
Happy reading
Saat tiga laki-laki teman sekelasnya hendak membopong Naura. Revan sudah terlebih dahulu mengambil alih tubuh Naura ke dalam gendongannya. Tindakan yang tiba-tiba tersebut mengundang ratusan sepasang tatapan terkejut dari semua orang. Apalagi Naura yang memekik terkejut dengan tindakan Revan yang tak terduga. Sejak kapan laki-laki itu sudah berada di dekatnya? Bukankah barusan ia melihat laki-laki ini berada di pinggir lapangan?
Revan tak memberikan penjelasan hanya berlalu begitu saja dengan Naura yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Revan. Malu setengah ****** ia rasakan.
Revan meletakkan dengan pelan Naura ke atas ranjang. Ia membawa istrinya di ruangan khusus untuknya. Lalu mengambil P3K di laci mengobati luka lecet di siku dan lutut Naura dengan pelan-pelan.
Naura hanya diam menatap Revan yang serius mengobati nya. Jarang-jarang Revan perhatian dengan nya. Sesekali meringis menahan sakit.
Selesai. Revan duduk di depan Naura dengan kursi yang tersedia. Mereka saling diam dan bertatap muka. Naura mengerti pasti ada yang ingin dibicarakan oleh Revan dan ia menunggu.
"Status lo istri gue, lo tanggungjawab gue, apapun yang berhubungan dengan lo itu berarti urusan gue," ucap Revan diangguki kepala oleh Naura.
"Gue bakal umumin status kita sebagai pacar," putus Revan menatap tegas Naura yang hendak protes.
"Enggak, gue gak mau, kita gini aja gue udah seneng." Tolak Naura mencoba bernegosiasi. Ia belum siap jika semua orang tau status mereka. Ia belum siap mendapat serangan dari fans fanatik Revan. Membayangkan saja ia sudah bergidik ngeri.
Revan mendelik tajam." Gue gak terima penolakan," balas Revan.
Naura berdecak kesal. " Gue bilang gak mau jadi tetap gak, gue belum siap terima resikonya."
"Gak akan ada orang yang nyakitin lo, gue sendiri yang bakal turun tangan kalo sampe ada orang yang nyakitin lo." Naura membuang muka setelah mendengar ucapan Revan yang mengandung keromantisan.
"Gak boleh baper, gak boleh baper," ucap batin Naura.
Melihat Naura hanya diam saja. Revan menghela nafas panjang. Ia menjulurkan tangannya menarik dagu istrinya agar menatap wajahnya.
"Gue harap lo nurut sama gue, gue tau mana yang terbaik buat kita," lirih Revan yang diangguki kepala oleh Naura. Hanya pasrah yang bisa ia lakukan. Mengingat sebagai istri ia menurut ucapan suami. Ia tidak mau menjadi istri durhaka pada suaminya.
Tubuh Naura menegang merasakan benda kenyal dan basah mencium keningnya. Sampai ia menutup kedua matanya meresapi perasaan yang masuk ke jantungnya. Cukup lama mereka bertahan dengan posisi tersebut. Revan melepaskan ciuman lalu pergi tanpa berbicara apapun.
Naura meletakkan kedua tangannya di dada. Degupan jantungnya terdengar keras dan bertalu-talu. Bagaimana bisa pria patung itu menjadi seromantis ini?
Ia memutuskan untuk tidur sejenak. Tak peduli dengan pelajaran hari ini. Kepalanya sudah pusing gara-gara memikirkan perkataan dan perilaku pria itu. Ia butuh tidur sekarang.
_____
Di lain tempat. Salsa sudah mendekam di ruang BK. Revan sendiri yang meminta agar gadis licik itu tetap di ruang BK. Ia ingin memberi pelajaran yang setimpal untuk gadis itu.
Pintu yang dibuka dengan keras mengalihkan perhatian orang-orang yang berada di dalamnya.
Bu Endang selaku guru BK, Pak Dadang guru olahraga dan Salsa sebagai tersangkanya mengalihkan perhatian mereka pada Revan. Dengan tampang datar Revan berdiri di depan Bu Endang yang bersusah payah menelan ludahnya merasa ngeri dengan tatapan Revan, penerus tahta keluarga Adhitama. Dimana SMA Adhitama dibawah kekuasaan Revan karna ia pemilik sah sekolah ini. Ayahnya sendiri yang memindah kepemilikan sekolah ini atas nama Revan Adhitama.
"Gue mau dia skorsing selama seminggu, membantah kalian tau akibatnya." Setelah mengucapkan satu kalimat Revan pergi tanpa memberi penjelasan lebih. Di pikirannya hanya Naura, Naura dan Naura.
Sebelum lebih menjauh, terdengar samar suara Salsa yang memohon kepada guru BK agar tidak di skorsing.
Revan berjalan menuju kantin mengambil pesanannya. Satu bungkus bubur ayam dan susu vanilla hangat. Sesampainya di ruangan nya. Revan masuk dan melihat Naura masih tertidur pulas. Meletakkan makanannya di meja lalu mengambil laptop.
Bekerja dan sekolah ia harus bisa membagi waktunya. Bekerja untuk kebutuhannya dan sekolah untuk masa depannya. Untuk saat ini ia hanya membantu ayahnya menyelesaikan laporan-laporan yang ada dalam perusahaan. Dulu saja saat pertama kali ia bekerja harus memulai dari paling bawah. Dimana saat ia menduduki kelas satu SMP bekerja di perusahaan ayahnya sebagai OB di jam pulang sekolah. Dan saat ia dikelas tiga SMP baru ia mengenal dasar - dasar pembisnis. Dimana ia naik jabatan sebagai pegawai bawahan. Membantu pegawai ayahnya dalam mengerjakan pekerjaan kantor. Hingga di kelas satu SMA ia sudah naik jabatan menjadi asisten pribadi ayahnya sendiri. Dimana tugasnya hanya menyelesaikan tugas yang diberikan oleh ayahnya. Tentu bukan hal sulit untuk Revan karna ia sudah di mempelajari hal bisnis sejak SD. Jangan ragukan otak cerdasnya. Dan masalah sekolah dimana kepemilikan berpindah tangan menjadi Revan pemilik sah adalah keinginan Revan sendiri yang meminta hadiah ulangtahun nya yang ke 15 tahun. Tentu saja Javier ayah Revan mengabulkan keinginannya putra nya. Putra kebanggaan keluarga Adhitama.
Di kelas dua belas ini ia sudah menangani klien
"Bangun dan habiskan makanan mu," ucap Revan datar tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop.
Naura berdecak kesal saat ketahuan jika ia berpura-pura tidur. Harusnya ia tidur saja, tapi tak bisa saat melihat Revan. Alhasil ia berpura-pura tidur agar tau apa yang dilakukan oleh si manusia kutub itu.
Naura beranjak dari pembaringan. Duduk di sofa tepat samping Revan. Membuka kresek yang membungkus makanan nya. Tanpa bantahan Naura menghabiskan bubur nya dengan tenang. Mungkin sudah terlalu lelah untuk berdebat. Jadi ia pasrah harus makan bubur itu, lagi pula rasanya masih bisa diterima oleh lidahnya. Tak masalah.
Luka nya yang tak terlalu parah. Masih bisa membuatnya bergerak leluasa walau sedikit kesulitan. Naura berjalan ke kamar mandi ingin merapikan diri. Melihat jam menunjukkan pukul sebelas membuatnya menghela nafas panjang. Lagi-lagi ia harus ketinggalan pelajaran. Untunglah ia memiliki otak encer yang mudah baginya mempelajari suatu hal dengan cepat.
Setelah merapikan rambut dan make up tipis Naura keluar dari kamar mandi. Melihat Revan masih di posisi yang sama.
"Nggak sengklek apa tuh badan duduk anteng diem kayak gitu," gerutu Naura dalam hati.
Naura berjalan ke arah nakas mengambil ponselnya yang ada di nakas. Melihat ada beberapa pesan dari sahabatnya Lilis.
Lilis
Naura kerdus, nanti gue ke rumah lo ya, sekitar jam lima sore. Kita dandan di rumah lo gue yang bawa peralatan kecantikan buat dandan. See you
Dengan cepat Naura mengetik balasan.
Naura
Gak usah ke rumah gue. Rumah gue udah penuh sama muatan. Nanti kita ketemu di pesta. Gue bisa dandan sendiri.
Lilis
Gak asik lo. Gue kan pengen dandanin lo. Biar cantik kayak gue. Masa lo buluk terus. Bosen gue ngelihat lo.
Naura
Lo mau ngehina apa muji gue. Gue udah cantik dari lahir. Udah gue mau off. Paketan gue abis.
Lilis
Jiwa miskin ya lo. Butuh paketan berapa lo gue beliin. Horang kaya bebas gue.
Naura
SONGONG lo. Duit gue masih banyak.
( Read )
Naura mendelik kesal saat pesannya hanya dibaca. Benar-benar ciri-ciri sahabat laknat. Naura mematikan ponselnya mendongakkan kepala. Hampir saja ia menjerit terkejut saat melihat Revan berada tepat di depannya.
Sejak kapan laki-laki itu sudah ada di depannya?
"Re_ lo ngapain?" Tanya Naura gugup ditatap intens seperti itu. Kaki nya sudah bergerak gelisah dibawah sana. Mempautkan kedua tangan dengan masih menggenggam ponsel.
Revan tidak menjawab pertanyaan itu melainkan mengambil paksa ponsel gadis itu. Ingin Naura berteriak tidak terima ponselnya diambil. Tapi harus ia telan mentah-mentah mengingat jika laki-laki di depannya adalah suaminya sendiri. Jadi istri durhaka dosa gak sih?
Revan merasa curiga saat melihat Naura asik bermain ponselnya takut jika sedang chattingan dengan pria lain. Alhasil ia ambil paksa ponsel itu dan mengecek semua isi ponsel Naura. Ada banyak kontak laki-laki dan chat dari laki-laki lain tapi tak dibaca oleh Naura.
Revan tetap memasang wajah datar walau hati terasa panas. Dengan kesal Revan menghapus semua kontak dan chat laki-laki di ponsel Naura. Melirik ke arah gadis itu yang lebih memilih menunduk tak berani menatapnya. Itu lebih bagus. Ia tak suka gadis pemberontak.
Selesai. Ia mengembalikan ponsel Naura yang langsung diterima oleh gadis itu. Lalu merogoh sakunya mengambil dompet coklat. Mengeluarkan kartu kredit, Revan menjulurkan kartu itu pada Naura.
Naura mengeryit bingung, untuk apa Revan memberikannya kartu kredit?
"Belanja sesuka lo, lo mau ke pesta sama Lilis gue beri izin," ucap Revan. Karna tau ini juga kewajibannya membelikan kebutuhan istrinya. Bagaimanapun juga masalah uang, Naura bergantung padanya. Kedua orangtua gadis itu sudah lepas tangan dan ia yang mengambil alih dalam memenuhi kebutuhan Naura.
"Nggak, gue masih punya uang. Gue juga masih punya baju pesta yang masih bisa gue pake." Tolak Naura. Jika masalah uang saku dan uang bulanan buat kebutuhan sehari-hari ia masih bisa terima. Tapi jika sudah kebutuhan pribadi ia menolak karna memang ia masih menyimpan tabungan di bank. Uang sakunya pun ia sisakan untuk tabungan.
Revan menggangguk mengerti. Lalu mengeluarkan ponselnya menelfon seseorang.
"Kirimkan beberapa dress tapi tidak terbuka untuk pergi ke pesta dan flat shoes dengan warna senada, ukuran untuk remaja SMA." Perintah Revan pada orang di seberang telfon. Lalu mematikan sepihak. Naura sampai menganga tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Siapa dia?
Apa dia Revan?
Atau jelmaan iblis?
Sejak kapan pria itu bersikap manis?
Naura lupa ingatan.
"Disana nanti gue bakal umumin hubungan kita," tegas Revan lalu meninggalkan Naura yang mematung di tempat.
Apa dunia Naura sudah kiamat?
Tolong selamatkan Naura!
**Jangan lupa vote dan coment
Salam Literasi**