LET ME FEEL THE HYPERNOVA

LET ME FEEL THE HYPERNOVA
Pemberi Harapan



"Hai..." sapa Leon begitu saja, tatapan mata Jojo cukup membuatnya tegang sehingga ia perlu mencairkan suasana.


Jojo membuka pagar yang dibuat dari lengannya, sehingga jarak di antara mereka sedikit merenggang.


"Kau bekerja di sini?" Tanya Jojo, dingin.


"Ya, dia karyawan di sini!" Seru Josh dari dalam.


Jojo mengangguk lalu menyapu penampilan Leon dari atas sampai bawah.


"Aku belum pernah melihatmu, tapi, dari departemen manapun kau, aku ingin kau tidak menceritakan apa yang kau lihat tadi pada siapapun."


"Aku tidak melihat apapun," sergah Leon.


"Bagus berpura-pura lah tidak melihat apapun!"


"T-tapi..."


"Joo..." di tengah perbincangan Leon dan Jojo, seorang lelaki muda datang menghampiri Jojo.


"Oh, kau?"


"Ini, untuk sarapanmu. Bekerjalah dengan semangat, daah..."


"Setidaknya panggil aku kakak, aku lebih tua darimu!"


Lelaki muda itu datang hanya untuk memberi dua roti keju dan sebotol minuman yogurt rasa stroberi, menu sarapan Jojo setiap pagi saat bertugas. Lelaki itu tersenyum gembira sambil melambaikan tangan.


"Kenapa repot-repot?" Batinnya. Seperti biasa, Jojo selalu diliputi rasa bersalah tiap kali ada yang menyukainya secara terang-terangan.


Sekali lagi, Leon menyaksikan adegan-adegan tak terduga, membuatnya berpikir kalau wanita yang baru pertama kali ia jumpai ini cukup populer di KNJ.


"Yang barusan juga, berpura-pura lah tidak melihatnya."


Jojo mengatakannya dengan wajah murung, lalu pergi begitu saja seolah lelaki yang ia ajak bicara tidak lagi berguna.


Leon memiringkan kepalanya, menatap punggung Jojo sambil bertanya-tanya karena menangkap sesuatu yang aneh dari wanita yang tidak cukup senang diberi perhatian.


"Kau akan diam saja? Bekerjalah dengan benar!"


Teriakan Josh yang tiba-tiba mengganggu lamunannya, membuatnya naik darah. Leon kembali masuk ke dalam mobil, "Akan kupecat kau nanti!"


Josh 5 tahun lebih tua dari Leon, tetapi Leon tidak memperlakukannya sebagaimana orang tua yang harus dihormati. Sejak muda Josh sudah bekerja pada ayah Leon, merawat Leon, serta menjaganya dari dekat, sehingga Leon sudah dianggap seperti adik yang sudah sepatutnya dilindungi.


Josh terkekeh, "Kau tidak masuk?" Tanyanya kemudian.


"Ckk, aku akan masuk setelah semua orang masuk, dengan begitu perhatian akan tertuju padaku," jawab Leon dengan tersenyum bangga.


"Wah luar biasa sekali orang ini?"


"Diam, jangan berisik!"


...***...


Jojo menggenggam kencang kantong keresek berisi roti dan yogurt tadi, ia menepuk-nepuk dadanya meski tahu tidak berpengaruh menstabilkan detak jantungnya akibat bertemu Geri lalu mendapat perhatian lebih dari rekan kerja. Ia berusaha tidak berpikir berlebihan.


Kantornya berada di lantai 5, ketika pintu lift terbuka ia sudah dapat menjumpai segerombolan reporter baru yang sedang menunggu instruksi dari Satya Bayu, selaku redaktur pelaksana.


Jojo mengabaikan reporter-reporter itu, ia berjalan melewati lorong yang dibuat dari rak-rak berisikan buku-buku, lalu sampailah di meja kerjanya.


"Pagi," sapa Jojo.


"Kak Jojoo..." seorang wanita lari ke arah Jojo lalu memukul lengannya.


"Kudengar kau kecopetan? Kau tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka kan?"


"Aku baik-baik saja, tapi sekarang aku terluka karena dipukul. Tunggu, bagaimana kau bisa tahu?"


"Joshua berteriak histeris, tentu semua orang tahu." Jawab rekannya yang lain.


Jojo berdecak, memang si gendut itu tidak bisa menjaga rahasia.


"Aku akan mencarikan Kakak pendamping agar tidak lagi pulang sendiri."


Milly terkenal akan bakat makcomblangnya di kantor. Sudah banyak rekannya yang menyingkirkan status lajang berkat campur tangannya. Terkecuali Jojo, Milly selalu penasaran kenapa untuk satu orang ini rasanya begitu sulit.


"Entah ini akan menjadi percobaan yang ke berapa, tapi Milly, jika kau berhasil, aku akan memakai uang tabunganku untuk membelikanmu tiket liburan."


"Woah... kau yakin istrimu tidak akan marah jika mengetahuinya?" Jojo terkekeh, Joshua sepertinya ikut frustasi karena kawan seperjuangannya masih saja berada di titik yang sama menurutnya.


"Aku tidak yakin kau akan berhasil, usianya terlalu tua untuk teman-teman yang seumuran denganmu." Seru Fika Anastasya, bisa dibilang dia adalah musuh bebuyutan Jojo.


"Kenapa ada bau dupa di sini? Siapa yang sedang memainkan permainan memanggil hantu? Gawat hantunya sudah datang!" Jojo berpura-pura terkejut, membalas Fika agar lebih kesal adalah keahliannya.


"Dari tahun ke tahun masih saja Jojo yang lajang. Aku sampai bosan bertanya kapan kau punya kekasih? Kapan kau menikah?" Sahut rekannya yang berada di pojok.


"Hey, kau pikir kapan menikah adalah pertanyaan yang patut ditanyakan? Mana aku tahu kapan aku akan menikah!"


Joshua menarik baju Jojo lalu berbicara pelan, "Joo, tidak perlu segera menikah, yang terpenting kau punya kekasih saja dulu agar tidak mendengar kata-kata seperti ini terus."


"Agar kau tidak terlalu stres memikirkan pekerjaan juga..."


"Agar hidupmu lebih berwarna..."


"Kau juga terlalu sibuk dengan duniamu sendiri..."


Rupa-rupanya semua orang tetap dapat mendengar ucapan Joshua sehingga ikut menyahut. Mendengarnya bukan membuat Jojo tenang, melainkan menjadikannya semakin kesal.


"Ah sungguh tidak ada yang mengerti, aku menikmatinya, sudah jangan bicara lagi!" Teriaknya, menyingkirkan tangan Joshua dari bajunya.


"Joo, kau pasti bisa, aku sangat berharap padamu."


"Berharap padaku? Kau pasti salah, aku saja menyerah pada diriku sendiri, bagaimana kau bisa?"


Fika tersenyum sengit, wanita yang Jojo sebut 'penyihir' ini memang selalu menyebalkan.


"Kalian semua sedang apa? Cepatlah berkumpul!" Suara Ridho selaku redaktur melengking, benar-benar mengguncang semua yang ada dalam ruangan.


"Siap kapt!"


Jawab serentak reporter-reporter senior itu, satu persatu dari mereka keluar sambil menundukkan kepala.


...***...


Jojo beserta rekan-rekannya berdiri di belakang Satya Bayu dan Ridho, di hadapan mereka adalah reporter junior yang dari raut wajahnya terlihat begitu semangat dan siap bekerja. Wajah-wajah hari pertama bekerja memang selalu seperti itu.


Satya sudah selesai menyampaikan sambutannya dan ia memberikan kesempatan pada Ridho untuk membacakan pembagian tim berdasarkan keputusan mereka. Selepas itu ia kembali ke ruangannya.


Seperti biasanya, Ridho mengucapkan kata perkata dengan ketegasan. Tiap orang yang ia sebutkan namanya merasa cukup puas karena mendapat lokasi yang memuaskan dan sesuai harapan mereka.


"Rosa akan bergabung dengan Fika Anastasya. Rosa, Fika adalah reporter teladan dan berprestasi, manfaatkan ilmunya dengan baik, ya?" Mendengarnya Rosa merasa senang, Fika pun begitu.


"Cchh... teladan apanya? Padahal keahliannya mencuri berita orang!" Cibir Jojo dari belakang.


Jojo adalah salah satu orang pekerjaannya sering dicuri saat sudah sampai 89% selesai. Kalau pun tidak dicuri, maka Ridho yang akan memintanya menyerahkan penyelidikan pada Fika. Kalau sudah seperti itu yang bisa ia lakukan hanya merutuki dari belakang, Jojo benci keributan.


"Baiklah, tersisa dua orang, oke kalian akan satu tim..."


"Aku yang akan satu tim dengannya!"


Terdengar suara asing tiba-tiba, semua mata mencari-cari asal suara itu, lalu menjumpai sosok berkharisma bak karakter anime keluar dari dalam komik.


"Kkau siapa?" Tanya Ridho cukup terkejut.


"Kau bilang akan berada di tim mana?" Tanya Ridho, ia masih sibuk terperangah.


"Dia!" Tunjuk Leon tepat di depan wajah Jojo, membuat Jojo terkejut karena ia pikir matanya akan tercolok jari.


"Aku?"


Leon mengangguk dan tersenyum lagi, membuat beberapa pasang mata wanita tampak terpesona sekaligus iri.


"Kemarin kau tidak turut dalam training, siapa yang meloloskan mu, hah?" Tanya Ridho, kembali suaranya menggelegar.


"Ah, aku mendapat koneksi untuk bekerja di sini."


"Sebentar-sebentar..." telapak tangan Ridho memberi isyarat menahan, ia pun pergi bertanya pada Satya yang belum lama pergi dari sana.


Jojo terus terdiam memandang wajah lelaki yang bertemu dengannya setengah jam lalu, matanya terus tertumbuk pada Leon sampai tidak berkedip sedikit pun. Ia diam mematung, isi kepalanya menunjukkan memori yang mengingatkannya pada seseorang.


Mata lelaki itu bulat, jernih seperti mata kelinci yang biasa dilihatnya. Terbesit sebuah nama dalam hati, Ranoar. Ya, mata lelaki itu mirip mata anak kecil yang sangat ia benci di rumah. Parasnya yang sedikit menunjukkan sisi imut persis seperti Ranoar adik tirinya.


"Joo, kau juga terpesona ya?" Milly menyenggol Jojo dengan pundaknya, membuat Jojo tersadar dan segera menggeleng-gelengkan kepala, mencegah pikirannya berkelana ke mana-mana.


"Tidak!" Jawab Jojo, enteng.


"Kenapa kau ingin menjadi rekanku?" Tanya Jojo dengan tatapan tenang.


"Karena hanya kau yang terlihat tidak memiliki harapan. Aku adalah seorang yang dilahirkan untuk memberi harapan baru pada orang yang putus asa." Repet Leon, ia begitu terus terang mengatakan apa yang ada di kepalanya.


Semua yang berada di sana saling bertatapan, tidak disangka ada junior yang berani mengatakan hal seperti itu pada seniornya.


"Maksudmu aku putus asa?!" Tanya Jojo, ia meninggikan suaranya.


"Tapi, dia benar!" Sahut teman-temannya bersamaan. Terkecuali Fika yang tersenyum senang.


Firasatnya benar, hari ini adalah hari yang melelahkan, terutama lelah di hatinya. Jika memukuli orang bukan tindak kekerasan, maka ingin sekali Jojo menunjukkan jurus-jurus taekwondo yang sering Nara ajarkan.


"Hei, kau tidak mengenalku, kau juga tidak tahu bagaimana aku memperlakukan partner kerjaku. Sebelum menyesal sebaiknya kau memilih yang lain!"


"Joo... jo?"


"Kudengar pria yang mencium mu tadi memanggilmu Jojo."


"Pria?"


"Mencium?" Rekan-rekan Jojo yang sudah lama mengenalnya menjadi gaduh.


"Ya, pria lain yang memberinya roti sambil tersenyum manis juga memanggilnya Joo."


Jojo tidak bisa berkata-kata, sudah ia katakan pada Leon untuk tidak mengatakan apapun yang ia lihat, tapi orang ini malah mengatakan semuanya dengan jelas. Ingin sekali ia menyumpal mulut lelaki itu.


"LUAR BIASA!!"


"AKHIRNYA ORANG TUA INI MEMILIKI KESEMPATAN HIDUP LEBIH BAIK!"


"Oh, aku lupa! Bukankah kau memintaku untuk merahasiakan ini?" Leon menepuk keningnya, bersungguh-sungguh kalau ia lupa untuk tutup mulut, dan bersungguh-sungguh telah menyesal. Mulut lelaki ini memang sulit dihentikan jika sudah berbicara.


Tatapan membunuh dari sepasang mata lentik itu menghujami Leon, Jojo tidak main-main jika sudah kesal. Dengan bayangan mata merah, telinga merah, hidung mengeluarkan api, Jojo mengusapkan jempol ke lehernya, merujuk pada ancaman akan menghabisi Leon kalau-kalau mengganggunya lagi nanti.


"Oh, kkau sudah datang?" Napas Satya sampai tersengal karena berlari, baru saja ia membaca pesan dari Josh dan kepala HRD bahwa teman dekatnya sejak SMP akan bekerja di bawah kamandonya.


Leon tersenyum lalu membungkukkan badan, berpura-pura menjadi karyawan asing yang tidak pernah mengenal orang yang cukup dihormati di KNJ News itu.


"Aku sudah membaca pesan dari HRD, dia reporter baru juga. Selamat bergabung di KNJ News."


"Terima kasih. Oh iya, aku akan satu tim dengan Jojo bukan?" Tanya Leon sambil tersenyum.


"Jojo?" Satya bertanya-tanya sendiri, tidak ada kesepakatan seperti itu, namun tatapan mata Leon memaksanya untuk mengatakan "ya". Mau tidak mau Satya akan menurutinya.


"Tentu! Joo, dia akan menjadi rekanmu."


"Aku menolak, Kapt."


"Ah, Ridho silahkan," Satya bukanlah tipe pemimpin yang mudah mengomel, sehingga ia menyerahkan ocehan-ocehan sadis pada Ridho. Dengan sigap Ridho langsung menceramahi Jojo di hadapan semuanya.


"Ah berengsek!" Jojo mengumpat dalam hati.


...***...


Tugas pertama Leon sebagai reporter adalah membantu Jojo menggali berita seperti yang sudah Ridho instruksikan. Ia perlu memerhatikan apa yang biasa dikerjakan seniornya, apalagi sebelumnya ia tidak mendapat pelatihan.


"Kita belum resmi berkenalan, kan?" Leon mengekor di belakang Jojo saat mereka akan memulai pekerjaan.


"Tidak perlu!"


"Joo... namamu cukup mudah diucapkan. Joo..."


Jojo diam dan mempercepat langkahnya.


"Kau sudah memaafkan ku?"


"Apa untungnya terus marah?"


Mendengarnya membuat senyum kotak di bibir Leon. Ternyata selain wajahnya yang terlihat tidak memiliki harapan, wanita itu juga mudah mengabaikan yang sudah berlalu, pikir Leon.


"Kau sering mendapat pengakuan cinta?"


"Tidak!"


"Benarkah?"


"Kenapa? Kau mau mengungkapkan cinta padaku? Kau tertarik padaku?" Jojo menghentikan lamgkahnya, berbicara menghadap Leon.


"Cch aku sudah punya kekasih. Aku tidak tertarik padamu." Leon menunjukkan foto kekasihnya yang dipasang di layar handphone. Wanita berambut panjang bergelombang yang sedang tersenyum simpul sambil menggenggam bunga.


"Jangan katakan tidak, seorang yang sudah memiliki kekasih bisa saja tertarik pada orang lain, sudah sering terjadi di dunia."


"Tapi tidak di duniaku." Sahut Leon, ucapan Jojo terdengar cukup menyebalkan.


"Aku sangat mencintai kekasihku, namanya Jane Zoedan. Dia seorang dokter di New Zealand, kami sudah berpacaran selama..."


"Aku tidak tertarik mendengar ceritamu!" Ucap Jojo penuh penekanan, ditambah tatapan sadisnya, membuat Leon langsung terdiam.


Tapi, memang dasar Leon, hanya berselang beberapa detik ia mulai nyerocos lagi, "Lelaki yang tadi memberimu makanan, kau sadar kan dia menyukaimu?"


"Begini, ada batasan jika menjadi partnerku! Kau hanya boleh menanyakan seputar pekerjaan saja, tidak ada obrolan urusan pribadi, tidak ada curhat tentang kehidupanmu. Aku sangat menjaga batasan itu..."


"Juga, gaya berpakaianmu, tidakkah berlebihan untuk seorang reporter yang lebih sering bekerja di luar ketimbang di dalam kantor?" Dengan sinis Jojo melanjutkan langkahnya.


Leon terperangah, ia melihat penampilannya, baginya tidak ada salahnya memakai setelah jas seperti ini.


"Aku berpakaian rapih karena siap tampil di televisi untuk meliput berita, begitu pun tidak tahu!" Batinya. Tidak pernah ada orang yang memperlakukannya seperti ini. Bahkan Satya pun menuruti apa keinginannya, tapi wanita ini? Leon kehilangan kata-kata.


"Pernahkah kau berpikir orang-orang akan membencimu?"


"Orang-orang sepertiku tidak peduli dengan itu." Jawab Jojo tenang dan Leon semakin terperangah.


"Masalahnya tidak ada lagi orang sepertimu!" Teriak Leon kemudian. Bahkan identitasnya sebagai cucu Pasha Kenaju seperti tidak ada artinya jika dia menjadi reporter begini.


"Leon, cukup kehadiranmu saja yang menjadi cobaan bagi orang lain, jangan sampai dia menjadi cobaanmu." Keluhnya seorang diri dengan bibir mengerucut.


...***...