Love Is Drama

Love Is Drama
Sarapan untuk Princess (2)



.


.


.


Menjelang pagi itu, langit masih gelap, terlihat dari jendela sebuah mobil memasuki halaman. Seorang pria dengan segelas wine di tangannya, memperhatikan dengan seksama setiap gerak tubuh wanita yang keluar dari mobil tersebut. Wanita dengan rambut terurai berjalan sedikit berlari.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu di mana pria itu berdiri. Kedua manik dari tepi jendela menatap gerakan wanita tersebut, tanpa mengganti pakaian yang ia kenakan, wanita itu langsung membanting tubuhnya ke tengah ranjang.


Pria itu meletakkan gelas yang ia pegang sedari tadi di atas meja tak jauh dari tempat wanita itu berbaring. Ia berjalan mendekati tubuh yang sepertinya sudah berlabuh ke alam mimpi. Tangan yang kekar itu sedikit mengelus pipi mulus wanita tersebut, lalu menjalar sepanjang leher yang terbuka, senyuman tipis terukir di bibir pria itu.


.


-***-


Angela memarkir mobil dan masuk ke mansion pribadinya, langsung menuju ke dalam kamar. Dia tidak menyadari bahwa sudah ada pria yang berdiri di tepi jendela yang terbuka, memperhatikan setiap gerakannya. Angela langsung merebahkan badannya, memejamkan mata sejenak.


“aaah...haa... “ terdengar teriakan kecil lebih seperti desahan, Angel membuka mata. Seorang pria dengan tubuh bertelanjang dada dengan celana panjang menyunggingkan senyuman.


“Kau semakin nakal sayang...” kali ini pria itu sedikit mengecup kulit di bagian belakang telinga , membuat kepala Angela sedikit terangkat ke atas


“Bagaimana apakah ada kabar terbaru?” tanya pria itu lagi


“Sayaaang, aku merindukanmu” Angela mengangkat kedua tangannya mengalungi leher pria itu, mencoba mengalihkan perhatian agar tidak mendapat pertanyaan bertubi- tubi dari sosok pria yang sudah lama ia rindukan.


Angela sedikit mengangkat tubuhnya menjauh dari kasur mendekati tubuh lelaki itu.


“Aku tidak suka bau tubuhmu sayang, aku tahu kau habis bermain dengan anjing kecil itu” pria itu menahan tubuh Angela agar tidak lebih mendekat dengan tubuhnya.


“Kau selalu sibuk sayang” Angela melepaskan kalungan tangannya dan memainkan jari telunjuknya di dada bidang pria itu.


“Ini semua aku lakukan untuk kebaikan, sayang” sedikit penjelasan dari pria itu.


“Kamu selalu ngomong kayak gituh, tapi udah berapa tahun urusanmu tidak pernah kelar. Kadang aku ngerasa kamu sedang membodohi aku!” Angela cemberut masih dengan memainkan jarinya.


“Hmmm... kau ingin bermain denganku sekarang?, bersihkan tubuhmu dari aroma lelaki itu” satu tarikan dari tangan pria tersebut,membuat Angela berganti posisi dari berbaring menjadi posisi duduk sekarang.


“Jangan kemana-mana!, kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu sayang” baru saja Angela berniat untuk mandi, suara ponselnya berdering. Ia mengangkat ponsel dengan sedikit kesal


“Hallo pii!”


“Piii, Angel benar-benar capek pagi ini!” wanita ini sedikit terdiam mendengarkan suara yang ada di sambungan telepon


“Uhh... iya iya, Angel mandi dulu. Setelah selesai Angel akan langsung ke rumah Tante Alya untuk menemui Aslan” Selesai berbicang di telepon Angela menutup sambungan itu


“Papi minta aku nemuin Aslan” Angela memberanikan menoleh ke arah pria itu


“Sayang apa kamu ikut aja aku kesana?” kata Angela menatap pria itu


Pria itu beranjak mengambil kemeja dan mengenakannya dengan rambut yang masih sedikit acak- acakan, ia meraih kunci mobil dari atas meja.


“Sepertinya kamu kurang beruntung hari ini untuk bermain denganku sayang ” Pria itu mengecup kening Angela


“Kamu bakal datang ke kantorkan?” tanya Angela


“Tentu saja aku akan datang sayang, aku sudah merindukan peliharaanmu itu” segera pria itu berjalan menuju pintu dan lenyap dari penglihatan Angela


“Kapan semua ini berakhir Samuel?” batin Angela berkata


***


Setelah selesai mandi dengan membasahi tubuh saja, tanpa membasahi rambut agar masih bisa dikuncir kuda, Angela segera menghidupkan mobilnya melaju dengan kecepatan sedikit ngebut menuju kediaman Rayyanka.


Angela menaiki tangga menuju kamar Aslan, tanpa mengetok pintu ia segera masuk, namun Aslan tidak ada di tempat. Dia sedikit melirik kamar yang tak jauh dari kamar Aslan. Angela berjalan mengarah ke kamar tersebut, namun suara sapaan dari belakang mengurungkan niatnya.


“Nona Angel lagi mencari Tuan Aslan?” tanya perempuan yang bisa dibilang tidak muda lagi


“Tuan Aslan lagi di taman belakang, sepertinya sedang sarapan dengan Nona Reba” jawab Maira


“Ok, thanks yah Maira!” Angela tersenyum, lalu segera menuju taman belakang


“sama-sama nona” Maira sedikit membungkukkan badan


Maira adalah pelayan tertua di keluarga Rayyanka, namun bukan hanya sekedar pelayan. Ia sudah dianggap seperti kerabat oleh Ny. Rayyanka tak lain tak bukan adalah Alya.


Maira sudah bekerja di keluarga Rayyanka jauh sebelum Aslan lahir, bahkan sebelum Alya memasuki keluarga Rayyanka. Jadi bisa dibilang Maira adalah seseorang yang sangat tahu seluk beluk keluarga Rayyanka, ia mengetahui baik dan buruk kehidupan rumah tangga Rayyanka. Walau demikian, Maira buka tipe pelayan yang suka bergosip apalagi membuka aib keluarga majikannya. Dia tidak akan membuka suara tanpa sepengetahuan dan seizin majikannya.


Yah! Maira adalah pelayan yang setia bagi Keluarga Rayyanka. Maka dari itu Maira masih dipertahankan sebagai salah satu orang kepercayaan di keluarga ini. Betapa sangat sulit mendapatkan orang kepercayaan di jaman yang serba canggih dan godaan bertebaraan dimana- mana.


Maira melanjutkan pekerjaan, membersihkan kamar Aslan, lalu dilanjutkan dengan kamar disebelahnya. Khusus untuk kamar tuan dan nyonya di rumah ini, di tambah kamar Aslan dan Reba, tidak boleh pelayan lain yang membersihkannya. Hanya Maira yang boleh melakukan hal tersebut dan satu- satunya pelayan yang bisa masuk ke ruangan itu. Hal ini adalah perintah langsung dari Alya.


Angela keluar menuju dapur yang ada di taman belakang, Ia sedikit memicingkan mata melihat adegan romatis antara kakak dan adik di hadapannya.


“Haa!.. kakak adik? Kakak adik ketemu gede!” Angela tersenyum namun bukan senyum kebahagian ataupun kesedihan, melainkan senyuman ejekan. Tentu saja hal ini tidak ia perlihatkan dengan kedua manusia yang ada di hadapannya.


“Haiiii....pagi, aku udah ngira pasti kamu disini” sapa Angela yang melenggang mendekati Aslan, tanpa basa basi, ia langsung mengecup bibir lelaki itu.


“Pagi Reba!” tak lupa Angela menyapa Reba yang sedari tadi melongo melihat adegan dadakan yang tak jarang ia liat, adegan yang membuat ia merasa iri atau ingin merasakannya juga.


“Pagi Kak Angel!” jawab Reba


“Wow, kayaknya enak nih!, iih...kok aku nggak tahu kamu sejago ini sih!. Hmmm.. kayaknya porsinya cuma cukup untuk berdua, aku jadi nggak enak tau ganggu kalian makan” kata Angel sambil melirik Aslan


“Bukannya nggak tau, tapi kamu emang nggak pernah mau tahu!” Aslan berkomentar dan cepat mengiris steak yang ada di piringnya


“Sini aku suapin” Aslan mengarahkan potongan daging kecil yang telah tertancap di garpu ke mulut Angela


“Aku nggak bakal ngurangin porsi kamu kan yah?, ini gratis kan?” Angela tak segan menyantap suapan dari Aslan dengan gerakan yang sedikit menggoda


“Tentu saja tidak gratis” canda Aslan


“ Aslaaan, kamu jangan gituh!. Kamu nggak malu di depan Reba kayak gini”


Reba yang sedari tadi duduk berseberangan dengan mereka, melanjutkan sarapannya, dengan sejenak melirik Aslan dan Angela.


“”Reba sadar kamu ngapain sih! Ayok makan! masih untung dikasih makan, kamu malah mengharapkan sesuatu yang lebih” Reba mengangguk-angguk kecil seakan menyetujui suara hatinya yang tidak ia ucapkan.


*


*


*


Note: tanda


-***-


*** ***


untuk mengawali/mengakhiri flashback atau POV tokoh yah....


.


.


Hai terima kasih telah membaca, jangan lupa like dan SARTIK membangunnya yah agar author tambah semangat. Mohon maaf typo dimana-mana.


Love u guys.


Salam. Miho_08