
"Pokoknya aku mau menikah!" Rajuk seorang lelaki bermata tajam, berparas manis. Bibirnya mengerucut dengan tangan bersilang.
"Kalau mau menikah harus minta izin pada ayah, ibu, dan kakakmu dulu," sahut tenang lelaki tua sambil membaca koran. Setelan pakaiannya rapih, vest jas abu-abu dengan kemeja putih lengan panjang digulung sampai siku.
Sudah satu minggu pemuda itu merengek ingin kekasihnya segera dilamarkan, membuat pusing kepala.
"Sudah kulakukan!"
"Pasti mereka tidak merestuimu, kan?"
"Mana aku tahu?! Berapa kalipun aku bertanya, orang yang sudah mati tidak akan bisa menjawab! Aneh-aneh saja."
"Lalu?"
"Kakek, sebelum Jane jenuh padaku, aku mau keluarga kita segera melamarnya. Bantu aku..." Ternyata pemuda ini adalah cucunya, ia terus merengek, dan rengekannya terdengar mirip seperti anak kecil yang sudah kesal, sedih, manja ingin dibelikan mainan. Membuat lelaki tua itu heran dan kesal.
"Anak ini, tidak pernah melakukan pekerjaan dengan benar, disuruh memimpin perusahaan malah sibuk main games, menyanyikan lagu anak-anak sepanjang waktu, selalu terlambat menghadiri rapat, pulang cepat demi merawat kuda. Orang tidak bertanggung jawab begini meminta dilamarkan? Tidak bisa dibayangkan seberapa menyesalnya istrimu nanti!"
Kakek bernama Pasha Kenaju itu menutup koran yang dibacanya dengan kasar. Cucu terakhir yang ia rencanakan akan memegang kendali KNJ Group ternyata hanya lelaki malas dan manja.
Leon Casspian, lelaki berumur 27 tahun yang sejak remaja dirawatnya. Anak itu kehilangan kakaknya saat duduk di bangku SMA, selang satu bulan kepergian kakaknya, ia menjadi yatim piatu, kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil karena menghindari seseorang yang menyeberang jalan secara tiba-tiba.
Selama ini tidak banyak yang tahu Leon adalah cucu Pasha, Leon tidak mau identitasnya terbongkar agar tidak ada yang mengganggu privacy-nya, apalagi memanfaatkannya.
"Aku kan sudah bilang tidak cocok memimpin mall, passion ku di dunia penyiaran, pertelevisian. Berikan KNJtv padaku, aku pasti lebih semangat." Satu keinginan saja belum dikabulkan, sekarang ia meminta yang lain.
Pasha Kenaju menatap tajam wajah Leon, menurut Leon kakeknya sedang berpikir keras apakah mau memberikan KNJtv atau tidak. Namun yang sebenarnya ada dalam kepala Pasha adalah cucunya masuk ke dalam perangkap dan rencana berjalan dengan lancar.
"Baiklah, besok kau bekerja di KNJtv." Ucap Pasha tenang.
Wajah Leon berubah semringah, sepertinya ia melupakan topik awal tentang menikah yang sudah berlangsung setengah jam lalu. "Benarkah?"
"Cch, tak kusangka kali ini mudah!" Lanjutnya, berbahagia dalam hati.
"Sebagai reporter!" Kata Pasha kenaju dengan penuh penekanan.
"Apa? Reporter? Ada banyak jabatan tinggi kenapa reporter? Aku tidak mau!"
"Maka kudamu tidak akan baik-baik saja!"
"Apa? Daniel?"
Seorang berbadan tegap mengenakan setelan jas hitam, rambut cepak, rapih, dan klimis maju satu langkah di samping Leon dan menyalakan layar yang berada di belakang Pasha dengan remot. Seekor anak kuda berwarna coklat terlihat di dalam kandang yang asing di mata Leon, kepalanya ditutupi karung tepung berwarna usang, membuat Leon berdiri dan menjerit.
"Tidak! Danieeeel! Kakek menculik Daniel?"
"Jika kau masih bertindak sesuka hati dan tidak bekerja dengan benar, kuda itu akan..."
"Daniel namanya Daniel!" Sambar Leon, ia menjadi tidak tenang, berjalan mondar mandir dengan kepalan tangan di depan mulutnya.
"Josh, apa kau sudah tau tentang ini?"
Josh, pria yang masih menggenggam remot mengangguk takut.
"Tidak bisa dipercaya! Sekarang kau berkomplot dengan kakekku?"
Meski merasa bersalah, Josh tidak dapat menjawab.
"Kek, pikirkan baik-baik, Daniel hanya anak-anak, dia masih menyusu, ibunya tidak mau menyusuinya!"
"Jadi selama ini kau yang menyusuinya?"
"Ti tidak... aku yang membuatkan susu formula." Tidak disangka Leon mulai menumpahkan air mata, nada bicaranya sangat tegas tapi terbata-bata menunjukkan betapa tidak sanggupnya dipisahkan dari Daniel.
"Kek, dia terlahir dan ada di dunia sebab ada aku yang membantu ibunya."
"Maksudmu, kau melakukan hubungan seperti itu dengan kuda?"
Leon berhenti menangis, "Tidak kusangka kebodohanku selama ini menurun dari Pasha Kenaju..."
Beberapa pasang mata para penjaga termasuk Josh melotot akibat terkejut mendengar kata-kata dari mulut Leon. Josh sampai menggigit bibir bawahnya sendiri, tidak disangka anak bodoh itu mengeluarkan kata-kata yang akan menyulitkan dirinya sendiri.
"Apa katanya? Dengar semuanya, awasi anak ini, jika selama bekerja melakukan hal-hal yang merugikan perusahaan, segera jual kudanya, kalau perlu sembelih saja!" Titah Pasha lantaran kesal. Suaranya menggelegar di dalam ruangan menyebabkan bulu kuduk setiap orang berdiri.
"Apa? Kenapa kau lakukan ini padaku? Maksudku aku membantu persalinan Daniel. Kek, aku tidak mau menjadi reporter, kalau begitu aku tetap memimpin mall saja."
"Kau sudah dipecat dari sana sejak datang ke sini!"
Pasha tidak mau mendengar rengekan Leon lagi, ia pun berjalan menuju pintu keluar.
"Kek... Daniel... Kakek... kumohon selamatkan Daniel..." Leon kembali merengek sambil menangis, kali ini ia bingung harus mengejar kakeknya atau menatap layar bergambarkan Daniel. Nasibnya sungguh malang kali ini, Leon benar-benar dalam posisi yang sangat memprihatinkan sekarang, membuat Josh merasa iba dan ikut bersedih.
Ya, Leon dan Josh adalah tuan dan pengawal yang seringkali tampak formal jika di hadapan Pasha, tapi di luar dari itu mereka akrab layaknya teman sebaya.
...***...
Setelah melewati hari libur yang tidak tenang karena ibu, Jojo kembali ke kantor. Hari ini adalah penyambutan reporter baru plus pembagian penugasan bagi junior yang beberapa hari kemarin sudah melakukan training. Jojo memiliki perasaan bahwa hari ini akan menjadi hari yang melelahkan. Ditambah ia belum membeli ponsel baru sejak kecopetan dua hari lalu.
Jojo tiba di depan gedung KNJtv, segar dan tampak muda seperti biasanya, ia bersenandung lirih sambil sesekali menganggukkan kepala saat berpapasan dengan karyawan lain. Sambil mengencangkan tali tas selempangnya, seseorang dengan suara familiar memanggil.
Ya, Geri mengunjunginya, mungkin ia akan meminta penjelasan perihal Jojo yang tidak dapat dihubungi. Kedatangannya berbarengan dengan mobil abu-abu yang terparkir di samping kanan Jojo.
Jojo membalikkan badan saat suara tak asing itu menggema, lalu secara mengejutkan sebuah kecupan mendarat di pipinya selama dua detik. Wajah Jojo pucat seketika, dengan sadar Jojo mendorong tubuh Geri untuk menjauh darinya.
"Kau gila?! Kenapa melakukan ini di muka umum?!"
"Kenapa? Kau tunanganku." Seru Geri, menganggap omongan Jojo sebatas angin.
"Jadi kau cemburu? Kau marah? Itulah kenapa kau tidak bisa dihubungi?"
Cemburu? Mendengarnya membuat Jojo ingin muntah.
Sunyi, sepi, dua orang pria dari dalam mobil abu-abu tercengang melihat adegan barusan, peluhnya sampai ikut mengalir meski ac mobil menyala hingga suaranya terdengar jelas. Kaca mobil di depannya bak layar televisi sekarang, serial drama romantis tengah berlangsung.
"Ayo turun." Ajak Josh di kursi pengemudi.
"Tidak, jangan! Kalau kita keluar, mereka berdua menjadi canggung, aku tidak mau mengganggu. Kita nikmati saja, bagaimana?" Ajak Leon yang berada di sebelah. Ia sedikit menurunkan kaca jendela mobil supaya mendengar pembicaraan dua pemeran utama sebuah drama, yaitu Jojo dan Geri.
Alhasil Josh terjebak oleh ide konyolnya.
"Ada apa lagi? Aku harus bekerja!" Seru Jojo melepas lengannya.
"Dengarkan aku, wanita itu hanya sementara. Aku menyesal, yang kusukai adalah kau. Joo, keluarga kita sudah memiliki ikatan sekarang, jadi kita..."
"Cukup! Sepertinya aku harus memanggil Danur sekarang untuk mengusirmu dari sini!"
"Tidak, tidak, tidak perlu, aku akan pergi setelah ini." Memang hanya Danur yang Geri takuti saat ini.
"Oke, pergilah!"
"Joo biarkan aku berbicara sebentar. Mari lanjutkan pertunangan kita." Pinta Geri, kali ini lembut.
Jojo menghela napas, wajahnya tampak lebih frustasi, "Aku sudah memberitahumu, bukan aku orangnya..."
"Aku mendukung perselingkuhanmu, sungguh."
"Aku terharu, kau mengatakannya agar aku berpikir kau baik-baik saja, kan?"
"Aku memang baik-baik saja," gumam Jojo.
"Dengar, pokoknya aku benar-benar tidak bisa bersamamu, membayangkan jatuh cinta saja membuatku sakit, tidak normal bukan? Demi kebaikanmu, sebelum terlambat, sebaiknya kau bersama dia saja."
"Joo dengarkan aku. Aku memang berselingkuh, aku dekat dengan banyak wanita bahkan sampai saat ini. Tapi aku jamin kau adalah tempat terakhir yang kutuju, mau berapa kali pun aku bersama wanita lain, tetap kau yang akan kunikahi."
Mulut Jojo tercekat, tidak bisa dipercaya kata-kata itu keluar dari seseorang yang beberapa detik lalu memohon, lalu beberapa detik kemudian menyatakan akan mengulang hal yang sama. Dunia menjadi begitu kejam sampai mempertemukannya dengan lelaki seperti Geri.
Air muka Jojo berubah dari kecewa menjadi sangat kecewa, benar-benar menandakan ia sudah lelah. Tangannya mengepal, tiap kali bertemu lelaki seperti ini membuatnya mengingat ayah juga Akas.
"Jangan mencoba menyakitiku, karena aku tidak menyakiti diriku sendiri..." ucap Jojo, serius. Aura gelap seolah menyelimutinya sehingga suaranya yang datar sekaligus tegas menggetarkan tekad Geri.
"Aku harap kau pergi dari sini dan tidak pernah menampakkan wajahmu lagi." Tambahnya.
Meski begitu, Geri tetap kesal karena ditolak berkali-kali, "Jojo! Kau tahu?" Geri melepas napas beratnya, "kau adalah wanita yang paling sok jual mahal sekaligus terburuk yang pernah aku temui. Kau tidak pantas mendapatkan lelaki yang baik, oh tidak, jangankan yang baik, yang buruk pun tidak pantas kau miliki. Dasar jalang!"
"Heh, kau pikir kau lelaki terbaik yang pernah aku temui?! Lelaki terkeren?! Sempurna?! Begitu?" Jojo berkacak pinggang, alisnya terangkat, dan matanya melotot.
"Dengar ya, jika aku tidak pantas mendapatkan lelaki baik bukan berarti aku akan berakhir denganmu!" Teriak Jojo tidak terima.
"Dasar wanita gila, berteriak di pinggir jalan begini. Pantas selalu sendiri!" Geri si pemikat wanita dengan trik-trik handal sudah takut pada Jojo yang emosinya tidak bisa ditahan sekarang.
"Benar aku gila, jadi jangan pernah muncul lagi di hadapanku, jangan memintaku kembali, jangan pernah membujuk ibuku! Awas saja kalau kutahu ada sebukat bunga, martabak, atau bingkisan apapun mendarat di rumahku, akan kuacak-acak wajahmu. Akan kubuat hidupmu tidak tenang..."
Melihat Jojo kehilangan gaya elegannya dan mengusirnya dengan menendangkan kaki ke udara membuat Geri semakin takut, benar-benar gila karena tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang memandang.
Geri lari terbirit-birit sambil memaki, namun Jojo tidak peduli. Ia hanya mendengar suaranya yang lantang layaknya Kapten Ridho, redakturnya, saat sedang mengomel di kantor. Tenggorokannya sakit hingga napasnya ikut tersengal-sengal, urat lehernya mengencang, seperti orang kesurupan.
"Tidak semua lelaki berengsek, Geri hanyalah satu dari jutaan lelaki baik, aku harus berpikir begitu hik hik..." Rengeknya kemudian, mengacak-acak rambut yang ditata satu jam lalu.
Leon yang berada dalam mobil abu-abu cengar-cengir sendiri, matanya tidak lepas sedikitpun dari pemandangan di hadapannya, tidak menyangka akhir adegan yang ditontonnya 'gagal romantis'. Lalu Josh terheran, bukan pada Jojo atau pun Geri melainkan pada seorang yang ia sopiri, yang tampak sangat menikmati pertunjukan.
"Menurutmu menyenangkan?" Tanya Josh sampai menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia lucu." Jawab Leon, masih sambil tertawa.
"Bagaimana bisa ada orang yang bahagia melihat orang lain kesulitan?"
"Wajah frustasinya mengingatkan ku padamu kalau sudah kesal."
"Ch... benar, semoga kau tidak lupa sumber frustasiku adalah dirimu!"
Keluhan Josh tidak didengar sama sekali, Leon malah menertawakan Jojo yang masih melampiaskan kekesalan dengan menghentakkan kaki. Namun tawanya tidak bertahan lama, Jojo menoleh ke arahnya, membuat Leon dan Josh terkejut hingga menunduk ke bawah bersamaan.
Jojo memejamkan matanya, sungguh ia berada di puncak emosi saat ini. Ia sadar ada orang yang memerhatikannya sejak tadi dari balik kaca mobil. Tanpa banyak berpikir, Jojo berjalan lontang-lantung menghampiri. Badannya membungkuk, matanya menatap lelah tepat di pintu tempat Leon duduk.
Tok tok tok, diketuknya kaca mobil hingga membuat Leon dan Josh bergidik.
"Keluarlah..."
Josh dan Leon tetap menunduk, rasanya seperti susah payah bersembunyi dari kejaran penjahat tapi ketahuan dan ditodong pistol akhirnya.
Josh terpikirkan sesuatu, ia menggerakkan tangannya hingga bersusah payah meraih handle pintu, dan klek! Pintu di belakang Leon terbuka.
"Bye bye..." katanya, tanpa merasa bersalah.
"Aiiss... sial, akan kubunuh kau!"
Ini adalah posisi di mana Leon dan Josh tidak dapat berbuat banyak, Leon menampakkan wajahnya perlahan, keluar dari mobil dengan hati berdebar.
Leon menghadapi Jojo dengan pintu mobil masih terbuka, tampaknya ia tidak berani menatap Jojo. Jojo maju satu langkah untuk lebih dekat dengan Leon yang sudah berdiri di hadapannya, tangan kanannya menjulur menjadi pagar agar Leon tidak kabur.
Leon tersudut sekarang, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain membalas tatapan Jojo. Seperti dilahap dinosaurus hidup-hidup, pikir Leon.
...***...