Love Is Drama

Love Is Drama
Sarapan untuk Princess



.


.


.


*ASLAN POV*


“Kak Aslaaan...!” Lagi- lagi suara bocah ini mengagetkanku. Sejujurnya perasaan ku sekarang tidak karuan, entah perasaan apa ini. Berapa menit yang lalu tertangkap basah bermesraan bersama Angela oleh bocah ini, membuat juniorku yang menegang seketika tertidur kembali. Hal ini sungguh adalah momen yang di luar dugaan, biasanya sebelum aku melakukan pelampiasan bersama Angela maka aku harus melakukannya sampai puas di kamar mandi. Sungguh bocah ini benar- benar!.


“Tak pernah dicium?” Batinku berkata, entah apa yang merasuki otakku. Mataku melihat bibir merah bocah ini. Oh tidaaak...!, apa-apaan yang kau pikirkan Aslan, kau tidak mungkin ingin mencobanya bukan. Tak bisa dipungkiri bocah ini cantik, yang paling penting dia polos dan bersih, tidak seperti para gadis di luar sana. Pada usia meranjak dewasa, mereka mendapatkan hal yang diinginkan dengan cara menarik perhatian para lelaki kaya dan tak malu untuk mencoba naik ke atas ranjang.


Jika diberi nilai satu sampai sepuluh Reba akan mendapatkan nilai sepuluh. Oh Tuhan!, kenapa lagi otakku ini, hmm... tidak mungkin sembilan yah sembilan, ehh.. mungkin saja sembilan koma lima karena nilai sepuluh sudah ditempati Angel.


Mendengarkan semua celotehannya entah mengapa merasa membuat hatiku tenang. Seharusnya aku marah karena dia telah merusak momen berhargaku bersama Angela.


Rasa panas menyelimutiku ketika mendengar nama lelaki itu. Sungguh aku benci mendengar nama itu, apalagi harus membayangkan wujudnya.


Aku tidak ingin bocah ini mengenal orang itu.


Baik katanya?, dia tidak tahu bahwa nama itu jauh dari kata baik, dia adalah raja dari raja iblis.


_***_


.


“ Mulai besok aku akan menjemputmu pulang!” belum sempat Reba menjawab, Aslan melanjutkan kalimatnya itu,


“dan satu lagi, jangan terlalu dekat dengan orang itu, bukan! tapi tidak perlu mengenalnya!” Aslan memperingatkan kembali.


“ Tapi aku gak mau selalu ngerepotin Kak Aslan” lirih Reba


“Semenjak kau muncul di depan mataku, sudah merepotkan jadi aku sudah terbiasa” canda Aslan


“Tuh... kan, aku beneran ngerepotin?” Reba cemberut dengan bibir maju ke depan, tentu saja hal ini sangat menggemaskan untuk Aslan.


“Bakal ku kuncir bibir mu kalau gini terus” Aslan mendekat dan menyentuh bibir Reba yang membuat mata mereka bertemu.


Deg deg deg


Jantung Aslan bergemuru namun ia langsung menepis, “Udah ahh.. aku mau mandi, cepat keluar!” Aslan menarik tangan Reba membuat gadis itu terpaksa berdiri.


“Aww pelan-pelan, sakit tau!” tarikan Aslan sedikit membuat Reba meringis


“Sakit?” tanya Aslan


“Iya” Reba kembali cemberut


“Maaf” lirih Aslan merasa bersalah


“Aku kan udah minta maaf, nanti aku masakin buat sarapan” Aslan mengelus kepala Reba.


“Yeaaahhh... janji loh!” sorak Reba sambil membentangkan tangannya


“Iya iya...udah sana” cubit Aslan di hidung


“Siyap boss!” Reba berjalan keluar sembari berloncat- loncat kecil.


.


.


Sejak dulu tak hanya tampan, pandai, memiliki body yang sixpack, Aslan juga jago memasak. Terlebih lagi Aslan pernah tinggal di UK yang mengharuskan dia hidup mandiri dan mau tak mau dia harus memasak untuk dirinya.


Bukannya keluarga Rayyanka pelit tak mau menyewa seseorang untuk mengurus anak mereka satu ini, tapi Aslan tak ingin jika dia dianggap anak manja. Dia adalah seorang lelaki yang harus mampu melindungi diri sendiri, kalau cuma untuk urusan makan saja dia harus merengek, bagaimana mungkin dia bisa melindungi seseorang yang ia cintai di masa depan.


.


.


Rumah Rayyanka yang besar memuat beberapa dapur, dapur utama di lantai bawah tak jauh dari ruang utama, ada dua dapur di atas dekat dengan kamar Reba dan Aslan, dan beberapa dapur di lantai paling bawah seperti di dekat kolam berenang, serta di sudut dekat taman belakang.


Satu dapur dekat dengan gazebo yang terletak di sebuah taman seperti taman bermain anak- anak, walaupun di rumah ini sudah tidak ada lagi bocah kecil,namun penerus Rayyanka pernah berkeliaran di tempat ini semasa kecil. Tempat ini sengaja tidak direnovasi atau lebih tepat mungkin sang pemilik belum memiliki niat untuk merenovasinya.


“ Kak kenapa gak masak di atas aja?” tanya Reba


“Di sini lebih adem” jawab Aslan yang sekarang telah memakai apron dan dengan gesit menyiapkan sarapan.


“ehhm... Kak kalau mau adem, bukankah di dekat kolam berenang lebih adem yah?” Reba bertanya


“Di sini lebih asyik” Aslan menjawab sembarang


“Oh yaah...” Reba melihat sekeliling. Sebenarnya Reba juga menyukai di taman ini. Kenapa tidak, taman ini banyak permainan anak- anak yang bisa dimainkan.


“Kak aku bisa naik itu?” Reba lagi-lagi melontarkan pertanyaan mebuat Aslan menoleh melihat arah telunjuk gadis itu.


“ Kalau gak malu sama umur, yah naik aja” bibir Aslan tertarik ke samping


“Kenapa harus malu sama umur!”, seru Reba


“Udah naik sana!” Aslan sedikit menggoyangkan kepalanya ke atas


“ Hehehe...” Reba bergegas menuju perosotan yang tak terlalu tinggi namun masih bisa dinaikinya.


Aslan Fokus dengan masakannya, memotong bawang dengan cepat dan tepat, mencuci daging dan membelahnya menjadi potongan yang tidak terlalu tipis dan tidak terlalu tebal sangat pas seperti potongan chef profesional.


Aroma steak yang dibuat Aslan menusuk ke indra penciuman gadis berkepang itu. Reba berlari cepat hampir saja tersandung batu.


“ Pelan-pelan, makanannya gak bakal lari” Aslan menjulurkan tangan, membawa Reba ke kursi makan yang ada di taman.


“Silakan duduk a little princess” Aslan menarik kursi membuat Reba sedikit memerah


“Sarapan untuk tuan putri siap disajikan”


Aslan membawa dua piring yang berisikan dua potong steak. Satu potong sirloin dengan tingkat kematangan well done untuk Reba dan satu potong tenderloin dengan tingkat kematangan medium rare untuk ia santap.


Ada dua meja di taman ini, satu meja lebih mendekatkan dengan permainan yang ada di taman. Satu meja dengan enam kursi berdekatan dengan tempat memasak. Reba dan Aslan duduk berhadapan di meja tak jauh dari tempat masak.


“Woooaaaa ahh.. ahh..” Reba merasa lidahnya seperti terkena bara api


“Kamu tuh yah bisa gak segala sesuatu lebih hati-hati” Aslan dengan sigap menyodorkan air putih


“Abis aku gak sabar lagi, liur aku ampek jatuh loh Kak” seringai Reba


“Sini...” Aslan menarik piring Reba lalu memotong kecil-kecil steak yang ada di piring


“Aaa....” Reba membuka mulut sambil memejamkan mata


Deg Deg Deg


Bukannya menyuapi Reba, Aslan malah terhipnotis melihat gadis di hadapannya itu.


“Kakkkk... aku udah nunggu lama, untung gak ada lalat yang masuk ke mulut” Reba membuka mata dan membuat Aslan terkejut. Lalu Aslan memberikan satu suap ke mulut yang dari tadi terbuka lebar


“Enakk??” tanya Aslan


“Kak Aslaan.. emang jagonya!” Reba memberikan dua jempol kepada Aslan...


.


.


“Haiiii....pagi, aku udah ngira pasti kamu disini” suara wanita dari arah pintu dalam, keluar menuju taman dimana tempat Reba dan Aslan berada.


Dari sudut pandang siapapun yang melihat mereka, jelas mereka tidak menggambarkan seorang kakak maupun adik, melainkan seperti sepasang kekasih yang lagi kasmaran.


Angela yang sepengingat Reba baru beberapa jam hengkang dari kediaman Rayyanka, sedikit bingung kenapa bisa datang dan secepat kilat mengganti dress yang tadi ia kenakan menjadi kemeja garis-garis, serta menguncir rambut panjangnya itu menjadi kuncir kuda.


.


.


.


.


Note: tanda


-***-


*** ***


untuk mengawali/mengakhiri flashback atau POV tokoh yah....


.


.


Hai terima kasih telah membaca, jangan lupa like dan SARTIK membangunnya yah agar author tambah semangat. Mohon maaf typo dimana-mana.


Love u guys.


Salam. Miho_08



Muka Reba pas lagi ngeliat Angela sama Aslan


.


.


.



-Dilreba yang diliat orang (selain Aslan)


.


.


.



-Reba di mata Aslan- 😅