan yang ia lihat.Pundaknya terasa semakin berat.


Seraya menatap punggung itu dari belakang.Helena,merasa ingin sekali memeluk punggung itu.Bukan karena ukuran bahunya yang lebar,hanya saja ia merasa bahwa pemuda itu menanggung beban yang tak terkira.Helena sendiri juga tak terlalu yakin dengan perasaannya itu.Tak disangka,tubuh tegap itu akhirnya berbalik menatap dirinya.


"Kenapa kau masih belum tidur?" Tanya Helena pada Felix.Pemuda itu tersenyum.


"Rumah ini berbeda dengan kuil,gereja ataupun tempat lainnya.Kita tak selamanya aman.Malam adalah waktu kelahiran iblis,saat yang tepat bagi mereka keluar dari tempat bersembunyi dalam kegelapan." Felix mengatakan itu seolah hal biasa.


"Sebaiknya,kau jangan terlalu lama di luar rumah." Ujar Felix.


"Tapi,aku hanya ingin melihat bintang." Helena.


"Maaf nona.Boleh aku tarik lagi kata-kataku kemarin? Sebaiknya kau tidak boleh menjadi bintang."


"Mengapa? Mereka itu indah,dan berada di langit." Helena semakin heran dengan pikiran aneh Felix.


"Justru itu.Jika kau menjadi bintang,kau akan menjadi seseorang yang sulit digapai oleh sesuatu.Aku sarankan kau memilih yang lain saja."


"Memilih apa?"


Dalam waktu sekejap,Felix sudah berada di hadapan gadis muda itu.Ia menyentuh bibir Helena dengan telunjuknya sendiri.Berharap bahwa gadis itu segera diam dan pergi tidur.


"Percakapan ini,dilanjut esok hari.Sekarang kau harus tidur." Ucapnya.Sedangkan Helena tak bisa berkutik apa-apa.Gadis itu pun menurut dan pergi berjalan kearah pintu.


"Baumu berbeda.Kau pergi dengan siapa?" Tanya Felix yang menghentikan sejenak langkah Helena.


"Bukan urusanmu." Singkat Helena yang masuk ke dalam rumahnya.Walau dia tidak mengatakan apa-apa,Felix sudah tahu jelas siapa.


-Bersambung