
Kalimat yang terlontar dari kedua bibir Azala tersebut membuat suasana semakin gaduh. Siapa yang sangka bahwa Ia akan setuju dan melampiaskan nafsunya malam ini. Perlahan namun dengan sedikit dorongan, pria dan wanita yang mengitari Azala menuntunnya menuju ke tengah tengah ruangan tersebut. Beberapa dari mereka duduk kembali.
“Ehmm, mungkin masih terlalu dini untukku melakukan ini.” Ucap Azala.
Tentu saja, kalian juga pasti memahami perkataan yang Azala ucapkan. Ia masih bersekolah dan ini adalah tahun pertamanya di SMA. Umurnya tentu saja kalian bisa menebaknya. Sedikit terkejut, wanita di samping Azala menyuruhnya untuk duduk, walaupun bisa di katakan lebih tepatnya memaksa. Yang lain terlihat kehilangan kewaspadaannya dari Azala.
Ia bertanya kepada mereka, kenapa mereka bisa begitu tenang sekarang, padahal enam puluh detik yang lalu mereka terlihat sangat menginginkan dirinya pergi. Terlebih lagi tiga orang yang Azala serang tadi juga menerima tindakannya dan menghiraukan kehadirannya. Salah satu wanita tersebut menjelaskan. Sambil menyalakan rokok Ia berkata.
“Kami masih memiliki pikiran. Kami bukanlah berandal yang bergerak sesuai naluri mereka. Asal tau saja kami masih mencurigaimu!!” Suaranya menjadi sedikit lebih tinggi di kalimat terakhir.
“Tapi perkataanmu barusan layak di pertaruhkan.”
Ia berhenti berbicara, menyenderkan tubuhnya ke Azala. Bau rokok bercampur wine masuk ke dalam hidung dan menyusuri kerongkongan lelaki bermata merah terang tersebut. Perkataannya barusan membuat Azala berpikir lebih dalam. Saat ia menundukkan kepalanya, terasa kedua tangan menyentuh kedua pipinya. Wajahnya mendekat kepada Azala. Putung rokoknya tidak terlihat lagi di antara bibirnya.
Dengan nafas yang terengah engah Reona dan yang lainnya berlari sekuat tenaga mencoba untuk keluar dari bangunan ini. Mereka berhenti di suatu tempat di lantai satu untuk mencoba mengatur ulang pernafasan mereka dan mengistirahatkan otot otot kaki mereka.
Namun dari kejauhan langkah kaki masih terdengar berlari. Tidak lama kemudian ketiga pria yang lolos dari hadapan Azala tadi muncul di hadapan gadis gadis itu. Setelah melepas teriakan gelisah mereka memaksakan kedua kaki mereka untuk terus lari. Paksaan yang otak mereka buat membebani keseluruhan otot kaki gadis gadis tersebut.
Alhasil gadis yang mengenakan kacamata untuk membantu melihat terjatuh karena tidak kuat lagi berlari. Melihat salah satu sahabatnya kesulitan mereka bertiga memutar arah dan membantu si gadis barusan. Kedua sahabat yang lainnya mencoba untuk membopong, namun terlalu terlambat karena ke tiga lelaki tersebut sudah hadir di hadapan mereka.
Reona berdiri di depan teman temannya, berhadapan langsung dengan ketiga pria tersebut. Raut wajahnya sedikit menakutkan, sangat jelas bahwa saat ini Ia sedang tidak bercanda.
“Akan kulindungi negara ini!!”
“Akan kulindungi apa yang kedua orangtuaku ingin lindungi!!”
“Aku akan melindungi hal hal yang penting bagi diriku!!”
“Lalu, aku akan melindungi apa yang orang itu percaya!!”
Kedua matanya melebar. Berfikir dapat dari mana kalimat terakhir barusan. Lalu di ruangan yang luas, kotor dan juga gelap ini serasa semakin terang. Di hadapannya berdiri seorang anak kecil laki laki berambut hitam. Krak, ranting pohon yang laki laki injak itu barusan menyadarkannya kembali. Reona sempat melamun beberapa saat setelah kalimat terakhir tadi melintas di dalam pikirannya.
Angin mulai bertiup ke arah para gadis itu. Membawa tiga orang laki laki berbadan bongor. Mereka tidak akan sempat untuk lari dalam jarak segini. Hingga salah satu lelaki berbadan bongor tersebut menekuk lutut di hadapan Reona. Reona terkejut, begitupu teman temannya. Malam yang gelap menghadirkan sebuah rembulan yang terang.
Menyinari tempat mereka berada dan memantulkan cahaya dari cairan dibawah lelaki yang sedang bertekuk lutut tersebut. Warnanya makin dilihat makin jelas. Gadis bermata hijau zamrud tersebut mundur dengan terkejut. Ia sudah siap untuk menjerit, namun belum sempat Ia menjerit lelaki di hadapannya menjerit terlebih dahulu.
“ARGHHH!!! Sialan! Sialan!” Jeritnya.
Pyar-pyar. Lagi lagi suara kaca pecah di tempat mereka membuat bahu mereka terangkat dan membuat kedua tangannya reflek menutup telinga maupun melindungi kepala merea.
Alangkah terkejutnya kedua orang pria tersebut saat mendapati bahwa lantai di depannya berlubang. Satu langkah saja mereka maju mungkin kaki mereka lah yang akan berlubang seperti yang salah satu rekan mereka alami. Keringat menyucur deras di wajah mereka, membuat tubuh mereka waspada.
Ini jelas jelas sebuah peringatan, sebuah tembakan peringatan. Maju selangkah saja tubuhmu akan berlubang. Kurang lebih seperti itu lah peringatan yang sinyal otak mereka terima. Membuat kebimbangan di antara mereka dan tanpa para pria itu sadari mereka sudah mengangkat tangan mereka. Membalas peringatan tersebut dan menyerah.
Azaiko dari kejauhan tersenyum gembira. Reona datang ke tempat yang tepat, memudahkannya untuk memberi tembakan peringatan kepada orang orang tersebut.
Hanya saja Ia khawatir akan kondisi Azala sekarang karena mereka berdua tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Di lain sisi, di dalam gedung lantai satu yang kumuh dan menjadi sarang bagi tikus dan hewan hewan lainnya, kedua pria tersebut mencoba untuk membawa salah satu dari mereka mundur. Ketegangan pun terhenti.
“Bagaimana Azala! Aku bahkan lebih hebat dari dirimu saat menggunakan senjata yang sangat kau kuasai!” Teriak Azaiko menghibur diri.
Reona dan gadis gadis lainnya merasa lega. Mereka memandang arah di mana tembakan itu berasal. Azaiko yang masih dalam posisi membidik melihat wajah Reona tepat ke arahnya. Mukanya menjadi kaku.
“Tidak tidak. Putri tidak mungkin bisa melihatku disini kan. Lagian yang seperti itu hanya bisa di lakukan oleh manusia berkekuatan super. Hahah, aku hanya terlalu khawatir.”
Azaiko bermonolog.
“Bicara tentang khawatir. Si peniru bodoh itu! Bisa bisa nya melupakan HT miliknya. Kalo begini bagaimana caraku memberitahu si bodoh itu bahwa Ia tidak boleh membunuh orang orang tersebut!?”
Wajah wanita di samping Azala semakin mendekat ke arahnya. Ia mulai memejamkan kedua matanya. Kedua bibirnya hampir meraih miliknya. Tangan kiri nya bergerak secara reflek memberi penghalang di antara keduanya. Wajahnya sudah saling berhadapan, membatu karena perbuatan Azala yang membuat keduanya tidak saling berciuman.
Wanita tersebut membuka kembali kedua matanya dan sedikit mundur. Jujur saja bahwa saat ini Azala sangat terkejut. Kejadian di luar perkiraannya hampir membunuhnya.
“Azala.” Ucapnya.
Mereka yang mengitarinya kebingungan. Azala membuat jarak dengan wanita itu dengan kedua tangannya.
“Kubilang namaku Azala.”
Wajahnya tidak karuan. Keringat mengucur deras di setiap bagian wajahnya. Salah satu mata Azala memang tertutup oleh rambut depannya yang panjang, namun semuanya dapat melihat dengan jelas bahwa Ia memicingkan kedua matanya ke lantai. Deburan debu halus merasuk, terhenti dalam detakan jantung wanita disampingnya. Ia terpesona dengan Azala. Azala yang memerah, Azala yang secara jantan menghentikan tindakannya. Itu membuat deburan debu halus merebak ke hati wanita tersebut dan membuatnya terpesona.
Azala menarik nafas panjang dan berusaha untuk menata sikapnya. Dengan santai Ia kembali berdiri, membuat perhatian seluruh ruangan tertuju kepadanya. Kakinya melangkah ke belakang.
“Maaf, tapi sepertinya kalian salah mengartikan maksut saat aku berkata bahwa aku akan melampiaskan semua nafsuku disini.”
Mereka menatap Azala dengan penuh kebingungan. Beberapa dari mereka meninggalkan tempat duduknya dan mencoba untuk waspada. Azala memandangi mereka secara halus, Ia kembali menunduk.
Nada suaranya menjadi normal kembali setelah kejadian yang membuatnya bersikap berbeda. Perkataannya di tujukan ke arah wanita yang barusan mencoba mengambil ciumannya. Wajah wanita itu ikut berubah ke warna tomat.
“E-emma.”
Setelah mendengar kata yang keluar dari mulutnya Ia kembali berdiri dan mengangkat benda berbentuk salib yang Ia pegang dengan tangan kirinya. Suasana menjadi tegang kembali. Perlahan tangan kanan Azala menyentuh salib tersebut dan menarik tali yang mengikat kain yang membuat salib tersebut berwarna hitam. Saat tali lepas dan menyentuh lantai, tangan kanannya menarik kain berwarna hitam itu.
“Si-sialan! Siapa kau sebenarnya!?” Teriak salah seorang dari mereka.
Keterkejutan mereka terlukis jelas di wajah mereka saat mengetahui wujud asli dari benda yang sedari tadi berada di tangan kiri Azala. Benda itu sangat mudah dikenali di negara manapun itu, bahkan seorang anak kecil akan langsung tau dan mengenali benda tersebut. Sebuah benda yang menyerupai salib saat tertutup dan membuat orang orang kebingungan atau bahkan bisa membuat orang orang ketakutan dan juga terkagum kagum saat nampak.
Benda itu terlihat menawan di bawah hantaman cahaya rembulan. Benar, benda yang saat ini Azala pegang adalah sebuah pedang. Sebuah pedang khas kerajan Inggris dengan dua mata pisau yang berwarna abu abu keputihan berlukis unsur sebuah pohon di salah satu sisi besi tersebut. Warna emas yang menambah kemewahan dan pegangan berwarna cokelat menambah kesan kuat layaknya pedang asli seorang pangeran.
Ia mencabut pedangnya, memisahkan benda tersebut dari tempatnya bersembunyi. Dengan kuat Azala mengayunkan pedang itu menggunakan tangan kanannya. Hal itu sudah cukup untuk menaruh kesan yang kuat ke arah mereka tentang seberapa hebatnya Ia dalam seni bela diri yang menggunakan pedang sebagai senjata utamanya.
Tentunya yang barusan sudah Ia rencanakan semenjak melihat banyaknya orang yang berkumpul. Dan sejauh yang Ia lihat di ruangan yang tidak terlalu besar namun cukup luas ini Ia tidak melihat satu pun senjata api. Hanya ada dua meja disini, itupun meja bundar tanpa laci.
“Akan aku jelaskan tentang kalimatku sebelumnya.” Ucap Azala.
Ia sengaja mengandaskan kepalanya saat berbicara.
“Aku akan melampiaskan seluruh nafsuku saat ini.”
“Tentu saja maksutnya adalah akan kubunuh kalian semua karena hal yang kalian lakukan barusan.”
Pupil, atau bahkan matanya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Merah matanya bersinar terang mewarnai wajahnya, membuatnya terlihat benar benar berbeda. Walaupun tidak dapat di rasakan, namun hanya dengan mendengar nada bicara dan juga melihat tatapan matanya membuat kaki orang orang di sana gemetar.
“Tadinya itulah yang kupikirkan.”
Nada bicaranya kembali normal walaupun tidak terlihat berbeda dengan nada bicaranya yang sebelumnya. Pria yang sedari tadi duduk di paling belakang mengamatinya dengan tajam. Tatapan matanya sampai kepada Azala. Hanya dengan itu Azala tau bahwa pria itu adalah pemimpin kelompok ini.
Tangan kanannya menyarungkan kembali pedang yang Ia pamerkan. Dengan perlahan memasukkannya hingga hanya tersisa bagian yang di gunakan untuk mengayunkannya.
“Duduk bersama kalian beberapa menit barusan membuatku berubah pikiran. Aku ingin mengajukan pertarungan adil satu lawan satu. Yang terkuat majulah, jika aku menang maka akan ku jebloskan kalian ke penjara. Jika aku kalah maka..”
Belum selesai Ia berbicara, Azala mengambil benda berbentuk kotak yang berada di saku celananya. Ia melempar benda tersebut. Salah satu dari mereka menangkap benda yang Ia lempar, sebuah dompet. Saat di buka, yah bisa di tebak, tepat sekali, tidak ada isinya. Ia membuat orang orang di hadapannya makin geram karena merasa di rendahkan. Pria yang membawa dompet Azala barusan membuangnya ke belakang dan maju menarik kerah bajunya.
Sikapnya masih tenang. Bahkan kedua matanya tertutup seakan percaya bahwa tidak akan ada bahaya yang akan datang menghampirinya. Emma memungut dompet Azala yang tergeletak. Ia terkejut hingga terjatuh, membuat suasana di sekitarnya menjadi sunyi.
“Tidak mungkin, kau pasti bercanda.” Kata Emma tidak percaya.
“E-emma! Apa yang kau lihat? Apa yang terjadi?” Tanya gadis lainnya.
Tatapannya terbang entah kemana. Tangannya yang sedari tadi tidak henti henti menaruh rokok di mulutnya mendadak membatu menjadi patok yang menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh. Sudah cukup baginya untuk kaget hingga terlempar dalam posisi duduk.
“Jika Ia kalah.. jika Azala kalah..” Suara Emma tersendat sendat.
“Kita bisa bangun gedung kita sendiri.”
Perkatannya barusan membuat seluruh orang yang berada di ruangan itu ikut membatu, tidak terkecuali pimpinan mereka. Membangun gedung sendiri, memangnya butuh berapa banyak uang. Tentu saja membutuhkan banyak sekali uang, yang artinya terdapat sebuah harta karun di dalam dompet Azala.
“Tidak, kita bahkan bisa membangun kerajaan kita sendiri dengan uang ini.”
Emma merevisi kalimatnya.
“A-apa?? Kerajaan??”
Hampir semua dari mereka ternganga tidak percaya tentang kalimat yang barusan Emma perbaiki. Salah satu lelaki yang menarik kerah Azala pasrah dan melepaskannya.
“Bagaimana? Bukan tawaran yang buruk bukan?”
Mereka menyetujui persyaratan yang Azala lemparkan kepada mereka. Tidak tanggung tanggung, pemimpin mereka langsung maju menghadapi Azala. Yah, tentu saja Ia sudah menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi. Ia mencoba menilai kemampuan lawannya.
Tubuh yang lebih besar, juga lebih berisi. Perawakan yang tenang, membuatnya menarik kesimpulan bahwa Ia juga bisa berifikir pada saat saat tertentu. Pria itu melempar senyum kepadanya. Azala tidak tersenyum, Ia hanya menatapnya dengan sayu.
“Senyum barusan, apakah dia sudah merencanakan sesuatu, atau memang dia percaya diri tentang kemampuannya.” Gumam Azala.
Bagaimanapun hal seperti ini adalah hal yang seharusnya mudah untuk Azala. Walaupun bukan keahliannya namun seharusnya menjadi hal yang mudah bagi dirinya. Melihat lelaki yang berdiri di hadapannya saat ini membuat Azala mengingat kembarannya Azaiko. Mereka berdua memiliki sifat yang sama namun memiliki sikap yang jauh berkebalikan. Tentu saja mereka memiliki keahlian mereka masing masing.
Azaiko adalah orang yang bisa di andalkan dalam hal pertarungan jarak dekat. Sejak berumur lima tahun hingga saat ini, Azala bahkan belum pernah menang sekali melawan kembarannya. Namun begitu, Azaiko selalu meminta Azala untuk menemaninya berlatih sehingga Azala juga seharusnya kuat dalam pertarungan jarak dekat. Tidak ada yang perlu di takutkan. Mereka berdua sudah mengalami kejadian hidup dan mati setiap saat. Hasilnya seharusnya mereka sudah lebih kuat dari pada yang lalu.
Malam yang sunyi menjadi sedikit berisik karena teriakan orang orang di dalam gedung ini. Bulan yang indah memancarkan cahanya ke seluruh bagian ruang ini, namun lampu pijar di ruangan ini menodai cahaya yang rembulan tersebut berikan. Malam itu, pertarungan mereka terbuka dengan hasil yang sudah dapat di pastikan.