
Delapan tahun sejak Akas meninggalkannya, Jojo tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Bukan berarti tidak bisa mengganti Akas dengan orang lain sebagaimana yang ibunya pikirkan, melainkan hatinya yang sudah mati rasa membuatnya enggan berkencan. Bekerja dan bekerja, Jojo menjadi seorang maniak dalam bekerja, menyibukkan diri sampai melupakan urusan percintaannya yang menyedihkan, tak pernah menangis lagi, dan menikmati hidup sebagaimana maunya.
"Menikah ... menikah ... orang-orang tidak mengerti betapa menakutkannya itu," gumamnya seorang diri setelah bertengkar dengan ibu. Matanya menerawang ke atas langit-langit kamar dengan pandangan kosong, lalu mengatupkannya.
Teringat seorang lelaki yang datang menghampirinya delapan tahun lalu, mendekap tubuhnya dan menepuk-nepuk punggungnya agar memperoleh ketenangan. Dia hanya lelaki asing yang kelewat peduli, memberinya ruang gelap di balik jaket bak ruang kosong penampung kekecewaan.
"Mari kita pergi setelah kau merasa lebih baik," bisiknya pelan.
Jojo tidak menjawab, melainkan menarik ingus dan mengembus napas berat.
"Sekarang, bawa aku pergi dari sini," jawabnya selang beberapa detik.
Lelaki itu tidak menjawab dan langsung membantunya berdiri. Dengan jaket yang masih menutupi kepalanya, Jojo dirangkul, dituntun untuk menjauh dari tempat yang membuatnya malu jika menunjukkan wajahnya setelah membuat kekacauan.
Jalanan di pinggir taman kota, mereka berhenti di tempat umum yang tidak begitu ramai. Tangis Jojo juga sudah berhenti sejak berjalan tadi, perlahan ia membuka jaket hitam, menunjukkan mata bengul dan hidung merahnya setelah menangis histeris. Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang Jojo malu berhadapan dengan lelaki itu. Lelaki yang bahkan tidak sungkan menatap wajahnya untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja sekarang.
"Terima kasih." Ucap Jojo, canggung.
Lelaki di hadapannya hanya mengangguk tanpa ekspresi.
"Begini, karena aku sudah baik-baik saja, sebaiknya aku segera pulang. Bukan berarti aku tidak tahu berterima kasih sehingga tidak mentraktirmu kopi atau semacamnya, tapi..."
"Aku paham!"
Jojo mengangguk, bersyukur bertemu lelaki dengan hati tanpa pamrih. "Tapi sungguh kau sangat berjasa! Sungguh! Jadi, dalam hitungan ketiga kau akan lupa pernah bertemu wanita menyedihkan sepertiku."
Klik! Jojo menjentikkan jari di depan wajah lelaki tinggi itu, semacam trik terakhir dalam sulap lalu membalikkan badannya.
Lelaki itu hampir tersenyum melihatnya, namun diurungkan karena bukan waktu yang tepat.
"Jangan meminta maaf..." ucap lelaki bertubuh tinggi, berbadan ramping, dan tampang lumayan manis, menghentikan langkah Jojo.
"Hah?"
"Kau, tidak perlu meminta maaf pada seorang yang telah meninggalkanmu. Kuatkan kakimu, lalu belajar berdiri sendiri." Nada bicaranya datar, mendengarnya membuat Jojo ingin menangis lebih keras lagi saat itu, tapi ia tidak ingin terlihat lemah di mata siapapun.
"Batas maksimal aku menangis adalah satu tahun sekali, sepertinya hari ini adalah jatahku menangis. Terima kasih."
Jojo kembali membelakanginya, dia adalah ahlinya dalam berpura-pura baik-baik saja karena nyatanya, setelah hari ini adalah hari di mana setiap saat Jojo menangis merindukan Akas selama tiga tahun.
Jojo mengulas senyum, mengingat pertama kali bertemu dengan Danur, seorang yang sekarang menjadi teman baik sekaligus dewa pelindungnya. Lelaki yang saat ini menjadi first officer pilot setelah pertemuan tiga tahun lalu tanpa berkenalan. Takdir mempertemukan mereka lagi setelah Jojo berhasil berjuang mati-matian meninggalkan bayang-bayang Akas.
Saat itu Jojo dan Nara sedang berlibur ke Magelang. Jojo si wanita tak bisa diam itu terus berjalan mundur hingga tak sengaja punggungnya bertabrakan dengan seseorang. Pertama, terkejut karena badannya seperti menabrak tumpukan barbel, kedua, terkejut karena barbelnya tampan.
Jojo sama sekali tidak mengenali Danur, ia hanya diam tak bergeming, menikmati warna keemasan senja beserta angin sore berpadu wajah memesona di muka.
"Danurwenda Semesta!" Ucapnya penuh penekanan.
"Berlibur, bertemu pria tampan, sempurna sekali hari ini." Gumamnya pelan, tapi masih bisa didengar.
"Kenapa kau jadi tidak punya malu?" Tanya Danur, ketus.
"Ooh... dingin sekali, aku suka aku suka..." Seloroh Jojo, malah mengempit pipinya dengan telapak tangan, girang bertemu lelaki dingin modelan drama-drama di tv.
Danur menyeringai, merogoh isi tasnya, mencari sesuatu. Setelah itu ia menyodorkan kartu nama, Jojo menerimanya, membolak-balik tanpa langsung dibaca.
"Danurwenda Semesta... hik! Danurwenda? Bagaimana bisa?" Jojo mendekap mulutnya, betapa terkejutnya ia setelah membaca isi kartu nama itu.
"Aku memang tua, tapi tidak pernah menemani ibumu saat melahirkan. Namamu benar-benar Danurwenda Semesta?"
Danur tersenyum mendengarnya, ia mengangguk semangat.
"Wah pertemuan pertama yang mengesankan, mulutku ajaib!"
"Kau tidak mengenaliku?"
"O?" Jojo menggeleng.
"Saat itu kau menangis, sebagai lelaki sejati aku hanya bisa berbuat keren, menutupimu dengan jaketku."
Mata Jojo membulat sempurna, dia tahu apa yang Danur bicarakan. Tidak bisa dipercaya lelaki yang saat itu menolongnya berubah menjadi pria berkharisma yang kehadirannya membuat banyak mata tertuju padanya.
"Ini kau? Benarkah? Akan sangat mengesankan kalau ternyata kita berjodoh bukan?" Jojo memukul pelan lengan Danur sambil cengengesan.
"Apa?" Tawa Danur setengah heran, wanita itu tampak gila karena bicara ngelantur, namun juga menarik karena suaranya yang nyaring dan terdengar menyenangkan, "Jadi kau sudah baik-baik saja?" tanyanya kemudian.
"Tentu! Kalau dipikir-pikir dulu itu menggelikan."
"Benarkah? Aku tidak yakin..."
"Terserah mau percaya atau tidak, yang jelas aku menyesal telah banyak berbuat bodoh. Jadi, kau mau berjodoh denganku atau tidak?"
lagi-lagi pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Jojo membuat Danur tertawa. Meski tidak pernah saling mengenal tapi rasanya seperti bertemu dengan teman dekat setelah sekian lama. Santai, nyaman, menyenangkan.
...***...
Danur adalah seorang pilot tampan pujaan banyak wanita, anak kedua dari empat bersaudara. Lelaki yang terkenal baik, ramah, dan gemar membantu siapapun. Sikapnya yang penuh perhatian itu terkadang membuat wanita salah paham. Ia adalah seorang yang bersemangat dalam hal apapun, apa yang menjadi tujuannya maka akan diusahakan dengan bersungguh-sungguh agar mendapatkannya. Sebagaimana pekerjaannya saat ini, tidak mudah melawan fobia ketinggian, namun Danur mampu menghilangkannya karena sangat ingin menjadi pilot.
Pertemuannya dengan Jojo adalah pertemuan mengesankan penuh tanda tanya. Entah itu penasaran dengan nama atau penasaran tentang keadaannya setelah dicampakkan. Selama hampir 6 tahun Danur tidak melupakan Jojo, dipertemukan kembali membuatnya percaya bahwa takdir bisa diandalkan dalam hal apapun.
Selama hampir tiga tahun ini Jojo dan Danur dekat bak sahabat sejak kecil. Dari pengalaman Danur yang pernah melihat Jojo terluka, membuatnya ingin melindungi dari hal-hal yang mungkin melukai Jojo lagi. Danur juga tahu masalah Jojo dua tahun ini yang selalu didesak untuk segera menikah mengingat Nara, adik Jojo yang juga ingin menikah namun terhalang oleh aturan keluarga yang mengharuskan anak tertua menikah lebih dulu. Atau masalah lain Jojo yang dijodohkan dengan Geri, putra dari kenalan nenek Jojo.
"Kau tahu kan aku belum mau menikah? Hanya kau dan Joshua, lelaki yang tahu banyak tentangku. Karena Joshua sudah menikah, mungkin kau satu-satunya yang akan kuajak menikah." Ucap Jojo pada suatu hari, nada bicaranya terdengar frustasi. Joshua adalah teman Jojo sejak di bangku kuliah sampai sekarang, seorang reporter juga.
"Menurutmu kita berjodoh?"
Mata mereka berserobok, memandang satu sama lain dengan isi kepala yang barangkali sama. Jojo serius mengatakan itu, meski sulit dan takut mencintai seseorang namun Danur adalah orang yang ia percaya dapat membimbingnya, tulus, dan mampu melindunginya. Lelaki sempurna tanpa celah, yang ia sadari telah memiliki ruang khusus di hatinya. Spesial!
"Aku tidak tahu, aku rumit. Jadi, lihat saja nanti." Jawab Jojo dengan berat. Lagi-lagi dia sulit memutuskan karena menyadari seberapa sulitnya mengendalikan diri sendiri. Takut pada cinta, takut mencintai, takut dicintai, benar-benar permainan dunia yang membuatnya ingin memaki Tuhan.
...***...
Perjodohan dengan Geri membuat Jojo cemas, ia tidak bisa menikah tanpa cinta, tidak bisa juga berpikir jernih. Satu-satunya cara gila adalah meminta Danur berpura-pura menjadi kekasihnya. Jangan sampai bermimpi buruk lagi di dalam mimpi buruk, perjodohan itu tidak boleh terjadi.
Jojo berlari setelah turun dari bus menuju rumah Danur yang tidak jauh dari halte. Yang ada dipikirannya adalah menghentikan perjodohan yang kalau-kalau menjadi pernikahan. Jika Danur bersedia melakukan keinginannya, maka ia berjanji akan benar-benar menjadikan Danur belahan jiwanya, sembari belajar menghilangkan trauma. Tidak peduli apa reaksi Danur nanti, Jojo yakin Danur memiliki perasaan yang sama padanya.
Badannya sudah kuyup keringat, rambutnya juga berantakan karena berayun ke kanan dan ke kiri mengikuti tiap langkah kaki. Jojo sampai di depan rumah Danur, ia langsung membuka pintu tanpa menekan bel atau mengetuk pintu terlebih dulu.
Klek... pintu terbuka, Jojo masih berada di ambang pintu dan belum sempat melepas sepatu, namun saat itu ia terperangah, matanya membulat terkejut. Jojo mendapati seseorang sedang memeluk Danur dari belakang dan menghadap ke arahnya.
Terbukanya pintu membuat tiga pasang mata berserobok, dua tubuh yang tadi Jojo lihat berdekatan kini menjaga jarak dan menjadi rikuh. Danur dengan seorang lelaki, pikiran Jojo berlarian ke mana-mana, membaca banyak alasan, mencari tahu kebenaran, namun tidak menemukan apapun, rasanya sel-sel otaknya menyebar ke arah yang salah sehingga ia tidak bisa berpikir. Jojo celingukan, bingung harus berbuat dan mengatakan apa, tenggorokannya mengering seketika.
...***...