Love Is Drama

Love Is Drama
Wajah Tampan



Seorang pria itu berlutut dengan satu kaki terlipat dan menapak di lantai sebuah Hall yang megah, dia membuka kota berwarna merah keemasan dimana cicin berlian kecil yang menghiasi nampak menambah keindahan.


“ Will you marry me, baby?” lelaki itu mengatakan kalimat simpel tapi jelas makna dan tujuannya sebagaimana kalimat yang biasa para pemeran tokoh utama lakukan di akhir cerita.


“ Yeah, of course, Yes I will beib”, sang calon mempelai wanita mengiyakan atas pertanyaan itu sambil mengusap air mata karena terharu layaknya Juliet yang sedang dilamar sang Romeo. Mereka berpelukan dan mencium bibir satu sama lain, semua penonton bersorak ria bertepuk tangan tak henti diiringi alunan biola melantunkan musik klasik yang menambah romantisnya suasana malam panjang itu.


*** ***


Yah… begitulah akhir cerita yang dibuat gadis berusia 17 tahun, seorang author novel digital.


“ inilah cerita romansa yang ditunggu- tunggu para readers dan aku menulis ini agar para pembacaku menyanjung setiap cerita yang ku tulis dan memfollowku ketika mereka menyukai ceritaku. Yah tentu saja itu adalah hal yang akan dicari para penulis, apalagi kalau bukan membahagiakan para pembaca yang tersayang. Akhirnya selesai juga satu judul novel ku, ini adalah yang ke hmm…enam yah benar yang ini adalah judul yang keenam, hari ini hari minggu sebaiknya aku habiskan waktu untuk istirahat” kalimat yang gadis ini katakan di dalam hatinya tapi tidak terlontar dari bibirnya.


Dilreba telah menyelesaikan tulisannya dalam bentuk novel digital, sudah enam novel yang ia selesaikan dan menghasilkan dolar yang lumayan untuk beli es krim. Sebenarnya novel yang Dilreba buat tidak ada unik-uniknya dia hanya menulis seorang wanita dari kalangan rakyat jelata yang bertemu CEO atau miliarder yang memiliki kekayaan dan tak akan habis sampai delapan atau sepuluh keturunan, dan tentu saja dihiasi dengan adegan-adegan romantis serta diakhiri dengan pernikahan yang megah. Ajaibnya novel yang ia buat laris manis dan memberikan pundi-pundi yang jika ia belikan makanan hamtaro bakal dapat berkarung-karung.


Dilreba atau panggil saja ia Reba adalah anak satu satunya dari pasangan suami istri, tentu saja suami istri karena jika cuma istri saja tidak mungkin muncul si tuyul Dilreba. Ibu Reba adalah Martha seorang ibu paruh baya dan ayahnya bernama bapak…siapa nama bapaknya, aduh Dilreba tidak tahu siapa nama bapaknya karena disini author tidak bersedia menceritakan siapa nama bapak Reba, untuk sekarang mungkin tidak, tapi semoga saja diceritakan di episode yang entah kapan akan release.


Yupp Reba adalah anak dari single parent, ibunya hanya membantu dan ikut menjahit busana-busana di sebuah butik milik temannya, untuk gaji perbulan yang ibunya dapatkan lumayan mencukupi kebutuhan sehari hari, sedangkan biaya sekolah Reba, ia tidak harus membayar karena mendapatkan beasiswa. Selain dari beasiswa dari sekolah, Reba tentu bersyukur karena ia bisa menghasilkan uang hasil dari novel digitalnya. Jadi ia tak harus menyusahkan sang ibu, jika mau membeli suatu barang yang ia inginkan. Gaji bulanan menjahit sang ibu, bisa mencukupi membayar kontrakan rumah, membayar listrik dan air saja sudah sangat bersyukur.


“ Halaah wanita miskin tidak punya apa-apa, ditambah bodoh dilengkapi dengan ketidakberdayaan pula, tiba-tiba ada seorang pangeran berkuda putih mau menikahinya, bodoh sekali!. Hal semacam itu hanya ada di novel, Cdrama, Kdrama atau toontoon komik. Untung saja aku suka menonton dan membaca itu semua jadi aku bisa menulis apa yang mereka sukai” seringai Reba sambil membantingkan badannya di atas kasur ranjangnya.


“Andai saja memang itu ada di dunia fana ini, hmm maksudnya dunia nyata ini, dan aku adalah salah satu orang beruntung itu. OMG! apa-apaan yang kau pikirkan Reba pikirkan satu minggu lagi kau ujian kelulusan dan lebih baik kau pikirkan bagaimana menambah pundi-pundi agar bisa membiayai kuliah esok untuk menyongsong masa depan, bukan malah mengkhayal seperti ini. Mungkin aku kebanyakan menonton, membaca dan sekarang malah ikut menulis hal yang berbau khayalan, makanya aku ikut berkhayal pula” Reba terus bergumam di kesunyian dini hari.


Jam menunjukkan pukul 03.00, setiap weekend Reba selalu menghabiskan malamnya yang panjang untuk menulis novel atau membaca novel berbab-bab hanya untuk referensi tulisannya. Kegiatannya itu selalu begitu dan diakhiri dengan gumaman kecil sambil mengkhayal dan tertidur pulas sampai pagi harinya. Ia memang tidak sering membaca buku pelajaran atau menghafal banyak pelajaran di sekolah, tapi uniknya walau begitu ia bisa mendapatkan juara kelas. Setiap ada pekerjaan rumah dari sekolah, ia akan segera menyelesaikan pekerjaan itu di sekolah, sehingga ketika sesampai di rumah ia hanya akan fokus dengan kegiatan tulisan, menonton atau membaca. Reba tidak suka membawa pekerjaan sekolah ke rumah karena menurutnya belajar itu cukup di sekolah, bisa-bisa kepalanya meledak jika harus membawa semua angka-angka trigonometri atau teori Lamarck dan Darwin bahkan harus memikirkan ekologi muka bumi, sudah cukup semua itu dipikirkan dan dikerjakan di ruangan berukuran 9 m x 8 m saja yaitu kelasnya di sekolah.


*****


Ibu Martha memang seorang ibu yang rajin, ia bangun sekitar pukul 03.30, mencuci baju, memasak makanan untuk anak semata wayangnya dan membersihkan diri. Selesai mandi dan bersiap untuk bekerja ke butik, tepat pukul 05.00 tak kurang dan tak lebih seperti biasa Ibu Martha akan meletakkan segelas susu dan roti yang telah dilapisi margarin beserta gula, iya gula pasir. Jika dikebanyakan orang akan melapisi roti tawar dengan selai cokelat, nanas dan berry berry, strawberry maksudnya. Jangan mengkhayal untuk keluarga satu ini, bisa minum susu saja sudah sangat bersyukur, daripada membeli selai lebih baik uangnya dibelikan gula yang bisa multiguna untuk bahan apapun.


*****


Tok Tok Tok…. Ting Tong Ting Tong


Kriiing Kriing Kringg, Triiing Triiing Triiing


Suara ketokkan pintu, suara bel pintu ditambah suara alarm dari hp dan jam, membuat lantunan musik pagi yang sahut menyahut jadi satu, seolah alunan musik yang membangunkan Reba di minggu pagi ini.


“ Hoaaaammmm…. arrgghhhhh… berisik sekali” Reba segera mematikan alarmnya dari kedua sumber suara. Lalu ia berencana menarik selimut menutupi atas kepalanya, namun ada dua sumber suara yang lupa ia matikan. Mungkinkah ia akan mematikan seseorang yang membuat sumber suara itu juga.


“Oh Tuhan, tidakkah Engkau berbaik hati untuk membiarkanku menikmati waktu tidurku yang begitu berharga, lagian siapa lagi makhluk yang membuat bising pagi-pagi seperti ini”


Reba bersungut dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya dengan enggan.


“Iya iya, sabar ini lagi jalan nggak usah dipencet-pencet juga tuh bell, aku nggak budek” Reba berteriak, namun jelas teriakannya itu tak akan terdengar sampai keluar pintu rumahnya, yah hanya dia saja yang bisa mendengar teriakannya itu, sedangkan seseorang yang sudah ingin meledak di depan pintu jelas tidak akan mendengarnya


Keltekkk


Reba membuka pintu utama yang berada di ruang tamu, dan wow ia membuka matanya lebar-lebar, lebih tepatnya melotot, sambil mengucek- ngucek mata dan mengelap liur yang menempel di bibirnya. Apakah dia sedang bermimpi karena terlalu banyak beraktivitas yang menyeretnya ke dunia khayalan, sehingga sampai detik ini dia masih berkhayal.


Seseorang dengan badan yang proporsional ala ala tokoh utama di sebuah novel, wajah dengan garis muka yang tajam, alis tebal, bola mata yang berwarna kecokelatan, dagu dengan ditumbuhi bulu-bulu tipis dan jelas terlihat jika di dalam kain yang ia kenakan ada roti sobek yang disembunyikan.


“Tapi siapa dia, apakah si empunya tubuh ini salah alamat, atau alien yang tiba- tiba turun seperti di komik yang pernah aku baca atau jangan-jangan dia seorang sindikat scammer yang ingin menguras harta kekayaan, tapi aku lupa dilihat dari pagar rumahpun bahkan perampok yang gila juga bakal berpikir seribu kali kalau harus ke sini”


“ Hei wajah tampan siapa kau? Ada urusan apa? mau cari siapa? asalmu dari mana? Dan kalau ada no hp tinggalkan saja disini biar aku pikir-pikir untuk berkenalan denganmu atau tidak” celoteh Reba dengan cepat tanpa titik koma entah tanpa pikir panjang semua kata- kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Hai terima kasih telah membaca, jangan lupa like dan SARTIK membangunnya yah agar author tambah semangat. Love u guys.


Salam Miho_08.