Life Proposal

Life Proposal
Tas dan Sepasang Anting



Pelajaran kembali di lanjutkan setelah waktu istirahat pertama selesai. Awlanya memang nampak tidak ada yang istimewa, setelah beberapa saat empat orang berpakaian Student Council memasuki ruang kelas Azala, Azaiko dan juga Rose. Salah satu dari mereka berbisik ke guru yang sedang mengajar. Lalu guru itupun mengangguk.


Guru tersebut merapikan kembali bawaannya dan berkata kepada seisi kelas. Bahwa materi kali ini cukup sampai disini dan selanjutnya akan di ambil alih oleh kakak kelas SC. Beberapa orang bertanya tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa orang cukup bersemangat atas kedatangan kakak kelas berpakaian SC tersebut. Mereka berfikir bahwa senior itu kemari untuk mengumumkan pendaftaran Student Council, walaupun pikiran itu sebenarnya juga tidak salah.


“Mohon maaf atas ketidaknyamanannya teman teman semua. Kami kesini karena ada sesuatu yang ingin kami sampaikan.” Ujar salah satu kakak kelas tersebut dengan suara lantang.


“Setelah ini silahkan tolong tinggalkan semua barang bawaan kalian di dalam kelas dan keluar dengan rapi.” Lanjutnya.


Azala mengangguk, kurang lebih Ia tau tentang apa yang akan terjadi. Azala dan yang lainnya, semua orang yang berada dalam kelas ini secara rapi berbaris keluar kelas. Ada dua orang kakak kelas lainnya yang berdiri tepat di samping pintu. Tepat sebelum meninggalkan kelas, dua orang senior yang berdiri di depan pintu memastikan untuk yang terakhir kalinya bahwa kami tidak membawa apa apa ke luar.


Suasana di luar sedikit ramai, beberapa teman sekelas Azala mendekat menuju kaca jendela kelas untuk melihat penggledahan tas yang di lakukan oleh empat orang perwakilan SC. Beberapa dari mereka ada yang mengeluh karena realitanya berbeda jauh dengan apa yang mereka ekspektasikan.


Azaiko dan Rose mendekat kepada Azala. Mereka tidak banyak bicara, hanya memperhatikan apa yang sekarang sedang terjadi. Dari belakang, tangan yang putih dan juga halus menepuk nepuk pundak Azala. Azala menoleh secara reflek, ternyata itu adalah senior Karin. Ia melambai ke arah mereka bertiga sembari tersenyum.


Mereka bertiga sedikit terkejut. Senior Karin nampak sangat cantik ketika sedang tersenyum. Rose mendekat kepada senior karin dan bertanya tentang kabarnya. Kakak kelas berambut hitam pekat nan panjang tersebut mengangguk memberi tanda bahwa Ia baik baik saja.


Seketika mata seluruh siswa kelas menuju ke arah mereka berempat. Ada berbagai ekspresi yang terpancar dari wajah mereka, ada yang tersipu melihat kecantikan senior dan ada juga yang heran melihat ke akraban mereka.


Azala dan Azaiko cukup senang mendengar kabar kakak kelas yang mereka kenal baik baik saja. Mungkin belum ada beberapa menit mereka berempat mengobrol, dari belakang terdengar suara yang memanggil senior Karin.


“Karin, bagaimana keadaannya?”


Azala sempat mengingat suara barusan. Namun belum sempat Ia mengingatnya, batang hidung lelaki tersebut sudah tertangkap lebih dulu oleh kedua matanya.


“Aah, ketua.” Sebut kakak kelas perempuan itu.


Kehadirannya membuat teman teman kelas Azala terdiam mematung. Di sampingnya Azaiko dan Rose memandangi mereka berdua secara serius. Terdapat percikan api di mata ketua yang ia tujukan ke arah Azala. Azala mencoba untuk tidak membalas tatapan tersebut. Ia lebih memilih membungkuk dan meminta maaf kembali atas kejadian yang lalu.


Sontak hal tersebut membuat Azaiko dan juga Rose semakin bingung. Teman teman di sekitarnya hanya sanggup melihat, namun tidak mendengarkan. Ketua tersebut menyuruh Azala untuk bersikap santai dan juga memberi sinyal kepada seluruh teman sekelasnya untuk tidak menghiraukan kehadirannya.


Ia melempar pertanyaan.


“Jadi, dia adalah saudara yang kau sebut waktu itu?” Tanyanya.


Azala mengangguk mengiyakan, Azaiko mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya. Ia nampak sangat kebingungan. Azaiko juga melempar pertanyaan ke arah Azala, apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lelaki berambut merah tersebut tanpa sengaja mendengar pertanyaan Azaiko dan mencoba menjelaskannya.


Bahwa beberapa hari yang lalu Azala menghajarnya tanpa alasan yang jelas. Azala terperangah, Ia mengklarifikasi hal tersebut, bahwa sebenarnya Ia hanya melakukan perlindungan kepada dirinya sendiri karena tiba tiba ada seseorang yang menarik kerah lehernya dengan kuat. Azaiko sedikit tidak percaya. Ketua tersebut melanjutkan percakapannya, bahwa Azala terlihat hebat karena bisa membuatnya tidak sanggup berdiri dengan benar waktu itu.


Rose dan juga Azaiko kembali terkejut. Mereka berdua tidak menyangka bahwa Azala yang selama ini selalu terlihat cuek dan pendiam saat di sekolah telah melakukan hal tidak sopan seperti itu kepada ketua Student Council. Terlebih lagi reaksinya yang tidak bisa menolak saat di interogasi oleh Azaiko dan juga Rose membuat tawa kak Karin pecah.


“Wah.., ketua, apa yang sedang kau lakukan disini?”


Tanya salah satu pengurus SC yang sedang melakukan pengecekan.


Ketua tersebut dengan kalem sedikit menundukkan kepala dan berkata bahwa tidak ada suatu hal yang khusus yang membuat dirinya ke sini. Ia hanya mencoba untuk melihat secara langsung salah satu proses pengecekan tas yang sedang di lakukan oleh pengurus Student Council. Terkadang menjadi seorang ketua pun selain Ia harus mengurusi berbagai dokumen, Ia juga harus ikut terjun melihat kegiatan progam kerjanya secara langsung.


Setelah mengakhiri percakapannya Ia sedikit mampir ke arah Azala, Azaiko dan Rose. Dengan nada yang rendah seolah tidak ingin ada yang tau, Ia berkata.


“Aku Zein, senang berkenalan dengan kalian.”


“Aku mengharapkan sesuatu dari kalimatmu waktu itu Azala.” Lanjutnya.


Kalimat terkahir membuat Azaiko dan Rose sama terkejutnya seperti sebelumnya. Ketua Zein pergi meninggalkan mereka bertiga. Kak Karin pun mengikutinya dari belakang sambil melambaikan tangan. Setelah mereka berdua cukup jauh, salah seorang SC yang tadi mampir bersuara dengan lantang.


Pemeriksaannya sudah selesai, semua murid telah di persilahkan kembali masuk ke kelas mereka. Saat semuanya sudah masuk, kakak kelas tersebut menjelaskan tujuan di balik mereka melakukan hal tersebut. Mereka menjelaskan bahwa akhir akhir ini banyak sekali laporan dari anak kelas X bahwasannya beberapa dari mereka merasa di jahili.


Ia menyambung kalimatnya bahwa mereka sedang berusaha untuk menghentikan tindakan yang membuat para siswa merasa tidak nyaman. Hasilnya kelas ini bersih, tidak ada satupun dari kelas ini yang masuk daftar orang yang di curigai telah menjahili kelas X lainnya. Di akhir kalimat Ia menambahkan, jika ada seseorang yang sudah menemukan pelakunya, orang tersebut di minta untuk melapor ke ruangan Student Council.


Keempat kakak kelas tersebut keluar. Pintu kelas tertutup kembali, suasana sedikit ramai karena tidak ada pelajaran. Beberapa suara terdengar di telinga, mengeluh karena Student Council tidak seperti yang mereka bayangkan. Mereka menganggap kinerja mereka kurang becus karena tidak dapat menangani masalah sepele seperti saat ini.


Azaiko dengan ceria masuk menuju kerumunan tersebut dan ikut terlarut dalam pembicaraan.


Dua jam telah berlalu sejak bel pulang berbunyi. Di tempat yang letaknya berkilo-kilometer dari sekolah ini. Tuan Putri Reona keluar dari gerbang sekolahnya bersama dengan sahabat sahabatnya. Mereka terlihat nampak lesu setelah bersekolah hari ini. Untuk menghilangkan rasa lesu, mereka mencoba mampir ke taman hiburan yang saat ini sedang buka.


Ada banyak pengunjung yang berlalu lalang disana. Namun tidak ada satupun pengunjung yang menyadari bahwa putri negara mereka saat ini sedang melepaskan penat tubuhnya di sana. Salah satu sahabatnya pun menyadari kejanggalan tersebut, mengapa hampir tidak ada yang tau bahwa seorang putri negara berada di sini.


Reona enggan menjawab. Ia berekspresi seakan itu adalah rahasia. Teman temannya pun menggerutu karena ekspresi yang di buat oleh putri Reona. Namun setelahnya mereka tertawa terbahak bahak seolah ada hal lucu terjadi tepat di hadapan mereka.


Putri Reona dan sahabat sahabatnya melanjutkan petualangan masa muda mereka di taman hiburan ini. Mereka banyak menjajal berbagai makanan yang di jual di taman itu. Selain itu mereka juga mencoba untuk merasakan satu persatu permainan yang terlihat menarik dan mudah untuk di coba, seperti salah satunya adalah rumah hantu.


Setelah menjajal rumah hantu atau lebih tepatnya saat mereka berempat berjalan entah kemana sambil memegang kebab di tangan mereka, salah satu sahabatnya berkata.


“Anting yang kau pakai itu indah ya Reona.”


Putri Reona sedikit tertahan lalu melepas senyum. Ia benar benar senang ada yang memuji anting yang Ia pakai. Temannya yang lain pun ikut memuji, namun berakhir saat salah satu dari mereka, gadis yang menggenakan kacamata bertanya. Kenapa tuan putri Reona hanya menggenakan satu anting saja, Ia bertanya kepadanya dimana pasangan anting yang satunya.


Reona juga sedikit bingung, wajahnya nampak berfikir. Ia akhirnya menyerah dan tertawa. Ia tidak tau, jawabnya. Ia juga lupa siapa yang memberi anting ini. Seingatnya Ia selalu memakai anting ini sejak berusia lima tahun. Dan juga, Ia sadar bahwa hanya ada satu lubang di daun telinga, yaitu di telinga kirinya. Itu membuatnya berfikir bahwa anting yang Ia gunakan memang tidak ada pasangannya.


Hanya saja, yang Ia ingat adalah kebahagian dan juga kesedihan saat mengenakan anting ini. Ia bercerita kepada teman temannya. Pernah suatu saat Ia bahagia sembari memandangi dirinya sendiri menggunakan anting ini di depan cermin, namun tiba tiba saja air mata mengalir dari kedua matanya dan membuatnya bingung dan menangis. Bahkan wajah yang Ia pancarkan saat bercerita kali ini pun memancarkan kesedihan yang terlihat amat mendalam.


Bagi Reona anting biru yang menyatu di daun terlinga kirinya ini adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini, walaupun Ia sama sekali tidak tau alasan kenapa anting itu bisa sangat berarti baginya. Teman teman di sampingnya ikut memasang raut simpati, mereka mendekap satu sama lain. Reona berterimakasih atas apa yang mereka lakukan untuknya. Mungkin sedikit egois bagi dirinya karena membuat teman temannya menanggung derita yang Ia bahkan tidak tau sebabnya.


Keempatnya berakhir duduk di sebuah bangku taman yang kosong. Reona dan kawan kawannya terlihat sangat menikmati waktu mereka sore hari ini. Selang beberapa menit salah satu dari mereka berdiri dan menawarkan diri untuk membeli minuman. Seseorang yang lainnya ikut berdiri dan hanyut dalam keramaian menemani sahabatnya membeli sebuah minuman untuk mereka berempat. Gadis yang saat ini berada di samping Reona pun mengambil kesempatan tersebut untuk pergi ke kamar mandi, meninggalkan dirinya seorang diri.


Reona hanya terdiam, Ia mencoba untuk menikmati suara kerumunan di sekitarnya. Istananya adalah tempat yang senyap di mana dirinya bisa menemukan ketenangan. Namun ia sadar, dirinya menjadi jauh lebih tenang saat melihat dan mendengar kebahagiaan rakyatnya dari dekat.


Saat memejamkan mata, tubuhnya merasakan hawa keberadaan orang lain di sampingnya. Seorang pria duduk di bangku yang sama dengannya. Ia juga sedikit terkejut atas kehadiran pria tersebut. Ia mencoba untuk tidak menghiraukan, namun demi apapun itu Ia tetap penasaran dengan sosok yang sedang membawa Es Krim dan duduk tepat di sampingnya.


Ia tidak terlihat berbahaya bagi Reona, hanya saja matanya yang sayu membuatnya sedikit misterius. Rambutnya panjang berwarna hitam bergaya Long Middle Part membuat wajah dan kedua mata merahnya terlihat. Ia tampan, pikir Reona. Setelah menyadari perkataan yang hatinya utarakan Ia segera melempar pandangan ke arah lainnya. Pria yang sedang sibuk makan es krim di sampingnya menoleh ke arah Reona tepat di saat Reona membuang mukanya.


Lalu pria di sampingnya tadi berdiri dan bergerak melangkahkan kakinya ke tempat lain. Reona kembali melihatnya, sinar matahari senja memantulkan cahaya kecil dari telinganya. Matanya membeliak seketika. Tubuhnya tanpa sadar berdiri untuk meraih spot tertinggi dan mencari laki laki barusan. Kakinya melangkah, semakin cepat dan semakin cepat. Jantung dan otaknya menunjukkan ketertarikan yang kuat. Ia berfikir bahwa Ia pasti tidak salah lihat jika orang tersebut menggenakan anting yang sama dengannya.


Tangannya meraih pundak orang tersebut dan menariknya.


“Ada apa?” Reaksi lelaki yang Ia sentuh dan tarik pundaknya kebingungan.


Ia masih terengah engah. Reona meminta maaf kepada orang yang telah Ia repotkan. Reona pun akhirnya meninggalkan orang tersebut, dalam dirinya Ia berfikir keras, membenarkan dirinya sendiri bahwa Ia tidak mungkin salah lihat. Ia melihat anting yang sama seperti yang Ia pakai. Namun yang ia temukan di sana adalah sesuatu yang bukan anting, melainkan earphone bluetooth yang terpasang di telinga kanan. Ia sedikit malu, jengkel dan juga kesal.


Orang yang barusan Reona kejar memandanginya, sampai seseorang yang benar benar mirip dengannya datang.


“Wahh, Azala. Tadi itu benar benar nekat. Kau hampir menunjukkan bayangan kepada pemiliknya.” Ucap Azaiko.


“Akupun sama bingungnya dengan dirinya, jadi aku coba untuk memastikannya.” Jelas Azala.


Azala tersenyum, seakan keraguannya terhadap benda yang Ia temukan kembali di laci meja kamarnya terjawab. Tidak hanya menjawab pertanyaan mengapa Ia menyimpan benda itu, namun juga menjawab pertanyaan lainnya.


Dari tempat yang berbeda, Azala masih memperhatikan putrinya dari jauh. Azaiko meninggalkan dirinya untuk mengambil paket yang dikirim oleh polisi. Tanpa sadar satu per satu lampu di taman hiburan ini menyala. Sang surya mulai turun dari tahtanya yang di gantikan oleh rembulan. Suasana yang Reona dan teman temannya keluarkan terasa hingga ke tempat Azala dan Azaiko berdiam mengamati.


“Azala, bukankah kita ini seperti penguntit?” Tanyanya dengan nada bosan.


Azala memandangnya dengan tawa. Ia membenarkan pertanyaannya. Mereka berdua memang terlihat seperti seorang penguntit sepuluh tahun belakangan ini.


“Aku pun juga lebih ingin bermain bersama dengan teman teman kita di banding hanya dengan bersamamu mengawasi putri Reona.” Terang Azaiko.


Wajahnya tidak seceria biasanya. Ia juga paham bahwa Azaiko iri dengan kehidupan orang lain. Bahkan Azalapun yang selalu bersikap cuek selain di hadapan Azaiko juga merasa cemburu karena tidak bisa merasakan kehidupan yang normal. Ia berdiri, dengan menggenggam sebuah besi panjang yang tertutup kain hitam Azaiko pergi meninggalkan Azala.


Melihat tingkah kembarnya seperti itu, Azala menjadi sedikit khawatir. Ia tidak bisa berbuat banyak tentang hal ini, yang Ia bisa hanyalah menghembuskan nafas panjang setiap kali kejadian seperti ini terjadi. Entah sudah berapa kali mereka harus menanggalkan emosi mereka untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada negara ini, kerajaan Inggris ini.


Bagi Azaiko Ia tidak sesemangat Azala karena Azala memiliki satu hal yang tidak Ia miliki. Azaiko memutar kepalanya, memandang Azala dari jauh. Ia merengut dan berkata dalam hati. Dilihat dari manapun, Azala memang mencintai putri Reona. Sebenarnya Ia juga tidak membenci Reona, Ia juga tidak mencintai Reona. Hanya saja perasaan yang Ia berikan berbeda dengan Azala. Ia menganggap tuan putri Reona sebagai seorang yang Ia harus lindungi walaupun harus mengorbankan jiwa dan raganya, namun tidak terhadap perasaannya. Kurang lebih itulah yang selama ini bersandar dalam dada Azaiko.