
Happy reading
Naura sedang sibuk dengan masakannya. Tadi setelah beberapa menit Revan memarahinya datang dua orang yang bekerja sebagai cleaning service. Naura pun langsung mengarahkan pekerjaan mereka. Dan kini menjelang petang yang artinya waktunya ia memasak untuk makan malam mereka.
Naura tersenyum setelah melihat masakan nya jadi dengan sempurna. Opor ayam dan sayur kangkung. Karna hanya berdua jadi ia hanya memasak seperlunya. Naura melihat kearah kamar Revan. Apa ia harus menghampiri Revan atau menunggunya sampai keluar kamar?
Naura berdecak kesal. Ia sudah sangat lapar. Jadi ia memutuskan mengetok pintu kamar Revan. Tapi tak ada balasan dari sang empunya. Dengan pelan Naura membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Melihat ke dalam dengan langkah pelan.
"Revan."
"Rev_" panggilannya terhenti melihat cowok tersebut tidur diatas ranjang.
Naura melihat seisi kamar. Rapi dan bersih. Syukurlah, pekerjaan Naura tidak bertambah dengan membersihkan kamar ini. Naura berjalan ke pinggir ranjang. Mengamati wajah Revan yang selalu terlihat tampan walau hanya tidur.
Wajahnya yang terpahat sempurna. Bibirnya yang selalu menggoda iman. Rahangnya yang tegas. Tubuhnya yang tinggi tegap. Kedua bola mata hitam layaknya elang. Semua begitu sempurna.
Karna terlalu asik menatap wajah tampan Revan. Naura sampai tak sadar jika pria itu sudah membuka kedua matanya. Membuat gadis itu berjengit kaget sampai tersandung kakinya sendiri membuat Naura berakhir diatas tubuh Revan yang sigap menangkap tubuh mungil Naura.
Kedua mata Naura membola lebar karna wajah keduanya sangat dekat nyaris mereka berciuman. Untunglah wajah Naura berakhir di bahu kiri pria itu yang membuat pipi keduanya saling menempel.
Kedua jantung mereka saling berlomba berdetak tak karuan. Semburat kemerahan tercetak di kedua pipi gadis itu. Mereka masih saling berdiam diri. Meresapi kenyamanan yang tercipta.
Revan justru mengeratkan kedua tangannya di pinggang ramping Naura yang menahan nafas merasakan pelukan itu. Revan menarik tubuh Naura lebih keatas memeluknya seperti guling. Lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Sedari tadi ia berusaha untuk tidur tapi tak bisa.
"Jangan membantah, diem, gue pengen tidur." Suara serak Revan terdengar terendam di ceruk lehernya. Aroma lavender yang tercium dari tubuh Naura membuat pria itu merasa nyaman dan segera pergi ke alam bawah sadar.
Naura merasakan nafas lembut di lehernya yang berarti Revan sudah tertidur. Ia tak berani sedikit pun bergerak takut mengganggu pria itu. Naura mengalungkan kedua lengannya ke leher pria itu lalu tidur menyusul Revan. Naura merasa nyaman dan terlindungi jika berada dekat dengan Revan.
______
Kedua mata Revan mengerjap pelan membuka kedua matanya. Merasakan beban di atas tubuhnya membuat Revan mengingat hal yang terjadi. Melihat jam masih menunjukkan pukul tiga pagi. Revan tersenyum tipis, mengingat ini jam tidurnya yang terlama. Biasanya ia hanya tidur dua sampai tiga jam. Tapi ini lebih dari lima jam.
Revan merasakan nafas di ceruk lehernya. Memejamkan mata menetralkan ritme jantungnya. Revan memandang langit-langit kamar memikirkan semua hal yang terjadi dalam hidupnya.
Flash back
Revan yang saat itu masih kelas sekolah menengah pertama menduduki kelas delapan. Tak sengaja mendengar pembicaraan empat orang dewasa di ruang kerja ayahnya.
"Gimana sama perjodohan Revan dan Naura, diteruskan atau dihentikan?" Tanya uncle Faron duduk bersanding dengan istrinya.
Revan kecil yang mendengar masalah perjodohan mengerut tak suka. Tapi tak lama saat mendengar nama gadis yang akan di jodohkan dengannya. Revan terdiam, ia mengingat gadis kecil itu.
Dulu saat Naura dan keluarganya datang ke rumah. Naura kecil terlihat sangat excited tapi tidak dengan Revan kecil. Revan kecil yang memang sudah datar dan kaku sejak kecil selalu bersikap dingin terhadap gadis kecil itu. Padahal hati kecil Revan sangat ingin bermain dengan Naura kecil dan membuat senyum terbit di bibir mungil gadis itu. Tapi karna Revan tak tau harus berbuat apa, ia tak sadar jika sudah bersikap dingin dengan Naura kecil. Di umurnya sembilan tahun, ia harus berpisah dengan gadis itu yang akan pindah ke luar kota dan tinggal menetap disana. Namun saat SMA kelas satu, Naura sekeluarga pindah kembali ke Jakarta.
Dan perjodohan itu masih berlanjut hingga mereka SMA. Revan yang memang sudah berpenghasilan sejak kelas tiga SMP. Mengambil keputusan untuk menyetujui perjodohan tersebut dan meminta mempercepat pernikahan itu tanpa menerima penolakan dari Naura. Hingga terjadilah pernikahan itu di saat mereka berada di kelas dua belas.
Flash back off
Naura mengerang kecil seraya bergerak menandakan gadis itu juga akan segera bangun. Revan yang menyadari itu kembali memejamkan matanya.
Kedua mata Naura mengerjap pelan menyesuaikan silauan cahaya. Naura melihat ia masih berada di pelukan Revan. Untung saja pria itu masih tidur, jadi ia masih memiliki peluang untuk lepas dari jeratan Revan. Dengan perlahan Naura beranjak dari atas tubuh Revan tanpa membuat pria itu terbangun. Dan berhasil. Dengan cepat Naura keluar dari kamar dan berlari ke dapur.
Naura meletakkan gelas minumnya menghela nafas panjang seperti habis lari maraton. Revan sepertinya bahaya untuknya. Kinerja jantung dan tubuhnya sangat tidak sinkron. Otaknya ngeblank jika berada di dekat pria itu. Melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul setengah empat pagi yang berarti masih ada waktu untuknya tidur kembali.
Wait!
Ia melupakan makan malam. Aish, gara-gara pria itu ia melupakan segalanya.
Mengecek makannya apakah masih layak dimakan atau tidak. Ternyata masih enak di makan, hanya tinggal di panaskan saja. Naura menyimpan masakannya di kulkas untuk di makan nanti pagi.
Lalu berlalu ke kamarnya sendiri.
______
Seragam sudah melekat di tubuh keduanya. Revan dan Naura yang sibuk dengan makanan masing-masing. Naura yang mencuci piring mereka setelah selesai makan. Lalu berangkat ke sekolah.
Revan mengeluarkan dompetnya mengambil selembar uang berwarna pink memberikannya pada Naura. Dengan senang hati Naura mengambil jatahnya. Lalu pergi keluar apartemen seperti biasanya ia diantar oleh sopir.
Mereka seakan-akan melupakan kejadian kemarin. Seperti tak terjadi apa-apa diantara mereka.
Revan menghela nafas panjang.
Sesampainya di sekolah Naura berjalan ke kelasnya. Hari ini Lilis sahabatnya tidak masuk sekolah karna ada acara keluarga. Dan hari ini ia harus sendirian.
"Galau aja neng, nih Abang kasih surat cinta untuk neng cantik," goda Aji memberikan surat yang berisi undangan pada Naura.
Naura menautkan kedua alisnya menggeleng maklum. " Betewe, kok cuma gue, buat Lilis mana?" Menaik turunkan kedua alisnya.
"Buat si jelek mah gak usah," ucap Aji terkekeh tapi memberikan satu buah undangan lagi.
"Jangan lupa, kalian harus datang di acara ultah gue, hadiahnya jangan ketinggalan, entar gue tagih." Naura mengangguk siap terkekeh mendengar ucapan Aji. Aji berlalu membagikan undangan pada teman yang lain.
Hari rabu mata pelajaran pertama olahraga. Satu-satunya pelajaran yang paling banyak dibenci oleh kaum perempuan. Termasuk dirinya yang lemah dalam mapel itu. Segala sesuatunya harus berhubungan dengan menggerakkan tubuh yang membuat seluruh badannya pegal-pegal. Jika disuruh memilih, lebih baik lelah pikiran ketimbang lelah fisik. Ia rela jika disuruh mengerjakan berbagai soal apapun.
Setelah mengganti seragam olahraga nya. Naura bergabung bersama teman sekelasnya di lapangan. Karna tak ada Lilis, ia lebih banyak diam karna tak terlalu dekat dengan teman wanita di kelas. Ia justru lebih dekat dengan anak laki-laki. Tapi yang namanya olahraga pasti di pisah antara laki-laki dan perempuan.
Olahraga hari ini adalah basket. Naura berdecak kesal. Ia paling anti jika berhubungan dengan bola. Takut mengenai kepalanya. Tetapi, sepertinya ia harus berjuang melawan ketakutannya pada bola. Biasanya Lilis yang selalu membantunya jika berada dalam masalah seperti ini.
"Anak perempuan dibagi menjadi dua kelompok begitu pun anak laki-laki, karna minggu kemarin kita sudah mempelajari tentang basket, hari ini kita praktekan," ucap Pak Dadang guru olahraga yang tak absen selalu membawa peluit yang menggantung di lehernya. Seperti benda keramat yang wajib di bawa.
Naura meringis mendengar beberapa bisikan murid perempuan yang tidak mau sekelompok dengannya. Mungkin karna sudah tau pasti akan kalah jika memiliki anggota kelompok dengannya.
"Na, lo jadi pemain bagian belakang aja ya, nanti biar kita berdua jadi penyerang, bagian belakang bakal aman, kalo pun ada bola yang mengarah pada lo, hindari aja," ucap Geya siswi paling kalem di kelasnya dan cukup pengertian. Setidaknya ia mendapat nilai dengan mengikuti praktek ini.
Pertandingan di mulai. Kelompok Naura melawan kelompok Salsa siswi paling centil di kelasnya. Sejujurnya Salsa tak mempunyai dendam apapun pada Naura. Hanya saja ia sangat suka menindas orang lain. Seperti sekarang ia bermain kasar terhadap teman sekelasnya. Ia mendribble bola mendorong siapapun yang menghalanginya. Termasuk Naura yang sebenarnya sudah gemetaran melihat Salsa sudah mendekat padanya. HendakĀ menghadang gadis itu tapi kena damprat Salsa yang mendorong Naura hingga kedua lutut gadis itu terluka dan satu lengan kanannya yang sama terluka karna menahan tubuhnya.
Naura meringis kecil seperti teman sekelompok nya yang tak jauh beda dengan dirinya. Terdengar anak laki-laki yang protes dengan tindakan Salsa. Naura mengedarkan tatapannya di sekeliling lapangan.
DEG
Tatapannya bertemu dengan sepasang mata elang itu. Entah kenapa ia merasa tatapan khawatir di kedua mata itu. Tapi ekspresi wajah tidak mendukung. Sampai kapan ia harus memelihara manekin hidup di kehidupannya?
Jangan lupa vote dan coment
Salam Literasi