Life Proposal

Life Proposal
Pelampiasan Nafsu



Suasana petang ini amat tenang, hembusan angin perlahan merebak merasuk melalui pori pori kulit. Saat itu juga Azaiko bersin, angin sepoi sepoi yang berhembus mungkin masuk terlalu dalam ke tubuh Azaiko, membuat bulu keduknya terangsang dan membuat kedua tangannya mendekap tubuhnya sendiri dengan erat.


Kedua mata sayu milik Azala masih menatap Reona yang berada jauh di bawah sana. Dari ketinggian salah satu atap gedung di luar taman hiburan, Ia bisa melihat beberapa pemandangan lain sekaligus. Namun Azala sama sekali tidak tertarik untuk mengganti pengamatannya. Jarak yang memisahkan mereka membuat pandangan di bawah sana menjadi sedikit kabur.


Suasana yang makin gelap menyebabkan jumlah orang yang masih berada di taman hiburan makin meningkat. Karena keramaian sempat beberapa kali Reona hilang dari pandangan Azala. Melihat Azala kebingungan seperti itu, Azaiko berinisiatif mendekatinya. Paham akan kondisi mereka saat ini, Azaiko langsung meletakkan dan membuka paket hitam panjang yang di berikan oleh polisi.


Ia meletakkannya tepat di sisi gedung. Posisi tubuhnya di biarkan tengkurap sembari menempelkan mata kanannya ke arah scope. Setelah tangan kirinya selesai mengatur hal hal yang perlu di persiapkan lebih dahulu pada Hecate II yang ia pegang. Azaiko mulai mencari posisi Reona dari atas gedung lantai tiga menggunakan snipernya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Ia langsung berhasil menemukan putri Reona. Di tempat yang sama seperti yang di infokan Azaiko barusan, putri Reona dan ketiga temannya tertawa setelah turun dari permainan yang barusan mereka jajal.


Saat melihat jam tangannya, salah satu temannya sedikit terkejut. Mereka sudah terlalu lama bermain di taman hiburan. Dalam lautan manusia mereka berempat memutuskan untuk mengakhiri bermain mereka dan sepakat untuk pulang ke rumah mereka masing masing. Tidak jauh dari tempat mereka terakhir berdiri, salah seorang dari mereka menabrak seorang lelaki yang berada di keramaian.


“Ma-maaf. Aku tidak sengaja.” Ucap salah satu teman Reona ke arah orang yang Ia tabrak.


“Woi woi, sepertinya terjadi sesuatu di bawah sana Azala.” Ucap Azaiko yang menyaksikan kejadia barusan lewat senjatanya.


“Tch, bagaimana ini? Apa kalian mau bertanggung jawab karena telah menabrakku barusan?”


Lelaki yang Ia tabrak nampak tidak suka. Beberapa lelaki lain di belakangnya pun ikut mendekat.


Tiing!! Alarm peringatan serasa menggema di kepala Azala


“Azaiko kau tetap di sini.”


Setelah mengatakan itu tepat di sampingnya, Azala melompat. Ya, dia benar benar lompat dari gedung lantai tiga tepat di samping kembarannya.


“Woii Bego!!!”


Jeritannya menggapai Azala, Ia segera menoleh ke arah atas. Tangannya memanjang menggapai pagar tembok di lantai dua. Membuat tubuhnya terbanting ke arah tembok dan terhenti, menempel layaknya serangga di tembok. Buru buru Ia kembali melompat ke lantai satu, mobil di bawahnya mengeluarkan bunyi yang tidak berhenti setelah Ia jadikan tempat mendarat.


Azala menghiraukan sambil mengepalkan tangan ke atas. Azaiko yang melihatnya membuka lebar mulutnya.


“BODOHHH!!!”


Ia menghela napas, memukul kepalanya sendiri setelah apa yang Azala lakukan. Salah satu tangannya merogoh kantong belakang celananya. Meraih sesuatu. Mengganti posisinya dari tengkurap menjadi berbaring. Pupil matanya memutih, dalam hati Ia tak henti henti mengutuk tindakan Azala.


“Sialan, lagi lagi dia menguras dompetku.”


Di sisi Reona, mereka berempat masih berunding dengan para pria yang tidak sengaja temannya tabrak.


“Begini saja nona, kami bukanlah pria brengsek. Oleh karena itu tolong berikan apa yang kalian punya.”


“Bukan pria brengsek? Memeras kami secara terang terangan begini. Jelas jelas mereka brengsek.” Begitulah kata hati Reona.


Salah satu dari mereka mendekat ke salah satu teman Reona. Menarik tas yang di gendongnya. Tempat ini terlalu ramai, seharusnya terlalu ramai untuk melakukan pemerasan. Namun itu berbeda jika para pria menutup keramaian dengan melingkari mereka.


“Begini saja nona muda, kami tidak ingin menarik perhatian. Karena itu ikutlah dengan kami sebentar.”


Tangannya melingkar di pundak Teman Reona. Rasa takut semakin menguasai mereka berempat. Tanpa sadar mereka bergerak berjalan ke arah yang sama dengan pria pria tersebut. Beberapa orang bermuka masam dan terang terangan mencaci Azala setelah Azala berlari menabrak mereka.


Di tengah tengah kerumunan membawa benda panjang berkain Hitam, Azala menoleh ke sana kemari mencari Reona. Gigi atas dan bawahnya bergetar. Kedua matanya menajam.


“REONA!”


Teriaknya tanpa ragu. Membuat orang orang di sekitarnya berhenti dan menoleh. Mempermudah Azala untuk melanjutkan pencariaannya. Tidak ketemu. Tuan putri sudah tidak berada disana. Azala terlalu terlambat. Pengunjung di sekitarnya kebingungan. Mendengar nama Reona, mereka berfikir apakah Reona putri kerajaan Inggris sedang ada di sini.


Azala memaksakan kembali langkah kakinya. Karena tergesa gesa Ia melupakan HT yang seharusnya Ia bawa. Dengan begitu, komunikasi saudara kembar ini terputus. Brukk. Azaiko memukul keras keras lantai yang menjadi tempatnya tengkurap. Tidak percaya bahwa orang seperti Azala malah melupakan barang yang harus Ia bawa.


Di dalam sebuah gedung yang gelap. Bau debu tercium oleh Reona dan kawan kawannya. Beberapa kelelawar menggantung dan beterbangan. Menandakan gedung ini sudah tidak lama di pakai. Semakin dalam mereka masuk, semakin jelas terdapat cahaya di dalam.


Reona dan teman temannya mematung seketika. Tempat yang Ia benar benar tidak inginkan untuk di ketahui saat ini tepat berada di hadapannya. Salah satu temannya terjatuh sambil menutup hidungnya. Yang lain juga berusaha cepat cepat menutup hidungnya, seakan tidak ingin mencium bau dari tempat ini.


Saat ini, tepat di hadapannya, banyak pria yang sedang terlihat bermain kartu, meminum minuman keras, dan juga beberapa dari mereka melinting kertas dan menghirup sesuatu seperti serbuk. Tidak hanya pria, ada dua wanita yang bergabung di sana. Reona tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Ia berusaha untuk mengajak teman temannya keluar.


Namun Ia tidak bisa. Ia tidak memiliki kekuatan untuk lepas dari cengkraman pria yang menahan tangannya. Pada akhirnya usahanya malah balik mengkhianatinya. Membuatnya terjatuh. Orang orang yang berada dalam ruangan yang sama mulai memperhatikan kedatangan mereka. Reona masih berusaha keras untuk menjauh dari pria yang mencoba untuk menggenggam tangannya.


“Lepaskan! Jangan sentuh aku!!” Jeritnya sembari meronta.


“Hei hei, bersikaplah dengan lembut nona, kami juga akan melakukannya dengan lembut.”


Dengan wajah berapi tercampur gelisah, Ia mundur ke arah teman temannya, saling mendekap satu sama lain. Orang orang yang berada di dekat mereka membaur ke dalam yang lainnya. Mereka sangat tau bahwa saat ini mereka bisa saja lari keluar, karena di belakang mereka kini tidak ada siapapun. Namun, kaki mereka terlalu gemetar bahkan hanya untuk bergerak.


“Jadi siapa di antara kalian yang mau bertanggung jawab?” Tanya salah satu pria.


Salah seorang wanita mendekati mereka.


“Tenang saja, mungkin akan terasa sakit. Namun itu akan berakhir pada kenikmatan.”


Setelah mendengar perkataan wanita barusan, para pria yang berada di belakangnya menyeringai. Keempat gadis tersebut makin erat mendekap satu sama lain. Beberapa dari mereka memejamkan mata sedalam dalamnya. Sisanya dengan tatapan penuh putus asa tidak henti hentinya menangis, membuat raut wajah yang amat ketakutan. Di tambah suasana malam yang hanya terdapat satu lampu pejar di ruangan ini membuat suasana makin rusak.


Dalam ketakutan yang semakin menenggelamkan mereka. Rasa putus asa yang makin meralajarela. Kebingungan yang tanpa henti berputar di kepala mereka. Pyarrr!!! suara jendela yang berada di sisi gedung lantai dua ini pecah secara tiba tiba. Secara tiba tiba pula seseorang hadir tepat di hadapan mereka. Punggung orang itu berdiri tegak bagai tembok perisai.


Reona yang dalam ketakutan membuka matanya. Tubuhnya makin bergetar tak henti. Makin takut dan makin takut. Ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berada di depannya saat ini. Cahayanya terlalu redup. Beberapa bagian dari tubuhnya tertutup bayangan. Ia tidak bisa melihat apa apa. Namun, mata merah orang itu yang berapi api Jelas jelas sedang menatap Reona. Membuat tubuh gadis berambut pirang jagung itu tidak mampu lagi bergerak.


Orang itu memegang benda aneh berbalut kain hitam di tangan kirinya. Dengan nafas yang sangat tak teratur Reona memperhatikan lebih detil lagi. Benda berkain hitam yang Ia pegang, salib. Benda tersebut berbentuk salib.


“Siapa?” Pikirnya.


“Pastur? Tidak! Lagipula untuk apa datang ke pastur di tempat seperti ini?” Gumamnya.


Sontak kehadiran pria misterius tersebut membuat orang orang di tempat tersebut guncang. Salah seorang dari mereka mendekati pria yang sedang memegang salib tersebut dan berkata.


“Siapa cecunguk ini ha!? Main masuk ke tempat kami.”


Ia mendekatkan wajahnya ke pria tersebut. Sedikit menoleh ke bawah dengan tampang beringas, karena dirinya lebih tinggi dari orang yang tiba tiba datang tersebut.


Tatapan yang sedari tadi tertuju ke belakang, perlahan menghadap ke arah lawan bicaranya. Tangan kirinya bergerak. Sangat cepat, membenturkan ujung salib tersebut ke dagu pria yang lebih tinggi darinya.


Tidak sempat menahan serangannya, refleknya yang begitu terlambat membuat pria tersebut tersungkur ke tanah.


“Larilah.” Pintanya pelan.


“He?” Reona sedikit tidak mendengarkan dan bertanya ulang.


“Larilah!” .


Suaranya meninggi, mengembalikan kesadaran ketiga temannya. Dengan buru buru mengutip tas mereka yang berada tidak jauh dari mereka. Tanpa pikir panjang keempat gadis itu berlari ke pintu di belakang mereka meninggalkan laki laki misterius itu sendiri. Suasananya makin menjadi jadi. Dua orang pria mencoba untuk menangkap kembali Reona dan yang lainnya.


Kaki kanan lelaki yang membawa salib tersebut mundur selangkah, membentuk posisi kuda kuda yang terlihat kokoh. Sedangkan tangan kirinya dengan cepat mengayunkan salib yang Ia bawa. Tepat mengenai bagian perut orang yang berada di posisi kanan. Lalu menarik kembali dengan cepat, membuat ujung salib yang satunya menghantam perut pria yang berada di posisi kiri di hadapannya.


“Hoho, kita kedatangan pahlawan di sini.” Ucap salah seorang dari mereka.


Azala mencoba untuk menemukan sumber suara tersebut. Membuatnya kehilangan konsentrasi sekejap, dan membiarkan tiga orang lolos dari hadapannya. Mereka bertiga berlari mengejar Reona dan kawan kawannya yang masih tidak jauh. Sikap Azala masih terjaga, Ia tau akan sia sia saja jika Ia beralih dan mengejar tiga orang barusan.


“Lebih baik biar Azaiko yang urus.” Gumamnya.


Sumber suara tersebut muncul di hadapan Azala.


“Hoi bocah, siapa kau?” Tanya pria berpostur tegap di hadapannya.


Tidak ada respon. Azala tetap diam dan hanya memelototinya. Karena Ia tidak merespon perkataan orang barusan, itu membuat lawan bicara nya sedikit emosi.


“Sialan, apa kau tidak mau bicara?”


Azala menghela napas panjang.


“Justru Aku ingin bertanya.”


“Kalian, dapat dari mana obat obatan dan minuman keras di belakang kalian itu?”


Mereka melihat satu sama lain. Beberapa menggelengkan kepalanya dan tertawa. Tawa satu sama lain mereka memecah suasana hening.


“Ahahaha. Berisik. Bocah sepertimu tidak perlu tau hal hal dewasa.” Sahut pria di depannya.


“Benar, benar. Kau masih bocah, jadi tidak perlu memikirkan hal hal seperti itu. Ahh.., atau mungkin, kau mau kakak beri pengarahan supaya menjadi dewasa?” Sahut salah seorang wanita.


“Di lihat dari manapun, kau pasti teman mereka. Baiklah kalau begitu bagaimana jika kau saja yang bertanggung jawaba atas perbuatan mereka.”


“Tanggung jawab? Memangnya apa yang mereka lakukan hingga kalian menyuruh mereka bertanggung jawab.”


Seluruh orang di hadapannya mulai menatapinya dengan sinis. Azala kembali menyambung kalimatnya barusan. Ia melempar wajah dan berkata.


“Sesorang yang koar koar hanya karena kena senggol..”


Secara perlahan kepalanya menghadap ke arah lawan bicaranya. Tatapan sinis yang Ia berikan terkesan menantang.


“..bisakah di anggap sudah dewasa?” Tambahnya.


“Begitukah? Jadi begitu.” Jawab seorang yang terlihat seperti pemimpin kelompok mereka.


“Kami turut prihatin bocah. Kau tidak bisa bersekolah dan tidak menerima pendidikan dan sopan santun yang seharusnya ya. Kami turut prihatin.”


Tawa mereka kembali pecah. Kali ini dua kali lipat lebih keras. Azala tidak berkutip. Sayup matanya sayu, seperti tidak menghiraukan ejekan barusan. Lalu, satu per satu dari mereka mulai mencaci Azala dibarengi dengan tawa yang keras.


“Bocah, lebih baik kau bersekolah dan belajar dulu wahaha”


“Hoi itu tidak sopan, sudah jelas dia tidak bisa bersekolah karena tidak punya uang hahaha.” Sahut pria lainnya.


“Ahahahaha, bocah.. bocah.. daripada murung begitu lebih baik kau pulang saja sana.”


Tawa mereka perlahan berhenti. Lalu orang yang sedari tadi berada di hadapannya mendekat dan meletakkan tangannya di pundak Azala.


“Tidak perlu di tahan. Malam ini bergabunglah dengan kami.”


Satu persatu dari mereka mulai mendekati Azala dan mengitarinya. Azala tidak merasa terancam. Bahkan Ia membiarkan pertahanannya terbuka dan tidak memakai posisi kuda kuda seperti sebelumnya.


“Bocah, bukankah wajahmu cukup tampan. Matamu begitu indah, kakak akan mengajarimu supaya menjadi dewasa malam ini.” Ucap salah satu wanita tersebut.


Wanita yang satunya menggantungkan kedua tangannya di pundak Azala dan berkata.


“Hei, salib itu. Bukankah selama ini kau menjalani hari hari yang berat dengan menahan nafsumu? Tanggalkanlah saja semua disini dan bergabung bersama kami.”


“Benar bocah haha. Tubuh kakak ini memang tidak menggoda, kalo begitu bagaimana jika kau menggunakan tubuh gadis yang kabur barusan sebagai media pembelajaran? Hahah” Ucap salah seorang pria lainnya.


“Haa?? Dilihat dari manapun aku percaya diri dengan tubuhku.”


Percakapan mereka membosankan. Mungkin itulah yang berada di pikiran Azala. Kedua matanya melirik kesana kemari. Melewati tubuh tubuh pria dan wanita yang mengitarinya. Ia berfikir.


“Kasus seperti ini seharusnya menjadi tugas kepolisian. Yah, namun aku tidak akan bisa menelpon polisi dalam keadaan seperti ini.”


“Hmm, lagipula akan lebih cepat selesai jika aku yang menanganinya langsung.”


“Masalahnya aku tidak tau apakah ada senjata disini. Seperti senapan api contohnya.”


Namun tawa yang orang orang itu hasilkan cukup untuk membuat Azala kehilangan konsentrasi. Terlebih lagi saat ini ada dua gadis yang sangat senang menggoda tubuhnya.


“Baiklah, aku akan melampiaskan semua nafsuku disini.” Ucap Azala.