
"Se-seharusnya aku mengetuk pintu dulu, kan? Ma-maaf. Kalau begitu aku izin keluar..."
Jojo pergi, dalam setiap langkah tidak lupa ia memaki dirinya sendiri, mengetuk-ngetuk kepalanya seolah tidak terima jika benar Danur adalah sosok yang seperti ia pikirkan sekarang.
"Joo, berhenti!" Panggil Danur, ia tampak menyesal membiarkan Jojo melihat adegan seperti tadi.
"Bisakah kita bicara?"
Jojo mecengkram kencang tali tas selempangnya, sungguh badannya bergetar hebat namun tetap tidak bisa menolak ajakan Danur. Mereka duduk di bangku besi panjang, di halaman rumah.
"Kau pasti terkejut," ucap Danur membuka percakapan. Ia pun gugup, bingung bagaimana harus menjelaskan bahwa memang benar ia seorang gay.
Ditatapnya dalam-dalam wajah Jojo, ia ingin mendengar satu dua kata keluar dari mulutnya namun Jojo tetap bungkam dengan tangan yang malah tidak bisa diam, dan napas yang cepat.
"Kau tidak mau bertanya sesuatu padaku? Aku akan membuka sesi tanya jawab layaknya seminar nasional agar kau tidak penasaran."
Jojo diam, wajahnya terus tertunduk. "Joo, aku tidak mau kau mati penasaran." Seloroh Danur untuk membuat Jojo merespons.
Lagi, tidak terdengar jawaban jelas dari Jojo, melainkan suara deham dan mimik mulutnya yang mengatakan "aku" tanpa suara.
"Kau butuh minum? Akan kuambilkan sebentar..."
Belum sempat Danur berdiri untuk mengambilkan minum, Jojo menahan dengan menggenggam tangannya. Jojo pun menggeleng dengan senyum yang tertahan.
"A-aku baik-baik saja. Hanya saja tadi tiba-tiba suaraku tidak bisa keluar," katanya.
Danur kembali duduk, memandang dalam lagi mata bulat yang sudah sayu. Jojo pasti tidak bisa berpikir apa-apa sekarang, terkejut hebat mengetahui orang terdekatnya menyembunyikan hal ini darinya. Semua rasa bersalah orang-orang di dunia seolah berpindah padanya sekarang.
"T-tadi aku sempat membayangkan yang tidak-tidak, aku juga sempat tidak menerima jika apa yang kupikirkan benar. Maaf bertanya ini, kalian memiliki hubungan?"
"Ah, itu, aku akan menceritakannya dari awal..."
"Jalan setiap orang berbeda-beda, kini aku mengerti itu," sambar Jojo tanpa mau mendengar dulu, ia tidak sanggup mendengar kisah itu. Danur pun terdiam.
Suasana hening lagi beberapa detik.
"Kita teman, jadi jangan berpikir aku akan menjauhimu hanya karena ini, aku menghargai pilihanmu, sungguh maaf aku tidak sopan tadi."
Pelukan tadi itu adalah wujud kekecewaan Ranu yang baru saja Danur putuskan. Tidak menjadi percuma jika dijelaskan, tapi... 'teman', kata itu tidak memberinya kekuatan. Kata-kata itu terdengar seperti perintah untuk diam dan terlihat seperti lampu merah yang artinya sama, yaitu berhenti.
"Ah terserah! Setidaknya kau harus marah karena aku tidak jujur sejak awal."
Danur diam, semakin merasa bersalah.
Cukuplah bagi Jojo memiliki keberanian untuk membuka hati meski mentok di niat saja. Kepalanya kembali tertunduk, merenung bahwa sepertinya Tuhan belum mengizinkannya merasakan perasaan yang banyak dimiliki sepasang kekasih, dan rasanya Danur hanya ditakdirkan untuk menjadi sebatas teman. Meski masih terkejut, Jojo mencoba menguatkan diri dan juga Danur.
"Kau pasti kesulitan selama ini..."
"Kau sibuk dengan banyak hal, kau juga membutuhkan waktu untuk menjadi dirimu sendiri. Maaf jika aku datang sehingga kau melakukan banyak hal untukku..."
"Aku tidak suka kau mengatakan hal seperti ini!" Danur merajuk.
"Hei, dengarkan dulu! Mungkin aku sering merepotkanmu, tapi kehadiranku juga menghidupkan suasana, dapat membuatmu bahagia dan bangga karena dekat denganku. Aku istimewa, aku tahu itu, kita adalah simbiosis mutualisme!" Seloroh Jojo.
Egois adalah kata yang tidak ingin ia kenal. Itulah kenapa Jojo harus menerima kenyataan.
"Memang akan lebih baik jika kau tidak seperti itu, tapi hidupmu adalah kau yang menentukan akan dijalani seperti apa..." Jojo masih menggenggam telapak tangan Danur, malah kini wajahnya di dekatkan, membuat jantung Danur berdebar.
"Danur, aku selalu bersyukur kau ada bersamaku. Bersikap jujurlah mulai sekarang, saat kau sedih, saat kau lelah, atau saat kau menyukai seseorang, katakan semuanya padaku. Mengerti?"
Jujur Jojo bilang? Setelah apa yang terjadi mana bisa Danur mengatakan kejujuran? Misalnya tentang hatinya yang sekarang sudah jatuh hati pada wanita di hadapannya. Tak akan sanggup kata-kata itu terucap setelah melihat air muka Jojo yang terkejut seperti tadi. Dalam hati, Danur merutuki diri sendiri.
"Terserah, katakan saja apa yang ingin kau katakan, asal tidak hilang napsu makan, pergi, menghindar, apalagi sampai mengasingkan diri ke luar angkasa." Celoteh Danur, sehingga mereka berdua tertawa.
"Aku orang yang seperti itu?"
"Mm..." Danur mengangguk." Lalu mengelus lembut kepala Jojo.
"Jadi, sudah ada berapa pertanyaan yang terlintas di kepalamu, yang mesti aku jawab?"
...***...
Jojo mengembus napas dalam, mungkin saat itu ia terlalu terburu-buru, sehingga cepat kecewa juga. Namun tidak ada yang disesali, TAK ADA SATU PUN. 27 tahun, menjadi perjalanan mendewasakan diri dengan merasakan semua rasa yang ada di dunia. Tidak ada gunanya menolak takdir, memaki Tuhan pun untuk apa? Semuanya sudah berlalu, semua ada tujuannya, semua ada hikmahnya. Kini Jojo menikmati apa yang sedang terjadi, termasuk perselingkuhan Geri, karena dengan begitu akan lebih mudah menjauhkan lelaki berengsek dari peredarannya.
Selagi masih hidup tandanya ia masih dibutuhkan, masih harus menulis cerita di jalan sendiri. Hidup adalah permulaan, dan mati adalah akhirnya siapapun tahu itu. Tidak apa-apa jika harus sendiri, tidak apa-apa jika menunggu lama, Jojo sudah pernah mati satu kali saat Akas meninggalkannya, maka sekarang adalah kehidupan yang sama sekali tidak bisa disia-siakan.
Sekarang, tidak peduli apa yang dikatakan orang tentang wanita dewasa yang masih melajang, Jojo tidak mau peduli. Pertama-tama ia hanya harus menyembuhkan sakit yang disembunyikan dari banyak orang sebelum keadaannya semakin memburuk.
...***...