Live with you

Live with you
2. Revan Room



Happy reading


Bel istirahat berbunyi. Naura dan Lilis berjalan menuju kantin. Keduanya sudah seperti duo sejoli yang kemana-mana harus berdua. Sesampainya di kantin. Terlihat ramai dan berdesakkan seperti biasa.


"Na, duduk disana yuk," ucap Lilis ke arah meja seberang yang di duduki Revan dkk.


Naura gelagapan di tempat. Bagaimana caranya ia bisa bebas dari sini? Lebih baik ia makan di kelas daripada disini.


"Udah ayok." Menyeret tangan Naura tanpa persetujuan sang empunya. Naura yang terlanjur diseret hanya pasrah lalu duduk di tempatnya menunggu Lilis yang memesankan makanan.


Naura merutuki dirinya karna lupa membawa ponselnya di kelas membuat nya bingung harus berbuat apa selama menunggu pesanannya. Melihat ke depan yang ada beradu tatap dengan Revan. Menoleh ke samping kanan atau kiri banyak orang sibuk pacaran, kan nyesek.


"Van, ada Della tuh, cantik anying," ucap Dodi yang terdengar di telinga Naura.


"Wajah cantik, apalagi body nya" timpal Reno membayangkan.


"Apa nya yang cantik, wajah penuh tepung, body tinggal tulang kayak gitu." Ini yang Naura suka dari Ferdi sahabat Revan yang paling realistis. Apa yang diucapkan memang sesuai kenyataan. Hanya saja kemungkinan kedua sahabatnya Dodi dan Reno kena ketempelan, sampai tak bisa bedakan mana cantik mana burik.


Setelah itu Naura tak mendengar pembicaraan mereka lagi karna Lilis sudah berada di sampingnya dan membawa makanan nya dengan Lilis yang curhat sama sini.


"Rev, lo gak tertarik tuh cewek, buat mainan lah sesekali," hasut Reno. Ia ingin sahabatnya yang bagaikan patung ini bisa mencintai perempuan. Sayangnya sampai sekarang ia belum pernah melihat Revan menggandeng seorang gadis pun.


"Gak tertarik," ucap Revan singkat. Tatapannya tak teralihkan sedikit pun dari gadis di seberang mejanya.


Dodi menelisik ke arah sahabatnya Revan seperti serius mengamati seseorang. Lalu ia melihat kearah tatapan Revan. Dan terkejut ternyata tatapan itu pada seorang gadis yang sedang makan di seberang meja. Dodi menyenggol Ferdi dan Reno untuk menatap arahan nya. Ferdi dan Reno yang mengerti saling melirik lalu tersenyum menggoda menatap Revan.


"Eehhmm, sepertinya ada yang tertarik nih sama cewek," ucap Dodi berdehem singkat sebelum memulai.


"Kayaknya sih, ada yang fall in love," ucap Reno menimpali bersiul menggoda menoleh kearah Revan.


"Bau-bau nya ada yang tersepona, nih," ucap Ferdi mengikuti kedua sahabatnya.


Revan mendengus kesal. "Dia istri gue."


Byurrr


Uhukk uhukk


Prang


Kekacauan terjadi di meja Revan. Revan mendengus merasa malu memiliki tiga sahabat ***** seperti mereka. Lalu beranjak pergi tanpa memberikan penjelasan. Teriakkan ketiga sahabatnya tak di pedulikan.


"WOYY, PATUNG MAKSUD LO APA?"


"KAMPRET, GUE BUTUH PENJELASAN *****!"


"MANEKIN HIDUP BALIK LO!"


______


Sepanjang perjalanan di koridor. Naura menggerutu kesal karna Bu Endang yang seenak jidat menyuruhnya membawa tumpukan buku yang pastinya berat untuk nya. Lilis dengan kurang ajarnya tidak mau membantunya.


Brukk


Naura yang tidak hati-hati menabrak seseorang membuat beberapa buku berceceran di lantai.


"Kesialan apalagi ini Tuhan," gerutu Naura.


Sepasang sepatu berdiri di depannya yang sedang berjongkok hendak memungut buku-buku yang berserakan. Tapi ucapan seseorang membuatnya menegang ditempat.


"Berdiri." Bariton suara yang sangat familiar di telinganya membuat telinga Naura bergidik ngeri. Lalu mendongak memastikan.


Naura terkejut ternyata Revan yang berbicara dengannya. Buru-buru ia berdiri dari tempatnya berjongkok.


Revan yang melihat Budi si murid culun kebetulan lewat memanggil pria itu lalu memerintahkan nya untuk membawa semua buku itu.


"Lo bawa buku ini XII IPA 4," ucap Revan pada manusia di belakang Naura. Sedangkan gadis itu tetap berdiri kaku di tempatnya.


"Tapi_"


Sebelum Naura selesai berkata, Revan sudah pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Membuat Naura kelimpungan dan segera berlari mengikuti pria itu dari belakang.


Dalam hati Naura selalu memanjatkan doa. Semoga ia selamat dari Revan si patung es.


Sesampainya di sebuah ruangan bertuliskan "Revan room" membuat Naura mengeryit bingung. Tapi tetep masuk sesuai perintah. Terlihat pertama kali yaitu sebuah kamar yang dilengkapi dengan satu set sofa, televisi, kamar mandi, almari sedang dan terdapat kulkas kecil serta ruangan ber-AC. Naura duduk di sofa yang tersedia.


Revan memilih berbaring di ranjang tanpa melihat gadis itu yang sudah menekuk kesal karna di abaikan.


Setengah jam sudah mereka ada di sini dengan Revan yang enaknya tidur di ranjang dan Naura yang tadinya setia duduk di sofa menjadi setengah berbaring karna merasa bosan dan akhirnya ketiduran. Ruangan AC yang sepertinya sudah di rancang pemiliknya terasa tidak dingin di tubuh tapi terasa hangat dan nyaman membuat Naura terlena dengan kenyamanan itu.


Revan duduk dari rebahan nya setelah mendengar tak ada lagi suara gadis itu. Dan benar sesuai dugaannya. Naura tertidur di sofa. Revan melihat jam menunjukkan pukul setengah satu yang artinya dua jam lagi bel pulang berbunyi.


Revan memang sengaja mengabaikan Naura agar gadis itu merasa bosan dan cepat tertidur. Dan Revan berhasil membuat gadis itu tertidur. Menurutnya ini sudah jatah tidur siang untuk Naura. Karna itu daripada susah-susah menyuruh gadis itu tidur siang lebih baik memakai cara lain.


Dengan perlahan Revan mengangkat tubuh gadis itu dibaringkannya di ranjang. Melepas kedua sepatu Naura menyelimuti gadis itu sampai ke leher. Lalu mengambil laptop karna ada pekerjaan yang menunggunya. Berganti dirinya yang duduk di sofa disertai laptop di pangkuannya.


Bertanya soal kelas yang memulai pelajaran. Ia sudah memberitahu guru yang terkait untuk mengijinkan Naura tidak mengikuti pelajaran.


____


Beberapa jam kemudian Naura menggeliat merasakan cahaya memasuki kedua matanya. Sedikit merenggangkan ototnya. Lalu beranjak dari ranjang.


Wait!


Naura melotot menatap sekitarnya. Ini bukan kamarnya. Tapi ia ingat tadi siang ia ketiduran di sofa dan bagaimana bisa ia sudah berada di ranjang ? Dan dimana Revan? Semua pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Dengan langkah cepat Naura berjalan kearah pintu. Melangkah keluar dari ruangan dan berlari ke arah kelasnya. Panik satu kata yang ada di otak kecilnya. Bagaimana bisa ia tidak mengikuti pelajaran terakhir?


Naura melihat sekelilingnya. Sekolah terlihat sepi. Hanya beberapa anak yang masih tinggal di sekolah. Apakah jam pulang sekolah sudah berbunyi? Sejak kapan?


Naura menepuk dahinya kencang melihat jam tangannya menunjukkan pukul tiga sore yang berarti bel pulang sekolah sudah berbunyi setengah jam lalu. Naura berlari kearah kelasnya terlihat sepi tinggal tas nya yang masih berada di tempat. Naura berjalan keluar kelas setelah mengambil tasnya berniat mencari Revan.


Saat berjalan di koridor. Naura melihat Revan bermain ketiga sahabatnya. Naura berlari menuju lapangan basket. Di tepi lapangan Naura hanya berdiri menunggu respon laki-laki itu. Ia tak cukup memiliki keberanian diri untuk memanggil atau memulai terlebih dahulu.


Dodi yang menyadari ada Naura di pinggir lapangan menyenggol lengan Revan. "Istri lo ada di pinggir lapangan."


Dodi dan lainnya sudah mengetahui perihal pernikahan dan perjodohan Revan dan Naura. Tentu saja mereka bertiga terkejut tak menyangka jika sahabat mereka sudah menjadi suami orang. Mereka bertiga juga sepakat untuk merahasiakan ini semua sampai waktunya dimana semua orang akan tau .


Revan menoleh cepat kearah Naura. Melempar bola ke sembarang arah berjalan kearah gadis itu.


"Shitt." Umpat batin Revan. Ia melupakan gadis itu yang tidur di ruangan pribadinya. Karna terlalu asik berkumpul dengan para sahabatnya.


Tapi Revan tetaplah si patung manekin. Ia tetap memperlihatkan wajah datarnya. Seperti tak merasa bersalah sama sekali.


"Gue cuma mau ijin pulang dulu ke apartemen, gue_"


"Naik ke mobil pulang ke apart," potong Revan berjalan kearah parkiran. Naura menghela nafas panjang. Mengusap dadanya berusaha sabar menghadapi suaminya itu.


Dalam perjalanan keheningan terjadi. Revan sibuk dengan menyetir dan Naura yang melihat jalan dari jendela mobil. Sesampainya di apartemen mereka masuk ke kamar masing-masing.


Naura yang selesai berbesih diri. Keluar dari kamar. Membersihkan apartemen adalah rencananya hari ini. Bagaimana pun juga kebersihan rumah adalah tanggungjawab nya. Walau lelah mendera tapi tak menyurutkan semangat Naura. Di mulai dari mengelap barang-barang yang berada di ruang tamu. Lalu menyapu dan mengepel. Naura mengelap keringatnya yang mengucur deras. Cuma segini saja dia sudah lelah. Bagaimana dengan bunda nya yang setiap hari seperti ini?


Saat hendak melanjutkan kegiatannya mengepel lantai. Tiba-tiba alat pengepel lantai terhempas kuat sampai terbentur tembok. Naura melotot terkejut menatap si pelaku yaitu Revan sendiri.


Naura bisa melihat emosi di kedua mata elang itu walau tidak dengan wajahnya yang datar. Kedua tangan pria itu mengepal kuat di kedua sisinya. Naura menunduk takut. Apa ia berbuat salah?


"Gue gak pernah nyuruh lo jadi pembantu disini, lo disini sebagai nyonya Adhitama, bukan pembokat gue," desis Revan tepat di depannya wajahnya. Revan melangkah memperkikis jarak keduanya. Memiringkan kepalanya mendekat kan bibirnya tepat di telinga gadis itu.


"Inget satu hal, lo disini sebagai istri gue, bukan pembantu gue, jangan sekali-kali lo sentuh alat itu, hak lo cukup masak buat gue, gue bisa sewa orang untuk bagian cleaning service," bisik Revan lalu pergi ke kamarnya meninggalkan Naura yang masih terbengong-bengong di tempat.


Naura menepuk pipinya berkali-kali. Menyadarkan diri. Apakah yang dilihatnya tadi sebuah ilusi, delusi atau fatamorgana? Berkali-kali pula Naura menarik nafas panjang-panjang karna rasa sesak menghimpit dadanya. Ia tak sadar sudah menahan nafas selama Revan berada di dekatnya. Kedua kakinya pun rasanya seperti jelly. Lemas dan tak bertenaga gara-gara satu manusia. Membuat kinerja jantung dan tubuhnya melemah.


Jangan lupa vote dan coment


Salam Literasi