
"Lo yakin?" tanya Han lagi. Tadinya, ia menghentikan permainan karena kasihan dengan luka. Ia tak ingin melihat sahabatnya itu menerima kekalahan. Untuk jaga-jaga saja, karena kemampuan Haerin itu hebat.
Luka mengangguk yakin, lalu meringis. Luka memaksa bermain walaupun tahu akan kalah. Permainan dimulai lagi untuk menentukan pemenang. Kali ini pun permainan tidak kalah sengit dari sebelumnya.
Point!
"Hah?!" seluruh orang yang menonton dibuat terkejut bukan main ketika haerin berhasil mencetak poin. Luka kalah cepat dari haerin!
Neng haerin dilawan huh wkwk
Suasana lapangan menjadi riuh. Teriakan kebanggaan untuk haerin berkumandang dengan ramainya. Gadis itu mendekati luka yang sedang menahan amarah dan sakit yang menjalar di punggungnya.
Cukup kasihan sebenarnya melihat luka yang seperti mayat hidup itu, wajahnya pucat seperti tidak dialiri oleh darah,namun apa boleh buat haerin harus memberi pelajaran pada manusia satu ini bahwa dalam hidupnya bukan cuma dia saja yang hebat,atau bukan cuma kemenangan saja yang ada dalam sejarahnya kekalahan juga ada pastinya.
"See... lo kalah, lukara," ledek haerin dengan senyuman manis. "Ketua geng xikers... kalah."
Haerin begitu menikmati ekspresi wajah luka ketika dihadapkan oleh kekalahan.
Han mendekat ke arah luka, lalu merangkulnya untuk menyalurkan kekuatan. Luka jelas syok akan hal ini. Seumur-umur, cowok itu tak pernah merasakan kekalahan.
"Hati-hati, haerin. Walaupun luka kalah kali ini, bukan berarti dia bakal kalah lagi nanti," pesan Han penuh peringatan. Ia yakin, luka tidak akan tinggal diam.
Bibir haerin menyeringai mendengar ada ancaman dalam kalimat han tadi, lalu mengangkat jempolnya. Sepersekian detik kemudian, ia membalikkan jempolnya untuk mengejek luka yang sudah kalah.
"Congrats atas kekalahan pertama lo!" Haerin pun berbalik menuju dani minji dan hani.
"F*ck you, haerin ...." Luka mengumpat dengan desisan pelan.
Langkah haerin terhenti. Meskipun jarak mereka sudah cukup jauh, telinganya memang sangat tajam untuk mendengar itu. Pergerakan sekecil apa pun dan perkataan sepelan apa pun bisa ia ketahui,sebab dia sudah terlatih sejak kecil.
Bibir haerin menyeringai, lalu berbalik menatap luka sinis. "Kurang keras ngatainnya!"
Luka maupun Han terlihat sangat terkejut karena haerin mendengar umpatan lirih itu, bahkan ketika jarak mereka sudah cukup jauh. Haerin terkekeh geli, lalu mengangkat satu jari tengahnya untuk luka tinggi-tinggi.
"Ini baru, f*ck you!"
Jari tengah lentik milik haerin yang mengacung penuh keberanian itu membuat amarah luka tambah berkobar. Jangan lupakan juga senyuman sinis itu. Haerin benar-benar definisi cantik yang mematikan.
Semuanya yang menyaksikan kejadian itu di buat terpaku kagum sekaligus ngeri akan hal tersebut,baru kali ini ada seseorang yang mampu menantang seorang lukara yang dikenal hebat, terlebih seseorang itu perempuan lagi.
Menghampiri ketiganya haerin langsung disambut pelukan dan juga pekikan heboh dari sahabat-sahabatnya.
"Woho daebak haerin!"ucap minji
"Ah gila sumpah demi apa weh!!?"itu dani
"congrats girl"dan ini hani, ketiganya kompak memberikan selamat pada haerin.
Haerin menanggapinya dengan senyuman manis dan tulusnya.
Sedangkan....
......................
Luka meninju samsak di depannya dengan amarah yang menggebu-gebu. Tak peduli dengan luka di punggungnya, ia terus meninju benda itu untuk meluapkan emosi. Keringat sudah mengucur' di pelipis dan tubuhnya. Sudah satu jam luka melakukan itu. Tidak ada yang bisa mencegah, semua orang lebih memilih untuk menghindar agar tak kena amukan.
Kabar kekalahan ketua geng famous di SMA Darma menjadi trending topic saat ini. Apalagi yang mengalahkannya adalah seorang gadis yang notabenenya anak baru. Semua murid-murid tercengang mendengar kabar itu, tak menyangka seorang luka bisa dikalahkan dalam dirinya dia berkata tidak terima dikalahkan begitu saja oleh seorang gadis.
"Arghh!!"
Han langsung menghampiri luka yang sedang kesetanan memukuli samsak. "Cukup."
"Pergi. Jangan sampe lo yang gue jadiin samsak!" ucap luka dingin.
"Oke."
Lula menoleh ketika han berbalik badan dan mulai menjauh. "Han" Menghela napas, han kembali berbalik dan berjalan menuju luka lagi. la paham betul kalau panggilan itu adalah permintaan yang menyuruhnya untuk tetap tinggal.
Han mengerti perasaan luka saat ini. Sepanjang hidupnya, luka tidak pernah kalah, luka selalu dituntut oleh ayahnya menjadi sempurna dalam segala hal. Mungkin itu juga yang menjadikan sifatnya arogan,tapi kembali lagi roda kehidupan itu berputar dan tidak selama nya yang berada diatas akan diatas saja ada kalanya yang di atas akan kebawah dan merasakan akan hal itu begitupun hidup luka.
"Are you okay?"
"Lo tau keadaan gue sekarang, han. Kekalahan masih menjadi musuh terbesar gue."
Luka duduk di lantai, lalu bersandar pada dinding. Ia terlihat sangat putus asa. Ayahnya pasti akan marah atau bahkan menyiksanya jika tahu. Han pun ikut duduk di sampingnya.
Han menghela napasnya berat. "Hidup nggak mungkin harus menang terus, luk"
"Ada kalanya kekalahan menghampiri hidup lo dan sekarang saat inilah kekalahan singgah di kehidupan lo yang selalu menang terus"lanjut han,Matanya terpejam Akhir-akhir ini banyak masalah juga yang menghantam Han,tentang dimana ia pernah bertemu dengan haerin atau ada dendam apa haerin dengan orang-orang disekolahan ini,itu semua menjadi beban pikirannya.
"Lo pernah jatuh cinta?" tanya Han tiba-tiba.
Luka mengangguk pelan. "Gue cuma pernah cinta sama orang,dan lo tau orangnya siapa kan."
Han mengerutkan keningnya. "Bela?"
Al mengangguk pelan. "Yah siapa lagi kalau bukan dia , walau gue tau sifatnya kaya gimana. kalau udah terlanjur jatuh ya udah jatuh aja sekalian."
"ya jangan menutup mata juga kali"han hanya bergumam pelan.
Luka menoleh, melihat han yang juga tampak lelah. Ia tak tahu akan masalah han karena cowok itu sangat tertutup akan hidupnya.
"Gue pernah cinta sama orang," ujar Han tiba-tiba, membuat luka tersentak. Ia dulu mengira Han itu homo, karena seperti tidak tertarik dengan gadis.
"Gue cinta banget, tapi gue selalu nepis perasaan itu. Logika gue selalu bilang, gue nggak cinta sama dia. Tapi akhirnya, logika gue kalah sama hati. Suatu waktu, gue bener-bener sadar kalo gue cinta banget sama dia." Han terkekeh miris, membuat luka menatapnya kasihan. Luka melihat jelas kesedihan di mata han saat menceritakan itu.
"Lagi apa, ya, dia di sana?" gumam Han sambil menerawang.
"Maksud lo?"
"Dia udah tenang di sana. Waktu gue mau ngungkapin perasaan gue, dia ternyata udah pulang-ke tempat seharusnya," lirih Han, lalu menunduk. Baru kali ini ia menceritakan peristiwa kelam hidupnya kepada luka
Tangan luka bergerak menepuk punggung han pelan untuk menyalurkan kekuatan. Untuk pertama kalinya, Han menceritakan masalah percintaan kepadanya.
"Kalo lo cinta sama orang, jaga dia,dan kalo sifatnya buruk ubuh sifat buruknya biar gak merugikan lo dikemudian hari. Gue nggak mau lo nyesel kayak apa yang gue alamin ,karena gue gak ngejaga orang yang gue suka ."
Luka mengangguk paham.
Han kemudian langsung pergi bergabung dengan teman-temannya yang lain. Sedangkan kuka masih merenungi segala perkataan han kepadanya. Hatinya sedikit tersentil mendengar itu. "Kalau gue kalah, gue bakal disiksa. Lo nggak bakal paham." lirih luka
sambil menatap punggung Han yang menjauh.
......................
"How are you, haerin? OMG! Lo glow up parahhh!" pekik kyujin yang baru saja masuk kelas.
Kyujin juga merupakan salah satu sahabat haerin dulu. Gadis itu baru masuk sekolah karena habis liburan ke luar negeri. Kyujin ini tipe- tipe manusia malas dan bodoh eits dia juga pemberian kok tenang aja, yang bisa diandalkan dari dirinya hanya ocehan spontan dan jambak menjambak sih,dan juga yang bisa membuat mood berubah baik.
Kyujin langsung memeluk erat haerin sambil berjingkrakan ceria. la sangat merindukan sahabatnya ini karena sudah lama tidak bertemu. Saat mendengar kabar dari minji kalau haerin kembali, kyujin langsung mempercepat kepulangannya ke Indonesia.
Haerin memutar bola matanya malas, lalu membalas pelukan kyujin sebentar. "Dari dulu gue udah glowing kali," canda haerin dengan mimik muka datar namun bukannya terlihat seram haerin malah terlihat menggemaskan.
Kyujin melepaskan pelukannya, lalu mengerucutkan bibir. "I know. Tapi nggak secantik ini dulu."
"Hm. Auranya makin cetar, ye, jin," sambung minji.
Kyujin mengangguk antusias. "Eh, btw, biasanya bela ngerusuh kalo ada anak baru. Lo dirusuhin nggak?"
Haerin mengangguk.
"Wah, jadi lo di-bully?"
Haerin dan minji langsung terkekeh mendengar penuturan bodoh kyujin "Ya, kali seorang haerin di-bully? Yang ada, malah bela yang di- bully haerin." Minji yang menjawab.
"OMG! Akhirnya haerin si Queen of Badass' kembali! Welcome back, si cantik haerin!" heboh kyujin, yang langsung membuat haerin membekap mulut cewek cempreng itu.
"Heh berisik! Suara lo udah fals, mana keras banget," komentar haerin, lalu melepaskan bekapannya.
Kyujin langsung cengengesan. "Kayaknya cocok, deh, lo sama ketua geng sekolah depan itu" Mata haerin membola kaget. "Nggak! Gue mana cocok sama pengecut!"
Perkataan itu membuat kyujin hani dan dani melongo, karena setahu mereka geng sebelah juga gak bisa diragukan.
"Heh maksud gue geng yang ada disekolah sebelah, itu loh lo tau gak?".ujar kyujin
"Sebelah?".tanya haerin tak tau begitupun minji karena mereka berdua baru disini.
"Posisi sekolah Kitakan hadap-hadapan sama Sekolah Dwirma,nah di dalem sekolahnya itu ada geng yang gak kalah terkenalnya juga sama xikers, walaupun anggotanya cuma sedikit tapi kemampuan tarungnya daebak cokk!"jelas kyujin pada haerin dan minji.
"dan yang lebih kerennya lagi dari geng itu anggota maupun intinya pada ikutan kejuaraan MMA,mereka selalu pulang bawa piala!"lanjut hani ikut menjelaskan.
"Orang-orang nya juga cukup bijaksana semua sih ya walau agak-agak gitu"kyujin menimpali.
"sehebat itukah mereka sampe lo berdua kaya terpesona gitu padahal kan ni sekolah juga ada geng begituan"ujar minji.
"Heh beda lagi lah anjir yang ini mh isinya cecunguk gang doang"balas kyujin tak terima.
"sst ati-ati jin tu mulut kalo kedengaran anteknya lo bisa abis lagi"peringan dani yang sedari tadi hanya diam saja.
"tapi emang faktanya kan?"ucan haerin sambil menaikkan alisnya.
Semuanya diam tidak ada yang bersuara karena memang itu faktanya.
......................
......................
"Oh, iya. Kenapa lo bertiga milih sekolah ini? Bukannya, nih, sekolah sakit?" tanya haerin, seolah ingin mengalihkan pembicaraan dari luka sialan itu.
Kyujin menyengir. "Ya, gimana, ya, rin? Sekolah ini terkenal elit banget. Walaupun memang rada sakit, impian gue masuk sini dari dulu."
"Hm. Bela udah biasa bully orang?" tanya haerin, memancing informasi.
Kyujin hani dan dani mengangguk. "Iya sering." Balas ketiganya
"Tapi yang dia bully cuma murid-murid cupu, miskin, terlalu cantik,pinter, sama murid yang dia benci," cerocos kyujin.
Haerin menggeleng tak habis pikir. "Lo bertiga nggak ada niatan bantu orang-orang yang di-bully bela?"
Hani dani dan juga kyujin kompak menggeleng dan mengangguk.hani dan kyujin mengangguk sedangkan dani menggeleng alasannya karena tak punya keberanian untuk itu. Lebih baik bertahan di zona nyaman dan juga kalau pun dia bakalan bantuin yang ada dia sendiri yang ikutan di-bully,dani merupakan gadis lemah lembut pada umumnya sedangkan kedua temannya yang lain mereka selalu membantu atau melawan tindak bully itu ya walau pada akhirnya mereka juga yang kena oleh pihak sekolah,dan dani dia cuma bisa membantu secara diam-diam misalnya dia akan selalu menghampiri korban untuk diobati atau semacamnya.
"Kalo gue belain si korban, gantian bisa gue yang di-bully habis-habisan. Bela juga punya backing yang banyak," jawab dani. Haerin miris mendengar itu. Satu tangannya tanpa sadar terkepal kuat.
"Tapi tindakan lo juga udah masuk dalam membantu korban kok dan"ucap hani pada dani ketika melihat gadis itu berubah murung.
"cuma gue dan Hani yang selalu mencoba menghentikan tindakan bela dan antek-anteknya, sedangkan urusan korban itu dani yang urus secara diam-diam Karena ya you knowlah"ujar kyujin memberitahu kalau dari sekian banyaknya murid disekolah ini cuma mereka bertiga yang masih punya hati nurani.
genggaman tangan haerin yang terkepal kuat kini longgar yang artinya sipemilik tidak terlalu emosi.
Haerin cukup merasa bersyukur mendengar hal itu setidaknya ada orang-orang yang masih memiliki rasa kemanusiaan disekolah sakit ini.
"Hah semuanya menutup mata terhadap kesalahan yang udah termasuk fatal sih ini, bisa-bisanya mereka santai-santai aja"ucap minji geram terhadap sistem sekolah ini dan juga penghuninya terutama para guru sekalian.
"Dimana.ada uang.dan kekuasaan.disitu lo bakal aman"tekan haerin yang kembali dihampiri oleh rasa amarah.
......................
Genggaman tangan luka di gelas mengerat ketika mendengar suara deruman mobil yang terasa sangat familier. Ayahnya pasti sudah pulang. Jantung luka berdegup kencang seraya menyiapkan diri ketika nanti akan dimarahi. Ayahnya pasti sudah mendengar perihal kekalahannya bermain basket itu.
Luka menoleh melihat Pratama-ayahnya-berjalan ke arahnya. Gelas yang ia pegang langsung diletakkan ke meja. Luka berusaha tetap berdiri kokoh ketika perutnya ditendang secara tiba-tiba oleh pratama.
Pratama berdecak sinis ketika luka meringis. "Kalah main basket padahal lawannya seorang gadis? Lemah!"
Luka hanya menunduk, merasakan sakit di perutnya. "Maaf.
"Memalukan!" caci Pratama lagi. "Hukum gadis itu!"
Luka hanya diam mendengarkan. "Atau... kamu yang bakal saya hukum," ancamnya, lalu pergi.
Luka mengepalkan tangannya kencang. la ingin melawan, tapi tak punya keberanian. Dengan sisa kekuatannya, ia berjalan menuju kamarnya. Diambilnya hoodie dan masker, lalu memakai kalung yang tergeletak di atas nakas.
Perjalanannya masih jauh. Ia tidak mungkin bisa melawan ayahnya dalam kondisi seperti ini. Terlebih ia juga masih butuh uang. Berdiri di depan cermin. Luka pun menghela napas panjang dan memejamkan mata. la lelah dengan hidup di bawah tekanan.
Mama... Luka mau cerita..., lirihnya melampiaskan rasa rindu kepada ibu yang belum pernah dilihat langsung. Andai gue nggak hadir, pasti Mama nggak bakal pergi.