
Tok Tok Tok…. Ting Tong Ting Tong
“ Eh buset dah, nih rumah ada manusianya gak sih, atau tuh manusia di dalam, telinganya gak difungsiin dengan baik kali, jam berapa lagi ini bisa-bisa aku telat lagi ke kampus” gerutu lelaki yang berdiri dari lima belas menit yang lalu di depan pintu rumah yang bercatkan warna putih dan berpagar biru. Baru saja ia ingin membalikkan badan, bunyi knop pintu menghentikan niatnya untuk pergi.
“Ya Tuhan, ini benaran seorang perempuankan?, rambut berantakan, aww itu iler beneran astaga belekpun masih di pinggir mata. Alien? scammer? yang benar saja, kalau tampan iya aku memang tampan tak usah ditanyakan lagi hampir semua seisi kampus juga tahu hal itu. Ini benar anak Tante Martha, haa… gila, gila tak mungkinkan ini bakal jadi...? Oh Tuhan bisa-bisa gila aku kalau satu rumah dengan wanita seperti ini”
lelaki itu berkomat kamit di dalam hati sambil melihat penampilan Reba yang ada di depan mata.
Aslan Rayyanka adalah anak lelaki satu-satunya dari Ny.Alya pemilik butik, tempat Ibu Reba bekerja, ia telah menyelesaikan gelar doktornya di usia muda, bahkan untuk usianya yang masih belum menginjak kepala tiga, jelas itu merupakan hal menakjubkan, apalagi gelar doktornya ia selesaikan di salah satu universitas di UK, sebuah universitas seni ternama bahkan masuk tiga besar di dunia.
Sekolah dasarnya ia selesaikan dalam waktu 6 tahun, sedangkan SMP dan SMA dia memasuki kelas akselerasi, sehingga hanya memakan waktu 4 tahun, strata 1 tak genap 3 tahun ia selesaikan, untuk strata 2 sendiri tak sampai 2 tahun ia selesaikan, sehingga ketika ia menyelesaikan gelar doktornya genap di usia 24 tahun.
“ Hello… gadis kecil sudah selesai kau memandangiku seperti itu, itu air liurmu terus menetes. Aku Aslan anak pemilik Butik Jasmine, hanya mau memberikan ini untuk Tante Martha. Tadinya aku mau ke butik, hanya jika aku ke butik takut tidak keburu untuk mengejar perjalanan ke kampus”
Aslan memberikan sebuah amplop besar berwarna cokelat, lalu berlalu begitu saja menuju mobil berwarna hitam yang terparkir di depan pagar biru, belum sempat Reba menanyakan apa isi dari amplop itu, mobil itu sudah melaju dan si pemilik mobilpun tidak permisi untuk pergi. Mungkin karena terburu- buru Aslan hanya melambaikan tangan sembari membalikkan tubuhnya yang menandakan bahwa ia segera akan pergi.
“Haa.. anak Tante Alya, aku baru dengar Tante Alya ada anak, yang aku tahu Tante Alya tinggal di Singapura saja bersama suami ke duanya bernama Om Rifat”
Alya dan Martha teman masa kecil dan juga teman sekolah, hanya saja nasib mereka berbeda. Alya melanjutkan studynya ke Singapura mengikuti orang tuanya yang pindah dinas ke Singapura dan menetap disana secara permanen sampai sekarang.
Butik Jasmine nama dari butik tempat Martha bekerja adalah peninggalan suami Alya, setelah menyelesaikan study di Singapura, Alya pulang ke Indonesia dan menikah dengan cinta pertamanya semasa sekolah bernama Roy. Namun belum setahun Roy meninggal akibat serangan jantung mendadak, hal itu yang membuat Alya enggan untuk tinggal di Indonesia lagi.
Setelah berselang dua tahun, Martha hanya mendapat kabar bahwa Alya menikah dengan teman kampusnya yaitu Rifat Rayyanka yang juga pengusaha sukses di Singapura dan mempunyai saham di beberapa perusahaan yang tak terhitung, memiliki beberapa Departement Store yang mejadi pusat perbelanjaan di Singapura.
Saat itu Martha tidak datang ke pesta pernikahan sahabatnya itu, bukan karena tak ingin datang, meski Alya telah menawari tiket gratis namun Martha merasa segan jika harus menerima tawaran tersebut, apalagi harus membawa Reba. Berapa biaya tiket untuk dua orang pulang pergi singapura, belum lagi hotel dalam waktu satu minggu.
Martha menimbang-nimbang hal tersebut, betapa tak enaknya ia merasa, walaupun ia tahu Alya melakukan itu dengan ikhlas dan tanpa imbalan apapun karena Martha telah dianggap Alya sebagai adik perempuannya sendiri.
Sungguh sangat beruntung Martha bisa bersahabat dengan Alya dan juga bisa bekerja di Butik Jasmine milik Alya. Butik tersebut sudah lama tidak dikelolah oleh Alya secara langsung, namun ia titipkan dengan Bi Elin yang merupakan keluarganya sendiri, hanya untuk sementara sampai waktu yang belum ia tentukan.
**** ****
Kriing.... Kriing.... Kriing...
Suara dering telepon di atas meja dekat kasir berdering.
“ Halo selamat siang Butik Jasmine, Jalan Jasmine no.88, ada yang bisa dibantu dengan siapa dimana?” jawab seorang wanita di meja kasir
“Halo dengan Princess Jasmine disini, anak Ibu Jasmine, kakaknya rose, adiknya lily hahahahha” suara gadis disambungan telepon tersebut tertawa terbahak- bahak
“Rebaa... ada ada saja, ada apa?, ibu lagi kerja dan buru- buru menyelesaikan pesanan yang udah deadline, jangan ngacok deh!. Tumben jam segini sudah bangun biasanya habis ngebolang, bangun terus sarapan, tidur lagi dan bakalan seperti mayat yang gak bakal bangun sebelum ibu bangunin” kata Martha
“Bu, itu ada titipan dari siapa namanya tadi yah, Aspal Aslam haaa siapa itu, entahlah katanya anak Tante Alya. Terus dia nitipin amplop gede, tadinya Reba pikir isinya surat, tapi masa surat tebal banget gituh, lagian zaman sekarang yah... masa iya ibu surat-suratan ama Tante Alya hehe... telepon, whatsapp kale zaman gini masih pakai surat. Oh iya bu itu beneran anak Tante Alya? kok gak ada mirip-miripnya yah bu?, yah memang Tante Alya cantik banget, tapi ini beneran deh kek bule bule gitu loh bu, tadinya aku kira artis hollywood nyasar ke rumah kita.”
Reba menjelaskan panjang lebar apa yang ia lihat pagi ini, jelas dia tidak mengatakan imajinasinya pagi tadi kepada ibunya, karena dia tidak mau dibilang anak gadis ibunya mulai gila sekarang, apalagi aneh semenjak bergelut dengan dunia pernovelan.
Deg…
“ Reba nak, ibu kerja dulu yah. Iyah itu anak Tante Alya, untuk titipannya kamu jangan buka dulu yah, biar kita buka sama- sama, nanti ibu jelaskan ke kamu. Sekarang ibu lagi fokus untuk menyelesaikan jahitan yang udah dikejar pelanggan, kemungkinan ibu juga akan pulang telat. Kamu jangan lupa hangatin lauk yang ibu masak pagi tadi, makan malam jangan telat, itu maag kamu bisa kambuh kalau telat, jangan cari-cari penyakit pokoknya. Ok daa, ibu sayang Reba”
Martha menutup telepon tersebut dengan hati yang tiba-tiba gusar tak menentu.
“ Apaan sih ibu kayak gak bakal ketemu lagi, terus tumben deh ibu ambil lembur, biasanya juga ibu lebih pilih pulang cepat apalagi weekend gini. Memang tuh jahitan bakal lari apa kalau gak dikerjain hari ini juga”
Reba berpikir heran, dan sejujurnya dia penasaran apa isi amplop besar itu namun ia enggan membuka, karena ia adalah anak yang tergolong penurut dengan ibunya, apapun kata sang ibu tak akan ia tolak, bahkan jika sang ibu meminta nyawanya mungkin ia akan memberikan itu.
Reba merasa yang ia punya hanya ibunya saat ini, khususnya di kota ini. Sebenarnya Reba memiliki kakek dan nenek di desa, namun entah mengapa Reba hanya ingat sekilas saja masa dimana bersama kakek dan neneknya, selain itu ia tidak pernah ingat hal lainnya.
Reba tak mau membahas mengenai ayahnya apalagi hal yang menyangkut kakek dan neneknya, karena Martha juga selalu mengalihkan perhatian jika sih anak mulai membuka pembicaraan tentang ayahnya dan bertanya mengapa kakek neneknya tidak tinggal bersama mereka.
Jika dipikir lagi seharusnya kakek dan neneknya sudah tua jika untuk mengurus diri sendiri di desa. Alangkah baiknya jika kakek dan neneknya tinggal bersama Reba dan Martha di kota, setidaknya anak dan cucunya bisa mengawasi kesehatan mereka.
** **
Pukul 00.00
Klekkk..takkk..klekk
Bunyi pintu utama terbuka terdengar dari kamar Reba, seperti biasa Reba terhanyut dengan salah satu novelnya. Martha pulang dari bekerja dan langsung menuju kamar Reba dengan pintu kamar terbuka lebar, tanpa meletakkan barang-barang yang ia bawa terlebih dahulu, ia berjalan menghampiri Reba yang sedang tersenyum sendiri menatapi sebuah buku di tangan.
Reba tiba- tiba terkaget ketika suara wanita paruh baya itu memanggil dan menghampirinya. Ia juga kaget melihat ibu yang memegang beberapa kantong box yang berisikan barang-barang pribadi ibunya yang biasa ia tinggalkan di butik.
“Ibu, Reba kaget tahu! tumben bener ibu pulang- pulang langsung masuk ke sini.Oh...iyah biasanya ibukan gak ambil lembur weekend seperti ini, kitakan bisa main-main ditaman, beli bakso di pinggir jalan taman kota. Duh lambung Reba jadi nari-nari deh kayaknya, inget bakso Pak Karim di taman”
celoteh gadis kecil Martha yang sekarang beranjak dewasa.
Martha tak tahan lagi dengan apa yang ia gusarkan sepanjang hari ini, hal yang membuat ia tak fokus bekerja dari siang sampai tengah malam ini. Air mata pun menetes di kelopak mata.
Barang- barang yang tadinya ia pegang, serta merta terjatuh dan segera menghampiri sih gadis di depan matanya, memeluk erat dan menangis terseduh- seduh mengingat jika hal yang paling ia takutkan akan terjadi. Tapi bagaimanapun hal itu harus terjadi.
“Reba, anak gadis ibu yang baik, anak gadis ibu yang penurut, anak gadis ibu yang patuh, kamu harus pergi ke Singapura” kata Martha terbata-bata.
Reba hanya terdiam mematung, memproses kalimat yang keluar dari mulut ibunya. Mendengar kata Singapura, Reba hanya mengingat sebuah amplop berwarna cokelat titipan anak Tante Alya.
Apa ini ada hubungan amplop berwarna cokelat itu?
“ Apa isi dari amplop cokelat itu bu?” tanpa pikir lagi reba melepaskan pelukan ibunya dengan terpaksa dan segera mengambil, lalu membuka amplop yang dimaksud.
“ Apa arti dari semua ini bu?, Reba selalu berusaha melakukan yang terbaik agar ibu tidak merasa disusahkan memiliki anak seperti Reba”
“Reba, nak kamu tidak pernah sekalipun menyusahkan ibu”, Martha kembali merangkul tubuh anaknya,
“Hal ini Ibu lakukan karena ibu sayang kamu nak, ibu tahu itu impian kamu dan kamu bisa meraih itu semua, suatu hal yang tidak adil jika kamu harus terkurung di belenggu kesengsaraan, sedangkan kesempatan besar di depan mata”
mengusap buliran air mata di pipi anaknya, Martha menjelaskan sambil sesenggukan.
Hai terima kasih telah membaca, maaf jika ada typo dimana-mana, jangan lupa like dan SARTIK membangunnya yah agar author tambah semangat. Love u guys.
Salam. Miho_08