LOOK FOR

LOOK FOR
episode 3



Haerin berjalan menuju lapangan basket indoor bersama minji dani dan juga hani. Keempatnya sama-sama terlihat begitu cantik dan menarik pandangan. Apalagi haerin, aura misterius dan imut gadis itu menjadi daya tarik tersendiri.


Mata haerin menyelidik dari pinggir lapangan. Ia mengamati segala pergerakan bela yang bermain basket di tengah sana. Bibir haerin tersenyum miring ketika melihat anggota inti xikers ada di sisi lapangan satunya. Mereka menatap bela dengan begitu bangganya.


Cih, gitu doang. Kayak nggak pernah ngeliat cewek bisa basket, gumam minji meremehkan.


"Lo kenapa, ji?" tanya dani saat mendengar minji bergumam tak jelas.


Bukan hanya dani yang menderanya haerin serta hani pun mendengar apa yang minji gumamkan .


"Nggak apa-apa."balas minji santai.


Bugh!


Obrolan keempatnya berhenti ketika bola basket mengenai kepala haerin tepat mengenai hidungnya, menunduk cukup lama kemudian mendongakkan wajahnya sehingga kini wajah merah serta hidung berdarah haerin terlihat jelas dan mampu mengejutkan sahabat-sahabatnya


"RIN!!"teriak ketiganya ketika melihat darah keluar dari hidung haerin.


Lemparan itu jelas disengaja oleh Bela. Gadis itu benar- benar menargetkan haerin sebagai korban yang harus disakiti.


Haerin mengaduh sebentar dan menyeka hidungnya.


"HEH CABE! LO.."bentakan minji terpotong ketika melihat haerin mengangkat tangan yang tandanya ia harus diam.


Minji yang di beri kode pun langsung diam sambil misuh-misuh tanda dia tak terima.


Haerin menunduk lalu mengambil bola basket itu dan melemparkan kembali ke arah Bela dengan cepat. Lemparan itu sangat keras hingga membuat Shena jatuh terduduk. Teriakan kesakitan pun langsung terdengar. Tak ada yang menduga haerin akan mengembalikan serangannya.


Minji hani dan dani yang melihat hal tersebut pun langsung tersenyum miring.


Bibir haerin menyeringai, lalu menghampiri Bela di tengah lapangan basket. "Nggak usah main api kalo nggak mau kebakar." Lima anggota inti xikers langsung berlari masuk ke lapangan.


Terlebih luka, selaku pacar Bela yang langsung memeluk pacarnya. "Lo gila?!" seru luka emosi. Posisinya masih tetap memeluk


Bela, tapi tatapannya mengarah tajam kepada haerin.


"Punya mata dipake. Lo tau kejadiannya, kan? Cewek lo duluan yang lempar bola ke arah temen gue. Ya, temen gue baleslah masa gitu aja gak tau!" Teriak minji tanpa rasa takut sambil berjalan menghampiri mereka diikuti dani dan hani.


Melihat dan mendengar itu luka geram dibuatnya.


"Untung gue cuma lempar balik pake bola basket, bukan pisau."kini haerin yang membalas


"Minta maaf!" titah luka dengan sorot mata menyeramkan.


"Gue nggak salah. Ngapain minta maaf?" balas haerin dengan mata menghunus tajam kepada luka.


"Tau nih cowok, buta apa ya ceweknya yang salah malah nyuruh temen gue yang minta maaf sinting lo"damprat minji kesal,siapa yang salah siapa juga yang disuruh minta maaf edan.sedangka haerin hanya diam saja memperhatikan.


Han menarik tangan luka untuk mundur. Namun, cowok itu dengan cepat menghempaskan tangan Han.


"Lo jangan ngelindungin dia. Cewek ini ... patut diberi pelajaran." Nada bicara luka pelan, tapi penuh penekanan hingga membuat merinding orang-orang yang mendengarnya.


"Gue nggak ngelindungin dia!" sentak Han. Dua lelaki hebat itu saling beradu pandang dengan tatapan yang sama tajamnya. "Mata lo buta sampe nggak ngeliat kejadian tadi? Sejak kapan lo selalu membenarkan kesalahan Bela?" Ucap Han dengan nada ditekan.


kekehan geli haerin terdengar ketika mendengar perkataan Han tersebut, membuat semua orang langsung melihat ke arahnya. "Bukannya sejak dulu kalian emang selalu membenarkan tindakan sampah Bela, kan?"ucap haerin sambil terkekeh kecil dan diakhiri dengan tatapan tajam matanya.


Mendengar itu Luka mengepalkan tangannya kuat. Ia tahu kalau perkataan haerin memang benar adanya, tapi tak ada pilihan lain. Matanya melirik sekilas pada CCTV yang menempel di sudut lapangan indoor ini, kemudian beralih melihat Han lagi.


"Lo tau, kan, Bela itu cewek nomor satu di xikers bahkan di sekolah ini?" balas luka dengan mimik muka datar. "Udah kewajiban kita ngelindungin dia."papar luka yang mampu membuat rasa muak haerin bertambah berkali-kali lipat mendengarnya.


Kean dan ogi yang melihat itu hanya diam membisu. Baru kali ini mereka melihat dua sahabat karib itu berdebat di tengah-tengah lapangan dengan serius.


"Stop, Guys. Gue nggak mau kalian gini. Aing, teh, bingung," kata ogi dengan raut memelas.


"Halah pret anj"semprot minji pada ogi.


Ogi yang disemprot pun melotot kan matanya tanda tak terima,dan jadilah keduanya saling melempar pelototan.


Haerin menatap Han remeh. "Udah mulai sadar, lo, Han?" tanyanya, lalu terkekeh. "Atau lo cuma mau manipulasi gue?"


Han hanya meliriknya sekilas, lalu menyuruh luka membawa Bela ke UKS.


"Dia harus minta maaf dulu!" tolak luka sambil menunjuk kasar haerin.


"Minta maaf?" Haerin terkekeh geli. "Lo harus minta maaf, haerin." Luka menyahut dengan aura yang benar-benar mengintimidasi. "Jangan maksa gue buat bertingkah kasar." Haerin menaikkan satu alisnya menantang. Ia ingin sedikit bermain-main dengan ini. "Oke. Gue bakal minta maaf kalo salah satu dari kalian menang main basket ngelawan gue."


Sontak hal itu membuat semuanya terkejut. Tantangan haerin itu terlalu kecil. Semua anggota inti xikers bisa main basket, apalagi luka dan Han yang tidak diragukan lagi kemampuannya. Semuanya menatap haerin dengan tatapan remeh.


Berbeda halnya dengan dani yang panik mendengar ucapan haerin itu. "Mereka pinter main basket, rin. Jangan maen-maen."panik dani melihat sahabatnya kini dalam masalah besar,lain halnya dengan minji yang menyeringai dan hani yang masih terlihat santai


"Santai dan,serahin semuanya sama haerin dia gak bakal ngecewain penonton kok ."ucap minji sambil menyeringai.


Luka tersenyum miring, walaupun dalam hati merasa cemas. Ia cemas karena punggungnya sedang terluka akibat cambukan ayahnya dua hari yang lalu hanya karena nilainya turun. Cambukan itu menghantam punggungnya berulang kali, menyisakan luka yang terasa sakit hingga mengganggu aktivitasnya. Ya, ayahnya selalu menuntut luka untuk sempurna dalam segala hal. "Yakin, cuma itu syaratnya?"


Haerin terkekeh mengejek. "Kayaknya, lo yakin banget bisa menang."


Haerin mengambil bola basket yang terlegetak di dekat kakinya. Matanya menyorot tajam satu per satu anggota xikers. Tangannya lalu mengisyaratkan salah satu dari mereka untuk maju.


"Siapa yang mau ngelawan gue?"


Luka menatap Han, tapi hanya dijawab gelengan. Cowok itu pun beralih menatap lingga, tapi lagi-lagi hanya mendapat gelengan. Lingga beralasan bela sedang sakit dan ingin membawanya ke UKS. Tidak ada pilihan lain, luka pun menarik napas panjang.


"Oke, gue yang maju." Luka melangkah mendekati haerin


Han hanya meliriknya sekilas, lalu menyuruh lingga membawa bela ke UKS, biar disini luka yang mengurus nya.


[Sekedar informasi saja Bela adalah adik lingga, makanya dia terlihat tidak terima adiknya diperlakukan seperti ini.]


Sekarang, haerin dan luka saling berhadapan dengan tatapan yang sama tajamnya. Han berdiri di antara mereka, bertindak sebagai wasit. Sebelum permainan dimulai, han menatap haerin dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Rin?"


"Hm?" Haerin menjawab tanpa menoleh.


"Luka kapten basket."


"Gue nggak pernah berubah pikiran, jengga"


Ada perasaan tak biasa di benak luka ketika melihat Han berinteraksi sedekat itu dengan haerin. Apalagi haerin memanggilnya dengan sebutan "jengga".


Peluit ditiup, tanda permainan dimulai. Han melemparkan bola basket ke atas, seiring dengan luka dan haerin sama-sama melompat untuk meraihnya. Semuanya melongo melihat haerin yang begitu lincah. Kehebatannya bermain basket bahkan mampu menyaingi luka. Keduanya saling berlomba-lomba untuk mencetak poin.


Haerin dengan semangat men-dribble bola, lalu memasukkannya ke ring. Tingginya yang tidak jauh dari luka memudahkannya untuk itu.


Sialan! Dia bukan gadis biasa!


Luka kewalahan menghadapi haerin. Luka di punggungnya semakin terasa sakit, karena dipaksa melakukan aktivitas. Alhasil, ia tak bisa sepenuhnya mengeluarkan kemampuannya. Poin mereka imbang! Semua orang takjub akan hal itu. Mereka tak percaya ada satu-satunya gadis yang bisa menyaingi kemampuan luka dalam bermain basket. tidak tahu saja mereka kalau haerin sangatlah pandai dalam olahraga termasuk basket.


Han langsung menghentikan permainan ketika melihat keduanya tidak ada yang mengalah. Bisa-bisa lapangan basket indoor ini runtuh karena semangat menggebu mereka. Keduanya juga sudah bermandikan keringat.


"Stop! Nggak ada yang kalah, nggak ada yang menang!" seru han. Luka menatapnya sinis untuk menyembunyikan kesakitannya di punggung. Jika ia menyerah, maka harga dirinya bisa lebih terluka daripada luka di punggungnya. "Lo cuma perlu kasih kita waktu buat cetak satu poin lagi. Setelah itu, kita bisa ditentuin pemenangnya."


......................


......................