LOOK FOR

LOOK FOR
episode 2



"Han's jenggala," gumam haerin spontan saat berpapasan dengan cowok tinggi itu di koridor sekolah.


Sejenak, dahi haerin mengernyit. Otaknya membuat koneksi, mengingat satu foto yang tertempel di buku itu. Foto itu benar-benar mirip dengan orang di depannya. Haerin tersenyum menyeringai.


Han berhenti melangkah. Ia begitu terkejut ketika mendengar haerin menyebut nama lengkapnya. Matanya menatap penuh selidik haerin,batinnya berkata gadis ini mirip seseorang yang selalu ia rindukan namun seseorang itu dinyatakan hilang setelah hari itu.


Bibir haerin tersenyum manis, tidak seperti biasanya. "Long time no see, han." Lalu, seakan teringat sudah salah bicara, haerin pura-pura terkejut. "Eh, maksudnya, jengga...."


Raut wajah Han berubah sesaat, lalu dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya. dalam benaknya Ia bertanya dari mana gadis ini tahu nama panggilan yang seseorang sematkan padanya, berusaha mengingat-ingat, ataukah ia pernah bertemu haerin sebelumnya? Tapi nihil, ingatannya tiba-tiba kosong begitu saja. Terlebih, haerin memanggilnya dengan sebutan "jengga". Hanya satu orang spesial yang memanggilnya seperti itu,nama,dan panggilan dari orang itu yang paling ia rindukan terutama orangnya.


Hatinya jadi bersedih mengingat itu.


"Who are you, haeri?!" desis Han dengan muka menyeramkan. "A girl who wants to make bad people regret what they did".balas haerin dengan senyum miring nya


"Lo... pernah ketemu gue di mana?"


Haerin terkekeh geli. "Ingatan lo ternyata nggak sehebat yang gue kira."


"Jawab!"


"Sayangnya, gue lagi males jawab." Haerin langsung pergi begitu saja, meninggalkan Han dengan segala rasa penasaran.


Han memperhatikan punggung yang menjauh itu sambil berpikir dan mengingat-ingat apakah dia pernah bertemu dengan haerin sebelumnya ataukah tidak.membuka grup di WhatsApp lalu membaca pesan yang masuk,grup berisikan inti Anggota xikers itu menampilkan percakapan yang menyuruh setiap anggota inti harus berkumpul di markas xikers hari ini.


Xikers memiliki dua markas. Satu di belakang sekolah, yang biasa digunakan untuk kumpul-kumpul dan membicarakan masalah. Sedangkan markas utama, lokasinya tak jauh dari sekolah, mungkin kurang lebih satu kilometer. Markas utama itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang-barang penting.


Markas xikers di belakang sekolah dibangun bersama-sama. Terlihat bersih sekaligus menyeramkan. Warna gelap yang dipilih oleh luka, serta hias-hiasan dinding yang begitu unik, membuat markas itu terasa nyaman. Anggota inti semuanya sudah berkumpul, dengan formasi duduk melingkar. Luka menatap penuh selidik kepada Han.


"Tell me," titah Al.


Ogi dan kean bingung. Kebiasaan Han dan luka yang selalu menggunakan bahasa Inggris, membuat mereka tak mengerti. Lingga sedikit-sedikit mengerti, tapi ogi dan Kean sedikit pun tak paham. "Dia pernah ketemu sama gue sebelumnya. Tapi gue nggak inget di mana. Bahkan dia manggil gue dengan sebutan yang orang lain gak tau kecuali satu orang." Han mengatakan itu dengan tangan mengepal. Ia sungguh penasaran. Dari tadi, ia mencoba untuk mengingat-ingat wajah haerin dan kejadian-kejadian yang memungkinkan dia bertemu dengan haerin, tapi tak ada hasil.


"Mungkin dia halu itu, han," sahut ogi. Si playboy cap kardus SMA Darma. Mukanya tidak terlalu ganteng, tapi mantannya puluhan. Selain itu, ogi juga fanboy Blackpink.


Han menggeleng. "Nggak mungkin, kalaupun dia halu harusnya dia tau kalo berurusan sama kita itu gimana dampaknya bagi dia,bukan cuma dia tapi yang satunya lagi juga kelihatan sama"ujar Han membeberkan pendapat nya.


"Oh yang rada songong itu bukan"ogi menjawab dengan semangat,Han mengangguk kan kepala menjawab pertanyaan ogi.


"Iye anjir itu dua orang gaada takut-takut nya ama kita aneh"pikir ogi heran,karena setau nya siswa ataupun siwsi di SMA Darma takut pada xikers atau setidaknya meraka tau betul siapa itu xikers,lah mereka berdua aneh pikirnya.


"Hm. Nanti gue selidikin lebih dalem." putus luka, lalu menepuk punggung Han pelan. "Jangan terlalu dipikirin." Luka mengeluarkan ponselnya, dan menelepon nomor seseorang.


Keadaan hening. Semuanya diam dengan pikirannya masing-masing.


"Telusuri orang yang namanya haerin dan minji, anak baru di SMA Darma."perintah luka pada seseorang diseberang telpon sana.


......................


Rombongan geng motor Xikers melaju beriringan di jalanan dengan luka yang memimpin barisan. Semuanya akan berangkat sekolah bersama-sama. Deruan motor besar saling bersahut-sahutan hingga membuat orang-orang bergidik ngeri hanya dengan mendengarnya.


Luka yang sedang membonceng bela menoleh ke belakang ketika melihat barisan teman-temannya berubah menjadi kacau. Lingga, yang sedang membonceng susan, langsung maju ke depan agar sejajar dengan luka. la ingin menjelaskan alasan barisan kacau.


"Ada apa?!" sentak luka ketika melihat lingga maju dan berada tepat disampingnya tak sabar ingin mendengarkan seraya mengendarai motornya.


"Barisan dikacauin sama dua orang ugal-ugalan pake Ducati!"pekik Lingga. Susan yang di belakangnya hanya bisa memeluk.


"JATOHIN PELAKUNYA! DIA DUA ORANG, KITA PULUHAN MASA NGGAK SANGGUP?!" bentak luka emosi. Biasanya damai-damai saja, tapi kali ini tidak. Sebenarnya luka juga penasaran siapa yang berani mengacaukan barisannya. Apalagi berani membuat ulah dengan gengnya.


Dua Suara deru mesin motor datang dari arah belakang. Dua Pengendara berjaket kulit hitam itu begitu lincahnya menyalip motor-motor besar yang dikendarai oleh anggota Xikers.


Luka ingin mencegatnya, tapi gagal.dua Pengendara itu sangat andal hingga dengan mudahnya mencapai barisan depan. Beberapa aksi berbahaya bahkan ditampilkan oleh si dua pengendara. Semuanya melongo melihat keduanya atraksi hebat yang dilakukannya di atas motor.


Luka tak bisa melihat wajahnya karena tertutup helm full face. Karena penasaran, luka langsung menyuruh pasukannya untuk berhenti. Dua Pengendara asing itu ikut berhenti dengan jarak lima meter dari posisi luka-yang berada di depan. Tangan luka bergerak membuka kaca helmnya agar bisa melihat dengan jelas.


Dua Pengendara asing itu juga membuka helmnya. Semuanya tersentak kaget saat melihat dua orang itu mengibaskan rambutnya yang panjang. Keterkejutan mereka bertambah kali lipat saat tahu siapa kedua gadis asing yang berani-beraninya mencari masalah dengan xikers..


Haerin dan minji.


Dua gadis kurang ajar yang kemarin menantang xikers dan juga geng bela, dan sekarang mengacaukan barisan mereka. Semuanya memasang raut tak percaya. Ini di luar dugaan. Berarti benar kata Han-haerin maupun minji bukan gadis biasa dan berbahaya. Skill kedua gadis itu juga tidak main-main.


"wlee".ejeknya


Melihat itu anggota xikers dan anggota intipun di buat geram.


"weh songong tu bocah"ujar ogi.


Di atas motornya, luka mengepalkan satu tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia tak terima ada yang mengacaukan geng yang susah payah diabangun dari dulu. Kedua gadis itu benar-benar harus diberi pelajaran. "Loser!" Hina haerin diiringi senyum miring. Ia dengan gagah berada di atas motor yang harganya ratusan juta itu. "What the heck are you doing?!" desis luka menyeramkan.


"Gue ngapain?" balas haerin, lalu mendengkus. "Oh, mau ngancurin geng sampah lo itu." Jawab haerin sedangkan Minji mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan perkataan haerin barusan,Han yang melihat itupun maju ke depan hingga sejajar dengan luka. "Atas dasar apa lo mau ngancurin geng ini?"ujar Han pada haerin,minji yang mendengar itu menaikan satu alisnya heran menurutnya laki-laki seperti Han ini sangat disayangkan memiliki wajah tampan tapi kelakuan minus,ya karena salah bergaul dengan xikers yang kebanyakan orang-orang gak punya hati semua atau jangan-jangan ini orang juga gak punya hati lagi sayang wajah tampannya jadi sia-sia pikir minji.


"Karena geng lo itu sampah. Menaungi para penindas, jadi pantes buat dimusnahin!" Haerin menjawab tanpa rasa takut.


"Siapa yang lo maksud penindas?" tanya Han heran karena seingatnya ia dan yang lainnya tidak menindas yang ia dan gengnya perbuatan itu cuma sekedar tawuran antar pelajar dan musuh-musuhnya diluaran sana yah semacam kenakalan remaja saja sih.


Semuanya hanya diam menyaksikan itu, bahkan luka sekali pun. Mereka memberikan ruang kepada Han agar sanggup menjebak haerin dengan permainan kala.


"Semua anggota lo."jawab haerin geram dengan kepura-puraan orang yang ada didepannya ini.


Han mengerutkan keningnya.nah kan apa ia bilang, Perasaan ia tidak pernah ikut-ikutan mem-bully atau membuat masalah dengan anak-anak lain tanpa alasan yang jelas. Perannya di Xikers hanya penganalisis masalah dan juga kadang ikut melindungi bela.


"Haerin, if you said that all the Scorpios members are bullies, that's bullshit!


"LOJUGA TERMASUK BAGIAN DARI MEREKA, Han!" bentak haerin muak, dengan wajah memerah karena terlalu banyak amarah yang dipendamnya. "Temen lo ngelakuin hal yang salah, tapi lo diem aja. Iya, lo nggak ikut nindas, tapi lo biarin mereka seenak jidat sok berkuasa. Lo punya kekuatan buat nyegah semua perlakuan sampah itu, tapi nggak lo lakuin. Lo bertahan di zona nyaman. Secara nggak langsung, lo juga penindas, JENGGA!"marah haerin yang diakhiri menekan kata jengga.


Han yang mendengar nama jengga pun seketika diam membatu, perasaan itu datang lagi perasaan kehilangan sekaligus kerinduan itu datang lagi.


Calista menarik napas panjang. "Gue benci sama orang-orang yang nindas kaum lemah. Gue lebih benci sama orang yang diem aja ngeliat penindasan padahal dia bisa nyegah itu!"


Dada Han sesak mendengar itu. Apa yang dibilang haerin cukup menyentil hatinya. Bahkan saat ini, Han merasa menjadi manusia paling jahat. ikatan persahabatan itu terlalu erat, hingga Han membiarkan mereka bahagia dengan sikapnya yang arogan padahal apa yang sahabatnya perbuat itu salah dan merugikan orang lain.


Haerin menatap tajam Han. "Gue benci Xikers, tapi gue lebih benci sama lo, jengga,andai lo berani sedikit aja memberontak mungkin sekarang lo gak bakal ngerasa kehilangan."ujar haerin misterius tentang kalimat kehilangan itu,Han terpaku mendengar ucapan haerin barusan sebagian hati kecilnya merasakan apa yang haerin katakan.


Setelah mengatakan itu, haerin dan minji pun memakai helmnya kembali, lalu menancap gas motornya. Deruan motor keduanya terdengar sangat keras hingga memekakkan telinga. Haerin melesat pergi begitu cepat,lalu disusul minji yang melaju cepat juga meninggalkan Ham dengan segala rasa bersalahnya.


Semua anggota xikers diam. Terlebih luka, otaknya memutar semua perkataan haerin kepada Han. Hanya ada kobaran amarah di mata haerin saat mengatakan itu,pun dimata gadis satunya lagi yang tadi mengejek mereka. Han menatap luka penuh arti. Ada banyak hal yang mengganjal dibenaknya, Seolah paham, luka menoleh dan mengangkat satu alisnya,meminta jawaban dari Han.


"Haerin dan gadis satunya lagi... Mereka muncul karena mau bales dendam."ujar han memperingati


Perkataan Han membuat suasana hening, apalagi suaranya terdengar serak. Mata Han menyiratkan banyak penyesalan. Ia menelan ludahnya susah payah. "Kayaknya, ada hal kelewat batas yang pernah lo semua lakuin sama orang spesial haerin. Dia dendam karena itu sedangkan gadis satunya minji dia sepertinya cuma membantu."peper han


Ini hanya hasil dari analisis Han sementara. Kepalanya tiba- tiba sakit kalau dipaksa mengingat di mana ia pernah melihat sosok haerin. Bisa saja itu menjadi kunci alasan mengapa haerin ingin menghancurkan xikers.


"Sial! Otak gue kenapa nge-bug!" maki Han.


"Ayo, han, balik formasi! Kepala lo nanti pusing kalo dipaksa."


"Luka...," panggil Han dengan suara serak, membuat semua anggota langsung memusatkan pandangannya kepada cowok dingin itu. "Apa pun yang terjadi nantinya, jangan benci gue. " Matanya menatap luka dengan tatapan sulit diartikan. "Sorry, luk...."


Perkataan itu membuat luka terdiam seribu bahasa. Firasatnya berubah buruk. Mata Han memancarkan jiwa yang lain-luka mengerti itu. Dari kecil, ia sudah terbiasa bersama Han, membuatnya tahu segala hal tentang cowok itu.


la takut Han meninggalkannya dan xikers jika sudah tidak sejalan dengannya. Sejak dulu, benteng terkuat xikers adalah lukara pratama dan Han jenggala. Jika salah satu pergi, maka geng ini pasti akan hancur.


"Don't say that, Han! Do you forget that we promised to be always together?!"ucap luka


"Sorry, luk. I think I'll break that promise"


Detik itu juga luka menyadari bahwa separuh jiwa Han sudah meninggalkan xikers.


......................


......................



Kimberlyan minji