
Seorang gadis tengah berlari memasuki hutan sambil dikejar pasukan berseragam serba hitam dan memakai masker disertai senjata yang melekat ditubuh mereka. Gadis itu sudah tidak memiliki pakaian yang layak karena rok selutut kotak-kotak yang dipakainya sudah robek di bagian samping serta baju kaos berwarna putih berlengan panjang yang digunakannya pun sudah robek dibagian perutnya, pakaiannya itu sudah sangat kotor karena berkali-kali ia terjatuh dan terguling. Gadis itu tanpa lelah terus berlari memasuki hutan tanpa takut. Kakinya sudah terluka,tangan nya pun kini juga tergores ranting-ranting, namun tak diperdulikannya, ia terus berlari dan berlari sampai tak sengaja ia memasuki kawasan pelatihan militer pasukan khusus didalam hutan itu tanpa diduganya.
Gadis bernama Aurora Rossiana Osbert itu tak menyangka ia memasuki kawasan khusus yang digunakan pasukan khusus untuk berlatih secara rahasia, sehingga saat sampai ia terperangkap jaring dan dihadang beberapa orang pria bertubuh kekar namun masih tampak muda itu. Aurora berpikir bahwa mereka adalah pasukan khusus sehinggaia langsung memasang tampang memelasnya dan memohon dengan puppy eyes nya untuk memikat para pria itu. Dia menangkupkan kedua tangannya dan memohon. "Tuan-tuan tolong aku, aku dikejar-kejar orang yang ingin menjualku kerumah bordil diluar negeri, aku berhasil melarikan diri sejauh ini saat kapal yang kami tumpangi mengalami kerusakan tadi, tapi mereka menyadari dan terus memburuku tuan. Kumohon selamatkanlah aku, aku ingin berkumpul dengan keluargaku lagi, hiks hiks hiks" Aurora memohon sambil menangis tersedu-sedu seolah-olah ia benar-benar tersakiti sekali sekarang.
Salah seorang pria didepannya berbisik pada yang lain lalu berlalu dari sana sehingga Aurora pun panik dibuatnya, namun tak berselang lama, datanglah seorang pria dengan tubuh tinggi sekitar seratus delapan puluh sembilan, memiliki otot-otot yang jelas tercetak diperutnya karena saat itu pria itu hanya memakai kaos putih tipis yang sudah basah karena keringat sehingga mencetak jelas tubuh atletisnya, Aurora menaksir usia pria itu sekitar dua puluh tujuh tahun, sekitar dua tahun diatas usianya. Pria itu menatap Aurora dengan pandangan sulit diartikan. Aurora sangat gugup. Ia benar-benar takut sekarang, tak pernah ia setakut ini sebelumnya selain ayahnya dan juga senjata Dessert Eagle milik ayahnya.
Diluar dugaan ternyata pria bertubuh atletis yang baru datang tadi meminta salah satu pria disampingnya untuk mengeluarkan Aurora dari perangkap itu yang langsung diangguki dan dipatuhi yang lain. Aurora berpikir pria itu adalah pimpinan mereka.
Saat sudah terbebas Aurora mengucapkan terima kasihnya dengan senyuman maut yang dia punya namun tentu saja itu tak berpengaruh pada segerombolan pria didepannya ini sehingga membuat Aurora begitu kesal, pasalnya tidak ada selama ini yang berani menolaknya bahkan selama ini tak terhitung lagi jumlah pria yang bertekuk lutut dihadapannya meminta untuk menjadi kekasihnya atau hanya sekedar berkencan sehari saja. Sungguh ini menghancurkan harga dirinya. Namun Aurora tak bodoh, ia masih ingin selamat, ia tak mungkin bodoh nya pergi dari tempat itu sehingga ditemukan puluhan pasukan yang tengah memburunya, yang tidak segan-segan menghabisi nyawanya.
Beda lagi dengan Aurora, laki-laki tampan bertubuh atletis yang merupakan pimpina pasukan khusus itu malah tak enak hati saat melihat Aurora mengeratkan genggamannya pada rok nya yang sobek, laki-laki yang bernama Alexander Leonardo Roswell itu pun akhirnya mengalihkan pandangannya keanak buahnya dan memberi perintah. "Bawa gadis ini ketempat Madam Eleanor dan ceritakan kejadiannya, aku akan berjaga-jaga disini, jika benar ada segerobolan yang mengejar gadis itu, maka kita harus mengamankan tempat ini agar tidak ketahuan" . "Baik sir" (ucap pria yang memakai sergam loreng yang melihat Aurora pertama kalinya) dan langsung menarik lengan Aurora untuk mengikutinya meninggalkan tempat itu.
Aurora langsung menghembuskan nafas lega,pasalnya ia telah berhasil mengelabui pasukan khusus tersebut dengan sangat mudah. Memang benar kata orang-orang, senyum semanis mungkin namun terkesan sedikit pahit & menderita, di tambah puppy eyes, maka laki-laki pasti akan percaya dan mengasihanimu ucap Aurora dalam hati.
Setelah sampai di sebuah tenda yang tidak terlau besar namun juga tidak bisa di bilang kecil, Aurora terus digiring masuk kedalam dan menemui seorang gadis muda yang berusia sekitar 21 tahun dengan name tag Madam Eleanor, "apa-apaan ini?, aku pikir yang bernama Madam Eleanor itu sudah tua, tapi kenapa usianya lebih muda dari aku?” Batin Aurora. Gadis itu memperhatikan Aurora tanpa ekspresi dari atas hingga ke bawah berulang-ulang kali setelah pria yang membawa Aurora tadi membisikan sesuatu pada gadis itu, Aurora berfikir pasti yag dibisikan itu adalah sesuatu tentang kejadian barusan yang dia ceritakan sehingga membuat Aurora langsung menunduk dengan wajah sangat memelas dan mata berair, tak salah jika dia dulu sering di jadikan sebagai pemikat mangsa di kalangan nya yang sebagian besar laki-laki yang tak bisa melihat perempuan tentu saja.
Eleanor mendekati Aurora setelah pria tadi pergi meninggalkan mereka hanya berdua. Eleanor menatap tidak suka pada Aurora, apalagi saat tau Xander lah yang meminta salah satu prajurit tadi membawa seorang gadis dengan pakaian yang sangat menggoda nafsu birahi laki-laki itu. "Ceritakan pada saya bagaimana kamu bisa masuk ke daerah sini! Apa kamu tahu ini tempat apa?" . Eleanor bertanya pada Aurora dengan memasang ekspresi dingin sedingin kutub es di utara, "Ah ya ampun, ada apa dengan gadis ini?" batin Aurora, namun iya langsung menjawab "saya mau di jual maem, karena sebuah hutang piutang dimasa lalu, saya dijual ke luar negri untuk di jadikan sebagai idola ranjang bagi pria-pria billionair, namun saat sampai di dekat pulau ini, mesin mengalami masalah, jadi mereka memutuskan untuk menepi, dan itu saya jadikan sebagai pelarian diri saya. Tapi, maem, mereka semua sadar dan memburu saya sampai saya tidak tau jalan dan masuk terus kedalam hutan ini". Kata Aorora sambil memandang Eleanor dengan wajah memelas dan mata berair. Eleanor tampak kesal, selain dia di panggil maem, Eleanor tahu sangat tahu malah jika saat ini Aurora sedang bersandiwara, bagaimana tidak, di usia yang masih sangat muda ini Eleanor banyak mendapat penghargaan dan juga kehormatan atas keberhasilannya dalam berbagai hal terutama mengetahui yang mana kawan dan yang mana lawan dari hanya bermodalkan saling tatap muka, dia juga bisa mengetahui apakah ada kebohongan atau ada sandiwara di balik cerita seseorang walaupun orang itu adalah pembohong ulung atau seseorang yang sanghat handal memainkan peran.