
.
.
.
.
*** ***
Aslan menyelesaikan pekerjaan sebagai coach pada pelatihan di sebuah PTN yang ada di Indonesia, beberapa kampus negeri maupun swasta tak jarang memintanya untuk mengisi kegiatan baik workshop, pelatihan atau hanya sekadar menjadi pembicara untuk memotivasi para kaum muda. Walaupun Aslan berasal dari keluarga yang memiliki semuanya dan mustahil kekurangan dari segi materi, namun ia tak sungkan untuk mendatangi acara yang dibuat para generasi muda.
Tiga bulan lalu dia menghadiri sebuah acara pergelaran Seni di sebuah PTN dan dua bulan selanjutnya ia datang sebagai coach sekaligus untuk menjemput Reba. Setelah selesai ia bergegas menuju salah satu bandara yang ada di Jakarta dimana pesawat pribadi milik keluarga Rayyanka terparkir.
“Maaf tante, Aslan nggak sempat jemput ke rumah” selepas berlari kecil, sedikit terengah- engah Aslan menghampiri Tante Martha dan Reba.
“Iyah nggak masalah, tadi Pak Surip bisa mengantarkan saja sudah bersyukur” sahut Tante Martha
Pak Surip adalah Sopir yang diutus Ny.Alya untuk mengantarkan Tante Martha dan Reba ke bandara.
Martha mengantar Reba sampai di muka pesawat, tentu saja dengan embel-embel nama Rayyanka, hal ini sangat muda untuk memiliki akses masuk ke dalam.
“Aslan, tante titip Reba yah!” Martha tak mau berlama- lama di sana, karena ia semakin tak kuasa melihat Reba yang sedari tadi mengelap cairan bening dari hidungnya efek menangis sesenggukan.
“Iya tante, kalau dia macam- macam paling Aslan lempar dari jendela” canda Aslan melirik muka Reba, Reba pun langsung menatap tajam ke arah Aslan, namun di mata Aslan ia sama sekali hanya bocah kecil.
Setelah perpisahan Reba dan Martha, Reba melangkah masuk ke dalam pesawat yang diiringi Aslan dari belakang dan wow.....!
“aku kira pesawat pribadi itu seperti mobil pribadi yang kursinya hanya ada empat atau bermuatan enam penumpang saja” Reba berbisik masih dengan sesunggukan yang belum berhenti, namun kalimat itu terdengar sampai telinga Aslan.
Tentu saja tingkahnya itu membuat pandangan Aslan mengenai Reba berubah drastis, gadis yang pertama kali ia temui dengan rambut acak- acakan dan liur yang menetes di pinggir bibir adalah bocah kecil yang menggemaskan.
Pesawat pribadi yang mereka naiki adalah jet buatan General Dynamics yang berbasis Amerika Serikat, dengan kapasitas gulstream bisa mencapai 19 orang dan kecepatan melesat sampai 941 kilometer per jam.
“Kalau bosan kamu bisa menggelinding dari depan ke belakang” kata Aslan yang langsung duduk seakan sudah tahu dimana singgasananya berada.
“ Padahal yang naik Cuma berdua apa gak boros, Aneh!” Reba duduk tak jauh dari tempat Aslan, tentu saja ia hanya berkata dalam batin.
*** ***
Di saat matahari belum terbit, Reba terbangun dari tidurnya. Samar- samar ia mendengar suara erangan seorang wanita.
“ehmm... sepertinya berasal dari kamar Kak Aslan” Reba mengganti posisi berbaring menjadi duduk dan memanjangkan telinganya.
Ia berjalan dan berencana menarik knop pintu kamarnya, namun hal itu ia urungkan, karena mendengar gebrakan pintu kamar sebelah.
“ Aku udah bilang, aku nggak suka kamu dekat- dekat sama iblis itu” suara Aslan dengan nada tinggi, lalu terdengar suara seorang wanita yang nadanya tak kalah meninggi.
“ Kamu jangan mikir aneh-aneh Aslan, kita berdua cuma bersahabat dan teman masa kecil, dan kamu sekali lagi gak ada hak untuk mengatakan semua ini”
“sahabat kamu bilang, yah.. kamu memang sahabatku dan sangat bersahabat denganku khususnya saat di atas ranjang” terdengar suara Aslan mencela wanita di depannya
“ Hal itu kita lakuin atas dasar kebutuhan biologis kamu dan aku, cuma itu!. Jadi jangan mulai lagi Aslan” suara wanita membalas celaan Aslan.
“Apa yang ada pada dia tidak pada diriku? dan apa yang dia kasih ke kamu, aku bisa kasih juga!”
“Aku malas bertengkar denganmu!” suara wanita itu mengakhiri pertengkaranl
“Brengseeekkkk....” teriakan Aslan terdengar bersamaan ketika suara langkah kaki seseorang semakin menjauh.
Reba merasa seperti sedang menguping urusan rumah tangga kecil orang. Iyah memang ia sedang menguping tapi hal itu tidak sengaja ia lakukan. Awalnya ia hanya penasaran dengan suara erangan di pagi buta.
Meski Reba biasa membaca novel 18+, hal itu dilakukan lagi- lagi hanya sebagai referensinya untuk membuat sebuah cerita. Tentu saja dia tetaplah anak gadis ibunya yang sangat polos mengenai hal- hal yang berbau aktivitas orang dewasa. Dia hanya membaca teorinya saja, jika praktek tentu saja dia tidak pernah melakukannya.
Sebenarnya Dilreba sedikit terkejut mengenai sosok seorang Aslan. Bagaimanapun mereka terbilang baru tinggal satu atap bersama, yaitu dalam kurun waktu satu bulan, jelas dia belum paham watak dan tabiat lelaki itu.
Sesekali Reba tak sengaja mendengar suara wanita yang sedang menggoda, awalnya ia berpikir hal yang biasa jika seorang lelaki seumuran Aslan menonton film-film dewasa, sepolos dan sealim-alim lelaki tidak mungkin dia tidak pernah menonton film semacam itu. Jangan pikir Reba paham hal semacam itu, tak lain dan tak lagi pikiran itu ia dapatkan dari kutipan sebuah buku yang ia baca.
*
*
“Pagi... Kak Aslan” Reba turun dari anak tangga dan sedikit berloncat kecil, lalu ikut duduk di atas sofa.
“hmm.. pagi” jawab Aslan singkat, sepertinya moodnya pagi ini dalam keadaan yang tidak baik. Mungkin karena kejadiaan semalam.
“Kamu udah siap?” tanya Aslan singkat
“Udah kak” Reba mengangguk dengan jawaban singkat pula, ia tidak mau menambah buruk mood lelaki di hadapannya itu.
“Kamu tunggu di mobil nanti aku nyusul kesana” kata Aslan tanpa melihat wajah Reba, ia fokus dengan handphone di tangannya.
Pagi ini seperti biasa setelah sarapan pagi, Reba hanya melihat Aslan seorang diri. Dia hanya beberapa kali melihat Om Riffat dan Tante Alya dalam satu bulan ini.
Pertama ia melihat ketika ucapan selamat datang tertulis di sebuah kamar bernuasa merah muda, di sana Tante Alya memeluk erat Reba dan tentu saja dengan keberadaan Om Riffat di sampingnya.
Kedua ia melihat Tante Alya ketika hendak pergi ke LA dan berpamitan untuk menemani suaminya, namun masih menyempatkan ikut mengantar Reba mengunjungi kampus RAA.
Kadang kala Reba berpikir, kehadirannya di keluarga Rayyanka hanya untuk menemani anak semata wayang mereka agar tidak kesepian. Walau begitu Reba tidak keberatan, selain bisa berkuliah secara gratis, tinggal di tempat yang tak pernah terbayangkan olehnya, masa depan yang cerah juga sedang menantinya.
“Ya..yah..yah, walau mungkin benar adanya tentang apa yang aku pikirkan dan sepertinya masih banyak teka-teki tentang semua yang terjadi padaku sekarang ini, itu tak masalah!”, batinnya berkata.
“Hanya perlu dijalani saja. Semangat Reba!” seru Reba menyemangati diri sendiri.
Lagipula dalam sebulan ini hubungan Reba dan Aslan juga tidak begitu buruk, hanya saja Aslan sedikit cuek pagi ini, kemungkinan besar karena perang yang terjadi tadi subuh antara Aslan dan seorang wanita, yang Reba duga adalah kekasihnya, bukan mungkin teman tapi mesra.
Sangking mesranya pertemanan mereka bisa dibawa sampai ke atas ranjang.
*
*
Meski menggaji seorang sopir itu tak masalah bagi keluarga Rayyanka, bagaikan mebuang setitik air di lautan, namun Aslan lebih suka mengemudi sendiri. Selain itu mengemudi bagi Aslan juga sebagai rehat sejenak dari menatapi leptop atau dokumen-dokumennya.
Aslan memang tidak sering ke kampus, selain seorang dosen sekaligus penerus pemilik universitas RAA. Aslan juga di sibukkan dengan bisnis keluarga Rayyanka yang lainnya, maka dari itu walaupun dalam perjalanan Aslan seakan tidak bisa bersantai sedikitpun.
“Huffthh... kenapa kehidupanku seolah-olah kisah dalam dunia novel. Benar-benar deh!. Aku kira sosok seperti Kak Aslan cuma ada di film atau novel saja” pikiran Reba melayang kesana kemari , “ atau aku yang selama ini tidak melihat dunia, seperti katak di dalam tempurung” dia membatin sekali lagi.
Jujur saja sejak pertama kali bertemu sosok Aslan, Reba sudah mulai tertarik. Wanita mana yang tidak meleleh melihat lelaki seperti Aslan. Namun pikiran itu ia hempaskan jauh-jauh menuju samudra atlantik tenggelam di segi tiga bermuda. Reba harus fokus belajar, lulus dan kembali ke pangkuan ibunya.
*
*
Tak lama kemudian mobil yang mereka tumpangi memasuki kawasan bertulis Rayyanka’s Academy of Arts, lalu berhenti di salah satu gedung. Meski Reba baru mengisi formulir kemarin malam, tak butuh waktu lama untuk dia langsung memasuki kelas hari ini.
Ny. Alya sudah mengenal Reba dan tidak meragukan otak encer gadis itu, maka dari itu Reba tidak usah bersusah payah melewati sekelumit urusan ADM atau hal- hal yang biasa mahasiswa baru lakukan. Ia hanya perlu masuk dan belajar itu saja.
Ditambah pemilik universitas tersebut adalah suami dari Ny. Alya.
*
Aslan turun bersama Reba memasuki sebuah gedung dan berjalan menelusuri lorong. Sepanjang lorong dihiasi lukisan-lukisan dan hasil karya seni lainnya.
Mereka terus berjalan sampai terlihat sebuah aula dari kejauhan.
*
“Aslan...?” suara familiar tiba-tiba terdengar dari belakang Aslan dan Reba, mereka berbarengan menoleh kebelakang.
Seorang wanita dengan rambut panjang tergerai menghampiri mereka, lalu menghampiri lelaki yang sedari tadi memajang muka kusam seperti baju kotor yang belum dicuci, tiba-tiba menyeruakkan senyuman tipis dan mata berbinar.
“Pagi!” wanita itu mencium Aslan.
Benar! mencium lelaki itu tapi bukan di pipi selayaknya seorang teman biasa, namun ciuman kecil dan cepat di bibir.
Reba yang hanya terpaku dan diam sedikit terkejut, lebih tepatnya syok melihat pemandangan itu. Sebenarnya Reba masih berusaha berpikir bahwa lelaki yang telah dianggapnya sebagai kakak itu adalah lelaki baik- baik yang menganut tidak ada kata ciuman, apalagi ciuman di bibir atau malah sampai bermain di ranjang dengan seorang wanita yang belum sah menjadi pasangannya.
Namun Reba harus berpikir seribu kali mengenai semua pemikirannya. Semua hal yang dulu ia kira hanya ada di sebuah cerita fiktif, ternyata benar ada di kehidupan nyata.
“ Jadi ini Reba?” Tidak hanya cantik dan elegan, wanita itu menyapa Reba ramah dan mengulurkan tangannya.
“ Angela Sue, panggil saja Angel ” senyum manis wanita itu berikan kepada Reba
“Reba,,, hehe kakak cantik” jawab Reba spontan, sebenarnya dari tadi ia berpikir apakah wanita ini seorang model atau artis, sepertinya ia tak asing melihat wanita di hadapannya ini, dan sungguh suara wanita itu sangat familiar.
Bahkan Reba merasa bahwa tak lama ini, ia pernah mendengar suara khas wanita yang bernama Angela tersebut.
“Kau lihat, sejenismu saja terkagum melihatmu” goda Aslan sambil memeluk pinggang Angela.
“Jadi ini pacar Kak Aslan?” tanya Reba penasaran
“Bukan!” jawab Angela berbarengan dengan jawaban Aslan “Iya!”
Angela tersenyum lalu berkata “lebih tepatnya teman tapi mesra”
Aslan mendengus kesal “lebih tepatnya belum dan segera”
.
.
.
Note: tanda
-***-
*** ***
untuk mengawali/mengakhiri flashback atau POV tokoh yah....
.
.
Hai terima kasih telah membaca, jangan lupa like dan SARTIK membangunnya yah agar author tambah semangat. Mohon maaf typo dimana-mana
.Love u guys.
Salam. Miho_08
.
.
Dilreba
(baca E (ember) bukan E (engkau)
Angela Sue