
Happy reading
Semua kembali seperti semula. Mulai hari ini Naura tetap akan melakukan aktivitas seperti biasa. Tapi tanggungjawab nya sekarang sudah bertambah lagi. Naura dan Revan sudah pindah ke apartemen dengan mereka pisah ranjang. Itu keinginan keduanya.
Naura yang bertugas memenuhi kebutuhan Revan dan Revan yang menafkahi kebutuhan Naura. Mulai sekarang Naura yang bergantung dengan Revan begitu pula sebaliknya.
Setelah bersiap dengan setelan seragamnya dan masakannya yang sudah tertata rapi di meja makan, karna kewajibannya sebagai istri. Naura berjalan keluar kamar ke meja makan melihat apakah Revan sudah keluar dari kamar atau belum.
Ternyata Revan sudah ada di meja makan. Naura duduk di seberang meja. Lalu mengambil makanannya. Ia sudah memantapkan diri untuk menerima semua keadaan dan berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya. Naura mengambil piring di depan Revan dan mengganti dengan piringnya yang sudah terisi nasi goreng diatasnya. Lalu mengambil makanannya sendiri.
Sedari tadi Revan hanya diam dan menatap datar Naura. Setelah melihat Naura menyendok makanannya ia mulai memakannya. Enak dan lezat. Seperti masakan mamahnya. Dalam diam mereka sibuk dengan kegiatan makannya.
Naura berdiri mengambil piring kotor keduanya dan mencucinya sebentar. Saat hendak mengambil tasnya di kursi meja makan. Revan menghampirinya dan memberikan satu lembar uang berwarna pink. Yang dengan senang hati Naura mengambil jatahnya.
"Sopir di depan," ucap Revan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Naura hanya mengangguk paham ucapan Revan, walau sebenarnya ingin mencubit bibir laki-laki itu. Kenapa ia selalu bicara singkat tanpa berbasa-basi. Kalo seperti ini bagaimana ia bisa jatuh cinta dengan laki-laki itu.
Sesuai titah sang raja. Naura berangkat diantar sopir. Tak banyak bicara, Naura lebih sibuk membaca novelnya di dalam mobil.
Revan mengendarai mobil sport nya dengan fokus melihat ke depan mengikuti mobil sopir yang membawa Naura di dalamnya. Memastikan gadis itu selamat sampai tujuan.
Revan meraih ponselnya dan menelpon seseorang. "Tugas kalian di mulai sekarang." Lalu menutup sepihak.
______
Naura berjalan kearah kelasnya XII IPA 2. Ia sudah teramat kangen dengan sahabat nya Lilis.
"NAURA AKHIRNYA LO MASUK JUGA, GUE KANGEN TAU SAMA LO, GIMANA ACARA KELUARGA LO KEMAREN, LANCAR, KAN," teriak Lilis heboh sendiri. Membuat Naura dan beberapa teman sekelasnya menutup kedua telinganya.
"Woyy, kaleng rombeng, suara lo bisa di kondisikan gak, budeg lama-lama gue sekelas sama lo," protes Aji si kepala suku alias ketua kelas. Walau otak agak gesrek tapi tanggungjawab nya harus di acungi jempol.
"SONGONG banget lo Ajinomoto, suara gue terlalu seksi ya, Syahrini aja kalah sama gue," balas Lilis tersenyum bangga. Naura memasang wajah jijik dan geli. Bagaimana bisa ia betah dengan kenarsisan seorang Lilis?
Naura duduk di samping Lilis dan merebahkan kepalanya yang pusing.
"Lo sakit, Na," ucap Lilis menempelkan tangannya di kening gadis itu. Tidak panas.
"Gue gak sakit, tapi banyak pikiran."
"Hidup lo nya aja yang penuh dengan drama seperti sinetron Indosiar."
"Lo yang kebanyakan drama, sinetron kan makanan sehari-hari lo."
"Tau aja lo, kemarin gue lihat sinetron judulnya perjodohan membawa petaka, dimana si cowok dan cewek pada selingkuh anjirr, drama banget, kan," curhat Lilis yang hanya di iyain oleh Naura agar cepat selesai.
"Itu pada ngapain, sih?" Tanya Naura heran. Ia curiga apa karna kedatangan Revan yang lagi-lagi membuat kehebohan massal. Karna memang Revan selalu mencuri perhatian semua umat terutama kaum hawa, yang seperti cacing kepanasan jika berdekatan dengan sang most wanted tersebut.
"Biasalah," jawab Lilis.
Naura menghembuskan nafas panjang. Kembali fokus pada bacaan novelnya.
"Akhirnya selesai juga," pekik Lilis meregangkan otot tangannya lalu merapikan mejanya yang berantakan.
"Na, temenin gue ke toilet, yuk," ajak Lilis. Satu kata untuk Lilis. Penakut. Sahabatnya ini selalu parnoan orangnya. Penakut sama hantu.
"Pergi sendiri," cetus Naura memilih novelnya ketimbang sahabatnya.
"Lo kan tau gue penakut, kalo nanti gue di kamar mandi sendiri ada perempuan rambut panjang terus melayang, penuh darah, wajahnya_"
"Stop," potong Naura lalu berdiri keluar kelas diikuti Lilis yang cekikikan di belakangnya. Selalu seperti itu, jika keinginan Lilis tidak terpenuhi maka sahabatnya itu akan dengan senang hati berbacot ria sampai Naura menuruti keinginannya.
Sesampainya di kamar mandi. Naura berdiri di samping tembok dan Lilis yang sudah masuk ke dalam.
Kamar mandi ini terdapat di koridor kelas tepatnya berada di dekat kelas XII IPA 1 yang artinya berada di dekat kelas Revan. Bisa di lihat dari tempatnya berdiri. Revan dan ketiga sahabatnya yang duduk di depan kelas. Tatapan keduanya bertemu, tapi dengan cepat Naura memutuskan pandangannya dan beralih ke ponselnya.
Dalam hati Naura menjerit. Untung saja kamar mandi itu tidak harus melewati kelas Revan yang membuatnya mati kutu.
Di SMA Adhitama Naura itu tidak terkenal seperti Revan yang notabenenya most wanted sekolah karna ketampanan dan kekayaannya. Ia hanya gadis biasa di sekolah ini. Dan syukurlah selama sekolah disini ia tak memiliki masalah dengan siapapun.
Naura itu gadis yang terbilang cantik dan body goals. Tapi ia menutupi semua itu dengan seragamnya yang longgar membuatnya terlihat berisi dan kunciran kuda ciri khasnya. Wajahnya terbilang lugu dan imut seperti anak SD. Biasanya Naura di kenal dengan si kutu buku karna kegiatannya yang selalu tak lepas dari buku.
"Lama banget sih tuh orang," batin Naura.
Ia merasa gelisah di tempat karna beberapa mata yang melihatnya. Terutama Revan yang hanya menatap datar dirinya dari tempatnya duduk sesekali mendengar godaan dari para sahabatnya yang menggoda laki-laki tersebut.
Revan itu minim ekspresi. Bahkan, patung aja kalah sama manusia. Laki-laki itu sama sekali tak menunjukkan emosinya. Selalu terkontrol dan terkendali. Itu yang selalu membuat Naura pusing tujuh keliling. Memiliki suami tapi serasa memelihara manekin. Tapi bedanya manekin peliharaan nya terlalu sayang di lewatkan.
Di sekolah Revan selalu melakukan seenaknya. Jika ia mau belajar di kelas maka ia akan rajin mendengarkan guru di kelas. Tapi kalo tidak, jangan harap Revan akan duduk anteng di kelas. Karna sudah pasti laki-laki itu akan bolos. Tapi guru-guru tak ada yang komentar, karna percuma pasti kalah debat. Revan itu otaknya sudah seperti terprogram. Bolos seperti apapun nilai sekolahnya pasti selalu mendapat peringkat tertinggi. Bahkan, satu kali Revan pernah mewakili lomba olimpiade tingkat nasional dan mendapat juara pertama. Dan itu pertama dan terakhir kalinya Revan mengikuti ajang yang menurutnya tak berguna. Sudah beberapa kali pun guru-guru membujuk laki-laki itu untuk ikut olimpiade lagi tak pernah berhasil, karna memang Revan tidak mau dan tidak suka.
"Ayok, gue udah lega," ucap Lilis yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Lama lo." Pergi meninggalkan Lilis yang berlari menyusul Naura.
Jangan lupa vote dan coment
Salam Literasi