
.
.
.
Rayyanka’s Academy of Arts (RAA), Singapura adalah sebuah universitas seni swasta terpopuler di Singapura milik Keluarga Rayyanka, dimana Rektor RAA sekarang adalah Rifat Rayyanka, tidak hanya populer karena tempat ini didominasi oleh anak-anak dari kalangan atas, tapi jangan salah anak-anak konglomerat jika memiliki otak yang kosong tak akan bisa masuk ke universitas tersebut.
Yup universitas ini memiliki calon-calon seniman dan musisi yang berbakat, dan tak sedikit dari mereka bahkan menjadi pimpinan dari perusahaan-perusahaan atau stasiun tv yang patut diperhitungkan di dunia hiburan.
RAA sendiri merupakan kampus yang berfokus pada seni kreatif dan desain, jurusan yang dimiliki antara lain manajemen seni, arsitektur dan desain interior, media dan komunikasi, performing arts dan fotografi, fashion 3D, desain visual, film dan animasi, musik dan audio.
“kamu udah belom isinya?” tanya Aslan kepada wanita berkemeja putih dengan rambut kuncir kuda yang sedang mengisi formulir menghadap laptop di dalam kamarnya.
“udah Kak Aslan, tapi aku bingung mau masuk jurusan apa. Kakak tau kan aku sukanya nulis, baca dan paling-paling aku doyan nonton, kira-kira biar aku beneran bisa jadi penulis terkenal aku masuk jurusan apa yah?” tanya gadis itu yang segera melipatkan kaki di atas kursi dan menempelkan dagu di lututnya,
“emang nggak ada jurusan seni sastra gituh loh kak?, biar bahasa menulis novelku gak monoton apalagi ngebosenin” masih dengan posisi semula gadis itu terus bertanya.
“ Kalau cita-citamu hanya ingin jadi penulis yang kamu lakukan hanyalah menulis, itu saja, sederhana” Jawab Aslan
“Yeh kalau menulis, itu udah aku lakuin dari jaman masih di perut ibu aku”
“Emang waktu di perut Tante Martha kamu udah bisa nulis” Aslan bertanya santai.
“Iyah nulis perasaan aku buat ibu” tiba-tiba mata itu sendu mengingat kenangan bersama ibunya.
“ Woy, jangan melamun cepat selesaikan itu formulirnya” Aslan melempar bantal tepat di muka gadis itu, yang tentu saja hal itu mengejutkan Reba,
“ Jika kamu mau menulis yang kamu butuhkan adalah keberanian”.
Lalu Aslan meletakkan tangannya di depan mulut seperti sedang terbatuk, namun bukan ingin batuk karena sakit tenggorokan melainkan batuk ingin mengucapkan kalimat bijak, “Kalau anda ingin menjadi penulis, menulis saja dan tidak perlu sekolah khusus, kutipan Elizabeth Gilbert dalam bukunya Big Magic”,
Aslan berkata bak dosen yang sedang mengajar, yah memang Aslan adalah seorang dosen sekaligus penerus pemilik dari universitas keluarganya.
“ Woaah... you are very awesome sir” Reba bertepuk tangan sambil menggeleng- gelengkan kepalanya,
“ok, fix aku putuskan aku akan mengambil jurusan musik dan audio, selesai” Reba membentangkan tangannya sambil tersenyum, melihat Aslan yang sekarang berbaring di ranjang yang terlihat enggan mengajukan pertanyaan lagi kepada Reba, namun Aslan melontarkan pertanyaan singkat, “alasannya?” .
“ Alasannya karena ada Kak Aslan yang bakal ngajarin aku, hhehee... kalau ada tugas tinggal panggil kakak aja” Reba menjawab sambil menunjukkan ekspresi menggemaskannya.
“Ngawur! aku banyak kerjaan gak punya waktu buat ngajarin kamu” punkas Aslan,
”kalau mau masuk jurusan itu harus ada tujuan dan harus tahu kedepannya mau ngapain aja” ceramah Aslan lagi.
“ihh...tadikan aku udah bilang mau jadi penulis, lah Kak Aslan bilang kalau mau jadi penulis tinggal nulis aja dan hanya butuh keberanian, kok aku malah jadi serba salah sih” gerutu Reba.
“ Ahh udah aku mau balik ke kamar”, Reba menutup laptopnya, bergegas keluar kamar dan tak lupa menoleh ke arah Aslan sambil menjulurkan lidahnya.
Aslan yang tak sempat membalas reaksi gadis berkuncir kuda itu, hanya tersenyum kecil melihat adik kecilnya itu yang semakin hari semakin menggemaskan.
.
Reba memasuki kamarnya tepat di sebelah kamar Aslan, kamar dengan sprei merah muda, bercat dinding bernuansa merah muda dan putih, dengan langit-langit kamar yang dihiasi bintang dan benda- benda astronomi terlihat indah ketika lampu dipadamkan.
Reba segera membuka kuncir kudanya, mandi dan mengganti kemeja yang ia kenakan menjadi piyama berwarna putih polos.
Hari ini Reba sudah mengunjungi kampus Rayyanka’s Academy of Arts ditemani Aslan dan Tante Alya untuk melihat- lihat suasana kampus. Kampus RAA begitu megah persis yang ada di film-film musikal yang ia tonton, setiap jurusan memiliki gedung dimana jarak setiap gedung lumayan akan menguras energi jika dicapai hanya dengan berjalan kaki, yah lebih tepatnya jangan coba-coba menelusuri kampus ini dengan berjalan kaki.
Untung saja ada Aslan yang membawa mobilnya, lebih beruntung lagi kampus ini adalah milik keluarga Rayyanka, jelas dengan status Reba sekarang di keluarga Rayyanka akan sangat memudahkan ia menjalankan hari-hari di kampus.
Reba mulai mematikan lampu, memandangi bintang-bintang dan semua benda langit yang ada di atasnya. Lalu ia teringat kejadian tiga bulan lalu.
.
*** ***
.
“Butik Jasmine akan segera ditutup untuk beberapa waktu. Bibi Elin juga akan menyusul anaknya di Singapura, sedangkan ibu harus pulang ke kampung nak”, kata ibu mulai berkata dengan tenang.
“Bibi Elin sudah mulai sakit- sakit, kebetulan di Singapura ada rumah sakit yang direkomendasikan untuk dia berobat, lagipula anak dan cucunya juga ada disana”, Martha kembali menjelaskan perlahan dengan Reba.
“Kamu nggak bisa ikut ibu Nak, ibu mau pulang ke kampung untuk merawat kakek dan nenek” masih dengan usaha untuk menahan tangisan, Martha terus berkata sambil mengelus pundak sang anak,
”kalau kamu ikut Tante Alya ke Singapura kamu bisa belajar disana, ibu mau anak ibu jadi anak yang cerdas, anak yang bisa meraih impiannya. Ibu janji kita pasti akan ketemu lagi, lah wong jaman sekarang kita bisa sering-sering videocall toh Nak” Martha masih berusaha menenangkan anaknya.
“Ibu, ibu nggak suka yah tinggal sama Reba?, Ibu nyesal punya anak kayak Reba yah?, lalu kenapa nggak kakek nenek aja yang ikut kita bareng- bareng ke Singapura?” akhirnya di dalam dekapan ibunya Reba sudah bisa menenangkan diri, walaupun ia masih menanyakan hal- hal yang menurutnya masih janggal.
“Yah.. nggak bisa lah Nak, masak iyah kita harus menyusahkan keluarganya Tante Alya” jawab Martha
“Loh kalau begitu Reba bakal nyusahin keluarga Tante Al...”
“Yah beda lah sayang, itu Tante Alya sendiri yang menawarkan, lagian Tante Alya udah anggap kamu seperti anaknya sendiri. Dia udah melihat kamu sedari kamu masih dikandungan” lagi dan lagi Martha membujuk sang anak, ia tahu bahwa Reba adalah anak penurut asal ia berusaha memberi alasan yang masuk akal walau terkesan dibuat-buat.
Martha tetap yakin bahwa Reba akan menuruti kata- kata ibunya. ia tahu isi hati dan otak anaknya, ia sudah tinggal selama 17 tahun lebih bersama anaknya, mana mungkin ia tidak bisa menilai watak dan perangai anaknya yang polos itu.
Iyah, dimatanya anaknya tetaplah gadis yang polos walaupun sekarang Reba sudah mulai beranjak menjadi wanita dewasa, berapa bulan lagi usianya akan menginjak 18 tahun.
“Tapi buu...” mata Reba mulai berkaca-kaca lagi. Bagaimana mungkin ia sanggup berpisah dengan ibunya. Tak terbayangkan olehnya jika ia tidak bisa berceloteh tanpa titik dan koma di minggu sore atau di pagi hari ketika ibunya sedang dapat giliran libur.
Ia akan bernyanyi layaknya seorang penyanyi profesional di depan kaca dan menari menarik tangan ibunya, lalu diakhiri dengan saling menggelitik di area-area badan mereka yang sensitif, lalu mereka akan tertawa terbaha- bahak.
“Nak, kamu sayang ibukan?, tolong ibu... ibu mau kamu jadi anak yang sukses, ketika kamu sukses, ibu akan berkata ini adalah anak ibu, Reba... dia adalah penulis yang hebat. Reba adalah seniman yang terhebat. Ibu nggak mau ada satu orangpun yang meremehkan anak gadis ibu” akhirnya kelopak mata Martha tak bisa lagi membendung buliran yang membanjiri pipinya.
Itulah Reba seorang gadis yang hanya akan berkata iya kepada seorang malaikat yang bernama ibu. Ia akan menuruti apapun kemauan ibunya.
Mungkin bodoh bagi sebagian orang menuruti tanpa alasan, namun tidak bagi Reba. Ia bisa melakukan apapun untuk sang malaikatnya walau tanpa alasan apapun.
.
*** ***
.
Malam ini adalah malam dimana seperti biasa Reba akan tertidur dengan tetesan air mata mengalir di pipinya, lalu matanya akan terpejam sambil membayangkan wajah ibunya.
Jika ibunya berkata Reba bisa melakukan videocall ketika ia berada di Singapura. Namun hal itu seperti hanya bualan semata, sudah satu bulan dari keberangkatannya, Reba hanya bisa mendengar suara sang ibu dari sambungan telepon atau hanya sekedar berbalas chat.
Bahkan fotopun tak ada Martha kirimkan, hanya Reba yang sesekali mengirimkan fotonya yang sedang berpose lucu, namun tanpa balasan dari sang ibu.
“Tuhan sampaikan peluk dan ciumku untuk malaikatku di sana, sungguh aku merindukannya” batin Reba yang kini sudah mulai terlelap dalam tidur.
.
.
.
Hai terima kasih telah membaca, jangan lupa like dan SARTIK membangunnya yah agar author tambah semangat. Mohon maaf typo dimana-mana
.Love u guys.
Salam. Miho_08