
Bunyi alarm meraung tepat pukul sepuluh pagi. Joana Radika, wanita berumur 27 tahun yang akrab disapa Jojo, bertubuh ramping dengan wajah yang masih pantas jika mengenakan seragam SMA. Ia mengerang pelan di atas tempat tidurnya, menendang-nendang selimut yang semalaman menjaganya dari udara dingin. Ia segera bangun tanpa menuruti kantuk yang masih melanda karena baru tidur jam 4 pagi untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Joo... libur bekerja?" Terdengar suara imut dari balik pintu kamar, Ranoar mengintip setelah mendengar alarm Jojo berbunyi, jika tidak ia tidak akan berani.
Ranoar adalah anak bungsu di keluarga Radika, satu-satunya laki-laki di rumah itu, umurnya baru menginjak 6 tahun dan ia anak yang sangat perhatian pada Jojo.
Jojo melengos tak merespons, turun dari ranjang, dan berjalan sempoyongan keluar untuk mengambil minum, langkah kecil Ranoar mengikutinya.
"Ini sudah Ranoar siapkan..." tutur Ranoar lagi, menyodorkan gelas berisi air dingin dari atas meja.
"Tidak mau, pergi sana!" Sahut Jojo, ketus.
"Kak Jojo tidak suka air dingin, untuk Kak Nara saja ya?" Datang Narasya, anak kedua yang umurnya lebih muda satu tahun dari Jojo.
"Tapi Jojo meminum air dingin?" Tunjuk Ranoar pada Jojo yang baru saja membuka kulkas lalu meminum air dingin. Jojo tidak bergeming sedikit pun, cuek dan tidak peduli, apapun yang dikatakan Ranoar seolah tidak pernah terdengar. Ranoar juga tidak memanggil Jojo dengan sebutan 'kakak' karena sejak mulai bisa berbicara Jojo melarangnya.
"Oh, Kak Nara lupa kalau Kak Jojo lebih suka menuang air sendiri." Nara kembali mengulas senyum agar adik kesayangannya tidak bersedih karena terus ditolak Jojo.
"Buruk, kepribadianmu itu kenapa buruk?!" Datang wanita berumur 46 tahun yang membawa sebaskom sayuran, mengeluhkan sikap putrinya yang tidak bisa menyembunyikan setitik pun kebencian pada anak kecil yang tidak mengerti masalah orang dewasa.
Jojo hanya mendengus, seolah tidak mendengar seruan ibunya.
"Joo, Geri mengirim pesan kemarin. Dia bilang kau tidak bisa dihubungi?"
"Lebih tepatnya tidak mau dihubungi." Sahut Jojo.
Jojo menghela napas berat, ia tidak mau memberitahu kalau kemarin habis kecopetan saat sedang bertugas.
Jojo menaruh gelas dengan kasar, "Bu, aku ingin Ibu melupakan antara aku dan Geri. Ibu tahu aku tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa? Kau pikir pertunangan itu main-main?"
"Anggap saja main-main..."
"Kau sudah berumur, kau harus menikah! Mengapa semudah itu mengatakannya?"
"Tidak mudah, Bu. Aku sakit, aku gila, dan bagiku itu sangat sulit!" Seru Jojo, kali ini membuat ibu terkejut hingga terdiam. Lagi-lagi pembicaraan seperti ini tidak berakhir dengan damai.
Jojo menaruh botol minuman ke dalam kulkas lalu kembali ke kamarnya tanpa energi lagi. Geri, menikah, omelan ibu, wajah Ranoar, kalau dipikir-pikir hari liburnya tidak pernah berjalan menyenangkan.
"Jojo selalu bilang sedang sakit, Jojo sakit apa Kak?" Tanya Ranoar pada Nara namun hanya dijawab dengan gelengan kepala. Nara tahu, tapi anak sekecil itu tidak perlu tahu apa itu yang menjadi penghambat terbesar dalam hidup Jojo, termasuk ibunya, yang ia tahu putrinya masih belum bisa move on dari mantan kekasihnya.
...***...
Hai... Namaku Dhiares. Ini adalah cerita yang selalu ada di kepalaku. Gangguuuuuu banget, karena tiap saat nongol. Ini cerita yang dengan banyak pertimbangan untuk diupload di sini. Harapanku semoga ada yang membaca. Setelah itu, semoga cerita ini menjadi buah bibir positif, menjadi cerita yang menginspirasi, dan bermanfaat.
Sekian 💜