LOOK FOR

LOOK FOR
episode 1



haerin menatap gedung sekolah di depannya


dengan penuh kebencian. setelah sekian tahun,ia kembali menginjakkan kakinya di kota yang penuh dengan kekejaman ini.kini ada misi yang harus dia selesaikan. tangannya terkepal penuh amarah, dendamnya mengobar bersamaan dengan bayangan-bayangan kesakitan itu muncul.


" I'm back!" ucap haerin pelan.


tangannya mengambil ponsel, lalu mengirim pesan kepada sahabat semasa kanak-kanak nya dulu, mengatakan kalau ia sudah kembali


kemarin, ia sudah bertemu minji di apartemennya, saling bertukar nomor ponsel setelah sekian tahun dan juga menceritakan


tujuannya kembali ke tanah kelahirannya ini.


"awal baru dimulai,haerin. mari kita temukan dan hancurkan segala yang pantas dihancurkan dan sesuatu yang menjadi tujuan lo. entah itu sistem buruk sekolah,atau para perusak negara",ujar haerin menyemangati dirinya sendiri, kemudian mulai melangkah masuk.


sepanjang perjalanan,semua mata memusatkan pandangannya kearah haerin. gadis berparas cantik , bulu mata lentik serta bentuk mata seperti kucing itu memang mampu menarik perhatian. penampilannya yang mencerminkan aura bad girl,serta wajah jutek yang ia punya, menambah kesan misterius sekaligus imut.


"hey,haerin! welcome back girls!"sambut minji dengan muka bahagianya. ia tak menyangka sahabat kecilnya akan kembali lagi.


keduanya berpelukan melepaskan kerinduan.


sekian tahun tidak bertemu dan komunikasi membuat suasana menjadi sedikit canggung.


"you grew up so beautiful",puji minji.bahkan dipertemuan keduanya dengan haerin,ia tak pernah berhenti memuji haerin, sangat menawan sekaligus imut.


"of course".minji tertawa kecil,pun keduanya berjalan berdampingan.bisik-bisik siswa-siswi mengiringi perjalanan keduanya karena sosok keduanya kelihatan asing disekolah mereka. kehadiran keduanya mampu membuat semuanya tertarik terutama haerin.bisa ditebak bahwa haerin akan menjadi gadis tercantik di SMA DERMA tahun ini.


"kita teruta lo jadi bahan pembicaraan,rin"ujar minji pada haerin,ketika mendengar bisikan-bisikan itu ah atau bisa dibilang bukan bisikan karena suara yang mereka keluarkan itu cukup besar dan mampu ditangkap oleh gendang telinga.


"udah biasa,diemin aja".haerin menyahut dengan santai.disekolahnya dulu ia juga selalu menjadi bahan pembicaraan.ini bukan lagi hal asing baginya.


mata haerin berubah sinis ketika melihat lima orang gadis berpenampilan nyentrik dengan polesan make-up dan pakaian ketat, mencegatnya.


note:kalo menurut kalian yang bermake-up tebal jawabnya salah mereka pakai make-up yang tebal gak tebal gitu ngertikan:)


salah satunya adalah bela-ratu bullyingnya SMA DARMA. gadis itu berada ditengah-tengah teman-temannya.


"lo berdua anak baru?"tanya bela angkuh.siap pun harus tahu bagaimana kekuatannya disekolah ini. semuanya juga harus tunduk di hadapannya,bahkan anak baru sekalipun.


"perlu gue jawab pertanyaan lo?kayaknya gak perlu deh, karena gak penting juga sih"balas minji menantang diakhiri senyum miringnya,sedangkan haerin diam menyimak.


siswa-siswi mulai berbisik,hanya minji yang mampu membalas ucapan bela dengan berani,oh atau gadis disebelah nya juga sama beraninya kah dengan minji kita lihat saja nanti.


keberanian gadis itu tidak main-main.


"lo belum tau siapa gue?"


"nggak mau tau dan gak penting juga", Sekarang haerin yang menjawab pertanyaan tersebut dengan muka malasnya.


susan-gadis disebelah kiri bela angkat bicara,


"lo anak baru songong banget".


"bacot.minggir lo semua!"semprot minji ngegas.


"heh!lo jangan main-main sama gue ya!"sentak bela tak terima dipermalukan.


minji menoleh kearah haerin yang sedari tadi diam menyimak disampingnya.


"Nih,orang sakit jiwa ,ya?dateng-dateng ngerusuhin kita,heh lo semua yang nonton bilangin nih sama lima cabe-cabean ini,jangan sampe tuh mulut gue robek-robek ya"damprat minji emosi pada orang-orang yang menonton nya dan haerin.


"dengerkan"beritahu haerin pada sekelompok gadis-gadis itu.


bela geram,ingin maju,tapi perkataan haerin mampu membuatnya berhenti melangkah.


"radius satu meter. gue takut kena virus cabe-cabean yang lo bawa." setelah mengatakan kalimat sadis itu,haerin pergi bersama minji meninggalkan bela yang kini diselimuti amarah. lihat aja,gue aduain ke luka nanti!


......................


haerin dan minji sampai didepan pintu kelas baru mereka, berdiam diri cukup lama kemudian salah satu dari mereka mengetuk pintu.


tok..tok..tok..


"permisi"ujar minji


click.


pintu terbuka menampilkan seorang guru wanita menatap keduanya.


"ah kalian murid baru itu ya"tanya guru tersebut pada mereka berdua.


menganggukkan kepala sebagai jawaban, kemudian guru itu berujar.


"ayo masuk. anak-anak perhatian nya sebentar ada yang mau ibu beritahukan kepada kalian kalau kelas kita kedatangan dua murid baru hari ini,ayo nak silahkan perkenalkan diri kalian masing-masing"ucap guru tersebut.


haerin dan minji masuk kedalam kelas dan berdiri di depan semua murid kelas tersebut.


" Hai perkenalkan gue KIMBERLYAN MINJI,pindahan dari SMA Bandung, sekian terimakasih"ujar minji memperkenalkan diri dengan ramah disertai senyuman.


kini mata tertuju pada satu titik yaitu haerin yang sedari tadi hanya diam saja.


"KANG HAERIN"singkat padat dan jelas, itulah


perkenalan yang seorang haerin katakan.


senyap.ruangan itu diliputi kesenyapan sampai guru atau wali kelas mereka tersadar kemudian berujar.


"ah terimakasih atas perkenalan kalian, silahkan kalian duduk dibangku yang masih kosong.


"terimakasih bu"ucap keduanya lalu berjalan menuju bangku kosong.


"hai kenalin gue dani dan ini hani"ujar gadis yang duduk di bangku depan mereka memperkenalkan diri beserta temannya yang lain.


"hai"ucap yang satunya Hani ikut menanggapi


"hai juga salam kenal gue minji dan ini haerin"


balas minji.


......................


haerin dan minji beserta teman baru mereka tadi masuk ke kantin dengan gaya angkuh. Jalan seperti model papan atas, kecantikan yang mereka punya terlebih haerin menjadi daya tarik penglihatan orang- orang. Dengan santainya, ia duduk dan memesan makanan tanpa tahu itu tempat siapa.


"rin, ji, jangan di situ!" beri tahu dani yang baru saja datang. Wajahnya memucat seketika, dengan bola mata bergerak ke kanan-kiri, seolah takut sesuatu hal buruk datang ke arah mereka.


Alis haerin terangkat satu heran. "Why?"


"Lo liat tempelan kertas emas di meja itu ada namanya,


maupun haerin dan minji kini langsung melihat tulisan di tengah-tengah meja tersebut. Tulisan latin di kertas emas serta lambang tengkorak sebagai penghias.


[LUKARA PRATAMA AND XIKERSđź’€]


"Kampungan. Meja aja harus diklaim," cibir minii. sedangkan haerin diam memperhatikan tulisan tersebut dengan seksama,dia seperti pernah mendengar nama tersebut tapi dimana dia mendengarnya pikir haerin.


haerin tersadar ketika mendengar suara dani kemudian menggeleng tegas. "Hidup gue terlalu flat kalo nggak cari masalah." dani menahan napas ketika mencium parfum khas milik luka. Parfum yang hanya cowok itu pakai dan semua sudah hafal betul aromanya. Itu artinya... luka sudah datang dan berdiri tepat di belakang haerin dan minji.


"Berani banget lo duduk disini?!" sinis luka begitu sampai. Ia sendirian karena teman-temannya sedang tidur di kelas.


haerin berdiri dan memutar tubuh hingga berhadapan dengan luka. "Kenapa gue nggak berani? Ini meja punya sekolah."


Mata haerin bertemu tatap dengan mata yang menatapnya penuh selidik. Harus ia akui, cowok itu berparas tampan, penampilannya yang gagah, serta aura menyeramkan.


"lukara pratama", gumam haerin sambil menatapnya sinis. Keduanya bertatapan beberapa detik, membuat haerin tersenyum miring.Ternyata cowok ini. Geng xikers-geng yang isinya orang pengecut semua itu.


luka tertegun sesaat begitu melihat haerin dari jarak sedekat ini. Dahinya mengernyit untuk berpikir sebentar. Sikap, bentuk wajah, perkataan, semua ciri-ciri di tubuh haerin mengingatkannya dengan ucapan seseorang.


"Malah jadi patung." gumam haerin, membuat luka langsung tersadar dan memasang ekspresi dingin andalannya. "Lo nggak liat itu ada tulisan nama siapa? Mata lo buta?!" balas luka emosi. Itu tempatnya dan xikers, tidak ada yang boleh mendudukinya. Apalagi kursi yang haerin duduki itu adalah miliknya sendiri.


haerin terkekeh geli. "Mata lo atau mata gue yang buta?" haerin lalu menunjuk matanya sendiri. "Ini mata gue. Lo nggak liat sampe tanya kayak gitu? Nggak penting banget!"


Perdebatan itu disaksikan oleh siswa-siswi di kantin. Bahkan dani sudah berkeringat dingin,lain halnya dengan kedua temannya yang asik menonton perdebatan itu dengan santai apalagi minji yang kini sedang meminum minumannya.


"Pergi!"


"Lo yang pergi. Gue duluan yang sampe disini."


luka menatap sinis haerin. Ia adalah satu-satunya gadis yang berani membantah perintahnya begitu keras. "Kalo lo cowok, udah gue musnahin lo dari tadi."


"Silakan. Anggep aja gue cowok. Ayo duel, jangan banyak bacot." Semua kaget mendengar itu. Bisa-bisanya seorang


luka!iya luka sipenguasa sekolah ini ditantang oleh seorang perempuan yang notabenenya anak baru di SMA Darma ini.


"Hati-hati kalo ngomong. Gampang bagi gue ngancurin lo!" ancam luka pada haerin,sedangkan yang diancam terlihat santai-santai saja sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Gue juga bisa dengan gampang ngancurin lo! Jangan belagu jadi cowok, sok berkuasa!"


balas haerin tidak takut malahan dia mengancam balik luka.


luka yang mendengar itu geran dan ingin membalas lagi, tapi kemudian ia sadar bahwa sekarang mereka berdua menjadi pusat perhatian banyak orang. Ia pun memilih pergi. Ia tak menggubris haerin lagi. "Pengecut!" teriak minji ketika melihat luka pergi dia kan jadi tidak ada tontonan menarik kalau cowok itu pergi.


"Sekolah macem apa ini, hm? Anak-anak angkuh malah dipelihara," gumam minji,iya minji yang sedari tadi menyaksikan dan baru sekarang anak itu bersuara setelah tadi asik menonton. prihatin sambil menggeleng pelan.


dani mengangguk lemas. "Ya, lo tau sendiri, ji. Siapa yang kaya dan berkuasa pasti selamat dari sini"dani menimpali gumaman minji.


"Miris, tapi itu faktanya," balas haerin yang mendengar ujapan dani dan direspons dani dengan senyuman paksa.


haerin minji hani dani duduk santai di meja kantin milik luka. Ralat, hanya haerin,minji dan


hani yang santai, sementara dani tidak. gadis itu berkeringat dingin, karena menjadi pusat perhatian siswa-siswi lain. Pertama kalinya ada gadis berani yang menduduki kursi kebesaran itu bukan cuma satu gadis lagi tapi tiga sekaligus,dan yah sebelum mereka bertiga yang berani dulu tidak ada yang seberani mereka selain bela. Biasanya, hanya bela yang duduk di sana sebagai gadis prioritas xikers.


Tidak hanya menarik perhatian siswa-siswi di kantin, haerin dan minji juga berhasil memancing amarah bela yang baru datang. Dengan langkah lebar, gadis itu menghampiri haerin dkk dan menggebrak meja itu kuat-kuat. "Lo anak baru songong banget. Berani-beraninya duduk di sini?!"


labrak bela dengan muka yang memerah kesal.haerin menyeruput esnya santai begitupun minji, lalu menatap santai gadis yang sedang marah itu, tanpa rasa takut. "Hidup lo gabut banget. Gue ngelakuin apa pun, lo koreksi terus. Bahkan duduk aja masih dibacotin!"


dani melirik minji, diam-diam ia kagum akan keberanian sahabat barunya itu.


bela mengepalkan tangannya penuh amarah. Tidak ada yang boleh menduduki kursi luka, bahkan dirinya saja tak berani. Tapi gadis itu dengan lancang menduduki itu. Posisinya sebagai gadis yang paling ditakuti seperti tergeser.


"Percuma Tuhan ngasih mata buat lo, tapi nggak bisa baca tulisan dimeja itu!" sentak bela.minji melirik tulisan itu lagi. Tangannya bergerak mengambil pulpen yang ada di sakunya. Dengan begitu santai, ia mencoret-coret tulisan "Luka pratama and xikers" itu tanpa rasa ragu sedikitpun,dan haerin yang sedari tadi diam langsung mencopot stiker menyebalkan tersebut cuma gara-gara stiker butut itu ia dan teman-temannya harus tertunda acara makannya.Shena yang melihat kelakuan dua murid baru itu semakin terbakar emosi. Tulisan yang tadinya terukir cantik, kini jadi tidak jelas terbaca dan kotor terlebih sekarang striker itu sudah jatuh dilantai. Tangannya pun merebut paksa pulpen itu dan langsung membuangnya asal.


"BERANI-BERANINYA LO!" bentak bela yang diselimuti amarah. "Kenapa gue nggak berani? Cuma tulisan jelek kayak gini. Jangan


Sok berkuasa! Lo pikir, ini sekolahan milik nenek moyang lo?" damprat minji membalas bentakan bela sambil menaikkan satu alisnya menantang.


"Lo berdua masih anak baru, makanya gue kasihan. Setelah liat perlakuan lo berdua kayak gini, gue jadi minat buat jadiin lo berdua target selanjutnya." bela tersenyum sinis. minji dan haerin akan masuk dalam list orang yang akan di- bully: la tidak akan berhenti sampai kedua gadis itu tunduk kepadanya dan minta maaf sampai mohon ampun,


"Silakan. Gue nggak takut."kini giliran haerin yang membalas ucapan bela.


bela menggeram merah. "Pergi lo!" Merasa situasinya semakin gawat, dani pun ambil bagian. Ia menyenggol siku hani dan berbisik pelan, "Ayo, pergi."mendengar dan merasakan sikuan dari dani hani pun hanya merespon dengan memutar bola mata malas kemudian berucap.


"tar dulu lagi seru-serunya nih"balas hani, mendengar itu dani hanya mampu pasrah saja dan mendelik tajam kearah hani, bisa-bisanya hani cuma santai saja di situasi seperti ini,disaat minji dan haerin sedang terlibat masalah dengan si penguasa sekolah.


"Ogah! Males banget nurutin perintah cewek ular ini."ujar minji ketika bisikan dani tertangkap oleh gendang telinganya


"LO BILANG GUEULAR?!" pekik bela sambil-melotot. Amarahnya tidak dapat dibendung.minji bangkit dari duduknya. "Kuping lo budeg?! Mau gue ulangin?" tawar minji "LO CEWEK ULAR! BER-BI-SA!"ulang minji.Semua yang di kantin mendengar itu dengan jelas. Suara minji begitu menggelegar dan tegas membuat semua yang melihat bergidik ngeri.


"Pergi lo! Sana ngadu, panggil lima satpam lo ngadep gue." minji tersenyum miring. Jelas siapa yang dimaksud satpam olehnya adalah kelima inti geng xikers. Merekalah benteng terkuat bela. minji maupun haerin paham betul dengan segala yang terjadi dan juga siapa orang-orang jahat yang berkuasa di sekolah bagai neraka ini. "Gue pastiin lo nyesel," ancam bela, lalu pergi.


minji dan haerin menatap sinis seraya tersenyum miring kepada lima cowok yang sedang berdiri di depannya. Semuanya tampan, tapi tidak dengan hati mereka, minji dan haerin tahu itu.


"Kenapa?!" tanya haerin santai,kini giliran haerin mengambil alih


"Lo yang bentak bela di kantin?!" tanya cowok dengan name tag lingga.


"Iya, kenapa? Dia ngadu sama lo berlima? balas haerin tanpa rasa takut.


Kelima cowok itu menatap haerin penuh intimidasi. gadis ini berani-beraninya mengucapkan hal itu kepada mereka tanpa rasa takut. "Lo nggak tau siapa kita?" tanya lingga lagi. Tidak mungkin murid SMA Darma tak mengenal xikers.


"Tau. Kalian, kan... si pecundang yang beraninya berlima?" sinis haerin, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Mukanya dipasang penuh keangkuhan.


Kelimanya kaget mendengar itu. Mimik muka luka, selaku ketua berubah menyeramkan. Amarah berkobar di wajah penuh ketegasan itu. Diremehkan adalah hal yang paling ia benci.


"Lo itu perempuan, nggak usah belagu!" sinis luka, lalu tersenyum miring. "Belagu? kita atau kalian, nih, yang belagu? Nggak ngaca."ini minji yang menimpali saat melihat lawan bicara haerin tidak seimbang dia maju dan berdiri disamping haerin sambil melipat kedua tangannya di dada.kelima laki-laki itupun memusatkan perhatian mereka pada gadis yang berbicara sambil berjalan maju itu,rupanya bukan cuma satu gadis yang bermasalah dengan bela tadi melainkan dua.


lingga melangkah mendekati haerin dan minji, berniat memberikan pelajaran kepada kedua gadis kurang ajar ini.


"Kalo lo nyentuh kita sekarang, bahkan cuma seujung kuku, gue pastiin tangan lo patah detik itu juga!" bentak minji dengan ekspresi muka menyeramkan.Tidak sulit untuk minji maupun haerin mewujudkan gertakannya. Ia dan haerin punya backing yang cukup banyak dan kuat. Tinggal telepon saja, semua pasti akan datang.Kelima laki-laki itu dibuat kaget lagi,kedua gadis ini seperti bukan gadis biasa. yang satu Dilihat dari keberanian dan juga tangannya yang sedang mengepal penuh amarah dan satunya lagi yang santai-santai saja,Apalagi sorot mata tajam keduanya yang menatap mereka satu per satu


"Denger, ya, siapa pun lo, mau lo cowok ataupun cewek, gue nggak takut!" desis minji.


Matanya beralih menyorot luka sinis. Dendamnya berkobar ketika mengingat untaian kata-kata pilu di satu halaman kertas yang dibacanya beberapa waktu lalu.


"lukara pratama, ketua geng yang menaungi para penindas...." haerin menimpali sekaligus


terkekeh geli. "Hidup lo gabut amat sampe tingkah begitu."ejak haerin pada laki-laki itu sekaligus ketua mereka.


luka ingin maju, tapi dicegah oleh Han-cowok tampan dengan kepribadian sangat cuek. Mata tajamnya itu menyusuri haerin,


menyelami segala bentuk perbuatan dan ucapan gadis itu. Firasatnya mengatakan kalau haerin maupun minji bukan gadis biasa,dan entah kenapa ketika matanya tertuju pada haerin dia seakan melihat sosok yang tidak asing,dan entah kenapa pula ia sangat waspada pada sosok asing itu sekarang.


luka menatap han dengan satu alis terangkat, seolah menyuruh han menjelaskan apa maksudnya.


"they are dangerous, and one of the most dangerous"kelimanya terdiam,Han adalah laki-laki yang selalu mengatakan fakta.


kendali xikers juga ada padanya keahlian Han dalam hal menyelidiki dan memprediksi tidak bisa diragukan lagi.


haerin terkekeh geli."pengecut lo semua"


...................



Kang Haerin