LOOK FOR

LOOK FOR
episode 7



Keadaan kelas menjadi begitu ramai karena jam kosong. Haerin tertawa bersama keempat sahabatnya, bergosip tentang muka melas bela tadi. Siswa lainnya juga beraktivitas sama, termasuk luka dan han yang memang sedang berdiskusi.


"Gila lo, ya, rin" kyujin masih tak habis pikir. "Gue ngeri sama kelakuan badass lo tadi. Mana kata-katanya membunuh banget,tapi tenang gue suka kok gaya lo tadi." Haerin terkekeh. "Lebay lo. Gue cuman ngomong berdasarkan fakta"ucap haerin


"tapi emang bener kok rin,aksi lo tadi mantep banget"timpal minji pada haerin sambil memberikan dua jempolnya, bermaksud memberikan pujian.


"tapi gue khawatir rin"celetukan dani menjadi fokus keempatnya.


"Maksud lo"tanya hani penasaran


"emm gue takut bela ngadu sama xikers dan lo pasti jadi incaran mereka,karena udah memperlakukan bela kaya tadi"jawab dani dengan kepala menunduk dan suara pelan.


"Gue takut mereka nyakitin lo rin"lanjutnya


haerin yang menyaksikan dan mendengarkan ucapan dani pun di buat tersenyum, ternyata di tempat seperti neraka dunia ini masih ada orang yang punya hati nurani dan rasa kemanusiaan.


"lo tenang aja dan mereka gak bisa nyentuh gue walaupun itu seujung kuku gue"balas haerin sambil tersenyum tipis dia merasa terharu karena belum satu bulan bersekolah disini sudah ada yang khawatir tentang keselamatan nya.


Hingga...


Keributan kelas itu terhenti ketika tiba-tiba pintu kelas ditendang dari luar hingga terbuka. Semua langsung memusatkan pandangannya ke pintu. Wajah lingga yang menyeramkan muncul di balik pintu.


Begitu masuk, mata lingga langsung tertuju ke arah haerin yang sedang duduk santai. lingga mendatanginya dan langsung menggebrak mejanya dengan kuat hingga menimbulkan suara keras. luka dan han yang melihat itu pun langsung mendekat.


Sementara haerin-yang menjadi sasaran lingga-malah menaikkan satu alisnya menantang. "Kenapa?"


"Lo ngapain bela?!" desis lingga menyeramkan.


Haerin menatap keempat sahabatnya sambil menahan tawa. "Apa gue bilang tadi, si lalat pasti ngadu," ujarnya yang diangguki kyujin hani minji dan dani. "Haerin ...." Han menggeram. "Lo ngapain bela sampe lingga semarah ini?"


"Oh, bela?" balas haerin seolah mengulur waktu. "Gue kasih uang." Amarah lingga mengumpul di dadanya. Deru napasnya tak beraturan, bahkan tangannya sudah mengepal kuat. Tadi, bela mengadu telah dilukai tangannya oleh cewek di depannya ini, dan banyak lagi.


"Bukannya bela ratu bullying di sini? Harusnya gue yang diapa- apain sama bela," kata haerin, pura-pura merendah, tapi di satu sisi juga mengejek bela.


Tiba-tiba lingga langsung mencengkeram erat dagu haerin. Ia tak sanggup membendung amarahnya lagi. Luka dan han yang melihat itu kaget. luka mencoba menasihati lingga lewat bisikan, tapi tidak digubris.


"Lo udah banyak bikin rusuh di sini. Mau lo apa ngusik cewek gue terus?" ketus luka sambil menatap haerin geram. Cengkeraman lingga di dagu haerin semakin mengerat.


Adegan itu menjadi tontonan orang-orang di kelas. Tidak hanya itu, siswa-siswi yang tidak sengaja lewat kelas itu pun mulai berkumpul di jendela-jendela. Sementara kyujin dan minji ingin menolong, haerin dengan cepat mengisyaratkan untuk berhenti.


"Lepasin, Ngga!" titah luka karena merasa lingga sudah keterlaluan.


"Jangan sentuh gue!" haerin menepis tangan lingga hingga cengkeramannya terlepas. Ia pun melanjutkan dengan nada rendah, "Lo terlalu lemah, lingga. Cuma karena cewek, lo bisa segila ini."


haerin bangkit dari duduknya, menatap tajam lingga, lalu beralih ke luka dan han. "Seret temen lo keluar. Gue lagi males ribut." Mereka tak bergeming. Kesempatan itu pun digunakan lingga untuk mencengkeram erat lengan haerin. "Lo harus minta maaf sama adek gue!" Sebelum lingga menyeretnya ke luar, haerin langsung menghentakkan tangannya. Cengkeraman lingga terlepas untuk kedua kalinya. "Nggak mau!"


"B*tch!" maki lingga membuat semuanya kaget, termasuk haerin. haerin mencoba menahan amarahnya. Ia tertawa keras seperti psikopat. Semuanya heran melihat itu dan menebak-nebak apa yang akan dilakukan cewek ini selanjutnya.


"B*tch?" ulang haerin. "Ucapan lo itu cocoknya buat bela,adek lo!." Detik itu juga tangan besar lingga terangkat. Sialnya, haerin kurang gesit sehingga tamparan itu


begitu kuat mendarat di pipi kirinya. Bahkan sudut bibirnya robek.


Lingga tak suka ada yang menghina adiknya. Ia sudah lepas kendali. Cewek di depannya ini selalu memancing jiwa predatornya. "LINGGA!" bentak luka dan han bersamaan. Mereka tak habis pikir dengan tindakan sahabatnya itu.


Haerin tersenyum miring dengan darah yang masih keluar di sudut bibirnya. Auranya berubah sangat menyeramkan. Jari lentiknya pun mengusap darah di bibirnya. Ia menendang bangku-bangku di sekitarnya hingga area di sekitarnya jadi lebih lebar. Semua orang berteriak histeris, bahkan dani dan hani juga,beda halnya dengan kyujin dan minji. Mereka seperti melihat jiwa lain dari haerin. Tanpa diduga, minji berlari maju dan kaki minji langsung menendang lurus dada lingga kuat.


"BASTARD"bentak minji pada lingga sambil menghajar cowok itu.


Haerin terkekeh ketika melihat lingga yang mencoba untuk berdiri kembali,dia juga tertawa pelan menyaksikan minji menghajar lingga. "Gue dilatih kayak tentara dan diperlakukan layaknya bangsawan. Bisa-bisanya lo mikir gue takut cuma karena tamparan lo?" sinis haerin pada lingga usai melihat aksi sahabatnya barusan.


lingga ingin maju, tapi ditahan oleh luka. Tatapan luka yang tajam seolah menyuruhnya untuk diam.


"Jangan gini lagi, oke? Nanti gue bales, remuk jantung lo." Haerim tersenyum manis.


Haerin memberikan jari tengahnya untuk lingga, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan orang-orang yang sedang menatapnya kagum. Belum ada lima langkah berjalan, seseorang tiba- tiba mengangkat tubuhnya dan menggendong ala brydal style.


Haerin yang kaget pun mengangkat kepala dan melihat seseorang berjarak tidak jauh dari wajahnya. Tatapan cewek itu menajam. Bagaimana bisa ia tidak sadar kalau seseorang mengikutinya tadi? Namun, sebelum mengeluarkan kata-kata beracun, haerin menemukan hal yang tak biasa.


Tatapan seseorang itu berbeda. Tatapan itu tak lagi setajam saat pertama kali mereka bertemu. Mereka otomatis jadi perhatian banyak orang. Bisikan mulai terdengar.


Berbagai macam tatapan melayang kepada keduanya. Semuanya tak menyangka ketua geng sebelah bisa melakukan hal manis seperti itu,dan juga ada urusan apa ketua dari musuh xikers itu ke sekolahan ini.


Tidak nyaman dengan tatapan itu, haerin pun memberontak dan terus bergerak. Bibirnya bahkan mulai mengeluarkan kata-kata sinis.


"Diem atau gue lempar,"kata seseorang itu.


"Lempar aja, berengsek!" maki haerin yang masih tetap memberontak. la pun mencoba melompat dan namun sayang tenaga seseorang itu terlalu kuat menahan tubuhnya. Ia tak suka dipegang seintim itu oleh laki-laki.


Seseorang itu hanya diam dan tetap melanjutkan langkahnya. Tak mempedulikan sekitar yang heboh akan aksinya itu.


......................


"Lo nggak usah sok akrab!" sinis haerin saat seseorang itu menendang pintu UKS hingga terbuka.


tanpa mendengarkan haerin, seseorang itu pun mendudukkan cewek itu di kursi UKS. Setelah itu, ia mengambil kotak P3K. haerin sudah menebak apa yang akan dilakukan oleh cowok ini. Ketika seseorang itu mendekat, dengan tak berdosanya haerin melempar kotak P3K itu dari tangan seseorang itu hingga mengenai tembok. isi kotak itu pun berceceran di lantai.


"haerin!" desis seseorang itu mencoba bersabar atas sikap haerin. Urat-urat di lehernya sudah menonjol, tanda kalau ia benar-benar marah. "Diem dan nurut oke!,luka kamu harus segera diobatin"tutur seseorang itu dengan suara yang lembut.


"Pergi." Hanya itu yang keluar dari mulut haerin,haerin juga cukup heran bagaimana bisa seseorang itu tau namanya sedangkan mereka saja orang asing.


Seseorang itu menghela napas. Ia berusaha mengontrol amarah. "Obatin bibir kamu!" titah seseorang itu, lalu menyerahkan kotak obat pada haerin


Tepat saat seseorang itu memberikan kotak obatnya, haerin mengatakan sesuatu yang membuatnya mematung. Suara yang sangat pelan, tapi seseorang itu masih mampu mendengarnya,


"Jangan suka sama gue, orang asing. Atau lo gue bunuh."


Seseorang itu langsung menjawab pertanyaan itu dan tersenyum miring. "Jangan kepedean".kata seseorang itu


Haerin mendengkus sembari melipat kedua tangannya di depan dada. "Lo mudah dibaca, orang asing."


"Jefan itu nama gue"kata seseorang itu memberitahukan namanya ketika mendengar haerin selalu menyebut dirinya dengan sebutan'orsng asing'.


"Ck gak nanya!"ketus haerin.


Haeri berdecak kesal, lalu mengusap darahnya di bibir. Ini hanya luka kecil yang sudah biasa ia dapatkan. Tepat setelah selesai membersihkan darah di sudut bibirnya, ponsel di saku seragamnya bergetar. haerin langsung mengambil benda pipih itu.


...mattew...


...Musuh lo cuma bela, rin:...


......................