Live with you

Live with you
Prolog



Happy reading


Naura Nisa Rezata memandang kosong pantulan dirinya di cermin. Di pantulan cermin terlihat seorang gadis dengan riasan pengantin. Hatinya terus menjerit jika ini tidak nyata. Berharap ini hanya ilusi semata. Tapi apa daya. Bayangan tak sesuai realita.


Diumur nya 18 tahun ia harus sudah berganti status menjadi seorang istri dari keluarga terhormat. Tidak seperti mimpinya yang ingin memiliki suami di umurnya yang ke dua puluh lima.


Ini karna perjodohan yang dilakukan para orang tua. Ia harus mengikuti keinginan mereka. Karna bagaimana pun mungkin dengan ini ia bisa membalas kebahagiaan kedua orangtuanya. Tak ada tangis yang keluar dari kedua matanya. Tapi hati nya yang menjerit pilu tanpa orang lain tau. Kenapa takdir mempermainkan nya seperti ini?


Sentuhan di kedua bahunya membuat Naura terlonjak kaget. Lalu melihat di pantulan cermin terdapat bunda nya yang tersenyum haru.


"Bunda," lirih Naura menatap pantulan cermin berkaca-kaca berharap bunda nya tau betapa tersiksa dirinya.


"Bunda tau kalo kamu terpaksa, tapi bunda dan ayah lakukan ini demi kebaikan kamu, suami mu Revan dia anak yang baik. Kamu sudah mengenalnya sejak kecil, tapi mungkin kamu tidak mengingatnya, karna keluarga kita harus pindah ke luar negeri," jelas sang bunda tapi tetap tak membuat Naura tenang.


"Cinta itu akan tumbuh seiring jalannya bertemu. Pertemuan yang intens akan membuat kalian saling jatuh cinta," lanjutnya.


"Tapi bun_,"


"Sudah jangan bersedih, sekarang kita turun, suami mu sudah menunggu, ingat kata-kata bunda harus jadi istri yang nurut sama suami." Ingat bunda lalu menuntun Naura keluar dari ruangan menuju altar


Acara altar hanya di hadiri oleh keluarga. Karna memang acara pernikahan mereka hanya akan mengadakan acara sederhana.


Tempat di depannya terdapat suaminya yang hanya memandang datar tanpa ekspresi. Mereka saling menggenggam dengan pandangan yang sulit diartikan.


Setelah saling mengucapkan janji. Sesi dimana sang mempelai pria harus mencium mempelai wanita. Naura sudah keringat dingin dibuatnya. Ia masih belum siap memberikan first kiss nya walau itu suaminya sendiri. Tapi semua ketakutannya sirna saat merasakan ciuman suaminya berada di keningnya. Naura bersyukur dalam hati. 


Sejujurnya Naura adalah tipe perempuan yang cuek, kutu buku karna novelnya yang bisa menjadikan perpustakaan, dan menanggapi semua hal dengan santai. Tapi mengapa semua sifat itu musnah saat seperti ini? Ia bingung harus bertindak seperti apa.


"Besok pindah ke apartemen," ucap Revan dadakan yang membuat Naura berjengit kaget. Naura menatap horor suaminya.


"Pi-pindah besok?" Tanya Naura gugup.


"Hmm."


"Oke." Naura tertunduk lemas.


Naura masuk ke dalam selimut dan lebih memilih tidur. Melupakan semua kejadian untuk sementara. Ia membutuhkan istirahat yang cukup untuk mendinginkan otak kecilnya. Mengabaikan suaminya seolah-olah hanya pajangan patung yang hidup.


Revan menutup laptop melihat istrinya sudah tidur. Jujur saja ia hanya sekedar membuka laptopnya untuk mengusir rasa canggung yang terjadi. Bahkan, semua pekerjaan nya sudah selesai sejak kemarin. Ia hanya menggunakan laptop sebagai pelampiasan.


Revan berjalan menuju ranjang. Mengamati wajah alami Naura. Ia berdiri tepat di sebelah Naura. Hampir setengah jam ia berdiri disana. Seperti tak ada tontonan lain yang menarik.


Setelah merasa puas. Revan berjalan mengambil bantal dan selimut di almari. Ia memutuskan tidur di sofa yang tak muat untuk tubuhnya yang tinggi kekar.


Jangan lupa vote dan coment


Salam Literasi