LET ME FEEL THE HYPERNOVA

LET ME FEEL THE HYPERNOVA
Debu Kosmik



Jojo bekerja sebagai reporter di KNJ News, yaitu program penyiaran berita dari KNJtv selama 2 tahun. Sejak kecil cita-citanya menjadi penulis, selain buku, ia juga menyalurkan imajinasinya pada sprei, taplak meja, kaca, lemari, dan apapun yang dilihat masih "kosong". Beranjak remaja segalanya berubah, kehadiran wanita yang ayahnya bawa saat tengah hujan deras 7 tahun lalu bernama Sophia, kelahiran Ranoar, kematian ayah, menghilangnya Sophia, hingga dicampakkan oleh cinta pertamanya, membuat Jojo hancur secara mental, hal-hal buruk terjadi seolah tidak ada hentinya.


Setelah kematian ayahnya, Jojo menjadi tulang punggung keluarga, merelakan keinginannya melanjutkan kuliah sampai Nara lulus SMA, beruntungnya Nara mendapat beasiswa di universitas terbaik di Jogja, sehingga Jojo bisa menyisihkan uang dari kerja sambilannya untuk biaya kuliah sendiri. Kepergian ayahnya benar-benar membuatnya terpuruk, tidak hanya menyiksanya dengan rasa benci karena kehadiran Ranoar, juga membuatnya menyesal karena ayahnya pergi tanpa tahu sebesar apa rasa rindu dan sayangnya terlepas dari segala luka yang pernah tergores itu.


Selepas kehilangan ayahnya, cinta pertama sejak SMA bernama Akas juga turut pergi. Satu-satunya manusia yang Jojo percaya, sosok yang mengisi ulang baterainya hanya dengan setengah jengkal senyuman, pria yang sangat ia butuhkan untuk bersandar.


"Aku punya mimpi," kata Akas saat itu, di sebuah cafe terbuka.


"Aku juga." Balas Jojo, lalu memasukkan biscuit jari ke mulutnya.


"Aku ingin mewujudkannya," kata Akas lagi dengan suara datar.


Jojo tersenyum mendengarnya, ia melirik pada kakak perempuan Akas, Ranti, yang turut duduk di antara mereka berdua. Jojo senyum-senyum percaya diri, pikirannya mengarah pada pertemuan dua keluarga sebagaimana satu-satunya mimpi Akas yang selalu digemborkan sejak SMA. Memang sejak Akas bekerja dia menjadi lebih sibuk dan jarang mengiyakan permintaan untuk berkencan, namun Jojo percaya dibalik kerinduan yang terbendung, tersimpan tujuan baik di dalamnya. Jojo mengangkat bahunya tinggi-tinggi, bersiap mendengar kabar baiknya.


"Aku ingin mewujudkannya, tapi bagaimana aku mengatakannya?"


"Ung, kenapa bingung? Kita akan mewujudkan bersama." Jojo kembali mengulas senyum, menggenggam tangan Akas erat.


"Ekhem... sepertinya kalian membutuhkan ruang, haruskah aku pergi?" Seloroh kakaknya, dia pun ikut nyengir seolah memahami apa yang diperlukan sepasang kekasih untuk hal-hal seperti ini.


"Tidak perlu, duduklah, aku ingin kau juga mendengarnya," pinta Akas.


Akas mengeluarkan napas panjang, "Joo... aku akan mewujudkannya sendiri," katanya tertahan.


"Kau berhak melakukannya karena itu mimpimu..."


"Tanpa kau!" Ucap Akas, menelan peluh.


Jojo mengangkat kepalanya, namun tangannya masih memainkan jari-jari Akas.


"Mimpi seperti apa yang tanpa ada aku di dalamnya?"


"Aku mau putus!"


Mata Jojo dan Ranti berserobok, mereka sama-sama terkejut sambil bertanya-tanya apakah mereka tidak salah dengar.


Jojo melepas genggaman tangannya, memandang Akas dengan polosnya.


"Baiklah." Jawabnya tenang dan tersenyum. Melihat Jojo tersenyum, Akas pun ikut tersenyum, juga lega, ia senang jika Jojo cepat memahami keinginannya.


Namun tak lama Jojo terkikik, memukul pelan lengan Akas.


"Lalu kau pikir kau bisa hidup tanpa aku? Kau pikir kau tidak akan tersiksa saat namaku terus tertancap di kepalamu? Aku mencintaimu dan kau lebih mencintaiku, ayo buat lelucon yang lain."


Jojo tidak memedulikan ucapan Akas, ia merasa mengenal Akas melebihi siapapun.


"Aku benar-benar serius. Joo, ayo kita putus!"


"Hei, jangan bercanda," tepuk Ranti pada pundak Akas.


"Kau hanya sedang banyak pikiran," timpal Jojo.


"Aku serius!" Ucap Akas bernada tinggi kali ini.


"Kak, kau tahu bagaimana aku, kita tidak terlahir dari orang tua yang kaya, hidup kita tidak begitu lancar, selalu menyedihkan, tapi aku memiliki banyak waktu, aku memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik lagi. Aku tidak bisa menghabiskan waktuku hanya untuk urusan cinta seperti ini. Aku akan fokus pada cita-citaku sekarang." Repet Akas, membuat Jojo tertegun. Ranti pun tertunduk mendengarnya.


"Bukankah kehidupan memang seperti itu? Tidak selalu sesuai dengan yang kita mau..." balas Jojo, mulai tidak mengerti alasannya.


"Perasaan bosan terkadang muncul, aku memakluminya, kau bisa menenangkan dirimu dulu."


"Kau memahamiku lebih dari siapapun, aku mendapatkan pekerjaan yg lebih baik yang kuyakini dapat mengangkat perekonomian keluargaku. Aku benar-benar ingin fokus sekarang."


Ranti mengangkat kepalanya, "Aku mengerti sekarang, kau mencoba bangkit, itu maksudmu bukan?" Akas diam, tidak menjawab, namun Ranti tahu betul apa yang diinginkan adiknya karena ikut merasakan masalah yang mereka berdua hadapi.


"Kalau begitu lakukanlah, lakukan apa yang kau mau, lakukan demi masa depanmu. Fokuslah tanpa memikirkan apapun selain itu."


Mulut Jojo mengulum angin, kehadirannya di sana seolah tidak terlihat, mereka membicarakan rencana masa depan tanpanya seolah dia seorang yang tidak mendengar di sana.


"Aku... lalu bagaimana denganku?" Tanya Jojo setengah tidak percaya.


"Joo, sekarang ini, bukan itu yang terpenting, adikku menginginkan hal yang lebih besar kau bisa mendukungnya, kan?"


"Ya. Sejauh ini kalian sering bertengkar karena jarang bertemu, putus adalah jalan terbaik."


Jojo melotot ke arah Ranti, ia semakin tidak mengerti jalan pikiran kakaknya Akas itu, bagaimana bisa seseorang berpikir seegois ini? Jojo tidak membalas ucapan Ranti, malas.


"Apa aku berbuat salah padamu? Katakan saja seperti biasanya. Atau penampilanku tidak menarik lagi? Atau kau butuh waktu untuk sedikit lebih tenang? Akas, keluargaku, keluargamu, apa yang akan kita katakan pada mereka? Cincin ini, kau pikir untuk apa?"


Hubungan ini bukan hubungan yang dapat diputus begitu saja, cincin di jari manis Jojo adalah janji Akas padanya, tidak salah jika ia menagih janji yang ingin Akas sampaikan pada orang tuanya.


Akas diam, tidak ada satupun pertanyaan Jojo yang dijawabnya. Selepas memejamkan matanya, ia beranjak bangun dari bangkunya.


"Cukup, kita selesai sampai di sini!" Ucapnya lalu berbalik badan.


Jojo ikut bangun, sedang Ranti akan ikut ke mana saja Akas akan melangkah.


"Kita belum selesai!" Seru Jojo tidak terima.


"Joo, ada banyak orang di sini, jangan permalukan Akas!"


Jojo menahan tangisnya sehingga dadanya terasa begitu sesak, biasanya punggung Akas terlihat menyenangkan jika berbalik badan setelah mengantarnya pulang, kali ini punggung itu tampak seperti punggung seorang pengecut yang mengejeknya.


"Kau lupa perkataanmu? Kau memintaku untuk tidak jauh darimu. Aku juga! Aku mendapat pekerjaan di perusahaan besar, kau bilang tidak mau aku disukai lelaki lain, maka asalkan aku tidak ke mana-mana kau akan selalu ada untukku. Aku menolak pekerjaan itu demi dirimu..."


"Lalu dengan begitu Akas yang salah? Kau sendiri yang menolaknya!" Seru Ranti hingga banyak orang menoleh ke arah mereka.


"Semua kenangan kita, empat tahun kita, apakah kau akan meninggalkannya begitu saja? Jawab aku!" Jojo mengatakannya dengan suara bergetar, meski begitu ia ingin melihat wajah Akas, ingin sekali menemukan kebohongan akan perpisahan di wajah itu.


Akas berbalik badan dan menatap matanya, namun tetap tidak mau menjawab apapun.


"Biarkan Akas bahagia dengan keputusannya! Kau uruslah dirimu sembari hidup lebih baik..."


"Hei! Diamlah dulu!" Bentak Jojo yang sudah tidak tahan lagi, membuat Ranti menaikkan dadanya.


"Hei? Kau bilang hei? Kau menyalakku?" Ranti mendorong pundak Jojo sehingga Jojo tidak kuat dan menumpahkan air matanya.


"Kak, maaf, bukan begitu maksudku..." isaknya.


"Aku baru tahu kau tidak sopan!" Ranti terus mendorong Jojo tiap kali mulutnya mengeluarkan kata.


"Dengar, hidup Akas bukan milikmu! Kau bukan siapa-siapa untuk memintanya tinggal di sisimu. Beruntung sekali Tuhan menunjukkan sifat aslimu."


"K-kak..." suara Jojo sampai tersendat, ia tertunduk sambil menangis tersendu-sendu. Ranti tidak berhenti sedikit pun meski melihat Jojo tak berdaya, membentak di hadapan pengunjung lain.


"Kau merasa pantas bersama Akas? Bahkan empat tahun tidak akan ada artinya jika ada yang lebih baik darimu!"


"Jadi selama ini kau hanya berpura-pura sopan dan menyenangkan ya? Konyol sekali! Akas tidak akan menyesal meninggalkan mu, hidupnya akan lebih baik tanpa beban sepertimu..."


"Kakak hentikan!!!" Jojo berteriak. Kedua tangannya sudah terkumpul banyak tenaga untuk mendorong balik Ranti, namun Akas menangkap dan mendorongnya hingga terjatuh.


Bruuk!!


Jojo diam mematung, tatapannya kosong, suara makian yang masih keluar dari mulut Ranti pun tak terdengar, yang terdengar hanya hembusan napas putus asa dari mulutnya. Akas mendorongnya, ini seperti mimpi!


Akas pernah marah, pernah kesal, pernah juga mengomel, tapi tidak pernah seperti ini. Tidak pernah dia ingin pergi apalagi dengan cara seperti ini. Akas adalah tumpuan dari beratnya beban di kepala Jojo, tempat istirahatnya, Akas adalah pohon, tanaman hijau, bunga-bunga, angin, atau langit biru cerahnya. Akas adalah segala sesuatu yang memberi kenyamanan, apa jadinya jika dia juga pergi?


Jojo tidak bisa berpikir banyak, melihat kaki Akas yang akan melangkah membuat tangannya mengulur dan menarik telapak tangan Akas dari bawah, mencoba menahan langkah kaki yang akan segera meninggalkannya. Pikirannya kacau, apapun yang barusan terjadi Jojo tidak mau memikirkannya lagi, ia hanya tidak ingin Akas pergi dan ingin memperbaiki semuanya.


"Tidak seharusnya kita begini, aku minta maaf. Aku akan lebih bersabar menunggu hari bahagia kita, aku tidak akan terus meminta bertemu. Mari wujudkan mimpimu bersama-sama... em?" Ucapnya lirih dengan suara parau, matanya sayu penuh air mata, rambutnya juga berantakan meski tak adu jambak dengan Ranti. Semua itu sudah cukup menggambarkan betapa ia memohon untuk Akas tetap memilihnya.


"Aku pergi."


Hanya itu yang terdengar, tidak ada jawaban, tidak pula ada kebohongan di wajah Akas. Yang keluar dari mulut Jojo sangat sederhana yaitu pertanyaan yang ingin jawaban, alasan yang ingin dipahami. Kata perpisahan tiada arti itu makin menyisakan sakit ketimbang alasan sebenarnya yang mungkin tidak enak didengar.


Jojo adalah Pluto yang keluar dari keluarga tata surya, hilang dari peredaran, nyawanya berterbangan di ruang angkasa, menghindari serta tertabrak meteroid ratusan kali. Ia berhenti mengorbit ketika dunianya bersama Akas berakhir. Rasa sakit dari ayahnya seolah kembali dan bertambah menjadi dua kali lipat. Debu kosmik itu kian membesar, mencemari semestanya, menjadikannya dingin dan mati rasa.


Tidak peduli berapa banyak orang yang menyaksikannya, tidak peduli apa yang mereka pikirkan, Jojo menangis sekeras-kerasnya di bawah rumput hijau, dadanya begitu sesak hingga tersengguk.


Tuk... tuk... tuk... suara renyah langkah kaki mendekat ke arahnya, terparkir di rumput tempatnya menjatuhkan air mata, seorang lelaki berjongkok di hadapan Jojo, memandangnya iba, dan menutupi tubuh Jojo dengan jaket hitamnya.


...***...