
Cukup ramai, mungkin itulah kata pertama yang terlintas saat memasuki kawasan sekolah. Mobil berbaris layaknya seekor naga tanpa di ketahui ujung ekornya. Tentu saja, ini adalah sekolah swasta yang banyak di minati oleh orang orang yang tidak tahu harus melarikan kemana uang mereka. Dan jujur saja jika kalian berdiri disini saat ini juga pasti kalian akan merasa sesak.
Di tengah keramain itu, seorang gadis dengan rambut hitam menjuntai melewati mereka berdua. Azala dan Azaiko bertukar tatapan sepersekian detik. Memasang raut yang sama sama kebingungan harus berekspresi seperti apa.
Di bawah sinar matahari yang masih terasa segar, mereka berjalan masuk menuju sekolah. Seketika hawa berubah menjadi sejuk. Beberapa senior mengarahkan mereka menuju papan pengumuman yang mengatakan di kelas mana mereka akan belajar. Akhirnya setelah menemukan jawaban, Ossidian bersaudara tersebut menuju kelas yang di tuliskan di papan pengumuman tersebut.
Kelas tersebut terasa ramai, Azala bertanya tanya dalam hati kenapa di hari pertama ini kelas malah terasa ramai. Azaiko secara gamblang berbicara dengannya, bahwa ya tentu saja mereka pasti dulu dari SMP yang sama. Ia menyuguhkan senyuman sinis seakan berhasil menebak apa yang Azala pikirkan, walaupun memang itulah kenyataannya.
“Namun aku tidak menyangka, di hari pertama banyak siswa di kelas ini yang sudah berkelompok.” Kata Azaiko lirih.
Pendapat Azaiko sebelumnya tidak sepenuhnya salah, namun juga terlalu abstrak untuk di jadikan alasan. Karena suasana yang tidak biasa di hari pertama ini, belum sempat mereka mencari bangku kosong guru yang sepertinya akan menjadi wali kelas sudah masuk. Objek tersebut membubarkan kelompok kelompok kelas ini sehingga membuat bangku yang kosong nampak terlihat.
Dengan segera Azaiko berlari ke bangku kosong tersebut meninggalkan Azala. Azala dengan santai menuju ke bangku kosong yang terakhir. Suara sang guru terdengar hingga penghujung ruangan. Beliau menerangkan beberapa hal, termasuk juga bahwa wali kelas kami saat ini sedang izin karena ada keperluan. Tambahan suara datang dari speaker yang menggantung di atas pintu masuk. Menggerakkan seluruh siswa kelas ini menuju Hall untuk melakukan upacara sambutan.
Tidak banyak yang terjadi pada hari pertama ini. Selain gadis tadi pagi yang lewat terlihat mencurigakan dan juga teman teman sekelas yang sudah saling kenal dan berkelompok, semuanya berjalan seperti sebelumnya.
“Azaiko Deken de Ossidian, aku menantikan masa SMA ini sepenuh hati. Jadi, siapapun itu jangan sungkan berkenalan dan berbicara padaku.”
Seperti biasa, Azaiko tampil lebih mencolok dibandingkan dengan Azala.
“Azala Deken de Ossidian. Aku juga menantikan masa masa ini, hanya saja aku tidak seatraktif kembaranku. Jadi, siapapun itu jangan sungkan berkenalan dan berbicara padaku.”
Setelah menyudahi perkenalannya, seisi kelas tertawa. Dirinya pun sadar bahwa Ia hanya meng-copy paste kalimat kembarannya. Semuanya berjalan cukup normal, sampai seorang guru UKS perempuan masuk memanggil dirinya. Dengan seksama Azala memperhatikan guru tersebut. Ia nampak masih sangat muda. Bagian rambut depannya sedikit memanjang hingga menutupi mata kanannya. Pakaiannya terlihat sedikit berbeda daripada guru lainnya.
Perhatiannya teralihkan setelah memasuki ruang UKS. Di sebuah kasur yang paling pojok seorang gadis terlihat sedang tertidur disana.
“Gadis yang tadi.” Azala bergumam sambil memutar arah penglihatannya.
Ia berbicara dengan hangat ke Azala.
“Maaf karena membuatmu jauh jauh kesini.” Gadis tersebut membuka pembicaraan.
Azala menoleh ke arah gadis tersebut.
“Tidak apa apa. Ada apa?” Timpalnya.
“Tadi pagi aku berjalan melewati kalian berdua, lalu tanpa sadar benda ini sudah berada di dalam tasku.” Suaranya polos dan sedikit gagap.
Lalu Ia secara sembunyi sembunyi menyodorkan sesuatu ke Azala. Azala tidak sempat melihat, walaupun dia ingin melihat sekalipun tangan gadis tersebut menutup erat tangannya. Wajahnya memerah seakan memberi kode bahwa Ia tidak ingin ada orang lain tahu. Di balik wajah dinginnya Azala sebenarnya adalah orang yang peka. Ia langsung memasukkan benda tersebut ke saku kanan celananya.
Suasana siang ini semakin memanas. Para gadis yang mulai berkumpul di sekitar Azaiko membuat suasananya tambah panas. Beberapa dari gadis yang tidak bisa menjangkau Azaiko memilih untuk mengitari Azala.
“Kammmpret! Memangnya aku ini tempat pelarian apa!?” Fikirnya dalam hati.
Satu per satu pertanyaan keluar dari mulut para gadis tersebut. Namun hanya Azaiko yang terlihat menikmati. Azala tidak bisa banyak mengubah ekspresinya. Ia hanya melukiskan senyuman kecil di wajahnya. Hal hal kecil seperti inilah yang akan membuat pengaruh besar kedepannya, pikir Azaiko sembari memelototi Azala.
Sekolah sipil kota London, 2018
Oksigen di kota ini mulai membaur bersebelahan dengan karbon dioksida yang terbentuk dari kendaraan yang berlalu lalang. Sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan rata rata, membelah angin dengan halusnya. Tepat di gerbang sekolah mobil itu berhenti. Seseorang keluar dan berlari menuju pintu belakang mobil. Pakaiannya sangat rapi dan formal.
Gadis cantik berambut pirang keluar dari mobil hitam itu. Wajahnya nampak serius, tidak hanya siswa senior, namun mereka yang baru saja masuk di hari pertama ini secara tidak sadar menarik pandangannya ke arah gadis tersebut.
“Reonaa!!” Jerit seseorang dari belakang
Belum sempat Reona memalingkan wajahnya, gadis tersebut sudah menggenggam tangannya. Ia terseret sampai depan ruang kelasnya. Wajahnya yang merah cemberut mengeluarkan banyak sekali uap.
“Namaku Reona Synnex, ketua OSIS periode ini…”
Semua mata tertuju ke arahnya. Diantara mata yang berbinar binar ada juga mereka yang mengerutkan alis saat mendengar nama Synnex. Nama itu membuat banyak murid baru saling pandang dan bertanya. Tentu saja, mendengar nama itu membuat semua orang teringat akan sosok yang memimpin negara ini, atau lebih tepatnya Raja Synnex X.
Bahkan setelah turun mimbarpun mereka masih memandang dengan penuh kekaguman ke arah Reona. Samar samar Ia mendengar banyak siswa bertanya, kenapa putri raja bersekolah disini? Apa yang putri raja lakukan disini? Ia sedikit teringat saat tahun pertamanya dulu bersekolah. Tidak hanya temannya, namun juga beberapa guru bertanya tanya tentang kehadirannya di sekolah yang amat biasa ini.
“Luar biasa Reona. Seperti yang di harapkan dari ketua OSIS dan juga putri negara ini.” Puji salah satu temannya yang berada di sampingnya.
Sang Putri tersenyum kecil, wajahnya kembali memerah setelah mendapat pujian dari temannya. Reona adalah sosok teladan di sekolah ini. Semua orang menyukainya. Sifatnya yang sempurna penuh perhatian membuatnya mudah dalam bergaul. Tentu saja, itu sangat berbeda dengan duo di sekolah swasta pinggiran kota London.
Sekolah ini memulangkan muridnya lebih cepat dibanding dengan sekolah lainnya. Azala dan Azaiko berjalan menuju halte bus yang letaknya tak jauh dari sekolahnya. Azaiko senyum senyum sendiri saat memandangi ponselnya dan itu membuat ekspresi aneh di wajah Azala.
“Oo iya Azala, bukankah kau tadi di panggil guru UKS?” Tanyanya sembari menekan layar ponselnya.
Azala merogoh kantong celananya, sedikit menggeser letak tas besar yang Ia gendong di bahu kanan.
“Ingat gadis tadi pagi?” Azala balik bertanya yang di jawab dengan anggukan Azaiko.
“Gadis itu memberiku ini?” Ia menyodorkan tangannya ke arah Azaiko.
Mereka berdua tertegun. Mematung seakan tidak percaya. Pikiran mereka terbang entah kemana seakan sedang memuat sesuatu. Keringat dingin mengalir deras di wajah Azala. Ia memucat. Azaiko linglung hingga menyender ke tembok pagar sekolah mereka.
“MENJAUH DARIKU DASAR KAU SAUDARA MESUM!!”
“Haa!!” Azala ikut berteriak lalu menggelengkan kepalanya.
Ia menarik kerah baju Azaiko.
“Woii!! Suaramu terlalu keras.” Tegasnya sambil mengecilkan suara.
Sebuah bis berhenti tepat di samping mereka, orang orang turun dan membuat sekitaran mereka menjadi lebih ramai. Namun, Azaiko tidak mengindahkan perkataan Azala. Ia terus berteriak.
“Hoii! Hoii! Hoii! Azala apa yang kau coba rencanakan di hari pertama sekolah ini??” Keluhnya di hadapan banyak orang.
Azala membuang hal hal negatif yang tekumpul di dadanya.
“Azalaa.., tidak ku sangka kau berencana melecehkan seorang gadis polos.”
Azala terkesiap, orang orang di sekitar mereka mulai menggosipi mereka berdua. Ia menundukkan kepala sedalam dalamnya. Azaiko masih mengeluh dan belum berhenti. Ia memutar langkahnya membelakangi Azaiko.
“Eeh??” Azaiko kebingungan.
Aura membunuh yang luar biasa. Ini pertama kalinya di rasakan Azaiko. Ia berfikir, berfikir dan berfikir, tentang wasiat apa yang harus Ia berikan ke ayahnya. Api emosi meletup di kedua mata Azala. Dan, bruak!!!, suara benturan terdengar dengan keras hingga keluar bis. Azaiko nampak kusut muka.
“A-apa apaan itu sialan!?” Jerit Azaiko diiringi dengan rintihan.
Azala dengan kalem menimpali.
“Aah.., aku mempelajarinya saat olahraga Voli.”
“Bagian mananya!!?” Respon cepat Azaiko.
Orang orang yang berada di dalam bus masih melongo melihat kejadian itu. Di bangku yang terletak agak belakang, mereka berdua duduk bersebelahan. Lalu Azaiko meletakkan tas besar nan panjang yang Azala bawa. Kembali melanjutkan percakapannya Azala menekankan kepada kembarannya, bahwa Ia tidak tau apa apa tentang hal ini.
Azaiko terlihat masam. Azaiko mencoba mengklarifikasi, bahwa apakah itu hanya ulah orang iseng. Ossidian yang satunya melihat ke arah luar, entah apa yang Ia pandang. Ia berkata, terlalu iseng untuk hari pertama sekolah. Pertanyaan yang terus berputar dalam otak Azala adalah tentang jumlah benda tersebut, yakni dua. Seakan ada seseorang yang dengan sengaja menaruh mereka sebagai boneka yang menari nari di tangannya.
“Terlihat.” Ujar Azaiko.
Bis kota yang mereka naiki sudah berjalan selama setengah jam. Empat orang gadis memasuki bis yang mereka naiki. Suara yang mereka hasilkan membuat keduanya sedikit terganggu. Mereka berempat turun di pemberhentian selanjutnya. Pemberhentian yang sama dengan mereka berdua.
Dering norak ponsel Azaiko menarik perhatian empat gadis tersebut. Azala menjaga jarak darinya. Sedangkan Azaiko mematung dengan posisi setengah mulut terbuka.
“H-halo?” Tutur Azaiko lirih.
Azala hanya memandanginya dari jauh.
“Baik. Kami juga berencana seperti itu.” Sebutnya sebelum Ia menutup teleponnya.
“Azala.., Tidak perlu sejauh itu juga kali!!”
Reona menatap mereka berdua. Kedua matanya bertemu dengan milik Azala. Azala mencoba untuk tidak menghiraukannya. Tiba tiba saja Ia melempar pandangannya dari Azala. Azala dan Azaiko masuk mall terlebih dahulu yang di susul dengan empat gadis tersebut.
“Hei, bukankah dua orang yang berada di depan kita sangat tampan?” Bisik salah seorang gadis dengan kacamata.
“Aku berpikiran hal yang sama.” Jawab salah satu dari mereka.
“Jadi, apakah mereka itu tipemu Reona?” Gadis yang berada di tengah tengah mengajukan pertanyaan kepada Reona.
Reona sedikit terkejut.
“Eh tidak tidak, aku tidak berfikir seperti itu.”
Dua gadis yang berjalan paling pojok mencoba untuk menghentikan langkahnya. Reona bertanya tanya, memasang ekspresi heran. Lalu mencoba mencari tau apa yang mereka lihat.
Azala dan Azaiko berhenti tepat di depan mereka. Azaiko menyuguhkan senyuman lebar kepada mereka. Lagi lagi tatapan mereka berdua bertemu. Azala bersikap tenang. Namun, karena malu Reona memalingkan wajahnya jauh jauh.
“Kami mendengarnya tau.”
Setelah berkata seperti itu, Azaiko berjalan lebih dulu meninggalkan Azala beberapa langkah di belakangnya. Tanpa sadar, Azala berkata “Tuan Putri.” Samar samar Reona mendengar kata tersebut, namun Ia tidak bisa memastikan apakah kata yang Ia dengar sama dengan yang Azala ucapkan atau tidak.
Di luar bangunan langit senja memberi latar warna yang indah. Ossidian bersaudara bersandar di halte bus. Tanpa di sangka, kelompok Reona datang. Reona diam diam mencoba untuk menatap Azala sekali lagi. Namun, Azala tidak mempedulikannya. Ia terus menatap hamparan jingga langit senja. Warna langit yang begitu penuh akan kenangan.
“Jangan di pikirkan Azala.” Ucap Azaiko.
Azala seakan terbangun dari mimpi panjangnya.
“Maaf, aku tidak sengaja.”
“Terserahlah. Fokus saja terhadap yang akan kita lakukan.” Jelasnya.
Bis pertama tiba. Reona dan ketiga temannya memasuki bis tersebut. Setelah mereka masuk, bis tersebut langsung meninggalkan orang orang yang memang tidak berniat masuk ke bis tersebut. Mata hijau cerah Reona masih tidak bisa lepas dari Azala. Hingga sosok itu hilang saat bis berbelok.
Mereka berdua berjalan perlahan menjauh dari kerumunan. Seakan hilang di telan bayang bayang kerumunan. Tak lama setelah itu, sebuah mobil hitam di pacu sangat cepat oleh pengemudinya. Ugal ugalan di jalanan, mobil tersebut hampir menabrak beberapa pengguna jalan lainnya.
Di dalam bis, suasana yang di bangun para gadis membuat mereka nyaman. Mereka menghabiskan waktu di dalam bis dengan berbagi cerita. Namun tidak lama, beberapa orang merusak suasana mereka. Karena pergantian suasana yang mendadak tersebut, Reona dan kawan kawan mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Mobil hitam melaju dengan kencang ke arah mereka. Seseorang keluar melalui bagian jendela kanan mobil tersebut. Seketika semua yang berada di dalam bis panik.
“Klang!! Klang!! Klang!!” Beberapa peluru menembus kaca bagian belakang bis.
Mereka yang berada di bagian belakang berlari menuju bagian depan bis untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak terkecuali Reona dan kawan kawan, mereka menjerit layaknya gadis SMA. Lagi pula mereka berempat memang masih SMA.
Orang yang duduk di jendela kanan mobil hitam tersebut tidak berhenti menembaki mereka. Dilihat darimanapun sudah jelas alasannya. Namun tepat disaat orang tersebut mengisi peluru senapan, mobil yang Ia naiki tiba tiba oleng dan berakhir menbrak bangunan yang berada di tepi jalan. Beruntung karena tidak ada yang terluka dalam kejadian ini. Warga setempat langsung membawa orang orang dalam mobil tersebut ke kantor polisi. Dari dua orang, sang pengemudi tewas tertembak tepat di bagian pelipis kiri.
“Prey down.”
“This is Cavarly, going to report. Roger.”
“Roger that Cavalry. This is Command Room, permission granted.”
Langit ini terlihat sama. Senja yang penuh karbon dioksida ini terasa sama. Sungguh latar yang membuka banyak kenangan. Bahkan saat menoleh dan mendapati partnernya sedang memberi laporan pun terasa sangat familiar. Ia memasukkan kembali senjata berjenis Barret M82 ke dalam tas yang telah Ia bawa.
“Aku sudah selesai melapor. Mari kita pulang.., Azala.”
“Iyaaa.” Sahutnya pelan.