
Sekolah Swasta pinggiran kota London 2018
Setelah melalui masa masa berat, Azala meregangkan beberapa bagian tubuhnya. Azaiko berjalan seirama tepat di sampingnya. Sambil mencoba menghabiskan minumannya, Ia mencoba untuk mengawali pembicaraan. Cuaca siang ini cukup cerah, burung burung dengan kicauan mereka terbang kesana kemari hinggap dari pohon satu ke pepohonan lainnya.
Taman sekolah ini cukup luas, membuat sebagian besar murid menghabiskan waktu istirahatnya disini. Suara yang begitu lembut terdengar memanggil manggil mereka berdua. Jika tidak salah ingat Ia adalah salah satu teman sekelas kami.
Mahkota berwarna cokelat ke emasan miliknya lebat dan cukup panjang. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah. Tatapannya tajam, namun pita merah muda yang Ia kenakan menutupi hal tersebut dan membuatnya nampak sedikit manis, hanya sedikit. Ia menggenggam dua buah buku dengan tangan kiri yang Ia gantungkan di dada. Azmut Rose, tentu saja Azala dan Azaiko mengingat namanya. Walaupun salah satu dari mereka ada yang berlebihan dan satunya lagi kurang dalam bergaul, namun mereka ingat semua teman sekelas mereka.
“Azala, Azaiko, teman teman sekelas sedang mendiskusikan sesuatu dan mereka meminta kalian untuk kembali ke kelas.” Ujar Rose ketus.
“Okee.” Jawab Azaiko dengan penuh senyum.
Rose pergi meninggalkan Azala dan Azaiko. Azaiko tertawa ke arah Azala, membuatnya sedikit terganggu. Lalu mereka berdua berjalan kembali menuju kelas. Azala mendengarkan celotehan Azaiko tentang gadis barusan. Tepat sebelum memasuki gedung, Azala melihat seekor merpati betengger di salah satu batang pohon.
Ia menarik lengan Azaiko yang menghentikan langkah sekaligus ocehannya. Azaiko sedikit termangu, lalu membuntuti langkah Azala dari belakang. Merpati berwarna sedikit abu abu bertengger dengan seserpih kertas terbalut di salah satu kakinya. Azala meraih dan mengambil kertas tersebut.
Sandi angka tercantum dalam sesurat kecil kertas tersebut. Ekspresi wajah mereka terlihat sedikit mengerikan, dan tanpa sadar membuat merpati tersebut terbang.
“VIP.” Sebut Azaiko.
Sepulang sekolah mereka menuju lokasi yang tertulis dalam sandi tersebut. Sudah ada beberapa orang berpakaian tuxedo menunggu mereka disana. Salah satu dari mereka mengambil tas hitam panjang dari bagasi mobil dan memberikannya kepada Azala.
Yang lainnya mengambil dua buah HT dan memberikannya kepada Azaiko. Kira kira itulah yang terjadi sebelum Azala dan Azaiko bertemu dengan Reona. Apapun yang ada di dunia ini, tuan putri Reona adalah prioritas mereka. Itu juga yang mendasari ayah mereka menyekolahkan mereka di sekolah ini. Karena jadwalnya yang tidak padat dan fleksibel, lalu jam pulang yang dua jam lebih cepat dari kebanyakan sekolah menengah atas lainnya.
Di sebuah ruangan terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang. lima buah kursi terletak saling berhadap hadapan di kedua sisi yang berlawanan meja tersebut. Lalu terdapat satu kursi tambahan di salah satu sisi dan juga satu kursi lainnya yang terletak di ujung meja tersebut. Meja itu di beri nama Mesa Redonda. Meja ini terletak di dalam ruangan paling suci di sekolah ini, yaitu ruang SC atau Student Council.
Catatan: SC / Student Council: OSIS
Seusai pelajaran siang hari ini, student council akan mengadakan rapat yang dipimpin langsung oleh ketua mereka. Semenjak hari pertama sekolah hingga hari ketiga ini, ada beberapa laporan masuk dari murid kelas X. Mereka merasa terganggu karena secara tiba tiba ada benda yang terselip di tas mereka, dan ada juga yang kehilangan sesuatu dari tas mereka.
“Sudah berapa siswa yang melapor?” Tanya sosok laki laki yang duduk di paling pojok meja.
Dari posisi tempat duduk dan pesona yang memancar keluar dari tubuhnya. Siapa saja akan langsung menyadarinya bahwa Ia adalah pimpinan atau ketua Student Council sekolah ini.
“Setidaknya ada 10 siswa baik putra maupun putri yang melapor.” Jawab orang yang sedari tadi berdiri.
“Lalu, apakah sudah ada murid kelas X yang menemukan siapa pelakunya? Atau setidaknya menemukan clue untuk mengetahui siapa pelakunya?” Tanya ketua tersebut.
Tidak ada reaksi dari sepuluh orang anggota Student Council yang duduk bersama pada rapat kali ini. Beberapa dari mereka ada yang sibuk menggarap beberapa laporan, ada yang mendengarkan dengan mata tertutup, ada yang benar benar mendengarkan dan ada juga kurang memperhatikan proses keberjalanannya rapat.
Sang ketua mengubah posisi. Ia meletakkan tangan kirinya ke meja. Menjadikannya tempat sender untuk kepalanya. Tidak banyak ekspresi yang Ia buat, hanya keseriusan yang terlihat di wajahnya. Bola matanya berwarna biru, rambut merahnya di biarkan berponi menutupi dahinya. Jari telunjuknya mengetuk meja dengan tempo pelan.
Hanya dengan berpose seperti itu saja langsung membuat seluruh anggota Student Council kembali dalam kesadaran penuh. Bersikap hormat, seakan tidak berani menatap, mereka sedikit menundukkan kepalanya.
Di lorong tengah gedung utama, cahaya matahari masuk merambat menyinari lorong ini. Azala berjalan sambil melihat ke arah luar jendela. Pintu di depannya terbuka, membuat langkah Azala berhenti beberapa meter di belakang pintu tersebut.
Beberapa orang keluar dari ruangan tersebut. Karismatik mereka terasa berbeda dibandingkan dengan murid murid lainnya. Salah satu gadis yang keluar dari ruangan tersebut menghampiri Azala.
“Anak kelas X apakah kau tersesat?” Sapanya bertanya kepada Azala.
Azala memicingkan matanya ke arah lain, menariknya lagi lalu berucap.
“Tidak juga.”
Dia mengangguk. Setelah mendengar perkataan Azala. Azala mencoba menamati semua tubuhnya. Walaupun begitu Ia tetap bersikap kalem. Malah kakak kelas wanita tersebut yang sedikit malu dan marah karena sikapnya. Ia menahan pandangan Azala dan menanyakan pada Azala. Tentang apa maksut pandangannya barusan.
Jika posisi ini diganti Azaiko mungkin Ia akan menerima beberapa tamparan atau cacian dari kakak kelas tersebut. Azala hanya menutup sebentar kedua matanya.
“Senior terlihat cantik. Apa aku juga akan terlihat lebih tampan jika aku memakai pin dan juga jas SC itu?” Tutur Azala kepadanya.
Ia terlihat sedikit terkejut sesaat setelah pujian yang Azala lontarkan. Wajah terkejutnya berubah menjadi senyuman setelah Azala melanjutkan kalimatnya. Ia menjelaskan padanya, memang tidak semua siswa berhak mengenakan jas dan pin Student Council ini. Hanya mereka yang memiliki talenta, hanya mereka yang terpilihlah yang bisa mengenakan jas kebanggaan sekolah ini.
Tentu saja, para siswa juga mengenakan seragam sekolah mereka yang berbentuk almamater setiap harinya. Ia menambahkan, bahwa akan di buka pendaftaran untuk murid kelas X dan juga XI yang berminat untuk bergabung dengan Student Council. Namun dari mungkin seratus lebih orang yang mendaftar hanya akan ada 8 orang yang di terima.
Lalu saat ujian untuk menunjukkan kepantasan tersebut berlangsung. Banyak para siswa yang mengalami mual, muntah dan bahkan pingsan, tambahnya.
“Jadi apakah kau masih berniat untuk menjadi salah satu pengurus Student Council?” Senyumnya manis dengan bumbu sinis.
Azala meraih pundak kakak kelas itu. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah kakak kelas tersebut. Nafas mulutnya keluar menusuk pori pori telinganya.
“Tentu saja. Senior tidak perlu khawatir. Mungkin dari seluruh siswa kelas X hanya aku dan saudaraku yang tau bahwa ujiannya sudah dimulai sejak hari pertama masuk.”
Tiba tiba saja Azala merasa tercekik. Seseorang dengan kuat menarik kerah bajunya dari belakang. Ia menjadi sedikit tidak seimbang. Matanya menangkap sebuah objek dengan tangan mengepal ke arahnya. Dengan cepat Ia menjatuhkan diri ke lantai dan melakukan roll belakang. Pukulan dari orang tersebut berhasil Ia hindari.
Ossidian membuang napasnya yang sempat tertahan. Kakinya menumpu dan dengan kuat melontarkan tubuhnya ke arah orang yang menyerangnya. Orang tersebut mengambil satu langkah ke belakang untuk mengantisipasi serangan yang coba di tandaskan oleh Ossidian. Tangan kanan Azala maju menghantam lelaki bermata biru tersebut. Dengan sigap ia mementalkan serangan yang di buat Azala. Namun, serangan yang sebenarnya baru saja datang.
Saat terpental Azala berputar 360°. Melayangkan kaki kirinya dengan ketinggian rendah tepat mengenai tulang betis kaki kanannya. Tenaga yang Ia gunakan cukup untuk membuat lelaki bermata biru itu kesusahan. Tidak berhenti di situ, kaki kirinya mulai aktif kembali dan dengan tenaga yang sama menyerang bagian kanan perut pria tersebut.
Tangannya terlalu terlambat untuk mengantisipasi tendangan yang Azala berikan pada bagian kanan perutnya. Dan terakhir, pria itu terpental hingga terselap ke arah jendela. Kaki kiri Azala mendarat tepat di telinga pria itu. Tiga serangan secara berturut turut berhasil Azala berikan kepada pria berponi berambut merah tersebut.
“Ketua!!” Jerit kakak kelas wanita tadi panik.
Azala sedikit terkejut, walau hanya sesaat Ia benar benar terkejut karena orang yang barusan Ia tendang adalah ketua Student Council. Habis sudah harapannya untuk berbicara santai dengan ketua SC.
“Mohon maaf yang sebesar besarnya ketua.” Azala menawarkan tangan yang sekaligus memohon permintaan maaf.
Laki laki tersebut meraih uluran tangan yang Azala tawarkan, lalu mencoba untuk berdiri dengan tegap. Tatapannya sedikit mengerikan, namun tidak lama setelah itu Ia menyuguhkan senyum kecil pada Azala.
“Mohon maaf ketua, tapi apa yang membuat ketua tiba tiba menyerang saya? Apakah karena ketua mengira saya melakukan hal tidak senonoh ke senior itu?” Terangnya.
Setelah membuang nafas panjangnya Ia menjawab.
“Benar. Untung saja kau orang yang peka. Jadi kita bisa menemukan inti masalah ini dengan cepat.” Timpalnya.
“Dan juga, tidak perlu berbicara seformal itu denganku.” Tambahnya.
Waktu terus berjalan, beberapa kilometer dari sekolah ini, terdengar denyitan suara pintu.
“Aku lelah…”
Azaiko membuka pintu rumah dan masuk kedalamnya. Ia melempar tas sekolahnya ke sofa dan berlari menuju dapur. Matanya membelalak saat mengetahui bahwa ayahnya sudah berada di rumah. Beliau sedang duduk di meja, menikmati secangkir kopi yang di barengi dengan membaca koran.
“Hee.., ayah pulang cepat hari ini.” Ucap Azaiko.
“Oh Azaiko, baru pulang ya. Mana Azala?”
Azaiko mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya. Ia berlari menuju kulkas. Tangannya mengambil sebuah es krim. Di salah satu kursi kosong meja makan tersebut, ia mendaratkan dan menyenderkan tubuhnya disana. Mereka berdua tidak banyak bicara, namun bukan berarti ayah dan anak itu tidak akrab.
Dering ponsel ayahnya memecah kesunyian. Beliau sempat menyipitkan matanya menahan cahaya ponselnya yang menyilaukan. Setelah itu Ia mendekatkan ponselnya ke daun telinganya. Azaiko sibuk memakan es krim tersebut hingga ayahnya kembali meletakkan ponselnya di meja.
“Azala pulang telat hari ini, katanya sedang main.” Tutur ayahnya.
Es krim yang sudah siap masuk ke mulut Azaiko yang masih terbuka lebar tiba tiba terjatuh dan mengotori meja. Raut wajahnya berubah menjadi sedikit kusut. Ia melemparkan pandangan dengki ke arah ayahnya.
“Kenapa?” Tanya ayah Azaiko.
Azaiko berlari melewati ruang tengah, Ia mengambil tas yang tadi Ia lempar. Kakinya dengan cepat menaiki anak tangga rumahnya. Tangannya dengan sigap meraih daun pintu, membukanya lalu membantingnya. Pelayan yang lewat di buat kaget oleh suara pintu tersebut.
Ia langsung terjun bebas ke kasurnya. Jari jemarinya menyentuh layar ponsel yang Ia gunakan. Indra penglihatannya terlihat sedang fokus mencari nomor ponsel Azala. Setelah menemukan nomor Azala, tiba tiba saja ada panggilan masuk darinya.
“Main kemana kau? Bukankah kita ini sudah seperti sahabat? Kenapa kau tidak mengajakku? Azala!! Jawab aku Azala!!” Terangnya berlinang air mata, membuat ekspresi jelek di wajahnya.
Sedangkan itu di sisi lainnya, Azala menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.
“Sudah selesai?” Tanya Azala.
Azaiko mengangguk dengan air mata yang mengucur deras di wajahnya.
“Jika sudah datanglah ke alamat kafe yang aku kirim.”
“Siap laksanakan!! Kau memang saudara ter-”
Belum sempat Azaiko merampungkan kalimatnya, Azala sudah memutus panggilannya. Yang membuat tangannya seketika geram.
“Sialan kau Azala!!”
Teriaknya, hingga membuat pelayan di depan kamarnya terkejut.
“Kring” Suara lonceng yang menggantung pada pintu masuk Kafe berbunyi memberi sinyal kepada para pekerja bahwa ada pelanggan yang baru saja masuk. Azaiko sempat berdiam diri sembari mencari sosok saudaranya beberapa detik.
Setelah menemukannya, Ia langsung berjalan menuju saudaranya. Di sana Ia mendapati saudaranya tengah duduk dengan di temani dua orang perempuan dari sekolahnya. Azaiko menyapa Azala dengan salah satu tangannya. Azala sedikit bergeser, memberi ruang untuk saudaranya duduk.
“Aku memesankan jus stroberi untukmu, minumlah.” Titah Azala.
“Wahaa.., makasih.”
Azaiko meraih jus tersebut lalu mulai meminumnya. Ia mencoba untuk memahami suasana, namun karena tidak betah Ia putuskan untuk bertanya.
“Boleh aku tau apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Tanya Azaiko.
Salah satu perempuan tersebut menjawab.
“Tidak ada, aku hanya kebetulan bertemu dengan Azala.”
“Lho.., Rose, tidak kusangka-”
“Azmut!”
Azaiko tidak tau harus melanjutkan kalimatnya barusan tadi atau tidak, Ia terlihat sedikit kebingungan.
“Panggil aku Azmut, aku tidak suka ada orang yang tidak ku kenal memanggilku dengan namaku.” Jelasnya.
“Hahahah, jangan bersikap seperti itu lah, kita ini kan teman sekelas.” Pertegas Azaiko sembari menunjukkan gigi putihnya.
Rose menggebrak meja dengan kedua tangannya. Ia berdiri, lalu berkata bahwa Ia akan pulang saja. Azaiko langsung panik. Ia mencoba untuk mengobrol dengannya namun Ia hanya melakukan tindakan yang sia sia.
Di sela sela itu, Azala menutup sebagian wajahnya dengan salah satu tangannya yang Ia letakkan di atas meja. Ia mengeluarkan sedikit tawa, membuat Azaiko menaruh perhatian kepadanya.
“Lihat bahkan Azala pun tertawa, ini normal kan? Ini normal?”
“Aku sudah tidak tahan,aku mau pulang.”
Nampaknya negosiasi yang Azaiko lakukan tidak berjalan dengan lancar. Azala mencoba sedikit berbicara kepadanya untuk menenangkan dirinya.
“Tenanglah Rose, maksutku Azmut. Tolong tenanglah. Setidaknya tunggulah hingga makanan yang kau pesan datang.”
Senior yang ikut pun hanya tersenyum saat mendengar perbincangan mereka. Azaiko mencoba untuk tidak mengabaikan seniornya, Ia dengan sopan menanyakan namanya juga.
“Karin.”
Senior tersebut melempar senyum padanya. Jadi apa yang sedang mereka lakukan di kafe tersebut. Apakah mereka kesana hanya untuk bersenang senang. Saat melihat mereka seperti ini kalian pasti juga merasa bahwa kehidupan yang Azala dan Azaiko jalani tidak sepenuhnya buruk.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Kakak kelas itu melempar pertanyaan kepada Rose.
Rose kembali duduk, dan mencoba menerangkan apa yang ingin Ia sampaikan.
“Kami hanya ingin menyampaikan bahwa sudah sejak hari pertama setiap harinya ada tiga anak kelas kami yang merasa di jahili.”
“Lalu aku adalah salah satunya.” Sambung Rose setelah menyelesaikan kalimat pertamanya.
Kak Karin entah kenapa seakan sangat menikmati pembicaraan ini. Tentu saja, Ia adalah salah satu pengurus Student Council, tidak mungkin Ia tidak tertarik dengan kasus kasus seperti ini di sekolah.
“Lalu apa ada orang yang membuatmu curiga?” Tanya Kak Karin.
“Menurutku terlalu berlebihan jika kelas X lainnya lah yang melakukan hal ini. Karena beberapa anak kelas X dari kelas lain juga mengalami hal yang sama.” Terangnya.
Rose mengeluarkan sebuah buku kusut dari tasnya dan meletakkannya di hadapan kami semua. Senior perempuan itu langsung meraih dan melihat isinya. Saat buku berada di tangan Azaiko, dengan kecepatan penuh Ia meraih pundak Azala dan menempelkan buku itu ke mukanya.
Azaiko sedikit tertawa saat melakukan hal tersebut. Ia perlahan menarik kembali buku tersebut dari wajah Azala. Azala yang masih tidak percaya tentang yang kembarannya lakukan padanya berdiri dan pergi ke kamar mandi.
Azaiko tersenyum.
“Begitulah.” Ucapnya.
Azaiko menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk tangan kirinya. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Kedua matanya menatap mata milik Rose.
“Azmut, menurutmu kalangan mana yang mau membeli buku seperti ini?”
Rose sedikit tertegun dan dengan tenang menjawabnya.
“Adam. Maksutku kalangan pria.”
Azala kembali, Azaiko memandangnya dengan lukisan sinis di wajahnya. Mereka seperti bertukar pikiran melalui telepati. Lalu Azala duduk dan mengambil buku itu. Ia membuka halaman awal buku tersebut dan berkata.
“Keluaran lama.”
“Tidak, itu masih baru. Mungkin baru saja kemarin.” Penggah kembarannya.
“Aku pun berfikir seperti itu.” Tambah Azala.
Rose tidak bisa mengiukuti mereka. Sedangkan senior mereka malah terlihat tersenyam dan tersenyum saat mendengar penerangan mereka berdua.
Waktu berjalan semakin cepat, membuat hampir seluruh pengunjung menghilang. Kursi yang tadinya tidak terlihat karena sedang di gunakan sekarang nampak jelas dari atas hingga ujung kaki.
Mereka berempat berpisah di depan kafe. Kakak kelas mereka pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka bertiga. Rose membungkuk dan berterimakasih sebelum pulang. Azaiko yang mencoba menawari untuk mengantarnya pulang dengan cepat di tolak oleh Rose.
Setelah bayangan gadis berambut cokelat itu menghilang. Azala dan Azaiko juga ikut menghilang seakan tertelan bersamaan dengan sang surya.