Mafia Girls VS Special Forces

Mafia Girls VS Special Forces
Part 7



Sudah dua hari Xander tak sadarkan diri, malahan tubuhnya semakin memucat, dengan bibirnya yang pecah-pecah, tubuh yang basah oleh keringat walaupun sudah tidak demam tapi justru itu mengundang kekhawatiran semua pasukan. Eleanor sudah tidak sabar lagi. Saat apel pagi nanti, dia akan mempertanyakan semuanya pada gadis yang bernama Aurora itu, sekalian jikalau bisa ia akan menghabisinya jika ternyata ini semua hanya rencana busuk para musuh untuk membunuh Xander.


Sinar matahari mulai Nampak, dan semua orang sudah bangun kecuali Xander yang masih belum sadarkan diri. Aurora bergegas membersihkan diri lalu setelahnya ia akan pergi ke tenda belakang, tenda belakang adalah tempat untuk memasak yang dikerjakan secara bergilir oleh pasukan junior. Sudah beberapa hari ini Aurora ikut membantu, sebenarnya bukan membantu memasak karena ia sendiri tak pernah memasak, dia hanya membantu mencicipi saja. "Selamat pagi kawan-kawan, apa yang akan kalian masak hari ini?". Semuanya yang ada disana berhenti sejenak untuk menatap kearah Aurora, lalu mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka tanpa menjawab pertanyaan Aurora, itu tentu saja mengundang rasa penasaran Aurora, karena tak biasanya mereka mengacuhkannya, biasanya orang-orang itu akan ramah padanya. "Ada apa ini sebenarnya? Pasti telah terjadi sesuatu", Aurora bicara sendiri. Karena diacukan Aurora lebih memilih duduk dan memakan buah pisang yang ada di dalam karung. "Heum, biasanya aku selalu makan buah pir setiap pagi, tapi semenjak aku disini aku selalu makan buah pisang, apakah kalian tidak bosan menjadi seperti monyet?" aurora bertanya pada salah satu prajurit yang bertugas memasak nasi. "Maaf, disini hanya itu yang tersedia nona, dihutan ini kami hanya membudidayakan pisang, kalau kau tidak suka jangan dimakan, lagi pula kenapa kau selalu makan buah pir, bukankah biasanya orang-orang kota atau orang kaya bisasanya memakan buah apel dipagi hari?". Aurora tertawa kecil karena akhirnya ada yang mau diajak mengobrol. "Hei, mau ku beritahu satu rahasia?" , Aurora bertanya sambil berbisik yang sebenarnya bukan bisikan karena semua orang bisa mendengar suara pelannya itu. "Kalau anda tidak keberatan mengatakannya ya katakana saja, kalau anda merasa itu rahasia, ya sudah jangan diumbarkan" . "ish kau ini, aku hanya bercanda, baiklah aku kasih tau kau saja ya, aku ini salah satu orang yang tidak suka disamakan dengan orang lain, aku ini lebih suka jadi diriku sendiri, aku suka sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidk sama dengan orang, hhehe, memang banyak orang yang menertawakan ku karena aku berbeda, tapi aku pasti akan menertawakan mereka kembali karena mereka semua sama, tak ada beda, hahahaha, jika mereka menganggap aku gila maka aku akan membungkam mulut mereka". "Oh ya, bagaimana caranya kau membungkam mulut mereka?" . "Hehehe, itu rahasia yang tidak bisa ku bocorkan" .


Benar dugaan Aurora, setelah apel pagi dilaksanakan didepan lapangan kecil seadanya di depan tenda, ia menghadap dan direcoki banyak sekali tuduhan. "Maaf madam, saya benar-benar tidak tau apa yang anda bicarakan, saya sungguh tidak mengerti" . "Jangan berpura-pura kamu, ini pasti ulah kamu kan, kenapa sudah tiga hari Kapten Xander tak sadarkan diri juga, tiap hari dia hanya diberikan air putih melalui sendok" . "saya tidak mengerti madam" . Aurora terus mempertahankan argumennya hingga seorang tim medis datang dengan tergesa-gesa. "maaf madam, maaf mengganggu, tapi Kapten Xander dia batuk-batuk dan mulutnya mengeluarkan darah lalu cairan berwarna biru juga berbuih, Mayter Shireen sudah ada ditempat" . Mendengar hal itu semua nya langsung panik apalagi Eleanor, dia bergegas menemui Xander, tapi sebelum itu dia mengancam Aurora, "jika sampai terjadi sesuatu pada Kapten xander, aku sendiri yang akan menghabisimu dengan tanganku" . Sesampainya di tenda medis dimana Xander dirawat, semua orang yang dilihat Eleanor tampak tegang, pasalnya Mayter Shireen saja terlihat panic dan gugup. "Ada apa ini? Apa yang terjadi?" . "aku juga tidak tau ada apa ini" , Shireen menjawab, sontak mengundang amarah Eleanor. "ini semua salahmu, bagaimana bisa kau membiarkan gadis yang tidak tau apa-apa itu mengobatinya?" . "aku juga tidak tau jikalau seperti ini, kapten Xander sendiri yang memintaku saat itu untuk tetap diam, dia memberi isyarat padaku agar aku tidak mencegah gadis itu mengobatinya saat gadis itu mencoba mengobatinya" . Bela Shireen, jujur jika tau seperti ini Shireen akan mengindahkan apa isyarat Xander saat itu. Saat mereka berdebat tiba-tiba Aurora masuk dengan santainya lalu menancapkan beberapa obor sampai mengelilingi tubuh Xander, lalu menghidupkan obor-obor tersebut. Semua nya bertanya-tanya apa yang dilakukan gadis itu tapi saat ingin menghentikan nya, salah satu tim medis memerintahkn yang lain tetap diam dan memperhatikannya dengan seksama. Peter salah satu anggota tim medis yang biasa dipanggil Tabib oleh para prajurit karena metode pengobatannya yang sederhana dan alamiah. Saat Aurora selesai melakukan pekerjaannya dia duduk santai diatas rumput sambil mengamati Xander, Peter pun mendekati Aurora setelah melihat hal itu , dia bertanya, "Apa ini salah satu pengobatan alternative, membantu mengeluarkan racun memalui keringat?" , Tanya nya, Peter sungguh penasaran. "Ya, kau benar sekali, racun-racun itu sudah diikat oleh penawar racun yang kumasukkan beberapa hari yang lalu, sekarang reaksi dari muntah darah itu serta cairan biru berbusa itu menunjukkan bahwa racun-racun itu akan keluar, jadi aku memanaskan tubuhnya dengan obor-obor itu supaya tubuhnya berkeringat dan tadaa, racunnya akan keluar bersama keringat-keringat itu", tunjuknya yang mengarah pada tangan Xander yang mengeluarkan keringat sebesar biji jagung, semuanya yang ada disitu terpana melihatnya, bagaimana tidak, saat ini tubuh Xander sudah basah karena keringat, ia seperti menceburkan diri kekolam saja. Sejam kemudian Xander mulai menunjukan perubahannya, jari-jarinya yang semula diam kini bergerak-gerak sedikit demi sedikit, dan perlahan-lahan seperti gerakan slow motion kelopak matanya terbuka dan setelah benar-benar terbuka Peter, Eleanor, Shireen menghampirinya, lalu Peter membantu Xander untuk duduk, setelahnya mereka masing-masing menyodorkan gelas yang berisi air putih, namun dihiraukan Xander, saat ini Xander sedang menatap Aurora dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh semua orang, melihat hl itu Aurora merasa terpojok, dia lalu meminta segelaas air kelapa muda pada salah satu tim medis disana dan memberikan Xander minuman tersebut, Aurora bersuara minumlah dalam satu kali tegukan saja! perintahnya yang langsung dilakukan Xander tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpundari Aurora, Aurora merasa risih, sedangkan Eleanor merasa cemburu namun ia berusaha meredamnya agar tidak nampak. Setelahnya Aurora berlalu begitu saja. "Ah, aku lapar sekali" . Aurora berlalu sambil mengibaskan rambutnya yang panjang. Dia berjalan menuju tenda belakang guna mengambil pisang di karung itu. "Yaa tidak apa-apa ada pisang, setidaknya masih bisa makan", gumam Aurora, karena makanan inti hanya boleh dimakan saat bersama-sama. Saking senangnya, ia bahkan sudah menghabiskan satu tandan pisang yang kemudian mendapatkan teguran dari salah satu penghuni tenda belakang itu. "kau ini, lapar sih lapar, tapi ingat-ingat yang lain, ini satu tanden pisang kau habiskan begitu saja? Sungguh kau ini tidak bisa dipercaya" , "ish kakak jangan pelit begitulah, aku kan Cuma minta sedikit, aku sedang kelaparan" .