
Para Pengiring Yun Aoyin kembali ke dalam kerajaan dengan kesdihan yang tak mudah dihapuskan. Terkenang-kenanglah mereka kepada pahlawan yang dicintainya karena sifat tabiatnya yang amat
menarik dan mengesankan kepada siapa pun yang mengenalnya.
la ramah kepada setiap orang sampa hamba kerajaan atau orangkecil. Hatinya terbuka untuk membantu kesukaran orang lain, tutur katanya menyenangkan, nasehatnya amat berguna. la ringan langkah
memberi perlindungan kepada si kaum lemah.
Ia mengikuti dan melaksanakan ajaran, bahwa pembesar negeri, kaum raja-raja yang berkuasa
adalah pelindung masyarakatnya dan berkewajiban mengusahakan kesejahteraan seluruh rakyat.
Kepergian Yun Aoyin pada saat-saat diharapkan tampil memimpin negeri dengan segenap kecakapan penuh kebijaksanaan, sekarang lenyap bagaikan dihempaskan oleh angin lalu.
Hanya kenangan indah membekas di tiap-tiap hati orang yang pernah merasakan uluran tangan sang pahlawan atau merasakan hasil kebijaksanaan pangeran yang terpuji itu. Perdana Menteri dan sang jenderal setelah tiba di ibukota kerajaan lalu
masuk ke dalam istana diiringi oleh beberapa pembesar kerajaan.
Istana telah menjadi sunyi sepi seperti kehilangan kemeriahan dan keagungannya. Tiap hamba sahaya di dalam istana menunjukkan sebagai memikirkan sesuatu yang berat. Kaum wanita tampak kusut tidak berhias diri. Pintu-pintu dan jendela-jendela banyak ditutup. Tak terdengar suara kegem biraan kecuali burung-burung berkicauan mengajak dunia
menikmati pemberian Dewa-dewa.
Suasana lengang sepi dalam istana disebabkan oleh karena Raja Yun Chen sedang menderita sakit telah berhari-hari. semenjak putra tercintanya mengundurkan diri dari istana, sang raja dirundung sakit Segala hidangan dan santapan yang disajikan tak ada yang disentuhnya.
Semalam-malaman ia tak dapat memejamkan matanya. Pikirannya penuh dengan penyesalan yang tak terpecahkan masalahnya. la menyesal tentang janjinya kepada Chu lai permaisurinya untuk menjadikan Yun Chaoyin sebagai penggantinya, sedang putra sulungnya adalah Yun Aoyin yang bijaksana.
Keberangkatan Yun Aoyin masuk ke dalam hutan pengasingan menambah kesedihan sang Raja. Pikiran sang Raja tak dapat lepas dari Yun Aoyin dan Lang Situ yang menderita di dalam hutan. Menderita karena
kebijaksanaan yang salah oleh sang Raja di masa lampau.
Tekad sang Yun Aoyin mengundurkan diri dari keramaian dunia menambah beban berat penderitaan batin Raja Yun Chen Saat sang Raja berbaring dirundung derita, sang jenderal datang menghadap sang Raja. Mengetahui bahwa Jenderal telah ikut mengantarkan puteranya Yun Aoyin masuk ke dalam hutan dan kini telah kembali, maka oleh sang Raja
ia diperkenankan segera menghadap.
Bagaimana berita keadaan puteraku Yun Aoyin dan istrinya ? Di manakah mereka bertempat tinggal? tanya sang Raja dengan tak sabar. "Maafkanlah saya Baginda Raja, saya hanya mengikuti sampai dua hari dua malam saja bersama semua pengiring yang menyertai pangeran. Pada tengah malam sewaktu kami tertidur karena lelah dan penat. pangeran Yun Aoyin, dan Lang Situ Bei istrinya diam-diam meninggalkan kami. Hanya pangeran ke dua Yun Baoyin yang mengikutinya," sembah sang jenderal.
Kemanakah gerangan putraku pergi ?"
"Jenderal"ucap sang Raja, "semua kejadian yang menimpa Yun Aoyin dan Lang situ Bei serta Yun Baoyin adalah disebabkan oleh kesalahanku.
Aku sadar bahwa aku menyesal, namun tak
ada jalan keluar".
Setelah mengatakan demikian, kemudian hilanglah suara sang Raja disusul oleh lepasnya jiwa meninggalkan jasmaninya. Sang Raja telah meninggal.
Kacaulah seketika seluruh istana. Geger gemuruh tangis permaisuri dan selir di dalam istana.
Wanita-wanita sibuk mengatur persiapan upacara yang harus diadakan sebagai penghormatan terakhir kepada Raja Yun Chen.Para permaisuri dan para wanita keluarga kerajaan melepaskan gelungnya, memotong tali sanggulnya, sehingga rambutnya lepas terurai sebagai tanda berkabung.
wanita berserakan di lantai karena jatuh di waktu mereka menangis kebingungan berguling-guling di atas lantai.
Seluruh ibukota seketika menjadi sepi, sehingga di pasar tak ada orang berjual-beli. Semua perhatian hanya terpusat kepada mangkatnya sang Raja yang peristiwanya menjadi pembicaraan. Para panglima dan pembesar berkumpul untuk mengusahakan agar supaya pangeran ke tiga Yun Chaoyin lekas kembali ke dalam istana.
Utuśan khusus segera berangkat dan tak lama kemudian berhasil menemui sang pangeran yang
sedang dalam perjalanan kembali ke Kerajaan angin
Hati Yun Chaoyin berdebar-debar sewaktu ia masuk ke dalam istana.Tiap orang menangis terisak-isak. Tidak sedikit yang seolah-olah mengadukan peristiwa penyebab sakitnya sang Raja kepada Yun Chaoyin. Dan secepatnya pula Yun Chaoyin memahami sebab asbab sang Raja sakit hingga mangkat.
Tidak lain karena tuntutan permaisuri Chu lei selaku ibunya akan mendudukkan dia atas singgasana Kerajaan angin."Itu salah," kataYun Aoyin dalam hatinya,"tak boleh hal yang demikian terjadi".
Perasaan Yun Chaoyin sangat terganggu oleh
mundurnya sang kakak tertua yang diiringi oleh Yun Baoyin dari istana dan masuk ke dalam hutan sebagai tempat pengasingannya.
Marah bercampur sedih Yun Chaoyin lalu menemui ibunda Chu Lei seraya berkata:"Ibunda telah berbuat amat kejam,jahat dan rendah, karena menentang kehendak ayahanda menjadikan kakak Yun Aoyin sebagai penggantinya.
Dan ibunda tidak mau memberhentikan usaha melawan kehendak raja. Chu Lei senang bahwa Yun Aoyin dan Lang Situ Bei serta Yun Baoyin menderita di dalam hutan lebat, sementara ia bermandikan kepuasan dan kemewahan di istana kerajaan angin.
Namun kesenangan ibunda itu menyebabkan isi seluruh negeri ditimpa kesusahan dan akan mati karenanya. lbunda berhasil dengan kejam membunuh seluruh Kerajaan.
bunda memaksa saya menjadi raja ! Apakah gunanya menjadi raja kalau hal ini telah menyebabkan kemarahan dunia dan mendatangkan Malapetaka?.