
Dalam sebuah kamar berukuran rata rata 10x10 meter ini, terdapat satu kasur megah tepat di bagian paling kiri. Di dalam sini terdapat juga beberapa buah meja dan kursi. Hiasan serta ornamen yang tertempel di seluruh dinding kamar ini membuatnya begitu indah.
“Tuan Putri.”
Secara mendadak Reona terbangun, nafasnya terlihat tidak beraturan, keringatnya mengucur dari kepala hingga kaki. Bola matanya melihat entah kemana. Ia menarik napas dalam, mencoba untuk melemaskan otot ototnya yang kaku. Sang putri kembali berbaring di atas kasur mewahnya.
Salah satu tangannya mencoba menepis cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya entah dari mana.
“Ternyata hanya mimpi.” Gumamnya.
Reona memejamkan kedua matanya beberapa saat, berharap dapat melanjutkan mimpi tersebut. Namun semuanya sia sia, Ia bahkan tidak dapat kembali tidur.
Jam yang menggantung di kamar menunjukkan pukul enam pagi. Azala terbangun tepat setelah alarm jamnya berdering membangunkannya. Ia sedikit menarik bahu bahunya ke atas. Langkah kakinya menuntun tubuhnya keluar menuruni kamarnya yang berada di lantai dua. Jari jemarinya meraih daun pintu lemari makanan.
Terdapat sebuah roti yang terlihat masih dapat di makan disana. Namun tangannya terlalu lambat untuk menggapai roti tersebut. Azaiko yang sudah bangun sedari tadi langsung menyerobot, menaruh roti yang Ia ambil di gigitannya. Ia terlihat segar, handuknya menggantung di sekitar leher.
Sembari mengaduk secangkir kopi dengan kedua tangannya, Azaiko meninggalkan Azala.
“Lama sekali bangunmu Azala. Kau pikir kau ini anak TK apa?” Ketusnya.
“Ha? Jangan kau nodai pagi yang indah ini dengan suaramu.” Jawab Azala yang sama sama ketus.
Azaiko menelan roti yang Ia kunyah. Ia menodongkan sendok teh yang Ia gunakan untuk mengaduk kopi tersebut ke arah Azala lalu berkata.
“Justru akulah yang seharusnya berkata seperti itu. Kau menodai pagi yang cerah ini dengan kehadiranmu di rumah ini.”
Azala yang masih setengah sadar mencoba untuk menghindar. Ia menyatakan genjatan senjata kepada saudara kembarnya. Tangan kirinya meraih sebuah handuk lalu menghilang setelah pintu kamar mandi tertutup.
Setelah menyelesaikan mandi paginya. Putri Reona tidak langsung menggunakan seragamnya. Ada hal yang mengganggu, pikirnya. Ia terlihat berdiam di hadapan pakaiannya beberapa saat. Seakan merasakan sebuah dejavu. Reona bertanya tanya, apa yang membuatnya merasakan dejavu seperti ini, walaupun begitu, Ia masih belum bisa memastikan apakah itu benar dejavu.
Satu persatu pakaiannya tertempel pada tubuh putihnya. Saat melihat cermin, Reona berfikir bahwa Ia tidak terlalu suka membiarkan rambutnya menyurai. Lalu Ia putuskan untuk mengikat rambut bagian belakangnya. Hanya saja, sebelum benar benar mengikat rambutnya Reona sempat mencoba coba beberapa model rambut lainnya.
Seragam telah tertempel rapi di tubuhnya. Surai hitamnnya juga telah tersisir rapi dan terikat. Azala mencari cari, mengecek ulang semuanya supaya tidak ada yang tertinggal. Tangannya meraih laci mejanya dan menariknya keluar. Terdapat sebuah kotak seukuran kotak pensil dengan pahatan yang sedap di pandang.
Ia penasaran tentang isi kotak itu. Belum sempat tangan kanannya menyentuh kotak itu Ia berfikir, bagaimana bisa Ia penasaran tentang barang yang berada di dalam laci meja di kamarnya. Seakan Ia melupakan sesuatu, Azala langsung membuka kotak tersebut. Hasilnya kotak tersebut tidak dapat dibuka. Kedua indara penglihatan dan indra peraba dirinya mencoba menyusuri detil kota itu.
“Tidak ada lubang kuncinya.” Pikir Azala.
Otak di dalam kepala Azala tanpa pikir panjang mengeluarkan perintah yang di tujukan kepada tangan Azala untuk meraih palu yang juga berada dalam laci tersebut. Sebelum benar benar memukulnya, otaknya memberikan sinyal peringatan kepada tangannya. Azala berfikir tentang apa yang ada di dalam kotak ini. Ia takut bahwa itu adalah barang yang mudah pecah atau rusak.
Azala mengurungkan niatnya dan mencoba mencari hal lainnya yang dapat di gunakan untuk membuka kotak yang menarik perhatiannya tersebut. Sampai akhirnya sebuah pisau yang biasa Ia sarungkan di bagian betis kirinya saat menjalankan tugas berhasil membuat kotak itu terbuka. Sebuah kain melilit sebuah benda. Azala mengambil kain tersebut, kali ini Ia mencoba mengamatinya lebih dekat.
Kain tersebut melilit sebuah benda yang ukurannya hampir sama besar dengan jari kelingkinnya. Mencurigakan, pikirnya. Tangannya memutar mutar benda tersebut, mencoba mencari bagian kain yang terikat. Setelah berhasi menemukannya Azala langsung membuka gulungan kain tersebut.
Setelah mengetahui perwujudan nyata benda tersebut, instingnya memaksa untuk menggunakan benda yang sedari tadi membuatnya kepo. Namun Azala tidak berfikir bahwa guru di sekolah akan mengizinkannya menggunakan.
Di hadapan sebuah cermin, senyum yang terpancar cerah di wajah putri Reona menghiasi permulaan harinya. Ia tidak henti hentinya memandang sebuah anting yang menggantung di daun telinga kirinya. Bukan warna emas yang menyala dari anting tersebut, melainkan percampuran antara warna biru langit dan biru lautlah yang membuat antingnya bersinar.
Azaiko terlihat sedang duduk di depan teras rumah, ketika Azala datang menghampirinya Ia berkata.
“Oi bego, lama sekali persiapanmu. Kau pikir dirimu putri apa?”
Azala hanya memandanginya dan mulai berjalan menuju halte bis. Terkadang hal seperti ini terjadi di antara dua bersaudara. Percakapan mereka terputus, seakan mereka telah di sibukkan dengan dunia mereka masing masing.
“Azaiko, bukankah ini terasa aneh.”
Azala memulai percakapan.
“Hah? Sejak kapan kau jadi akrab denganku, jijik.”
Balas kembarannya seraya melipat lengan tepat di dadanya. Azala berkata bahwa akan terlihat aneh jika murid dari SMA swasta yang di dominasi oleh orang orang berjas hitam dan bermobil kinclong berangkat ke sekolah menggunakan sebuah bis.
Azaiko tertawa dan membalas kalimatnya. Ia balik bertanya, jika begitu bukankah itu berarti kau ingin berangkat dan pulang sekolah menggunakan mobil pribadi. Saat kalimat yang Azaiko keluarkan selesai Ia memandangi langit. Berkata dan membenarkan perkataannya tadi.
Azala dan Azaiko sendiri sudah terbiasa menyetir mobil. Azaiko terpikir ide bahwa akan keren jika mereka berdua berangkat meggunakan mobil. Ia terbengong bengong, pasti akan ada banyak sekali gadis yang melekat padanya. Kalimatnya terpampang jelas di wajahnya, hanya dengan melihatnya kalian pasti juga bisa menebaknya.
“Memang mau sepopuler apa lagi dirimu? Bukankah sudah banyak gadis yang menempel denganmu?” Tanya Azala.
Azaiko mengubah ekspresinya, uratnya mengakar di sekitar wajahnya. Dengan sadis Ia menarik kerah kembarannya.
“Azala bego!! Kenali tempatmu dasar peniru!!”
Sambil menangis bak drama ia melanjutkan kalimatnya.
Azala menggerutkan wajahnya karena tingkah saudaranya. Ia menggelengkan kepala. Mempercepat langkah kakinya dan membiarkan saudara kembarnya menangis tersedu di belakang.
Gerbang sekolah mereka sudah mulai nampak, yang artinya pemberhentian selanjutnya bis ini sudah pasti di halte sekolah. Saat turun dari halte, mereka berdua kebetulan berpapasan dengan Rose yang juga baru keluar dari mobilnya. Gadis tersebut membuat pagi mereka berdua terasa indah.
Tidak hanya memiliki paras yang cantik, Rose juga adalah tipe orang yang peka. Ia memang tidak mau ikut campur urusan orang lain, namun jika itu sudah menyangkut kepentingan bersama Ia tidak akan segan segan untuk terjun ke permasalahan itu. Gadis yang sedikit merepotkan.
“Oh Azala, selamat pagi.” Sapa Rose.
“Azala doang, aku juga ada disini woi.”
Tanya Azaiko tidak terima.
“Azala, ngomong ngomong ada sesuatu yang ingin aku bahas denganmu.”
“Ah.., tentu.”
Sambil melambaikan tangan, Azaiko nyempil ke tengah tengah Azala dan Rose.
“Jangan mengacuhkanku.” Sebutnya.
Rose berbicara dengan lancar di samping Azala. Sedangkan Azaiko terlihat memelas berjalan di belakang mereka. Hal tak terduga terjadi pada pagi hari ini. Di tengah keributan di koridor kelas X, ada beberapa kakak kelas yang sedang terlihat menindas anak kelas X.
Azmut Rose yang melihat kejadian tersebut langsung maju menghampiri mereka. Azala dan Azaiko hanya diam berfikir tentang kejadian ini. Padahal ada banyak sekali orang disini dan kenapa tidak ada satupun yang mencoba menenangkan mereka.
“Pengecut.” Azaiko tiba tiba mengeluarkan kata tersebut.
Azmut yang secara tiba tiba sudah berada di antara pertikaian itu langsung mencoba untuk memperpanjang jarak antara kakak kelas dan laki laki kelas X itu. Gadis itu mencoba untuk menenangkan emosi yang meluap luap dari senior senior itu. Ia mencoba bertanya secara baik baik kepada senior itu tentang apa yang sedang terjadi.
Salah satu dari mereka mencoba menarik orang yang sedang emosi untuk betukar posisi dan menjelaskan keadaan mereka. Ternyata, laki laki yang satu angkatan dengan kami menuduh kakak kelas tersebut. Namun, karena tidak ada bukti yang kuat, kakak kelas tersebut menjadi marah dan merasa di fitnah. Sekali lagi Azaiko mencoba untuk memahami situasi sekitar. Matanya terus mencari barang kali ada sesuatu yang janggal.
“Azala lihatlah.” Bisik Azaiko.
Ia sedikit menyeret Azala ke belakang dan menunjukkan sesuatu padanya. Seorang kakak kelas berseragam SC berdiri memperhatikan dari belakang. Mereka berdua saling tatap, tidak ada yang salah jika hanya melihat. Mungkin saja bahwa mereka hanya mengawasi keadaan dan seperti biasanya, jika keadaan memburuk baru mereka akan masuk.
Tepat setelah kejadian tersebut selesai, kakak kelas yang mengenakan seragam Student Council barusan langsung pergi meninggalkan tempat kejadian.
Kelas hari ini ramai memperbincangkan kejadia barusan. Wali kelas kami yang baru masuk pun juga langsung membicarakan hal barusan. Tidak sopan bagi kita menuduh seseorang jika kita tidak mempunyai bukti yang kuat dan valid. Kurang lebih itulah kalimat yang beliau tekankan pada murid murid di kelasnya.
Saat pelajaran sedang berlangsung, seseorang yang duduk tepat di depan Azala melempar sebuah gulungan kertas kepadanya. Azala terlihat bosan dan membuka gulungan kertas tersebut. Tanpa sadar tawanya terdengar oleh teman teman satu kelasnya. Azala yang sadar akan hal tersebut langsung meminta maaf kepada seluruh teman temannya.
Para gadis tiba tiba saja langsung berbicara satu sama lain. Hal ini adalah hal yang langka bagi mereka, karena menurut mereka Azala adalah orang yang selalu memasang ekspresi datar dan jarang tersenyum. Di sisi lain, guyonan yang Azaiko berikan kepada Azala malah balik menyerangnya. Ia merasa kecewa telah berbuat seperti itu, karena perbuatannya tiba tiba selama sepersekian detik para gadis tertawa dan membicarakan Azala.
Bel otomatis sekolah ini berbunyi, menandakan sudah waktunya untuk istirahat sejenak sebelum memulai pelajaran lainnya. Azala melipat bukunya dan meletakkannya kembali ke dalam tas. Para gadis tadi langsung mengerumuni Azala. Mereka banyak tersenyum ke Azala karena tawa Azala barusan waktu proses belajar mengajar.
Ia berfikir, karena sudah terlanjur mungkin akan baik bagi dirinya untuk selalu tersenyum kepada para gadis. Walaupun dengan sedikit paksaan dari dalam. Azaiko mengeluarkan aura tidak mengenakkan ke arahnya dan mulai melihatnya dengan tatapan membunuh. Azala menantang balik tatapannya dengan tawa sinisnya, hal itulah yang sering membuat saudaranya terprovokasi.
Rose secara santai, atau lebih tepatnya secara sengaja masuk ke kerumunan para gadis yang sedang mengitari Azala. Ia menarik Azala keluar dari kerumunan para gadis tersebut. Tidak ketinggalan juga, tangannya yang lain menarik Azaiko bersamanya.
“Jadi? Apa yang ingin kau lakukan?” Tanya Azaiko.
Sejenak Rose berhenti berjalan dan menatap Azaiko.
“Tidak ada, aku ingin mengajak kalian jalan jalan.”
Setelah menjawab pertanyaan Azaiko, Rose kembali menggerakkan kakinya. Azala dan Azaiko mengikutinya dari belakang. Dinamo kepala Azaiko menyala, membuat listrik listrik di otaknya mengalir dengan jelas. Ia buru buru menatap Azala, seakan memberi kode akan sesuatu.
Azala mencoba untuk menangkap sinyal yang Azaiko sampaikan, namun sia sia. Ia tidak mengetahui apa yang sedang kembarnya pikirkan. Sekali lagi Azaiko memberi sinyal kepada Azala. Kali ini Azala mencoba untuk menangkap sinyalnya secara sungguh sungguh. Sinyal yang di berikan Azaiko menuju Azala sangat kuat hingga masuk menuju ke arah Rose.
“Jangan bercanda. Aku tidak mungkin menyukai salah satu dari kalian.” Tegas Rose.
Mereka berdua sedikit tertegun, khususnya Azala. Azaiko tersenyum seakan kehilangan arah sambil memalingkan wajahnya ke kanan. Azala sinis, salah satu tangannya mencoba untuk meraih pundak saudaranya. Bruuk, pukulan yang sangat keras mendarat tepat di bagian pundak kiri Azaiko, membuatnya terjatuh.
“Bego, kukira apa.” Tambah Azala setelah mendaratkan pukulannya.
“Ahahah hahah..” Azaiko melempar tawa ke arah Azala.
Tangan kanan Rose memegangi dahinya, menggelengkan kepala dengan sedikit senyum terlukis di wajahnya. Ia menangkap seorang kelas X sedang berkomunikasi dengan kakak tingkatnya. Ia melangkah sedikit mendekat, mencoba memperhatikan apa yang sedang terjadi.
Azala dan Azaiko menangkap pergerakan yang di lakukan Rose dan menyusulnya. Ia menghadap ke arah Azaiko dan menanyakan apakah Ia bisa mendengarkan apa yang mereka katakan. Ia menjawab pertanyaannya dengan gelengan kepala. Namun Ia mencoba menerangkan bahwa kemungkinan saja anak kelas X itu juga sedang meminta bantuan kepada Student Council sekolah ini untuk segera menyelesaikan masalah yang mereka alami.
Setelah mencoba mencari tahu apa yang sedang di lakukan kelas X tersebut, akhirnya mereka pasrah dan meninggalkannya.