
"HAERIN...."
Suara bariton dari belakang itu membuat haerin menoleh. Ia sedikit terkejut melihat seseorang yang memanggilnya adalah lukara pratama . Cowok jangkung itu mengenakan jaket hitam kebanggaan xikers yang membuatnya terlihat keren.
Haerin menaikkan satu alisnya, ia mencoba menyelami apa yang akan luka lakukan kepadanya. Kakinya juga sudah siap untuk menendang orang ini jika macam-macam.
"Boleh ngobrol?" ucap luka tiba-tiba, membuat haerin semakin curiga.
"Nggak. Kalo lo mau ngobrol sama gue, satu menit, sepuluh juta."
Bagi haerin, tidak ada yang gratis di dunia ini. Walaupun sudah terlahir kaya, tapi ia mau mengerjai cowok songong di depannya ini. Asal tahu saja, haerin ini tipe manusia penganut moto "waktu adalah uang".
"It's okay. Ayo, kita ngobrol di rooftop." luka mengatakan itu tanpa beban.
Mata haerin membola kaget. Ia tidak menyangka luka akan menerima tawarannya yang terlampau gila itu.
"Besides being arrogant, it turns out that you're also crazy"
Namun. luka tidak menanggapi ucapan haerin itu. Ia malah berbalik badan dan berjalan terlebih dulu, meninggalkan haerin yang masih bertanya-tanya di benaknya. Tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa laki-laki ini berubah drastis?
"Lo mau bikin permainan apa? Jangan coba-coba jebak gue, kalo nggak mau ngerasain akibatnya"ucap haerin memperingati sekaligus mengancam.
Di sinilah haerin sekarang, di rooftop SMA Darma dengan segala kebingungan. Ia melihat jam tangan untuk ketiga kalinya. Detik di sana terus bergerak. Sudah dua menit mereka di sini berdiri saling diam di tengah embusan angin. "Udah dua menit. Itu berarti, dua puluh juta"ucap haerin
"Gampang," sahut luka santai. Uang segitu tidak ada artinya untuknya. Tanpa diduga, luka menjentikkan jarinya keras. Sedetik kemudian, semua anggota inti xikers datang ditambah bela. Wajah mereka sangat tidak bersahabat, dengan alis berkerut dan sorot mata yang tajam ke arahnya. haerin melotot melihat itu. Ia seperti teperangkap di antara harimau-harimau dan satu ular. Ternyata ... haerin dijebak, memang omongan cowok tuh gak bisa dipercaya bisa-bisanya ia dengan mudahnya percaya pada titisan setan seperti luka ini!!batin haerin mendumel tak terima.
Lima orang cowok gagah dengan wajah garang bergerak mengelilinginya dengan membentuk formasi melingkar. Tepat di hadapan haerin, ada luka Bukannya takut, haerin malah tersenyum. Kedua tangannya dilipat di depan dada dan menaikan dagunya. Ini bukan pertama kali haerin berada di tengah kondisi menegangkan seperti ini. "See? Lo terjebak haerin. Bego!" ujar luka sinis.
Haerin tak menghiraukannya. Ia malah menatap han yang saat ini terlihat pasrah.
*Ada apa dengan Anda, han? Kenapa balik jadi sampah masyarakat lagi?" tanya haerin. Ia kira han akan menghentikan segala tindakan buruk luka setelah perkataannya waktu itu, tapi ternyata dugaannya salah,sekali pengecut tetap pengecut ternyata.
"Stop causing trouble or you will die!" pesan han penuh penekanan. Haerin langsung tertawa jahat. Tawa itu menggema beradu dengan embusan angin. Selesai tertawa, raut haerin langsung berubah. Wajah dingin dikeluarkan gadis itu, diikuti dengan tatapan yang begitu tajam.
"Bahkan kali ini lo juga kalah, luka! Lo pengecut!" ucap haerin. "Lo cowok bukan? Ngalahin satu cewek aja bawa lima babu?"
"Kenapa nggak lo panggil semua pasukan lo buat ngeroyok gue di sini? xikers ada puluhan, kan?" tanya haerin lagi dengan nada meremehkan. "Oh, bukan puluhan, tapi ratusan."
Mendengar itu, luka langsung mengepalkan tangan hingga buku jari-jarinya memutih. Dadanya naik-turun menahan amarah. luka selalu benci diremehkan, apalagi oleh seorang gadis!
"Dia teh kayaknya lagi kerasukan jin ifrit, berani-beraninya ngomong gitu sama luka," celetuk Kean dengan logat Sunda khasnya.
"Kenapa gue nggak berani? Lo semua bego, sih, milih ketua kayak luka" haerin membalas dengan menohok.
"HAERIN!" bentak luka yang sudah habis kesabarannya. "Jaga mulut lo!" Setelahnya, luka langsung mengirim kode ke araha Kean dan ogi lewat lirikan. Keduanya paham dan mengangguk kecil. Kean langsung mengambil kursi kayu, sedangkan ogi bertugas membawa tali yang tadi sudah disiapkan. Lalu, tiba-tiba saja lingga menarik paksa haerin untuk duduk di kursi itu. Sementara itu, haerin tak berontak dan memasang wajah datar, membiarkan saja lingga bertingkah sesukanya.
Ogi langsung melemparkan tali ke arah lingga. Dengan gesit, lingga menangkapnya. Tali itu diikatkan begitu kencang ke kedua tangan haerin. Setelah selesai, semuanya menyeringai penuh keinenangan,
kecuali han. Dari raut wajah cowok itu terlihat seperti ingin menolong. luka terkekeh. "Lo nggak bisa berkutik, haerin. Lo kalah."
"Rendahan banget cara lo," balas haerin.
"Udah lo minta maaf aja sama luka, b*tch!" sahut bela mampu membuat amarah haerin memuncak. Seumur hidup, baru kali ini haerin dipanggil dengan sebutan itu.
"Lalat kayak lo bakal kalah sama lima harimau penjaga gue!" lanjut bela.
"Kalo lo semua harimau, berarti gue singa. Lo salah besar menjarain singa di sini."ucap haerin pada mereka semua
Kepala haerin menunduk sambil menarik napas dalam-dalam. Dua detik kemudian, ia mendongak. Senyuman iblis ditunjukkan, lalu hal yang tidak diduga pun terjadi. Dengan mudahnya ia mengangkat kedua tangannya yang tadi diikat kuat oleh lingga. Bukan hal yang sulit untuk melepas simpul tali seperti itu, ia sudah menguasainya sejak lama sudah dihilangkan kalau dia sudah terlatih sejak dia masih kecil dulu jadi hal-hal seperti ini mudah baginya. Teknik lingga hanya dianggap sebagai mainan anak kecil bagi haerin.
Semua terkejut melihatnya. Bahkan lingga tidak menyangka seorang gadis bisa melepaskan ikatannya dengan begitu mudah seperti tanpa beban "Shut the f*ck up, and just see what this lion can do."
haerin berdiri, lalu menendang kursi kayu yang tadi didudukinya. Suaranya begitu keras memekakkan telinga. Kaki kursi itu bahkan sampai patah. Anggota xikers tampak terkejut, sampai ogi dan Kean menjadi tremor melihatnya. haerin terlihat seperti bukan garis melainkan makhluk yang kerasukan sesuatu.
Haerin menghampiri bela dan menariknya dengan cepat. Dagu gadis itu dicengkeramnya kuat. bela memberontak, tapi hasilnya nihil karena kekuatan haerin sanggup mengunci pergerakannya.
"Lo bilang apa tadi? Ulangin!" ucap Haerin lamat-lamat.
Lelah memberontak, bela pun hanya diam ketakutan. luka dan lingga berlari mendekat, berniat menyelamatkan pacarnya dan saudaranya. Namun sebelum sampai, haerin langsung menendang kuat dada lingga dan juga luka hingga membuat mereka berdua tersungkur. Lagi-lagi tindakan itu membuat semuanya tercengang.
"Kenapa diem? Gagu lo?" ucap haerin sinis dan semakin menguatkan cengkeramannya di dagu bela. "Lo tadi bilang gue "b"tch"? Lo nggak ngaca?"
"Maju lo! Nggak usah bertingkah kayak pengecut!"
Semuanya hanya diam. Mereka menjadi saksi bisu kegarangan haerin tadi. Termasuk han, yang tetap diam karena ingin menganalisis pergerakan haerin selanjutnya.
Haerim langsung menepuk tangannya untuk menghilangkan debu. Setelah menggumamkan kata "pengecut", kakinya melangkah pergi. Namun, luka langsung menyuruh Kean dan ogi untuk mencegatnya dan langsung dilaksanakan dua cowok itu.
"Lo berdua mau minggir atau gue habisin di sini?" tanya haerin santai.
Ogi dan Kean tak bergerak, masih berdiri di depan haerin. Berdecak, haerin dengan gesit menendang tulang kering keduanya bergantian hingga mereka berlutut sambil meringis kesakitan.
Tendangan haerin terlihat pelan, tapi ternyata tepat sasaran. "Mana ada harimau kayak gini? Ini, mah, anak kucing" gumam haerin meremehkan. "Bukannya aumm malah miaw," lanjutnya, lalu melenggang pergi dari rooftop.
"Udah gue bilang, dia cewek berbahaya." Han memecahkan keheningan.
"Sumpah, dia kayaknya cowok, tapi punya badan cewek. Kuat banget tendangannya," sambung ogi meragukan gender haerin.
"Bener tah kata aing . Kerasukan jin ifrit dia," sahut Kean ngawur.
......................
Roftoop, lokasi yang menenangkan untuk berdiam diri, juga menjadi tempat favorit luka dan han untuk berdiskusi. Keduanya berdiri bersebelahan di pagar pembatas sambil melihat ke bawah jalan raya yang begitu padat. Angin berembus, membuat rambut mereka acak-acakan.
Setelah keributan tadi, luka dan han memilih untuk tinggal di sana untuk mengobrol sejenak. Sebenarnya, han-lah yang menahan agar luka tidak pergi dulu. Namun, sudah sekitar sepuluh menit tidak ada satu pun yang berbicara.
"Lo... pengecut." Han memecahkan keheningan. Ucapan itu membuat luka langsung menoleh. Harga dirinya ternodai. Tangan kanannya pun mengepal penuh amarah. "Atas dasar apa lo bisa bilang gitu?"
Han menoleh, dan menatap tajam luka yang kemudian dibalas tak kalah tajam. Keduanya beradu pandang seperti siap menghabisi satu sama lain.
"Tindakan lo tadi-ngikat haerin di sini dan ngepung dia. Bukannya itu pengecut?" han tersenyum menyeringai.
"Gue pengen bikin mentalnya down, terus dia ada inisiatif ngaku. Lo pasti tau cara berpikir gue, han." luka menjelaskan. "Gue mau ngungkap siapa dia sebenernya."
"Kenapa nggak lo hantam aja langsung?" tanya han penasaran.
luka terdiam sejenak. "Karena dia cewek. Kalo gue hantam, tetep aja lo bilang gue pengecut, kan?" balasnya, membuat han bungkam. Betul, apa pun itu nantinya pasti luka akan dicap pengecut. Cara
paling benar adalah membuat mental haerin jatuh karena berada di dalam bahaya Pikirnya, dengan begitu, ia akan mengaku siapa dirinya ketika keselamatannya terancam. Sayangnya, cara itu tetap tak berhasil.
Luka penasaran, terbuat dari apa cewek itu. Bela dirinya bagus, cara bicaranya mengandung racun, serta mimik muka sadis yang bisa membuat siapa pun takut. Mental haerin benar-benar hebat. la... sangat istimewa.
Han tersenyum miring sebelum berkata. "Lo punya alasan lain buat nggak nyakitin dia secara fisik."
Dahi luka mengerut heran. "Alesan apa?"
" Lo pasti ada rasa kan sama tuh cewek?" tebak han sambil memperhatikan gerak-gerik luka tempo hari ketika ia mengamuk. Detik itu juga luka bungkam. Bingung harus menjawab apa. Logikanya mengatakan tidak, tapi hatinya setuju akan opini han.
......................
Haerin dan minji melangkah masuk ke rumah yang seperti istana kegelapan. Nuansa gelap serta hiasan dinding unik menempel di mana-mana. Pohon kering berwarna hitam yang sengaja ditaruh di ruang tamu menambah kesan seram. Tujuan utamanya ke sini adalah untuk mencari seseorang.
"Keluar! Atau gue ratain, nih, rumah!" seru haerin dan minji diam saja menyaksikan
"Haerin! Ini rumah bukan hutan," ujar ian-om haerin yang turun dari lantai dua secara tergesa-gesa. Ian hafal betul bagaimana perangai keponakannya itu, sangat barbar.
"Abisnya rumah ini kayak rumah horor yang di hutan-hutan, sih."ucap minji pelan
Ian terkekeh, lalu mengajak haerin dan minji duduk di sofa. "Ada apa ke sini?"tanya om nya "Mau cari si mattew," ujar haerin, menyebut sepupu kalemnya itu, yang sangat dirindukannya.
"Dia lagi kontrol ke psikiater," ian menjawab dengan raut wajah sendu. Haerin dan minji menghela napas pelan. Mereka berdua merasa iba dengannya.
Tangannya pun mengelus tangan ian, berusaha menyalurkan kekuatan. "Trust me, Uncle. Mattew pasti bisa ngilangin traumanya itu."
"iya mattew pasti sembuh om"ucap minji menyetujui ucapan haerin.
Ian mengangguk sambil bibirnya
tersungging membentuk senyuman tipis. "Pasti!"