Live with you

Live with you
6. first kiss



Happy reading


Malam hari adalah malam yang pas untuk kita merenung. Begitu pun Naura yang berdiri di atas balkon kamarnya menatap langit tanpa adanya bintang. Otaknya mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Dimana hubungan mereka sudah terpublikasikan walau tidak sepenuhnya. Untuk sekarang ia dikenal sebagai kekasih seorang Revan Adhitama bukan seorang menantu Adhitama.


Perlakuan romantis yang dilakukan Revan selalu menjadi tanda tanya di otaknya. Sejak malam dimana mereka tidak sengaja tidur bersama. Sulit untuknya memahami Revan. Terkadang romantis, dingin, cuek dan membuatnya merasa seperti di permainkan. Gagasan dimana seorang wanita butuh kepastian itu memang benar adanya. Naura butuh kepastian yang jelas. Ia takut jika jatuh sendiri. Karna berjuang dan mencintai sendiri itu jauh lebih sakit.


Tadi saat pulang dari hotel Naura diam seribu bahasa. Begitu pula Revan yang hanya diam fokus dengan setirnya. Seperti tidak ada yang terjadi diantara mereka. Rasanya ia ingin menangis mengingat perlakuan Revan. Kenapa seakan-akan Revan memberi cinta untuknya tapi terkadang menyakiti hatinya dengan sikap dinginnya. Ia sangat ingin memiliki rumah tangga yang harmonis. Dimana mereka saling mencintai satu sama lain seperti pasangan lainnya. Tapi apalah daya Naura dan Revan adalah korban perjodohan. Sudah pasti sulit untuk mereka bersikap selayaknya suami istri.


Naura menghela nafas panjang lalu menoleh ke samping merasa diperhatikan seseorang.


DEG


Tubuh Naura kaku saat melihat jika Revan yang memperhatikannya lewat balkon kamar pria itu. Revan hanya diam tapi menatapnya intens membuat Naura panas dingin di tempatnya berdiri. Ia meremas batas balkon didepannya. Keduanya saling menatap dalam diam. Tak ada yang memulai pembicaraan.


Revan sedikit mengeryit di tempatnya melihat piyama tipis yang dikenakan gadis itu. Tak taukah jika angin malam tidak baik untuk tubuh? Kedua tangannya mengepal menahan untuk tidak loncat kearah balkon Naura. Tapi mulutnya serasa seperti terkunci untuk memperingati gadis itu.


Tak ada cara lain, Revan berdehem keras sebelum mengatakan sesuatu.


"Masuk ke kamar," suara berat Revan terdengar memerintah. Naura mengeryit bingung sekaligus kesal.


Naura diam tak membalas ucapan Revan. Ia malah sibuk menatap langit yang terlihat kosong tanpa adanya bintang.


Revan mendengus kesal. Dengan langkah cepat Revan menaiki pembatas balkon diantara kamar mereka. Dan loncat ke balkon kamar Naura. Naura mundur beberapa langkah terkejut dengan tindakan nekat Revan.


"Lo apa-apaan sih," ucap Naura menatap kesal pada Revan yang justru menarik tangannya masuk ke dalam kamar dan tak lupa laki-laki itu mengunci pintu balkon kamar.


Naura melepas paksa tangan Revan setelah berada di dalam kamar lalu menatap tajam laki-laki itu.


Revan balas menatap tajam gadis itu. Tak sadarkah Naura jika pakaian membuat orang lain bisa menatap lekuk tubuh gadis itu. Bahkan dari jarak dekat Revan bisa melihat ketipisan kain itu.


"Gue udah bilang masuk kamar tapi lo ngebantah," ucap Revan. Ia tak suka berbagi. Bagaimanapun juga hanya ia yang berhak menatap tubuh Naura.


"Gue udah di kamar, lo bisa pergi," ucap Naura mengalihkan pandangannya menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Jujur saja Naura sengaja memakai pakaian tipis itu untuk menarik perhatian Revan. Ia ingin tau apakah Revan tergoda oleh tubuhnya atau tidak. Atau setidaknya Revan menyentuhnya selayak kekasih atau seorang istri. Tapi nyatanya hanya wajah datar dan sikap dingin Revan yang ia dapat. Naura sangat ingin melihat sisi lain dari Revan. Seperti bersikap hangat seperti tadi di hotel.


Revan mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Naura yang seakan-akan mengusirnya. Terdengar menyakitkan tapi ia bisa apa. Saat hendak berbalik menuju pintu kamar. Revan samar-samar mendengar isakan tangis. Revan menoleh cepat pada Naura melihat punggung gadis itu sedikit bergetar. Apakah ia baru saja berbuat salah?


"Maaf," bisik Revan. Tubuh Naura berdesir mendengar bisikan Revan. Pelukan itu semakin mengerat. "Gue salah."


Air mata Naura keluar deras mendengar ucapan Revan. Ia sendiri tak tau apa yang membuatnya menangis seperti ini.


" Lo gak salah, gue nya aja terlalu terbawa suasana. Gue terkadang bingung sama sikap lo. Kadang lo baik tapi sikap lo selalu dingin seakan lo gak tersentuh. Kalo lo gak nyaman gue ada disini lo bisa bilang sama gue, gue bisa nyari tempat tinggal lain atau lo bisa ceraikan gu__"


Belum selesai Naura menyelesaikan ucapannya. Tubuhnya sudah dibalik dengan kasar oleh Revan dan bibirnya dibungkam oleh ciuman Revan.


Naura melotot tak percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini. Benda tak bertulang itu menyentuh bibirnya. Kedua bibir mereka saling menyentuh tanpa gerakan. Kontak mata terjadi diantara keduanya dengan jarak sedekat ini tanpa melepaskan kontak kedua bibir itu.


Hanya beberapa detik Revan melepaskan ciumannya tanpa menjauhkan wajahnya sedikit pun. Kedua mata mereka masih saling menatap. Kedua jantung mereka bertalu-talu tak tentu di dalam sana. Revan mengusap pipi chubby Naura menghapus air mata itu. Revan bisa melihat jelas darah di bibir Naura membuktikan jika gadis itu tanpa sadar menggigit bibirnya.


Masih dalam jarak dekat Revan menatap hangat Naura. Tapi tetap saja wajah Revan yang datar tanpa ekspresi tapi semakin tampan di mata Naura. Revan mengelus lembut bibir Naura menghilangkan darah di bibir itu. Naura hanya diam kaku tanpa bergerak seinci pun. Ia terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.


Merasa mendapat lampu ijo dari Naura. Revan kembali mendekatkan wajahnya hendak kembali mencium bibir mungil itu. Namun, tiba-tiba Naura menutup wajahnya dengan kedua tangan menghentikan gerakan Revan.


"Shitt!" Umpat Revan dalam hati.


Naura memejamkan matanya berusaha menenangkan diri. Ia tak ingin mudah terhasut dan tergoda yang membuatnya semakin terjerumus. Setelah mendengar keluh kesahnya, Revan sama sekali tak membalas ucapannya tadi atau setidaknya memberikan sedikit kepastian tentang hubungan toxix mereka.


"Gu__gue gak mau masuk ke permainan lo lagi. Udah cukup lo permainin perasaan gue. Dan gue anggap lo tadi cuma khilaf. Lo boleh pergi dari kamar gue," ucap Naura seraya mengusir secara halus. Naura anggap ciuman tadi hanya sekedar bonus untuk mereka sebagai suami istri.


Revan balas menatap datar Naura walau  hati dan kepalanya terasa panas saat mendengar ucapan Naura yang menganggap ciuman tadi hanya sekedar khilaf. Bahkan, Revan harus mengambil keputusan besar dengan melakukan hal itu. Ia menekan rasa takutnya saat menyentuh Naura yang notabenenya istrinya sendiri. Dengan langkah pelan Revan keluar dari kamar Naura dengan rasa berat dan tak rela.


Naura langsung terduduk di lantai saat mendengar suara pintu yang sudah tertutup kembali, ia sedikit meremas dadanya merasakan debaran jantungnya yang sudah diluar batas. Kedua telapaknya terasa sangat dingin melebihi AC. Naura menyentuh bibirnya sendiri masih jelas di ingatan nya bagaimana benda tak bertulang itu menyentuh bibirnya untuk pertama kali. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya. Apa ia sudah jatuh pada pria itu? Kenapa rasanya selalu berbeda jika di dekat Revan?


Naura memukul kepalanya berusaha menyadarkan diri. Tapi tak bisa di elak kan jika senyum terbit di wajahnya dengan wajah berseri-seri.


Lain dengan Revan yang meremas rambutnya merasa frustrasi. Ada apa dengan mulutnya? Kenapa susah baginya mengungkapkan rasa cinta pada istrinya sendiri? Seakan suaranya tertahan di tenggorokan. Ia sangat ingin Naura tau jika ia sangat mencintai gadis itu. Ia ingin Naura tau isi hatinya. Bahkan, seluruh hidupnya terpusat pada gadis itu. Ia takut suatu saat nanti kehilangan Naura. Hati dan pikirannya berkecamuk memikirkan gadis itu.


Jangan lupa vote dan coment


Salam Literasi