Love Is Drama

Love Is Drama
Raja dari Raja Iblis



.


.


.


-ASLAN POV-


Semalaman aku tak nyenyak memejamkan mata jika mengingat nama iblis satu itu. Membuat hati dan pikiranku tak tenang, lalu suara gadis kecil ini membuyarkan lamunanku.


“Pagi!”, seru gadis yang sebulan terakhir ini telah tinggal satu atap bersamaku.


Tak ada niatku untuk mengacuhkannya, hanya saja moodku benar-benar sedang tak bagus. Aku tak ingin berkata banyak karena takut melampiaskan amarahku kepada orang yang tak bersalah, seperti gadis ini.


Entah mengapa, jika aku bisa berteriak dengan dia yang ku cintai, tapi aku tak kuasa jika harus menyinggung gadis yang sedang muram ketika aku menjawab pertanyaan seadanya. Muram atau ekspresi takut aku tak tahu apa itu.


Maka lebih baik aku diam menahan ucapan.


Voice note daddy mengingatkanku untuk datang pada acara hari ini menggantikannya, kulihat rundown acara. Melihat sebuah nama di penutupan acara itu, membuat aku bersemangat untuk datang. Setidaknya sekali mendayung dua tiga pulau terlewati.


.


Aku melangkah bersama Reba untuk menuju aula, tujuanku selain mengantar gadis kecil ini aku berharap bisa melihat pemandangan yang ku rindukan sejak malam tadi, bukan malam tapi malam menjelang subuh.


“Aslan?” Suara yang aku rindukan tertangkap di daun telinga.


Mataku tak berkedip melihat wanita itu, rambut panjang tergerai adalah style favoritku dari wanita yang berlari kecil lalu mengecup bibirku cepat.


“Iya!” ketika gadis kecil di sebelahku mempertanyakan satu pertanyaan, yang jelas aku ingin mempertegas bahwa wanita yang mengecup bibir ini adalah milikku sampai kapan pun hanya milikku.


“Bukan!”, bukan melainkan belum, “teman tapi mesra” aku sungguh lebih tak menyukai status ini dari kata belum atau bukan, karena ini adalah hal yang tanpa kepastian.


-***-


.


.


Aula besar nan megah layaknya panggung megah, padahal hanya untuk kuliah umum para mahasiswa baru. Acara dibuka dengan kata sambutan Aslan Rayyanka sebagai perwakilan Rifat Rayyanka yang tidak bisa datang. Aslan kerap menggantikan ayahnya untuk penyambutan mahasiswa/i baru ataupun pertemuan-pertemuan bisnis ayahnya.


Pidato dari beberapa alumni dan penampilan yang memukau disuguhkan membuat semua mahasiswa di dalam aula terkesima. Lalu ditutup dengan penampilan wanita anggun berambut panjang dengan dress hitam. Gesekan senar biola membuat nada-nada sederhana dikemas dengan teknik yang luar biasa indah, mampu membuat lelaki itu berbinar memandanginya tak sekalipun berkedip.


Angela Sue Tjandra, anak kedua dari Kevin Tjandra merupakan pemilik stasiun TV Tjandra yang ada di Singapura. Tjandra TV bekerja sama dengan perusahaan- perusahaan yang membawahi berbagai acara internasional mulai dari fashion, talent audition dan lainnya.


Seketika Reba mengingat saat pertama ia memasuki Negara Singa ini.


*** ***


*


“Kak kenapa ngeliat iklan di TV kayak gituh banget” tanya Reba penasaran, melihat Aslan ketika mobil jemputan mereka berhenti di lampu merah. Ada layar besar memperlihatkan iklan sebuah krim kecantikan.


“Kakkk!” teriak Reba membuat Aslan terkejut membuyarkan lamunannya.


“Haa?”


“Itu loh kakak ngeliat model perempuan di sana sampai nggak ngedipin mata” Reba menunjukkan jari kanan ke layar lebar di atas jalan.


“ Yaah... cowok mana ngeliat wanita cantik yang bisa mengedip” jawab Aslan sembarang


“ Tapi kakak kok ngedip terus ngeliat aku”


“Haa...?” Aslan kebingungan menoleh gadis yang dianggapnya masih belum dewasa itu.


“Kata ibu aku, aku adalah wanita yang cantik di dunia” Reba melipatkan tangan ke depan dan menyunggingkan senyuman bangga pada dirinya.


Dilreba adalah gadis yang imut, cantik, rambut lurus panjang, kulit mulus, memang tak kalah cantik dari model wanita di layar iklan itu. Namun bagi Aslan gadis di sampingnya adalah anak kecil yang baru menyelesaikan sekolahnya dan gadis yang harus ia anggap sebagai adik perempuannya dan mungkin akan selalu menjadi adik perempuan di keluarga Rayyanka.


“ Iya, iya kamu cantik hanya saja...”


“Hanya saja apa?” pungkas Reba tak suka


“Hanya saja wanita itu lebih dulu lahir, jadi tingkat kecantikannya sedikit melebihi dirimu” Aslan mengusap rambut Reba sembarang arah


“Ow! benar juga aku lahirnya belakang sih yah” Reba mengangguk-anggukkan kepala menyetujui perkataan Aslan.


*** ***


*


Reba menyadari wanita anggun memainkan melodi di depan adalah model yang dikagumi Aslan.


“Pantas saja ekspresi Kak Aslan saat itu segituhnya, ow jadi pacarannya, eh... bukan TTM katanya tadi!” Reba ikut berdiri dan bertepuk tangan mengikuti penonton di dalam aula tersebut.


*


*


*


Enam bulan berlalu, tidak terasa. Kedekatan antara Aslan dan Reba tanpa disadari tak berjarak dan tak ada kata canggung sedikitpun. Mereka sudah merasa seperti saudara kandung sendiri.


Entahlah!, perasaan kenyamanan apa yang sebenarnya mereka rasakan. Bersenda gurau, bernyanyi bersama di perjalanan ketika Aslan mengantar Reba ke kampus, sarapan pagi bahkan Aslan yang dulu tidak memiliki jadwal makan malam di rumah sebisa mungkin harus melakukannya di rumah bersama Reba.


Di saat akhir pekan, tak jarang Aslan menemani Reba sampai dini hari hanya sekedar mengupas cerita- cerita novel atau memberi masukan tentang apa yang seharusnya Reba tulis.


.


.


“Kak Aslaaaannn....!” Reba masuk ke kamar Aslan tanpa mengetok pintu dan berlari mengarah ranjang, tempat di mana mereka biasa saling bercerita.


“Ups maaf.. sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat, ehh.. boleh dilanjutkan” melihat pemandang di mana Aslan yang sedang memangku Angela saling berhadapan.


Posisi yang sangat intens, tangan Angela sembari menggerayapi kemeja Aslan membuka satu persatu kancing kemejanya dan bibir mereka saling bertaut.


“ Rebaa...?” Aslan gelagapan melihat sih gadis polos itu sudah ada di dalam kamarnya.


“Hehehe...” Gadis dikepang dua itu menggarut kepalanya yang tidak gatal


“Aku gak liat apa-apa kok” Reba menggelengkan kepala lalu menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangan dan membuka kembali.


Sejujurnya hal itu membuat Aslan malah gemas melihat tingkah anak satu ini. Angela langsung berdiri dan merapikan gaun selutut yang ia kenakan.


“Gak apa kok Reb, aku dan kakakmu hanya sedang sedikit memainkan suatu permainan” Angela mengedipkan mata menggoda Aslan.


“Ohh... permainan aku boleh ikut” Reba benar-benar polos, padahal dia memiliki otak yang tergolong cerdas dan sudah biasa membaca dan menulis hal- hal berbau 18+ 21+, namun jika dihadapkan dengan dunia nyata entah mengapa otaknya seketika menjadi idiot.


“ Haa...” mendengar jawab itu membuat Angela terkaget, ia tak menyangka gadis ini begitu polos.


Aslan tak dapat berkata apa-apa melihat tingkah laku polos gadis ini. Lalu ia berjalan keluar mengantar Angela ke depan sampai menaiki mobil.


“ Kak Aslaaan...!” Reba berteriak lagi ketika Aslan memasuki kamarnya


“Bisakah kau tidak berteriak-teriak, telingaku gak budek” sejujurnya wajah Aslan masih memerah seperti sudah tertangkap basah berlaku mesum oleh adiknya.


“Aku ada tugas buat musik bertema-kan sepasang kekasih”, Reba mendekati Aslan yang menyandarkan tubuhnya di ranjang.


“Lalu?”


“Ihh... Kak Aslan itu gak peka sih, gimana musik romantis itu, padahal aku baru aja naik semester 2, Ya Tuhaaan.. kenapa bisa sudah dapat tugas seberat ini” keluh Reba menghembuskan napas keras


“Kau belum berperang sudah mengeluh” Aslan menjentik kening Reba


Reba mulai bersuara lagi “Gimana tau musik romantis, aku selama ini hanya menulis kata-kata, kalimat romantis dan adegan-adegan romantis. Tapi kalau disuruh membuat nada-nada.." Reba berhenti sejenak lalu melanjutkan kalimatnya,


"Bagaimana aku tahu itu musik romantis atau bukan?”


“Kau tahu kalau adegan romantis atau tidak dari mana?” tanya Aslan membuat gadis itu berpikir keras.


“Aku juga tidak tahu pasti” Reba melirik ke atas sambil berpikir.


“Tapi aku hanya membaca, mengutip dari novel-novel, yaah.. katanya itu suatu hal yang romantis, lalu tinggal ku tuangkan ke dalam kalimat dengan sedikit perubahan”


“Jadi selama ini segituh banyak tulisan yang kau buat, bahkan kau tak tahu apa itu romantis” Aslan menepuk jidatnya


“Kau pernah pacaran-kan?” tanya Aslan


“Iihh..Kak Aslan, yah belom dong!” bukan malu mengatakan hal semacam itu, Reba dengan bangga mengakuinya.


“Kau pernah dicium?”


“Pernah laaah...” mendengar jawaban Reba, Aslan merasa mungkin Reba telah terhina dengan pertanyaannya.


“Lah kira-kira kau dicium waktu suasana romantis atau horor?” Aslan melanjutkan pertanyaan dengan sedikit kesal, namun ia gemas tak bisa marah dengan gadis ini.


Aslan meneruskan pertanyaan sembari sedikit menggoda, “ dicium di mana?, jangan bilang di pipi!”


“ Di bibir dong” jari telunjuk Reba mengarahkan ke bibir merahnya


“Wow...kali ini aku tak bisa meremehkan si bocah kecilku” tepuk tangan Aslan.


Lalu kembali bertanya “Siapa?”


“Siapa?, siapa apa?” Reba yang dari tadi kebingungan tapi tidak disadari oleh Aslan


“Siapa yang mencium ku!” Aslan mendengus.


“Mana aku tahulah kak, bukankah yang mencium kakak tadi Kak Angel, Ups!” Reba merasa mulutnya keceplosan dengan apa yang ia lihat


Sekali lagi Aslan menjitak kening Reba, karena gemas. Pertama, karena ia tertangkap basah sedang bermesraan dengan Angela. Kedua, gemas karena gadis ini dari tadi tak ada kata menyambung sedikit pun dengan pertanyaan Aslan


“Tentu aku tanya siapa yang mencium bibirmu itu?” Aslan harus bersabar dengan gadis polos satu ini.


Reba baru paham akan pertanyaan kakaknya


“Oh.... itu ibuku!”


“OMG...!” Aslan mengerutkan kening mendengar jawaban Reba


“Waktu lagi mau tidur atau aku sedang tidur ibu menciumku di pipi lalu di bibir” lagi-lagi dengan bangga Reba menunjukkan jarinya ke pipi dan ke bibir.


Aslan tak habis pikir ada perempuan sepolos ini,


“kamu jangan terlalu dekat sama mahasiswa di kampus”


“Kenapa?” tanya Reba cepat


“Bahaya!” tentu saja Aslan berpikir sangat bahaya jika gadis ini bertingkah di depan mahasiswa RAA yang terkenal keplayboyan-nya.


“Bahaya kenapa kak, mereka jahat?"


“Iya mereka jahat” Aslan tak mau menjelaskan panjang lebar, karena bisa-bisa dari satu kalimat menjadi satu novel untuk gadis ini..


“Tapi loh kak hari ini aku ketemu sama mahasiswa, ehmm.. bukan sepertinya dia alumni RAA. Ganteng dan baik banget, dia dipanggil senior Samuel”


“Samuel!” Nada tak suka Aslan mendengar nama itu


“Khususnya yang namanya Samuel itu, kamu jangan dekat-dekat!”


“Loh kenapa kak?, kayaknya senior Samu...”


Belum sempat Reba menyelesaikan kalimatnya, Aslan memotong


“Samuel itu adalah Rajanya iblis. Jadi kamu nggak boleh dekat dengannya**!”


“Haaa... Raja iblis?” tanya Reba polos


“ Iya Raja dari Raja Iblis” Kali ini Aslan mencontohkan adegan seperti ingin menerkam ke depan wajah Reba.


.


.


.


Note:


-***-


*** ***


digunakan untuk memisahkan awal dan akhir POV/Flashback yah...


Hai terima kasih telah membaca, jangan lupa like dan SARTIK membangunnya yah agar author tambah semangat. Mohon maaf typo dimana-mana.


Love u guys.


Salam. Miho_08



Angela Sue di mata Aslan Rayyanka


Anggap saja seperti ini yah, untuk episode berikutnya giliran wajah Dilreba yang terpampang. 😁