LET ME FEEL THE HYPERNOVA

LET ME FEEL THE HYPERNOVA
Prolog



Di suatu tempat yang belum pernah dikunjungi, Jojo, seorang gadis berumur 19 tahun menangis tanpa suara sambil memeluk kaki di balik drum-drum besar bekas minyak, di dekat mobil reyot dan berkarat.


Sudah berjam-jam ia di sana, menangis hingga lelah usai pertengkaran hebat dengan adik dan ibunya. Jojo menjadi marah sekaligus menyesal setelah kepergok akan menggores lengan nadinya menggunakan pisau buah yang selama ini disimpan di balik bantal.


Sejak mendiang ayahnya membawa pulang wanita muda yang tengah hamil tua masuk ke dalam keluarganya, sejak cinta pertamanya pergi begitu saja setelah 4 tahun bersama, Jojo merasa dunia telah membuangnya hingga membuatnya seperti dihujani luka dan kesedihan yang tak berkesudahan.


Jojo bangun dari duduknya, mengusap-usap debu yang menempel di rok coklat pendek yang dikenakannya. Dua jam mendiami gedung tua lama-lama membuatnya merinding juga, Jojo berniat keluar sebelum setan yang ada di kepalanya benar-benar muncul.


Namun baru saja membalikkan badan, jantungnya dibuat terkejut oleh kedatangan seorang pria dari balik tembok sambil menjambak dan menyeret seorang wanita. Tak sempat melihat wajah mereka, dengan cepat Jojo kembali berjongkok.


"Ada banyak tempat yang bisa kau kunjungi kenapa repot-repot pergi ke sini?"


"Kau benar-benar cari mati, ya?"


Mengejutkan! Ternyata tidak hanya satu lelaki di sana, tapi ada dua lagi yang saling bersahutan meneriaki wanita malang berbaju putih yang saat ini hanya terdengar isak tangisnya saja.


Mengetahui ada banyak orang yang sepertinya tidak baik, Jojo menggerakkan kakinya untuk bersembunyi di tempat yang lebih aman, yaitu di bawah mobil reyot. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa niatnya menenangkan diri malah membuatnya terjebak di situasi yang lebih mengerikan.


"Ambilkan balok kayu!"


Satu dari tiga pasang kaki berbalut sepatu kulit bergerak, bola mata Jojo mengikuti ke mana kaki itu menuju. Ya, balok kayu yang berada di tempat sebelum ia pindah ke bawah mobil.


Saat itu, bukan hanya menahan suara, Jojo juga menahan napasnya yang barang kali dapat terdengar. Ini adalah permainan petak umpat termengerikan selama hidupnya.


Tidak lama setelah balok kayu diambil, terdengar suara pukulan keras sehingga wanita itu menjerit, disusul dengan gema tawa para lelaki. Setelah pukulan, terdengar lagi suara tamparan berkali-kali, membuat wanita itu menangis tersengguk-sengguk.


Jojo tidak bisa berkutik, penyiksaan yang tengah terjadi saat ini membuat tubuhnya bergetar hebat, keringatnya juga mengucur membasahi muka hingga tubuhnya. Rasanya saat itu Jojo ingin menjerit, meminta tolong mewakili wanita itu, tapi mulutnya tak mengizinkan terbuka. Menakutkan tanpa melihat apapun.


"Anak-anak kurang ajar! Kenapa memukulinya?" Datang lagi seseorang yang suaranya masih terdengar jauh, namun perlahan langkah kakinya sampai di tempat semua orang berkumpul. Suara lantangnya sedikit melegakan hati Jojo karena ia pikir, "pahlawan telah datang".


Wanita berbaju putih dengan rambut terikat itu dilempar hingga tubuhnya jatuh menghadap mobil reyot. Tepat setelah itu tubuh Jojo terguncang karena terkejut, matanya berserobok dengan mata wanita itu, linangan darah di wajah wanita itu pun hampir membuatnya menjerit ketakutan, untung saja segera didekap kuat oleh tangannya sendiri.


Di tengah rasa takut, rasa sakit, dan air mata yang berlinang, wanita itu mengisyaratkan untuk Jojo tenang agar tidak ketahuan. Sungguh hancur perasaan Jojo sekarang.


"Lihatlah, dia seorang reporter, dia memotret semuanya."


"Aah begitu rupanya?" Terdengar suara lelaki yang baru datang tadi setengah tertawa, "kalian tahu cara membuat orang tidak pernah pulang bukan?" Ucapnya lagi bernada datar.


Detik itu juga Jojo menyadari tidak ada pahlawan di tempat seperti ini.


...***...