
Tentang hak, kakak Aoyin adalah putra sulung ayahanda Raja,dan lebih berhak menggantikannya. Tentang janji kepada ibu, janji itu didorong oleh nafsu yang lepas dari kesadaran ayahanda karena terpikat oleh ibunda, bagaikan memaksakan sesuatu kepada si lemah yang tak berdaya, akhir ayahanda menyetujui syarat ibu dengan acuh tak acuh
Dan bagi saya sekarang, ibunda telah membuat saya kalah terhormat dari kakak kedua yang mengikuti kakak pertama dengan kesetiaannya."
Demikianlah ucapan Yun Chaoyin kepada ibunya seolah-olah memaki-makinya karena amat marah sekali. Para pembesar dan hamba sahaya
menenangkan pikiran Yun Chaoyin. Setelah ia menguasai dirinya, maka dilangsungkanlah pemakaman jenazah Raja Yun Chen dengan upacara kerajaan dan kebesaran yang dipimpin oleh Yun Chaoyin. Selesai upacara pemakaman jenazah sang Raja, Barata kembali merenungkan nasib Yun Aoyin kakaknya yang amat dicintainya dengan penuh hormat.
Demikian pula terkenanglah ia kepada kasih sayang
sang kakak kepadanya sejak kecil hingga dewasa. Ia memuji keunggulan, keluhuran dan kebijaksanaan Yun Aoyin sebagai kesatria yang tidak ada taranya di seluruh kerajaan angin. Barata pun merasa kecil terhadap Yun Aoyin yang terpuji di segala penjuru sampai di pelosok negeri, di tempat persaingan kerajaan.
"Alangkah kuat dan makmur kerajaan angin bilamana dipimpin oleh kakak Yun Aoyin sebagai raja," demikianlah kata hati sang Yun Chaoyin.
Makin lama dipikirkan dan makin dalam direnungkan, makin jelaslah bahwa yang pantas duduk di atas takhta kerajaan Angin adalah sang Pangeran pertama, bukan dirinya, bukan Yun Chaoyin.
Hal itu diyakinkan di dalam hati dan kemudian dilaksanakan dengan tindakan. Telah bulat tekad Yun Chaoyin untuk menyusul Kakaknya di dalam hutan dan menyerahkan mahkota kerajaan kepada kakaknya
yang tercinta Yun Aoyin.
Tindakan itulah yang paling tepat dan akan dibenarkan oleh seluruh warga kerajaan, oleh para pendeta dan pembesar kerajaan. Yun Chaoyin pun memerintahkan para pembesar kerajaan dan para prajurit untuk mengiringinya masuk hutan mencari kakaknya Yun Aoyin.
Sejak pagi-pagi sebelum matahari terbit telah disiapkan berbagai kendaraan, kereta, kuda dan elang
dengan peralatan dan perbekalan yang cukup. Peralatan untuk membuka hutan, membuat jalan hingga Yun Chaoyin dan pengiringnya dapat melewatinya. Belum dapat diketahui berapa lama
mereka akan berada di dalam hutan. Belum pula dapat dipastikan di manakah mereka dapat menemukan tempat sang Kakak menetap.
Pagi-pagi buta Yun Chaoyin dan pengiringnya berangkat dari ibukota. para pembesar kerajaan mengikuti perjalanan Yun Chaoyin. Di sebelah belakang elang buas terbang rendah mengikuti, barisan kuda berada di tengah sementara singa buas yang berjalan cepat di depan sembari membuka jalan.
Rombongan bergerak secara teratur, pasukan pengendara singa buas secara rapi membuat jaln darurat yang memungkinkan Yun Chaoyin dengan pengiringnya melaluinya dengan agak mudah.
Dari kejauhan tampak hutan belukar yang gelap perkasa bagaikan raksasa maha besar menghalangi perjalanan. Pohon-pohon besar dan tinggi memenuhi rimba raya. Sukar dilalui bilamana tanpa persiapan yang cukup digunakan untuk menumbangkan pohon-pohon besar itu.
Maju dengan mengikuti arah mata angin, rombongan Chaoyin Bergerak dengan penuh semangat, karena mereka akan menjemput calon raja baru Mereka. menjelajahi hutan bagian demi bagian rombongan pun telah bergerak untuk waktu yang lama.
"Tempat persaingan kakak harus diketemukan gumam Yun Chaoyin,Tidak akan aku kembali ke ibukota sebelum berhasil menemukan kakak yang di hormatnya. Sampailah iring-iringan itu di dekat Danau . Di sekitarnya terdapat gua-gua yang terlihat dalam menembus perut bumi
Di tempat itulah dahulu Yun Aoyin dan para pengiringnya beristirahat satu malam. Dan di tempat itu pulalah Aoyin dan Lang situ serta Baoyin dengan sengaja diam-diam meninggalkan para pengiringnya di kegelapan malam yang melelahkan.
Rombongan pun terus berjalan sampai tiba di
Jurang curam, tebing-tebingnya mengagumkan dan sekaligus menakutkan, namun sekali-kali tidak menjadi rintangan bagi Chaoyin beserta rombongannya mencapai maksudnya. Sekali pun belum berhasil menemukan yang dicari, ia tidak akan menghiraukan kesukaran yang bagaimana pun juga.
Kemudian sampailah mereka di tepi sungai yang amat jernih dan besrih yaitu sungai loka yang mashur. Airnya putih bersih bagaikan embun, menyerupai hati Chaoyin yang suci membuktikan baktinya kepada kakaknya yang tercinta.
Masuk ke hutan lebih dalam, sampailah mereka di sungai yang terkenal, bernama sungai xin. Arusnya halus dan jernih, di bagian hilir bertemulah sungai loka dengan sungai xin , seolah-olah melambangkan akan perjumpaan dua orang saudara Yun Aoyin dan Yun Chaoyin, Berjalan terus menjelajahi jantung rimba hingga senja, sampailah Chaoyin di sebuah padepokan hutan rimba, tempatnya amat indah dan menarik.
Banyak sekali bunga-bunga indah yang harum wangi, berwarna-warni dipandang amat menyenangkan. Kolam dengan air jernih dan teratai merah, putih, ungu dan biru menambah keindahan di persaingan. Itulah tempat persaingan pendeta Jiang ren.
Sang Pendeta menyambut kedatangan pangeran Chaoyin dengan hormat bersama-sama dengan murid-muridnya. Berbagai hidangan yang tercipta dari sang pendeta disajikan hingga merata sampai kepada tangan seluruh rombongan.
Pelayanan dan hiburan, tari-tarian, bunyi-bunyian serta nyanyian membuat suasana hati sang Chaoyin yang malam itu menginap di padepokan hutan tenang.
Pada waktu fajar menyingsing mereka segera meneruskan perjalanan mencari Yun Aoyin. Maka sampailah mereka di sebuah danau luas yang bernama danau putih. Di sanalah ia diberi tahu oleh siluman penghuni danau purih akan tempat Yun Aoyin, yaitu di atas bukit rimbun yang bernama Bukit anggur, sebuah bukit yang tinggi tak mudah dicapai karena sulitnya perjalanan penuh dengan duri-duri dan tumbuh-tumbuhan yang lebat.
Bukit Anggur yang indah itulah tempat kediaman Yun Aoyin. Dengan penuh harapan Yun Chaoyin dan segenap pengiringnya bergerak menuju bukit tanpa ragu-ragu.
Dari kejauhan Yun Baoyin melihat rombongan berbondong-bondong yang naik ke atas bukit.
Mengira bahwa musuh datang, Ia bersiap
dengan busur dan anak panahnya yang ampuh. Makin dekaƄ tampak semakin jelas bahwa yang datang adalah rombongan manusia tanpa senjata, dengan mengendarai kuda dan singa buas sebagai tunggangan, serta beberapa siluman elang tampak terbang menuju bukit. setelah tiba di kaki bukit Yun Chaoyin melompat turun dan bergegas menaiki bukit, lalu segera di ikuti oleh para rombongan lainya.