Life Proposal

Life Proposal
Pangeran Tersirat



Tepat di hadapan mereka terdapat sebuah mobil hitam bening terparkir di depan pintu masuk istana. Reona mencoba menebak nebak, terlukis sangat jelas di wajahnya. Sebuah mobil hitam misterius terparkir di halaman rumahnya pada sore ini. Ia berfikir semakin dalam sebelum menaiki satu buah anak tangga di hadapannya. Reona mengamati lebih detil mobil tersebut. Itu bukanlah mobil yang biasa mengantar dan menjemputnya. Itu juga bukan mobil yang biasa ayah dan ibunya gunakan. Ia tersenyum seakan memecahkan sebuah kasus misteri.


“Tentu saja, itu pasti mobil tamu ayah”, gumamnya.


Nafasnya seakan berhenti setelah membuka pintu rumahnya. Azala dan Azzaiko menahan langkahnya. Seorang wanita terlihat sedang berdebat dihadapan mereka bertiga. Wanita tersebut masih terlalu jauh untuk Azala tangkap dengan mata telanjang. Lobby istana ini terlalu megah, pikirnya. Ia mengamati detil kecil wanita tersebut. Putih salju pakaiannya tertangkap jelas di kedua matanya. Ia mengenakan rok hitam di atas lutut. Sepatunya juga sangat tinggi. Semakin mendekat lelaki nermata merah itu semakin jelas melihatnya. Rambut sepunggungnya di biarkan terurai. Mahkota hitam tersebut mengingatkannya akan seseorang yang Ia cintai.


“Aku kemari hanya untuk menjenguk putriku”


Suara merdunya terdengar jelas di telinga mereka bertiga. Reona yang paling terkejut, kedua bola mata dari wanita tersebut berwarna hijau cerah. Benar benar mirip dengan warna kedua bola matanya. Tanpa sadar bawaan yang Azala bawa terjatuh. Menyadarkan dua orang di sampingnya tersebut. Wajahnya terlihat berbeda, ekspresinya membuat Reona dan juga Azzaiko ketakutan.


Istana United Kingdom, 2002


Di lobby yang sama, Ratu Synex IX duduk diatas kursi yang berlapis berlian dan emas dua puluh empat karat. Beliau dan beberapa orang penting istana sedang mendiskusikan sesuatu. Karena tidak banyak orang di tempat tersebut, oksigen mengalir bebas keluar masuk melalui lubang ventilasi istana. Membuat hawa pada ruangan yang luas tak terkira tersebut berasa sejuk dan damai. Tidak banyak suara yang masuk dari luar ruangan. Jika kau berada di dalam sini, yang akan kau temukan hanyalah beberapa suara. Suara yang akan membuatmu menekuk lutut secara sendirinya. Salah satu hal yang membuat kerajaan ini begitu megah adalah alunan suara yang keluar dari para pemegang alat musik, terompet dan sebagainya.


Namun pada tengah hari ini, suara seperti itu tidak terdengar. Beberapa orang sedikit melentangkan suara mereka supaya suara mereka terdengar oleh sang ratu.


“Hamba setuju dengan pemikiran yang mulia ratu. Pangeran saat ini sudah cukup umur untuk menikah. Bahkan mungkin sekarang ini sudah sedikit telat. Beliau harus segera memutuskan wanita yang akan menjadi calon istrinya”. Kata salah seorang laki laki.


“Tentu saja yang mulia ratu, hamba berfikir bahwa putri dari kerajaan Swiss yang berumur 17 tahun sekarang adalah pilihan bijak untuk dijodohkan dengan pangeran”. Tambah seorang wanita yang berdiri tepat di samping kiri yang mulia ratu


Semua orang yang berada di lobby istana saat itu mengangguk setuju tak terkecuali yang mulia ratu Synnex IX. Keriput yang berada pada wajah Ratu Synnex IX membuat beliau berfikir jika beliau memang sudah harus pensiun untuk mengatur sebuah negara. Tanpa dikatakanpun, para atasan yang menghadiri rapat tersebut dapat melihat selelah apa beliau dalam rapat berdurasi 15 menit ini. Oleh karena itu, mereka yang sangat menghorati ratunya memilih diskusi cepat dengan pemikiran realistis supaya yang mulia ratu Synnex IX dapat segera beristirahat.


Istana Swiss, 2002


“Yang mulia, Yang mulia ratu Synnex menigirim surat kepada anda”


Angin sepoi sepoi menepis rambut salah satu laki-laki tersebut. Setelah mendengar kabar yang di bawa oleh ajudannya, Ia langsung mengangkat kepalanya tinggi tinggi ke arah birunya langit. Seakan mencari secarik jawaban di dalam balutan awan yang kedua matanya lihat. Pikirannya seakan terus maju mencari jawaban yang benar, hingga membuatnya tidak sadar bahwa latar termpat mereka berdua sudah berada di dalam lorong istananya yang luas.


“Jika aku menjawab undangan dari mereka apakah aku telah melakukan hal yang benar?”. Tanya sang raja.


“Tentu saja yang mulia. Maaf jika hamba tidak sopan, namun menghadiri undangan dari pemimpin negara sudah menjadi tugas yang mulia juga”. Jelas Ajudan berambut merah tersebut.


Beliau memalingkan kepalanya ke arah jendela setelah bertanya. Raut wajahnya terlihat dilema, Ia memikirkan perasaan orang lain.


Di lain tempat, beberapa gadis muda sedang mengobrol santai dan saling melempar tawa. Beberapa di antaranya terlihat sedang mencoba untuk meningkatkan suhu panas di dalam tubuh mereka dengan meminum kopi panas. Salah satu dari mereka berkulit putih, berambut pirang dengan model pony tail dan memiliki sepasang warna bola mata yang amat indah bagai emerald.


“Putri Synnex, jam yang kau pakai itu..”.


Salah seorang gadis dengan rambut pendek melemparkan pertanyaan tersebut, namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, gadis dengan rambut pirang tersebut menyela pertanyaannya dan berkata bahwa barang yang ia pakai saat ini bukanlah barang mahal bermerk. Ia menambahkan ceritanya bahwa Ia membelinya di toko aksesoris yang harganya cukup terjangkau dan ramai pengunjung.


Seorang tuan putri negara yang ramah. Beliau tidak terlalu suka untuk membeli perhiasan mahal. Alasannya sederhana, karena jika ia membeli barang yang harganya melonglong tinggi Ia tidak akan bisa mengikuti pembicaraan teman temannya, begitupun sebaliknya.


“Woii Azala, apa yang kau lakukan ke tas sekolahku!?”.


Hari ini adalah hari pertama mereka berangkat ke SMA. Azala dan Azaiko di tempatkan di SMA swasta di pinggiran kota London. Bagi beberapa murid lain mereka dapat dengan nyaman memillih untuk masuk ke SMA yang mereka inginkan. Namun bagi mereka berdua, mereka tidak dapat bertindak sesuai dengan keinginan mereka.


Setelah merampungkan percakapannya, mereka berdua turun dan berjalan menuju ruang ayahnya. Azaiko bergumam saat berada di depan pintu ruang ayahnya.


“Aku harap proposal kali ini bertujuan untuk mendapatkan seorang kekasih”


“Haa?? Bego ya kau ini? Yang kaya gitu cuman buang buang tenaga”


“Berisik ah”. Sahut Azaiko mengakhiri percakapan mereka.


Mereka berdua masuk dan ruangan benar benar sangat senyap. Hampir tidak ada pencahayaan selain dari lampu meja yang menerangi sebuah proposal di atas meja. Suasananya makin tidak karuan saat Azaiko secara ceroboh tersandung dan sempat jungkir balik.


“Azala? Azaiko?”. Suara berat laki laki terdengar oleh mereka.


Azala dengan sigap mengulurkan tangan dan menarik Azaiko dengan sekuat tenaga ke posisi siap. Lampu ruangan itu mulai menyala dan seketika menjadi terang. Wajah keduanya pucat saat tau bahwa Azaiko telah menginjak anjing peliharaannya. Lagi lagi mereka bertengkar, namun untuk saat ini Azala lah yang memulai pertengkarang tersebut.


“Woii tukang tiru, lain kali jalan yang bener bego!!”. Katanya sambil mengelus anjing kesayangan mereka.


“Ha!? Siapa yang kau sebut tukang tiru!!” Timpal Azaiko.


Ekspresi muka sang ayah terlihat seperti muka pada orang orang an sawah. Ia mencoba untuk melerai pertikaian kedua anaknya yang sudah saling tarik tambang. Karena mereka berdua sudah tidak ada niatan untuk saling mengalah, tangannya mulai meraih katana yang terpajang. Dengan memasang ekspresi bak iblis kehabisan kesabaran beliau berkata sambil mengacungkan katana tersebut.


“Diam atau ku sunat lagi kalian”.


“Siap!! Dimengerti!!”. Jawab mereka kompak.


Ossidian bersaudara mendengarkan penjelasan dari ayahnya secara saksama. Ayahnya juga berterimakasih atas bantuan mereka hingga saat ini.


“Azala, belajarlah untuk lebih ceria. Dan kau Azaiko, belajarlah untuk terlihat lebih kalem seperti saudaramu”. Ucapnya sesaat sebelum mereka berdua beranjak keluar.


Waktu masih menunjukkan bahwa masih terdapat sekitar setengah jam sebelum kelas di mulai. Sebelum pergi ke sekolah, mereka berdua kembali ke atas untuk membaca proposal yang dibawa oleh Azala. Kedua bola mata mereka terlihat seirama. Wajah mereka mendadak serius membuat hawa di pagi hari ini sedikit menegang. Sampai pada akhirnya, mata mereka menangkap kalimat “Bersenang-senanglah dan habiskan masa SMA kalian”. Memang ini adalah proposal pertama mereka saat SMA, tentunya akan ada proposal lainnya jika mereka telah menyelesaikan tujuan dalam proposal tersebut.


“Baiklah, harusnya ini menjadi lebih mudah daripada yang sebelumnya” Sahut Azaiko.


“Benar. Dalam sebuah proposal setebal ini hanya ada satu tujuan untuk tahun pertama ini”. Titah Azala.


“Azala, jangan melibatkan hal-hal yang tidak perlu”.


“Sungguh?? Harusnya aku yang berkata seperti itu”. Balas Azala, dengan mengepalkan tangannya ke araha Azaiko.


Dengan senyum yang terpampang lebar di wajahnya, Azaiko membalas kepalan tangan tersebut. Seusainya mereka langsung berangkat ke sekolah.