LAGENDA A

LAGENDA A
bukit Tao



Bukit Tao adalah tempat terkenal dimana pernah menjadi lokasi kenaikan Petapa Tao ke dunia atas tiga tahun lalu, selama tiga tahun terakhir, tempat ini di huni oleh Jiang kun murid pertama dari Petapa yang telah naik ke dunia atas di tempat ini.


Selama tiga tahun setelah kenaikan Petapa Tao, bukit ini di gunakan untuk menjadi lahan kultivasi bagi Jiang kun dan muridnya dengan damai dan tenang, akan tetapi hari ini Bukit tersebut jauh dari kata damai dan tenang karena karena sedang ada kegaduhan sebelum pertempuran.


Terlihat di antara kepulan debu hasil kegaduhan, seorang pria paruh baya sedang di kepung oleh puluhan pendekar yang memancarkan aura mencengkeram.


"Kakak pertama, sebaiknya kau serahkan kitab warisan guru pada kami, maka kami akan meninggalkan jasadmu untuh".


"Senior pertama, tolong serahkan saja kitab peninggalan guru, ada telah gagal dalam kenaikan mengikuti guru, itu adalah tanda bahwa guru telah salah dalam mewariskan kitab surgawi pada senior".


"Jiang kun! Kau pikir dengan cederamu sekarang kamu bisa menghadapi kami semua di tempat ini dengan selamat".


Satu demi satu para pengepung Jiang kun membujuk,mencaci dan mengancam agar segera menyerahkan kitab surgawi, jumlah para pendekar yang mengepung Jiang kun memang lauh lebih banyak dan mencapai puluhan, semua orang tersebut juga adalah murid dari Petapa Tao yang tiga tahun lampau telah naik ke dunia atas. Walau pun jumlah mereka lebih banyak mereka semua sadar apabila pertarungan berlanjut maka dari pihak pengepung akan mengalami korban jiwa. Sebab itulah dari puluhan orang tersebut tidak ada yang mau menjadi penyerang pertama, karena takut jika menjadi tumbal bagi semua saudara seperguruannya demi mendapatkan kitab incaran mereka.


Jiang kun hanya tersenyum lebar menangapi semua perkataan adik seperguruannya, dan dalam hati bergumam " andai aku berhasil dalam kenikanku maka semua pasti tidak akan seperti ini".


Semua yang hadir di tempat ini adalah para junior Jiang kun dalam Cultivasi, karena keserakahan mereka dan kecemburuan pada Yang Ren yang telah mendapat warisan dari gurunya, mereka berniat merebut kitab surgawi di saat Jiang kun dalam keadaan cedera, kitab surgawi adalah kitab yang berisi ilmu alkimia dan teknik-teknik maha dahsyat, dengan mempelajari kitab ini guru mereka telah berhasil naik ke dunia atas dan menjadi pendekar terkuat di masanya, hal itulah yang menyebabkan kecemburuan orang lain.


Yang Ren memang memang berniat naik ke dunia atas, akan tetapi rencana kenaikannya tidak ia sebar luaskan jadi bagaimana mereka tahu bahwa aku mengalami cedera karena kegagalan dan pengguni Bukit ini hanya ada dua orang ia dan muridnya, setelah memikirkan hal ini ia akhirnya menyadari sesuatu dan wajah Jiang kun pun menjadi masam.


"Wei luo, keluar kamu," bentak keras Jiang kun dengan keras, menyebabkan gemuruh angin.


Setelah beberapa saat, sebuah tawa keras terdengar dari kumpulan para pengepung. Kemudian seorang pemuda tampan berbaju merah keluar dan maju ke depan, setelah selesai tertawa lalu ia tersenyum dan berkata " hehehe tuan, apakah kamu mencari saya?".


Menatap wajah munafik murid satu-satunya, Jiang kun bertanya dengan lantang," aku berniat naik ke dunia atas apakah kau yang menyebar luaskan berita ini pada semua adik seperguruanku yang serakah ini?.


"Ya!" Balas wei luo dengan mengangkuan kelapanya lalu tersenyum lagi.


Setelah mendengar perkataan muridnya pembuluh matanya menjadi merah karena marah lalu bertanya


"hal apa yang menyebabkan kamu manjadi tidak tahu terimakasih begini muridku?".


"Tuan, setelah tuan mengatakan kapada saya bahwa tuan berniat naik ke Dunia atas saya sangat bahagia karena saya pikir tuan akan mewariskan kitab surgawi pada saya, tetapi saya salah, ternyata tuan berniat membawa kitab itu ke dunia atas, hal itulah yang menyebabkan saya menjadi marah dan mendoakan agar tuan gagal dalam kenaikan dan mengalami cedera, ternyata dewa memang maha pengasih sehingga mengabulkan permohonan saya".


"Ha ha ha .... Yah, bagus Wei luo kamu memang lebih pantas bersama adik-adik juniorku ini!".


Jiang kun tertawa menghadap langit, dan kemarahan di hatinya menumpuk lalu memejamkan matanya sesaat kemudian membuka matanya dan berucap


Setelah Keta- kata itu terucap Jiang kun memukul ke arah Wei luo, pukulan itu menyebabkan gelombang angin yang kuat, tetapi lalu tertahan oleh pelindung yang di buat oleh para juniornya dan menyebabkan suara ledakan keras " booom" dan gelombang angin pun menjadi netral.Wajah Wei luo menjadi pucat dan lalu berusaha mundur dan bersembunyi di antara para pengepung.


Setelah gelombang Angin berhenti, empat orang dari arah berlawanan bergerak cepat lalu menghunuskan pedang ke arah Jiang kun, tetapi begitu ke empat pedang yang di lapisi Ki berada di jarak dua meter dari Jiang kun, pedang mereka tertahan dan lalu mereka yang masih menggenggam pedang hanya diam tubuhnya tidak bergerak diam di tempat sesaat kemudian keempat orang yang baru saja melancarkan serangan lalu meledak menjadi hujan darah .


" Bagaimana mungkin? Apakah senior pertama masih sekuat ini walaupun sudah mengalami cedera dalam kenaikannya?". mereka melihat bahwa dua meter dari tempat Jiang kun berdiri, terdapat kekuatan yang mengelilinginya.


Lalu semua para pengepung bertatap muka satu sama lain dan sedikit gentar.


" Hei, kalian para orang serakah ini adalah Ahir untuk kalian". Jiang kun menatap para pengepungnya yang masih berdiri dengan wajah agak masam.


Para pengepung yang tersisa akhirnya tidak hanya tinggal diam, mereka membuat serangan yang hampir bersamaan, masing-masing dari mereka mulai mengeluarkan teknik andalan mereka dan mengarahkan serangannya pada Jiang kun.


Jiang kun berusaha menahan serangan dari para pengepung yang tersisa lalu membuat pola serangan dengan mulai menyerang lawan terdekatnya, di hadapan para adik seperguruannya ia tidak menunjukkan kegentaranya walaupun sedang mengalami cedera, ia malah bergerak mangahmpiri lawan dengan senyuman dewa kematian.


Pertempuran ini berlangsung lama, disaat lawannya mengarahkan serangan padanya maka dengan cepat ia bergerak menghindar dan menghampiri orang terdekat, setelah pertempuran panjang hanya lima serangan yang berhasil mengenainya.


Jiang kun bergerak dengan cepat dari satu orang ke orang lainnya, sampai akhirnya lawannya menyadari apabila mereka mengarahkan serangan ke arah Jiang kun maka kemungkinan serangan tepat pada sasaran hanya dua puluh persen, tetapi jika mereka mengarahkan serangan ke arah orang terdekat yang baru saja Jiang kun bubuh maka presentase serangan mengenai sasaran menjadi tujuh puluh persen, akhirnya para orang yang tersisa mengarahkan teknik serangan mereka ke sebelah orang yang batu saja Jiang kun bunuh dan benar saja ternya serangan itu mengenainya dan meninggalkan luka pada tubuh Jiang kun.


Setelah pola serangannya di sadari, Jiang kun hanya bisa menelan ludah dan pasarh, Jiang kun tetap pada pola serangannya sampai akhirnya setengah dari para pengepung telah berhasil ia bunuh, dengan tubuh yang mengalami cedera di tambah serangan bertubi-tubi saat ia membunuh musuhnya Jiang kun akhirnya mencapai batas, dan ia berhenti bergerak lalu memandang musuhnya.


Ada senyum kecewa karena Jiang kun tidak bisa menghabisi seluruh lawan yang ada di hadapannya,


Lalu berkata " hari ini bahkan jika aku mati, aku tidak akan menyerahkan kitab ini pada kaian orang-orang serakah".Dengan putus asa Jiang kun tertawa keras.


Apakah dia berniat meledakkan dirinya, ucap salah seorang setelah melihat Ki yang tidak normal pada tubuh Jiang kun.


"Berhenti" teriak semua orang.


Ada sedikit kepuasan di saat Jiang kun menatap wajah mereka yang mengetahui tindakan apa yang akan ia ambil.


Dengan di akhiri tawa keras dan kekeutanya tersisa ,Jiang kun meledak dan menyebabkan suara bak gunung meletus.


Dengan kekecewaan yang memuncak dan rasa marah yang tak tertahankan, semua orang bergegas menghindari area ledakan, pertempuran mereka hanyalah sia-sia dan menyebabkan rekan-rekan mereka terbunuh tanapa hasil yang memuaskan.


Melihat kembali ke arah bukit yang hancur menjadi puing, hati dan pikiran semua orang yang tersisa menjadi campur aduk, mereka beruntung karena bukan mereka yang terbunuh teteapi menyesal karena tidak mendapatkan apa-apa.