
Aurora kembali ke tenda yang sebelumnya dia tempati. Merebahkan diri di atas folding bed velbed yang digunakannya sebelumnya, sambil berfikir apa yang harus dia lakukan dan apakah ini menjadi urusannya. Setelah mendengar penuturan pimpinan dokter tentara tadi, Aurora sempat terkejut, dia tau pasti jenis racun apa itu. Aurora terus berfikir sampai waktu tengah malam, akhirnya dia memutuskan untuk menolong Xander, karena bagaimana pun pria itu sudah menolongnya, jadi anggap saja ini balas budi, biar impas. Aurora pun bangkit dan keluar dari tenda menuju tenda medis dimana Xander berada. Suasana sangat sepi hanya ada beberapa tim medis dan beberapa prajurit yang bertugas jaga, karena selebihnya sedang mencari penawar racun untuk Xander. Diam-diam dan dalam mengendap-endap Aurora memasuki tenda dimana Xander terbaring lemah. Dia menatap Xander yang sesekali meringis, diamati nya wajah itu, wajah yang tegas, rahang yang kokoh, hidung mancung, wow lumayan tampan juga pria ini, pikir Aurora, tapi sayang wajah nya pucat dan juga banyak keringat dingin di wajah nya, bibir nya pun terlihat seksi tapi sayang bibir itu berwarna kebiruan, kembali batin Aurora berbicara, tapi tak lama dia pun tertawa kecil sambil menepuk dahinya sendiri. "Dasar bodoh kau Aurora, dia kan sedang sakit, terkena racun, jelas dia seperti itu". Aurora pun semakin mendekati Xander, tangan nya terulur untuk menyentuh dada sebelah kanan Xander yang sudah di balut perban, tapi sebelum itu terjadi, tangan nya di genggam oleh tangan Xander yang lemah tak berdaya. "Apa yang kau lakukan disini?", Xander bertanya dengan suara lirik hampir tak terdengar. "Ah kau bangun rupanya, maaf aku sudah membangunkanmu, aku hanya ingin melihat keadaanmu saja, bagaimana kabarmu?" Aurora mencoba bersikap manis. Xander tak menunjukkan ekspresi apapun selain menahan sakit yang dia rasakan. Aurora pun berinisiatif untuk mengambil gelas yang sudah berisi air di atas nakas kecil di pojok tenda. Membantu Xander untuk minum, lalu setelah nya Aurora kembali buka suara. "Begini izinkan aku untuk membantu mengobati mu, setidaknya sebagai balas budi karena kau sudah menolong ku dari orang-orang jahat tadi siang". Xander menatap Aurora dengan lekat sampai Aurora salah tingkah dibuatnya. "Jangan menatap ku begitu, aku hanya berniat baik, tidak lebih, sungguh". "apa benar kau bisa membantuku menghilangkan racun ini dari tubuh ku? ". tanya Xander pada Aurora." eum.......... Kurasa aku mungkin bisa mengobatimu, mungkin... ", ragu Aurora." Jika kau tidak yakin bisa mengobati, lebih baik tidak usah", kata Xander lalu dia kembali memejamkan matanya. Aurora bingung, apa yang harus dia lakukan, apa dia benar-benar akan menolong pria ini atau membiarkan mati begitu saja. Setelah diam cukup lama, akhirnya Aurora memutuskan apa yang harus dia lakukan. Aurora keluar dari tenda dimana Xander berada, setelah keluar Aurora pergi kembali ke tenda nya, dia mencari rok di tumpukan pakaian Eleanor, dia menemukan sebuah rok hitam panjang, Aurora pun mendengus "panjang sekali, bukan gaya ku", dia pun melepaskan celana yang di pakai nya, kemudian mengambil belati yang terselip di ikatan paha nya setelah itu memotong rok tersebut sehingga pendek selutut lalu memakai nya. "ini baru gayaku" kata Aurora senang. Dilain tempat, Xander kembali membuka mata nya dan berujar lirik "dia cukup manis, mungkin kah orang-orang itu salah mengira gadis itu sangat berbahaya?". Tak lama tiba-tiba Aurora masuk kembali ke tenda medis tersebut. "Hai bagaimana kabarmu? Kurasa sakit mu cukup parah. Apa yang kau perbuat setelah ini? Apa kau akan menunggu ajalmu saja?". "Jangan pedulikan aku" kata Xander lalu setelah nya dia merasakan sakit di dada dan perut nya. Melihat itu Aurora bergegas mendekat pada Xander. "Diamlah, aku tau pasti sangat sakit sekali, jadi biarkan aku membantumu!". Xander langsung menatap Aurora dengan pandangan yang sulit diartikan. Aurora membuka perban di dada Xander, Xander diam saja memperhatikan apa yang Aurora lakukan. Setelah perban di buka, Aurora mengambil belati yang terselip di bawah rok nya, melihat itu Xander pura-pura tidak tau, dia pura-pura kesakitan supaya Aurora tidak curiga bahwa dia mengamati apa yang dilakukan gadis itu. Aurora mengarah kan belati tersebut ke dada Xander yang terluka, "Tahan lah, ini agak sedikit sakit, tapi tak apa aku akan mengobatimu" pinta Aurora lalu menorehkan belati ditangan nya ke luka Xander sampai Xander menutup mulut nya dengan tangan sebelah kiri nya karena rasa sakit yang amat sangat mendera dada nya. "Maaf, aku akan membuat luka baru di atas luka mu ini, agar obat yang ku tabur kan bisa meresap sempurna", setelah itu Aurora mengambil beberapa perban kasa steril untuk menyeka darah yang keluar dari luka tersebut, lalu dia melepaskan kalung di leher nya, Xander kembali berusaha menahan rasa sakit nya untuk bisa mengamati apa yang Aurora lakukan, dia mengamati kalung Aurora yang tidak biasa menurutnya, karena kalung tersebut memiliki dua bandul sekaligus yang mana satu bandul di depan bandul lain yang berbeda bentuk, bandul itu berbentuk kunci ⚿ dengan beberapa permata di beberapa bagian, lalu bandul satunya ada di belakangnya dengan bentuk perisai 🛡️ yang unik. Aurora membuka bandul kalung nya yang berbentuk perisai, lalu menaburkan isinya ke atas luka Xander, luka itu cukup serius karena sang penikam menggunakan pisau Gerber Mark II, salah satu pisau yang sangat mematikan di dunia yang dibuat pada tahun 1967 dan di pakai sampai tahun 2002, lantaran terlalu mematikan pisau itu diharamkan untuk digunakan pihak militer. Entah bagaimana bisa sampai penikam tersebut memiliki pisau Gerber Mark II itu. Xander berteriak tertahan akibat luka nya di taburi bubuk yang tidak diketahui apa oleh nya. Aurora berkata, "Mungkin kau akan demam tinggi setelah ini, bibir mu akan kering dan pecah-pecah, kau akan merasakan sakit kepala yang sangat hebat, dan juga perut yang mual sampai muntah-muntah, tapi itu kabar baik, karena itu tandanya obat ini bekerja dengan baik,tapi selain ini aku harus memberikan obat lain untuk mu, sebentar tadi aku kehutanan untuk mencari obat yang harus kau minum", Aurora mengambil toples kecil di saku rok nya, lalu menuangkan nya ke mulut Xander yang dia paksa dengan mencengkram kedua pipi Xander terlebih dahulu sebelum menuangkan nya . Mata Xander melotot dan terbatuk,lalu dia jatuh pingsan. Seorang dokter tentara yang tadi mengamati pun bertanya, "apa yang kau berikan padanya, aku tidak mau disalahkan nanti", "kau tenang saja, bubuk obat penawar racun itu sangat mujarab, dan yang ku minumkan itu adalah empedu ular cobra". "kau yakin dia akan sembuh?", kembali tanya sang dokter tentara tersebut pada Aurora. "aku yakin sangat yakin" kata Aurora percaya diri. Dia pun bangkit dari duduk nya dan kembali ke tenda nya untuk istirahat dengan damai dan tenang.